Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Tangkap Mereka



"Bos!" panggil Kenan.


"Amankan mereka, bawa ke polisi!" perintah Alex dengan suara yang dingin. Matanya memerah. Berkaca-kaca.


"Semuanya diringkus kaya tikus Bos?" tanya Kenan.


"Tadi aku bicara apa?" ujar Alex tak seperti biasanya. Kalau Kenan membuat lelucon pasti Alex menindasnya tapi kali ini tampak datar tanpa membalasnya.


"Baik Bos," sahut Kenan. Suasana hati Alex sedang tidak baik. Kenan tak berani membuat lelucon kembali. Takut diringkus juga kaya tikus bersama trio ubur-ubur dan penunggu gunung berapi Pak Ferdi. Lebih baik ikuti irama dulu biar aman.


Alex hanya diam mematung. Sedangkan Kenan menyuruh sekuriti menangkap Yuda, Hendri, dan Sofyan. Membawa mereka ke luar dari ruang meeting untuk diserahkan ke polisi beserta bukti yang sudah ada. Tinggal Pak Ferdi yang masih di dalam.


Sekuriti yang lain berusaha menangkap Pak Ferdi namun dia melawan, menyakiti sekuriti. Semua petinggi perusahaan tak berani berkata satu kata pun. Masalahnya ini rumit untuk mereka ikut campur di dalamnya. Pelaku adalah anak pemilik perusahaan David Sebastian dan Alex yang sebelumnya anaknya ternyata bukan anaknya. Mereka bingung. Hanya bisa diam tanpa kata seperti Alex.


"Alex kau gila? Aku ini ayahmu?" ujar Pak Ferdi yang berusaha melawan dan melepaskan dirinya dari kedua sekuriti yang menangkapnya.


Alex hanya diam. Tak menggubris ucapan Pak Ferdi yang merengek.


"Alex aku ini ayahmu, jangan percaya mereka," ucap Pak Ferdi membela diri agar Alex mendengarkannya.


"Alex aku ini anak pemilik perusahaan, jangan penjarakanku, kau gila?" ujar Pak Ferdi. Berusaha melepaskan diri namun akhirnya sekuriti bisa menangkapnya dan membawanya ke luar dari ruang meeting.


Pak Ferdi tak bisa melawan lagi. Kedua tangannya sudah dipegang kedua sekuriti. Dia berjalan ke luar pintu. Melihat Sophia yang berdiri di dekat ruang meeting.


"Lepaskan tanganku dulu! Aku ingin bicara dengan menantuku," ucap Pak Ferdi.


Kedua sekuriti itu melepas tangan Pak Ferdi. Namun tetap berada di belakangnya. Pak Ferdi mendekati Sophia. Berdiri di depannya.


"Kau puas? Membawa bencana di keluargaku? Karena kau! aku dan Alex jadi musuh," ucap Pak Ferdi.


"Ayah sendiri yang menjadikan anak sebagai musuh. Di mana sebagai seorang ayah seharusnya anda memberi contoh yang baik," balas Sophia. Kali ini Sophia menatap Pak Ferdi. Tak gentar dengan ucapannya. Menghormatinya bukan berarti diam saat dia melakukan hal yang salah dan hampir membuat suaminya menderita.


"Seharusnya dari awal aku menghentikan pernikahan kalian," ujar Pak Ferdi.


"Allah mempertemukan kami dan menjadikan kami berjodoh, meskipun ayah menghentikannya, kami akan tetap bersama," sahut Sophia.


"Ha ha. Pantas Alex berani padaku, ternyata istrinya jauh lebih berani padaku," ujar Pak Ferdi.


"Saya sangat menghormati ayah, bukan berarti membiarkan anda mendzolimi suami saya," sahut Sophia. Dari awal Sophia selalu menghormati dan menyayangi semua anggota keluarga Alex. Dia selalu diam saat mereka mengolok-oloknya namun jika suaminya didzolimi Sophia takkan diam. Dia akan membela Alex sampai mati.


"Menantu yang baik, kau senang aku di penjara?" ucap Pak Ferdi.


"Semoga Ayah jauh lebih baik di dalam sana," ucap Sophia datar.


"Kenapa kau tidak meminta Alex untuk membebaskanku dari jerat hukum? Aku ini ayah dan mertuamu?" tanya Pak Ferdi.


"Akan tidak adil untuk Yuda, Pak Hendri dan Pak Sofyan, yang kesalahan mereka jauh lebih sedikit dari anda," ucap Sophia.


Mendengar jawaban Sophia, Pak Ferdi kesal. Dia hendak menampar Sophia namun tangannya ditahan oleh tangan Sophia. Dia menatap tajam Sophia namun Sophia tak gentar.


"Tidak baik seorang lelaki kasar pada seorang wanita, apalagi itu menantunya," ucap Sophia.


Tangan Sophia melepas tangan Pak Ferdi yang tadi dipegang olehnya. Kemudian kedua sekuriti langsung menangkap Pak Ferdi kembali. Membawanya meninggalkan tempat itu meskipun dia terus bergumam kesal pada Sophia.


"Huh. Mertuamu itu kaya iblis," ucap Aiko sambil mendekati Sophia.


"Semoga di penjara nanti beliau mendapatkan hidayah," ucap Sophia.


"Semoga, kalau gak biarin membusuk deh di dalam, bikin emosi aja," sahut Aiko.


Di dalam Alex hanya diam. Membuat semua orang takut dan bingung. Mereka ingin ke luar dari ruang meeting tapi tak berani bertanya.


"Bos," ucap Kenan. Dia tahu apa yang didengar Bosnya tadi pasti menyakiti hatinya. Meluluh lantahkan mentalnya. Orang yang dari kecil sudah dianggap sebagai ayahnya ternyata bukan ayah kandungnya. Pasti banyak rasa kecewa yang ada dibenaknya.


"Kalian semua boleh ke luar!" perintah Alex dengan suara pelan.


"Baik Bos," sahut semuanya. Perlahan satu per satu berdiri, berjalan ke luar dari ruang meeting. Tanpa bicara satu kata pun. Ruangan itu mulai kosong dan hening. Tinggal Alex dan Kenan.


"Bos, dari kecil aku yatim piatu, gembel, tapi saat bertemu Bos, hidupku layak, padahal aku hanya lulusan SMA, kalau bukan karena Bos, aku tak mungkin duduk di sini," ujar Kenan. Dia mendekat menepuk bahu Alex.


"Bagi sebagian orang Bos mungkin setan, tapi bagiku Bos malaikat, meskipun lebih sering menindasku sesuka hatimu," ucap Kenan.


Alex masih diam tak bergeming.


"Bos mungkin sering menyemburku tapi aku tak pernah sakit hati, karena aku tahu kita ini saudara yang sama-sama tampannya," ujar Kenan.


"Siapa bilang aku setan? Heh! Aku bukan saudaramu, aku tampan maksimal dan kaya sedangkan kau itu pas-pasan dan miskin," ucap Alex mulai bicara seperti biasa.


Kenan langsung hormat pada Alex yang mulai bicara dan menengok ke arahnya.


"Alhamdulilah Bos kembali menindasku, berarti sudah normal," sahut Kenan.


"Ke luar!" perintah Alex.


"Siap! Undur diri Bos, jangan lupa bonus," ucap Kenan.


Alex hanya tersenyum. Akhirnya Kenan mundur teratur. Mumpung suasana hati Bosnya mulai membaik. Bonus tak jadi lenyap. Amankan diri selamatkan nasib dari semburan yang bisa jadi kembali meletus.


Di luar Sophia melihat semua petinggi perusahaan ke luar tanpa mengatakan apapun. Mereka menunduk saat melihat Sophia yang duduk di luar ruangan meeting. Melihat itu Aiko merasa heran.


"Sophia apa ada yang gak beres? Apa karena Pak Ferdi yang ditangkap tadi?" tanya Aiko.


Sophia hanya terdiam. Dia tahu apa yang sedang terjadi. Permasalahan ini rumit. Antara kepentingan pribadi atau bisnis. Antara keadilan atau kekerabatan.


Alex terdiam. Sendirian di ruang meeting. Dia masih memikirkan apa yang didengarnya. Runtuh sudah semua semangatnya. Selama ini Alex selalu merindukan kasih sayang seorang ayah. Pak Ferdi tak pernah ada di rumah. Mungkin karena dia bukan ayahnya. Namun kasih sayang kakek selalu ada untuknya. Tapi ternyata kakek bukan kakek kandungnya.


Tiba-tiba sebuah tangan lembut menyentuh bahunya. Aroma tubuhnya begitu familiar. Menenangkan pikirannya. Sophia memeluk Alex dari belakang. Mendekatkan kepalanya di samping kanan bahu Alex. Mendekatkan pipinya dengan pipi Alex.


"Sayang kau datang di saat aku ingin bersamamu," ujar Alex.


"Aku juga ingin bersamamu, membiarkan waktu berhenti sesaat," sahut Sophia.


Alex mengambil tangan Sophia yang ada di bahu kirinya. Memegangnya.


"Makasih sayang, sudah ada di hidupku," ucap Alex.


"Aku akan di sisimu, kau tak sendirian Mas, jika semua orang meninggalkanmu, aku tidak akan meninggalkanmu," ujar Sophia. Dia tahu apa yang terjadi pada Alex. Sophia mendengar semua itu dari Kenan yang tadi ke luar dari ruangan meeting.


"Makasih sayang, aku mencintaimu," ucap Alex.


"Aku juga mencintaimu," sahut Sophia.


Tiba-tiba handphone Alex berdering. Alex langsung mengambil handphone-nya di atas meja. Dia melihat sebuah panggilan telpon dari pos sekuriti.


"Telpon dari siapa Mas?" tanya Sophia.


"Sekuriti," jawab Alex. Dia tidak tahu kenapa sekuriti menelponnya.