Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Aku Ingin Menenangkan Diri



Dokter Leon berbaring di ranjang kamarnya. Dia memikirkan ucapan Pak Harry dan Erisa. Apa yang dikatakan mereka benar. Dia tidak bisa masuk muslim karena cinta ataupun karena manusia. Tapi karena niat yang tulus dari dalam hatinya. Tiba-tiba Ibu Jesica masuk ke dalam kamarnya.


"Tumben jam segini kau sudah pulang Leon? Biasanya malam," ujar Ibu Jesica. Sangat jarang Dokter Leon pulang sore. Biasanya larut malam.


Dokter Leon menoleh ke arah Ibu Jesica. Wajahnya terlihat murung.


"Aku sengaja pulang sore Bun," jawab Dokter Leon.


"Pasti habis bertemu si cinta, iyakan?" tanya Ibu Jesica. Dia berpikir pasti anaknya baru saja bertemu wanita yang dicintainya.


"Iya Bun," jawab Dokter Leon. Dia memang baru bertemu orang yang dicintainya.


Ibu Jesica melihat wajah anaknya yang tampak lesu. Dia tahu anaknya pasti sedang galau.


"Apa ada masalah?" tanya Ibu Jesica. Dia yakin putranya sedang ada masalah.


Dokter Leon bangun. Duduk bersandar di headboard. Menatap wajah ibunya.


"Iya Bun, bukan sekedar masalah biasa," jawab Dokter Leon. Masalah yang dihadapinya bukan masalah yang biasa tapi soal akidah. Dia tidak bisa bermain-main dengan akidah. Dia tidak bisa bersama Erisa di atas perbedaan akidah, karena akidah sangat mendasar sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius.


"Pasti masalah akidah ya?" tebak Ibu Jesica.


"Kok Bunda tahu?" tanya Dokter Leon. Dia belum cerita pada ibunya soal Erisa dan perbedaan akidah di antara dia dan Erisa.


Ibu Jesica berjalan ke depan. Duduk di dekat Dokter Leon dan menatap wajah anaknya.


"Dari dulukan masalah mu selalu itu, setiap kali mengejar wanita yang kau sukai," jawab Ibu Jesica. Tak hanya sekali Dokter Leon menyukai wanita muslim. Dari zaman dulu dia selalu menyukai wanita muslim dan berujung berpisah. Dari zaman masih SMP sampai sekarang. Dokter Leon selalu menyukai wanita muslim.


"Iya Bun, akidah bukan masalah yang biasa, tidak bisa ditolerir," sahut Dokter Leon. Dia tidak bisa bersama Erisa jika akidah mereka berbeda. Akan jadi masalah ke depannya jika diteruskan.


"Bunda tidak masalah kalau kau ingin jadi seorang muslim. Karena kakekmu juga seorang muslim," jawab Ibu Jesica. Ayahnya seorang muslim sedangkan ibunya seorang nasrani. Kala itu ayahnya seorang ilmuwan yang bekerja di luar negeri menikah dengan ibunya yang sedang menempuh S2 di luar negeri.


"Iya Bun, tapi Pak Harry dan Erisa berpesan agar aku tidak maksakan diri. Jika memang aku masuk muslim itu karena niatku. Bukan karena cinta atau manusia," sahut Dokter Leon. Pak Harry dan Erisa tidak ingin Dokter Leon masuk muslim karena cinta atau manusia tapi karena niatnya sendiri. Bukan paksaan apalagi karena tujuan tertentu.


"Akidah memang tidak boleh dipaksakan, harus dari hati. Biar kau tidak berat menjalaninya, dan akan terasa ringan saat itu memang dari hatimu," jawab Ibu Jesica. Dia tahu akidah tidak bisa dijalani karena terpaksa apalagi hanya untuk tujuan khusus, semua akan berat dan menimbulkan masalah dikemudian hari.


Dokter Leon terdiam. Membuang nafas gusarnya. Dia memikirkan ucapan ibunya. Akidah memang harus dijalani dari hatinya bukan karena terpaksa.


"Dulu Bunda juga berada dalam kebingungan saat ayah seorang muslim dan ibu seorang nasrani. Jadi Bunda tidak akan memaksamu tetap menganut agama yang Bunda anut. Kau berhak menentukan akidahmu sendiri, tapi harus dari hatimu," ujar Ibu Jesica. Dokter Leon berhak memilih jalan hidupnya sendiri karena Ibu Jesica pernah berada di posisinya.


"Iya Bun," jawab Dokter Leon.


Dokter Leon terdiam. Ada beban yang ada di dalam benaknya. Dia masih berada dalam kebimbangan yang belum tahu bermuara di mana.


"Sudah lama Bunda tidak bertemu kakekmu. Sejak memutuskan tinggal bersama nenekmu dan menganut agama yang dianutnya," ujar Ibu Jesica.


"Memang kakek masih di luar negeri Bun?" tanya Dokter Leon.


"Kakek tinggal di mana sekarang Bun?" tanya Dokter Leon. Dari kecil dia belum pernah bertemu kakeknya. Hanya berkomunikasi via video call dan telpon.


"Kakekmu sudah menetap di Garut, bertani dan hidup di sana," jawab Ibu Jesica.


"Kalau begitu aku ingin bertemu kakek, sekalian menenangkan diri di sana," sahut Dokter Leon. Dia ingin bertemu kakeknya untuk melepas rindu sekalian mencari jati dirinya dan menenangkan pikirannya.


"Berarti kau mau cuti?" tanya Ibu Jesica.


"Tidak, aku mau pindah kerja. Di sana belum banyak Dokter spesialis kanker hati," jawab Dokter Leon.


"Kau akan meninggalkan orang yang kau cintai?" tanya Ibu Jesica.


"Iya, jika berjodoh, takdir akan menentukan pada satu titik di mana kami akan bertemu dan bersama kembali," jawab Dokter Leon. Jika dia dan Erisa berjodoh pasti akan bertemu dan bersama kembali. Dia percaya itu.


"Ibu bangga padamu," ucap Ibu Jesica sambil mengelus kepala putranya.


Dokter Leon tersenyum. Menatap wanita yang sudah melahirkannya.


"Leon bagaimana jika dia menikah dengan orang lain selama kau pergi?" tanya Ibu Jesica.


"Aku ikhlas. Yang penting dia bahagia," jawab Dokter Leon. Berusaha berlapang dada jika Erisa bukan jodohnya.


"Kau hebat Nak, ini baru anak ibu," sahut Ibu Jesica. Tak mudah merelakan orang yang dicintainya untuk orang lain.


Dokter Leon mengangguk. Dia sudah menyerahkan semuanya pada takdir. Jika memang dia berjodoh dengan Erisa pasti mereka akan bertemu dan bersama tanpa ada perbedaan yang akan memisahkan atau menghalangi cinta mereka.


***


Pagi itu Dokter Leon duduk di dalam bus. Dia ingin pergi ke kota Garut untuk bertemu kakeknya dan menenangkan dirinya di sana. Dokter Leon naik bus jurusan Jakarta-Garut. Matanya melihat pemandangan di luar dari kaca bus. Dia menunggu keberangkatan bus menuju kota Garut. Bus masih menunggu penumpang untuk masuk ke dalam dan memenuhi kursi. Tadi pagi Dokter Leon sudah mengirim pesan pada Erisa. Dia tidak berharap Erisa datang tapi dia ingin mendengar suaranya.


"Ehm." Erisa berdiri di samping kursi bus. Menatap lelaki tampan berkaca mata sedang duduk sendirian di kursi.


Dokter Leon menoleh ke arah Erisa. Dia tersenyum pada gadis cantik yang dicintainya.


"Ada yang mau pergi ya?" tanya Erisa.


"Duduklah!" pinta Dokter Leon.


"Kita ke luar dulu, di sini ramai," sahut Erisa. Di dalam bus sangat ramai. Ada pedagang asongan dan penumpang yang sudah duduk di kursinya.


Dokter Leon mengangguk.


Mereka berdua pun ke luar dari bus. Dokter Leon menggendong ransel besar di punggungnya. Dia membawa banyak barang bawaannya dari baju sampai perlengkapan kerjanya. Sedangkan Erisa terlihat santai dengan baju kotak-kotak, celana levis yang bolong di lututnya, dan mengenakan topi dengan menguncir rambut panjangnya ke belakang.


Mereka berdua duduk di kursi yang ada di bawah pohon. Masih hening. Belum mengatakan apapun. Sama-sama menatap ke depan.