
Pernikahan itu begitu meriah. Begitu banyak tamu undangan yang menghadiri resepsi pernikahan Gavin-Maria dan Luki-Humaira. Semua orang tampak senang dan gembira.
Alex dan Sophia berdiri di depan bunga sakura berfoto selfi.
"Sayang, kau makin cantik," puji Alex.
"Yang bener Mas? Gemuk nih," sahut Sophia. Dia merasa agak gemuk semenjak hamil.
"Sayang, bukan gemuk tapi montok, demen ngeliatnya," bisik Alex di telinga Sophia.
"Mas, genit ya? Masih di luar nih," ujar Sophia. Menatap mata suaminya yang berkedip menggoda.
"Gak sayang, cuma kasih kode nanti malam," kata Alex.
Sophia tersenyum. Menatap suaminya. Dia tahu Alex tetap perkasa seperti biasa meskipun dia lebih lembut dan perhatian dalam urusan bilik cinta.
"Berarti aku gak boleh capek sekarang dong Mas," kata Sophia.
Alex langsung berlutut. Memegang kedua tangan Sophia.
"Mas ngapain? Malu ...," kata Sophia.
"Aku akan melayanimu seharian ini sayang, kau tidak boleh capek, diam dan duduk saja," jawab Alex menatap mata emerald Sophia.
"Oke," jawab Sophia.
Cekrek
Fotografer suruhan Alex memfoto mereka. Momen itu begitu romantis.
"Mas kok gak bilang mau difoto?" tanya Sophia yang terkejut usai difoto.
"Biar natural sayang, lagian Sophiaku selalu cantik dan bercahaya seperti matahari," jawab Alex.
"Gombal banget Kak Alex, ayangku aja gak separah itu," celetuk Claudya yang menghampiri Alex dan Sophia.
Alex dan Sophia menoleh ke arah Claudya.
"Suka-suka dong, suami sayang istri mesti gombal pada tempatnya," sahut Alex. Membalas celetukkan adik bontotnya.
Sophia tersenyum. Adik kakak itu memang berdebat kalau ketemu.
"Suamiku romantis cuma di kamar dong, gak di sembarangan tempat," ujar Claudya dengan pedenya memuji suaminya.
Alex langsung berdiri merangkul Claudya.
"Tuh sapa yang lagi di panggung, Tuan Matteo mau bacakan puisi buat istri tercinta," ujar Alex memperlihatkan Tuan Matteo yang ada di atas panggung.
"Astaga memalukan," kata Claudya. Kena mental suaminya mau baca puisi buat istri tercinta.
"Apa dia bisa baca puisi? Setahuku dia lebih sering berpidato kenegaraan," ujar Alex. Meledek Claudya gantian. Saatnya membalas lebih kejam dari lawan.
Tepok jidat Claudya melihat kelakuan suaminya padahal belum juga baca puisinya.
"Assalamu'alaikum. Bapak-bapak ibu-ibu. Puisi untuk istri tercinta akan saya lantunkan," kata Tuan Matteo.
Semua orang melihat ke arah Tuan Matteo. Mereka terpukau dengan penampilan tampan dan maco Tuan Matteo.
"Tipe aku banget, suami sayang istri."
"Pasti merdu suaranya."
"Keren dan gagah, cowok banget."
Suara-suara gadis-gadis kegatelan bersorak di antara keramaian tamu undangan.
"Istriku wanita tercantik
Setiap hari memasak untukku
Memasang dasi untukku
Mengantarkanku berangkat ke teras
Menelponku ketika siang
Menungguku pulang
Memijatku saat beristirahat
Sungguh pengorbananmu banyak istriku," ucap Tuan Matteo membaca puisi untuk Claudya.
Tamu undangan bertepuk jidat bukan tepuk tangan.
"Suara tak menggambarkan penampilannya, telingaku sampai sakit."
"Kirain tadi woro-woro kebakaran."
"Aku pikir tukang nagih utang."
Alex tertawa senang. Sampai perutnya sakit. Sedangkan Claudya meringis. Tak disangka suaminya tampan dan gagah ternyata suaranya cempreng dan fals.
"Mas udahan ketawanya, tar muntah loh," kata Sophia menggandeng Alex.
"Lucu sayang," sahut Alex.
Tuan Matteo hanya tersenyum ke arah Claudya. Tepok jidat pun berubah jadi tepuk tangan karena perjuangan Tuan Matteo yang berani berdiri di depan panggung hanya untuk membaca puisi untuk istrinya. Begitupun Claudya yang berjalan menghampirinya. Mereka tersenyum bersama. Cinta tidaklah harus sempurna tapi saling menerima kekurangannya masing-masing.
***
Malam itu Gavin sudah siap menggunakan kolor pink. Lambang cinta. Gak perlu basa basi. Langsung ke intinya. Cukup memakai kolor pink biar gak kelamaan buka ini itunya. Gavin memilih villa sebagai tempat malam pertamanya. Dari pada di hotel atau di rumah tar digangguin Dodo. Orang mau ke naik ke puncak kejayaan masa diganggu.
"Asyik suasana sudah mendukung, sepi dan sunyi, gak ada yang ganggu," kata Gavin. Dia menunggu Maria mandi. Maklum dari tadi pagi sudah keringatan lagi seharian berdiri menyalami tamu undangan.
"Obat kuat perlu gak? Tapi dapet paketan dari Gunung Merapi, apa aman?" ujar Gavin memegang obat kuat.
"Udahlah minum aja, efek samping pikirkan belakangan, yang penting awet sampai pagi," kata Gavin. Dia sudah memutuskan meminum obat kuat. Dengan satu kaplet dan segelas air minum langsung diteguknya.
"Alhamdulillah," ucap Gavin.
Tak lama Maria ke luar dari toilet. Dia mengenakan dress berwarna merah. Semua bagian tubuhnya terekspose. Gavin sampai menelan ludahnya berkali-kali melihat Maria.
"Gak salah pilih, mantap," batin Gavin. Otak ngeresnya merajalela. Mengusai seluruh pikirannya.
"Bang Maria udah siap," ucap Maria dengan suara seksinya.
"Abang juga udah gak tahan Maria, langsung yuk," balas Gavin.
Maria mengangguk.
Gavin langsung mendekati Maria. Tak sabaran, langsung mencium bibir seksi itu. Maria hanya bisa menerima ciuman dari Gavin yang tak ada habisnya.
Kriiing ... kriiing ... kriiing ...
Bunyi panggilan berdering di handphone miliknya. Awalnya Gavin mengabaikan lah wong lagi merasakan indahnya cinta yang halal eh ada pengganggu. Tapi Maria menyuruhnya mengangkat telpon itu.
"Astaga menganggu suasana aja," ujar Gavin.
Maria hanya tersenyum. Melihat Gavin tampak kesal mendekati handphone di atas laci.
Tak mau waktunya terbuang sia-sia, Gavin langsung mengangkat telpon itu.
"Assalamu'alaikum," sapa Luki.
"Wa'alaikumsallam,' jawab Gavin.
"Lo udah minum obat kuat dari Gunung Merapi?" tanya Luki. Satu server dengan Gavin pesan obat kuat dari Gunung Merapi.
"Udah tadi satu kapsul, lo sendiri udah?" tanya Gavin.
"Itu dia, ternyata itu bukan obat kuat, tapi obat pelancar BAB, ketuker kirim ke kita," jawab Luki menjelaskan perihal kesalahan pengiriman dari penjual.
"Astaga, kenapa baru bilang sekarang?" tanya Gavin.
"Aku mencret dari tadi setelah minum obat itu, tak lama penjual chat aku kalau itu obat pelancar BAB," jawab Luki. Suaranya sedang menahan sesuatu.
"Loh baik-baik saja Luk? Udah bobol belum?" tanya Gavin.
"Bobol apa? Kalau BAB udah lima kali," jawab Luki.
Gavin tertawa terpingkal-pingkal.
"Nanti kau paham, ganjel aja pakai batu selama malam pertama berlangsung. Kasihan Humaira kalau dianggurin," ujar Gavin.
"Ku plaster aja kali biar mampet, sayang biniku udah siap nih," kata Luki.
"Yaudah Bro, selamat menikmati malam indah ini," ujar Gavin. Menyemangati Luki yang lagi sakit perut.
"Iya, semangat! Biar punya anak besoknya," sahut Luki.
"Iya ya," jawab Gavin.
Pembicaraan itu pun diakhiri. Gavin tersenyum puas. Mendengar tingkah Luki.
"Emang anak jadi satu malam bikin, Luki-Luki polosnya," ucap Gavin.
Pruuut ....
Suara kentut terdengar dari bokong Gavin. Bau aroma terapi varian tempat sampah memenuhi ruangan itu.
"Bang, pengharum ruangannya bau tempat sampah ya," kata Maria.
"Bau kentutku sayang, salah resep," jawab Gavin mendekati Maria. Menangkap tubuhnya. Mereka berhadapan. Menatap satu sama lain.
"Memang Abang sakit perut?" tanya Maria.
"Iya," jawab Gavin.
"Mau ke toilet gak?" tanya Maria.
"Gak sayang, cuma buang gasnya sering doang," jawab Gavin.
Maria menahan tawanya.
"Gak papakan buang gas selama kita itu?" tanya Gavin.
Maria mengangguk.
Gavin langsung menggunakan semua alat fines yang ada, dari dua barbel yang dipegang dan diraba. Hingga ke semua permainan olah raga. Pemanasan demi pemanasan dilakukan agar sang burung dara tak terbang ke langit mencari sarang yang diinginkan. Memanfaatkan semua alat yang ada untuk dijelajahi kemampuannya. Menguras semua tenaga agar hasilnya maksimal. Perlahan-lahan menuju ke intinya agar manfaatnya bisa di dapat. Suara-suara alat bergesek dan berbenturan terdengar riuh bersahutan satu sama lain. Mereka memadu cinta bagaikan alat-alat yang bergerak berirama. Bergoyang, berlari, melompat dan maju mundur. Tahapan demi tahapan dilakukan di awal agar otot-otot tak kaku. Tidak menimbulkan rasa sakit yang berkepanjangan. Keringat demi keringat bercucuran membasahi tubuh. Olahraga malam hari itu mulai membuat sang empunya kelelahan.
Setelah sekian putaran dan semua alat fitness digunakan disertai gas yang mmenuhi ruangan. Olahraga itu selesai dituntaskan. Begitupun bunyi gas terakhir yang berbunyi keras menandakan semua sudah berakhir.
Gavin tidur memeluk Maria di sampingnya. Menutup tubuh mereka dengan selimut tebal. Senang sudah mendapatkan kehormatan Maria yang selama ini dijaganya. Gavin jadi pemilik kehormatan itu. Senyuman mengembang di bibirnya. Seperti bulan sabit.
"Bang gimana?" tanya Maria.
"TOP BGT deh sayang," jawab Gavin yang sudah puas.
Maria tersenyum malu-malu.
"Sakit gak sayang?" tanya Gavin.
"Sedikit, tapi Abang jago," jawab Maria.
"Iya Dong, kakaknya buaya, adiknya biawak," jawab Gavin.
Maria tertawa. Gavin bisa aja membuatnya senang dengan kata-kata anehnya. Setidaknya sudah menuntaskan malam pertama dengan baik. Meski ada gangguan gas varian tempat sampah.