Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Tertipu



Sampai di rumah sakit, Monika harus menjalani operasi akibat tusukan pisau yang mengenai lambungnya. Dia kehilangan cukup banyak darah. Untung saja nyawanya dapat tertolong. Setelah 2 jam operasi, satu jam masa observasi, Monika dipindahkan ke ruang rawat inap. Dia berbaring di ranjang. Tubuhnya lemah tak berdaya.


"Monika, uangmu tinggal sepuluh juta di rekening, kau masih punya uang lagikan?" tanya Pak Kades.


"Sepuluh juta?" Monika terkejut.


"Iya, tadikan untuk bayar operasimu lima puluh juta," jawab Pak Kades.


"Jadi uangku tinggal sepuluh juta? Pak Kades kemarin ngambil berapa memangnya?" tanya Monika.


"Tiga ratus juta, kau tahu sendiri aku butuh modal untuk menyuap warga agar memilihku lagi," ujar Pak Kades. Dia menggunakan uang tabungan Monika untuk menyuap warga supaya kembali memilihnya di pemilihan tahun ini.


"Apa? Tiga ratus juta?" Monika terkejut.


"Iya memangnya kenapa? Kau ingin aku tetap jadi Kadeskan?" ujar Pak Kades.


"Tapi itu uangku yang tersisa Pak Kades, kau tahu sendiri semua uangku sudah ku investasikan," jawab Monika.


"Kemarin bukannya sisanya masih banyak?" tanya Pak Kades. Seingatnya masih 1 Milyar di tabungan.


"Aku ikut arisan berlian, kata temenku berliannya bisa dijual lagi dengan harga fantastis," jawab Monika.


"Berlian?" sahut Pak Kades.


"Iya, lagi trend arisan berlian," kata Monika. Dia berpikir dengan mengikuti arisan berlian bisa melipat gandakan uangnya jadi banyak.


"Mana berliannya?" tanya Pak Kades.


"Aku belum dapet, nunggu gilirannya," jawab Monika.


"Jangan sembarangan ikut arisan berlian, aku dengar banyak yang memalsukan berlian sekarang," ujar Pak Kades.


"Masa sih?" Monika tak percaya. Tidak mungkin arisan berlian yang diikutinya menipunya. Dia langsung mengambil handphone miliknya. Mau tanya pemenang arisan berlian sebelumnya. Ternyata di group ibu-ibu sosialita sudah ramai. Pesan sampai penuh. Mereka membicarakan berlian yang didapat mereka palsu dan panitia penyelenggara kabur.


"Apa? Tidak mungkin, ini pasti bohong," ucap Monika.


"Bohong kenapa Monika?" Pak Kades terkejut melihat Monika kebingungan.


"Ternyata berliannya palsu, panitianya kabur," jawab Monika.


"Aku bilang apa, kau begok sih," celetuk Pak Kades


"Kau bilang aku bego?" tanya Monika. Emosi saat Pak Kades memakinya dengan sebutan bego. Kenan saja tak pernah berkata kasar padanya.


"Iya, otak udang, ketipukan," ujar Pak Kades.


"Kau berani sekali mengatakan itu padaku? Kembalikan semua uang yang sudah ku berikan padamu!" titah Monika.


"Kembalikan katamu? Kau memberikan padaku sukarela," jawab Pak Kades santai. Dia tidak takut pada wanita yang baru saja berstatus janda itu.


"Dasar parasit!" bentak Monika.


Pak Kades langsung menampar Monika.


Plaaak ...


"Aw ...," keluh Monika sambil memegang pipinya.


"Yang parasit itu kau! Mengerogoti kekayaan mantan suamimu sampai habis, kau pikir aku suka padamu? Wanita licik sepertimu cuma mainan untukku," ujar Pak Kades.


"Jadi kau memanfaatkanku?" tanya Monika.


"Kau pikir aku tulus? Mana ada perebut istri orang yang tulus," jawab Pak Kades sambil tersenyum licik. Monika pikir dia tulus padanya. Padahal dia cuma mau numpang hidup kaya parasit yang menggerogoti inangnya.


"Kau jahat!" pekik Monika.


"Kau yang jahat, suami baik hati tapi disia-siakan, sejujurnya aku kasihan pada Kenan, tapi aku butuh duit untuk sana sini," jawab Pak Kades.


"Kau menjijikkan, menyesal aku mengenalmu," ujar Monika. Dia tak habis pikir lelaki patner ranjangnya itu ternyata hanya benalu yang selama ini menempel padanya. Dan dia tak menyadarinya justru menyia-nyiakan lelaki baik hati seperti Kenan hanya karena nafsu belaka.


"Untuk apa aku di sini kau sudah kere, lagi pula aku sudah cukup bermain denganmu," ujar Pak Kades.


Monika marah. Dia mengambil bantal dan guling melempar ke arah Pak Kades. Namun Pak Kades mampu menghindar.


"Nikmati kesengsaraanmu Monika!" ujar Pak Kades.


"Sialan!" pekik Monika mengepal.


Pak Kades tersenyum. Kemudian ke luar dari ruangan itu. Sedangkan di dalam Monika kesal. Memporak porandakan ranjang. Melepas infusnya. Berusaha berdiri. Berjalan ke meja. Dia melempar semua barang di atas meja.


"Hik ... hik ... hik ... dasar benalu! Benalu!" Monika berteriak kesal. Karena dia terlalu memaksakan diri perutnya kembali berdarah. Dia sampai terjatuh tak sadarkan diri.


Di luar Pak Kades berjalan. Dia menerima telpon dari temannya yang mengikuti bisnis MLM. Monika berinvestasi 5M yang dicatat atas nama Pak Kades sebagai penerima keuntungan.


"Hallo Andi," sapa Pak Kades.


"Hallo Bro," jawab Andi.


"Dah kaya lo baru nelpon gue," kata Pak Kades.


"Kaya gimana? Gue ketipu Bro," jawab Andi.


"Ketipu gimana?" tanya Pak Kades.


"Bisnis MLM itu ternyata penipuan, lo lihat di berita siang ini. Kantornya dipasang garis polisi. Para investor pada demo di depan gedung," jawab Andi.


"Apa? Gue udah investasi 5 Milyar!" Pak Kades terkejut.


"Sama gue juga udah investasi 6 Milyar malah, raib," ujar Andi.


Tuar ...


Handphone milik Pak Kades terjatuh. Harapannya dapet untung dari kemelut rumah tangga Kenan dan Monika ternyata justru dia tak mendapatkan apa-apa. Hanya baju dan jam tangan saja. Mobil juga masih kredit.


***


Malam itu Gavin baru saja pulang bekerja. Dia mengendarai motor gede miliknya melintasi jalanan yang sudah sepi. Semenjak bekerja di kantor, dia sering pulang larut malam. Gavin mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Rasa ngantuk mulai mendera. Membuat Gavin menghentikan sementara motornya. Membuka helm untuk menghirup udara. Tiba-tiba sekumpulan pengendara bermotor mengepung motornya.


Ngeeeng .... ngeeeng ... ngeeeng ...


Suara motor itu terdengar kencang. Memutari Gavin.


"Siapa mereka? Geng motor atau?" tanya Gavin dalam hatinya.


Motor-motor itu berhenti. Mereka mengenakan pakaian serba hitam dari atas rambut sampai ujung kaki. Mereka membuka helm-nya. Dari semuanya tak ada yang dikenal Gavin kecuali Dendi. Dia membawa tongkat kasti di tangannya..


"Hallo Gavin kita bertemu lagi," sapa Dendi.


Gavin mengernyitkan alisnya. Menatap tajam Dendi yang ada di depannya. Lelaki berambut panjang sebahu dengan kumis tipis itu sepertinya masih dendam padanya karena Gavin meminang Maria.


"Kau pengecut ternyata membawa orang lain menemuiku," ujar Gavin.


"Kau menantangku Gavin!" pekik Dendi emosi.


"Kau kau lelaki sejati lawan aku duel!" tantang Gavin.


"Bos lawan!"


"Iya Bos, penghinaan namanya."


Dendi memikirkan ucapan anak buahnya.


"Oke siapa takut," jawab Dendi.


Gavin turun dari motornya. Begitupun Dendi. Mereka berjalan menuju satu titik. Saling menatap tajam. Tatapan yang begitu dingin sedingin kutub selatan. Tak banyak bicara mereka langsung adu jotos. Baku hantam menunjukkan kekuatan masing-masing. Pukulan demi pukulan dilayangkan begitupun tendangan demi tendangan diarahkan satu sama lain.


Dug ... dug ... dug ...


Tak ada yang mengalah. Sama-sama dominan dan tak ada yang menyerah.


"Ayo Bos semangat!" Anak buah Dendi menyemangatinya.


"Semangat! Semangat!"


Dendi terus menyerang tanpa bertahan dan menghindar. Membuat tenaganya terkuras habis. Ini dimanfaatkan Gavin untuk menyerang. Dia melompat, menendang Dendi.


Bruuug ....


Dendi terjatuh di jalan. Dia terlihat kelelahan.


"Bos!" Melihat Bosnya tumbang, mereka turun dari motor. Mengepung Gavin.


"Habisi dia!" titah Dendi.


"Baik Bos."


Anak buah Dendi yang berjumlah lima orang melawan Gavin bersamaan. Tenaga mereka masih full. Sedangkan Gavin sudah mulai kelelahan setelah melawan Dendi.


Dia terkena pukulan demi pukulam hingga membuatnya terjatuh ke jalan.


Bruuug ...


Gavin terjatuh di tengah jalan. Hampir tertabrak mobil. Untung mobil itu mengerem dadakan. Melihat Gavin berbaring di depan mobilnya, pengemudi ke luar. Menghampiri Gavin dan melihat beberapa orang berpakaian serba hitam mau menghampiri Gavin.


"Gavin!" panggil Luki.


Gavin melihat ke atas. Ternyata pengemudi itu Luki.


"Luki," sahut Gavin.


Luki mengalihkan pandangannya ke depan. Tersenyum licik.


"Main keroyokan ya, untung tenagaku masih cukup untuk menyincang kalian," ujar Luki.


"Sombong kau!"


Luki membantu Gavin bangun. Mereka saling menatap dan mengangguk. Siap melakukan penyerangan.


"Hajar keduannya!" titah Dendi.


"Siap Bos!"


Luki dan Gavin berlari ke depan. Menghajar anak buah Dendi satu per satu. Luki mengeluarkan knuckle miliknya, langsung dipasang di kelima jarinya. Dia mulai melakukan pukulan demi pukulan. Knuckle itu cukup membantu menghasilkan pukulan yang menyayat dan menggores lawan. Begitupun Gavin yang jauh lebih bersemangat saat ada Luki. Dia merasa tak sendirian menghadapi anak buah Dendi.


Dug ... dug ... dug ....


Pukulan demi pukulan dan tendangan demi tendangan kembali dikeluarkan. Gavin melepas jas miliknya sebagai senjata untuk melumpuhkan musuhnya. Baik Luki dan Gavin melakukan kolaborasi yang kompak satu sama lain. Tak lama anak buah Dendi tumbang.


Bruug ... bruuug ... bruuug ...


"Beres," ujar Luki.


"Thanks Bro," ucap Gavin.


Luki mengangguk.


Gavin berjalan ke depan menghampiri Dendi. Sedangkan Luki meringkus anak buahnya dan menelpon polisi.


Dendi hendak melarikan diri. Dia berdiri. Berjalan pincang karena kakinya lecet. Untung Gavin menangkapnya, melipat tangannya ke belakang. Gavin berdiri di belakang Dendi.


"Mau ke mana?" tanya Gavin.


"Lepaskan aku!" pinta Dendi.


"Kau yang menaruh pocong di jok belakang mobilkukan?" tanya Gavin. Dia ingin tahu apa Dendi ada hubungannya dengan pocong kecil di belakang mobilnya. Dengan begitu dia akan tahu siapa dalang serangkaian kematian suami Maria.