
“Vin buruan Humaira dah gak tahan Bro,” seru Luki. Dia panic melihat istrinya diam saja. Hanya memegang tangan Luki dengan kencang. Sedangkan bapak di samping Luki sudah berubah penampilan. Rambut acak-acakan. Kancing lepas semua. Baju pada robek, dan basah kuyup keringatan.
“Sabar jangan tambah penderitaan gue, lo gak liat gue gimbal gini,” sahut Gavin. Rambutnya sudah gimbal, abis kena jenggut sana sini.
“Lo kenapa vin?” tanya Luki melihat Gavin.
“Depan belakang monding gue, jadi kaya model jalanan, baguskan?” ujar Gavin.
Luki tertawa kecil melihat rambut Gavin. Nasib Gavin babak belur dari depan belakang kena jambak.
Mobil pun melaju ke rumah sakit. Maria, Humaira, dan wanita hamil yang nebeng tadi duduk di kursi roda, di dorong para suami yang mengerahkan seluruh tenaga mereka untuk istrinya.
“Semangat bapak-bapak!” seru Gavin. Memberi semangat pada para bapak siaga yang sedang berjuang untuk istri mereka.
“Vin, Lo dorong istri siapa?” tanya Luki yang sedang mendorong Humaira.
Gavin menoleh ke bawah, dia bukannya mendorong Maria justru mendorong bini orang.
“Loh kok bini gue ganti? Perasaan bini gue gak oplas kok berubah gini,” jawab Gavin. Terperanjat mendapati yang didorong olehnya bukan istrinya.
“Mas kembalikan istriku!” Lelaki yang tadi ikut menumpang berlari mendorong Maria menuju tempat Gavin berdiri.
“Abang gimana sih? Aku kok ditinggal,” keluh Maria.
“Sorry Neng, Abang panik, jadi salah bawa bini orang,” sahut Gavin. Dia tak menyangka salah membawa istri orang lain.
“Abang gak liat apa, Maria lebih bohay,” sahut Maria ngambek Gavin salah gondola bini orang bukan bini sendiri.
“Sorry Neng, mata Abang salah liat ukuran bohay-nya,” sahut Gavin. Gara-gara panic ketajaman mata genitnya jadi berkurang, salah angkut yang lebih bohay.
“Untung bini orang yang salah lo bawa, kalau bininya beruang kutub yang salah kau bawa, habis hidup lo Vin,” kata Luki. Orang pada panic buru-buru bawa istri mau lahiran, ini malah bawa istri orang.
“Paling tinggal sandal jepit,” sahut Gavin. Gila aja gondol bininya beruang kutub, sekali bawa langsung caplok tak bersisa, balik tinggal sandal jepit yang masih dikredit.
“Padahal saya udah betah lo kalau suami saya Masnya yang ganteng ini.” Ibu hamil itu malah kesenengan didorong ma Gavin dari pada sama suaminya. Gavin langsung tepok jidat, suaminya cemas malah keenakan ketuker suami. Bener-bener, mau lahiran masih sempet mau godain suami orang.
Maria langsung bangun dari kursi roda, mendorong kursi roda miliknya menghampiri Gavin, dia menarik tangan Gavin, mendudukkannya di kursi roda, kemudian Maria mendorong kursi roda itu menjauh dari wanita hamil tebar pesona itu, udah tahu mau lahiran masih sempet-sempetnya godain suami orang.
“Neng biar Abang yang dorong,” seru Gavin.
“Gak usah, Neng kuat, dari pada Abang salah bawa muatan,” sahut Maria. Dari pada merasa sakit hati gara-gara suami dicomot wanita lain lebih baik sakit perut mau lahiran.
Akhirnya Maria dan Humaira masuk ke ruang bersalin, sedangakan Luki menemani Gavin yang menangis di luar. Entah kenapa Gavin menangis, Luki jadi iba dan menemaninya sebentar.
“Vin gue tahu ini momen paling membahagiskan dalam hidup lo jadi baperkan?” kata Luki sambil menepuk bahu Gavin. Dia kasihan melihat Gavin sedih dengan proses lahiran Maria.
“Bu-bukan itu Luk,” sahut Gavin. Masih menangis tersedu-sedu.
“Bukan itu juga,” jawab Gavin. Semua tebakan Luki salah. Gavin masih menangis.
“Lalu kenapa?” tanya Luki.
“Gue takut lihat darah Luk, gimana gue bisa damping Maria?” Gavin takut melihat darah yang ke luar dari tubuh Maria. Dia tak tega melihat istrinya mengeluarakan darah saat akan melahirkan anakanya.
“Oh itu masalahnya, aku punya solusinya,” sahut Luki. Dia punya solusi untuk masalah Gavin.
Akhirnya Gavin bisa tetap mendampingi Maria lahiran dengan solusi yang Luki berikan meski matanya harus ditutup.
“Neng ini kamukan, bukan bininya orang lagi?” tanya Gavin sambil memegang tangan Maria, takut slah bini orang atau malah bini beruang kutub bisa brabe, tahu-tahu sudah di alam barzah gak nyadar lagi.
“Iyalah Abang, ini Marianya Abang Gavin yang ganteng,” jawab Maria.
Mendengar suara Maria bini semoknya, Gavin udah tenang. Dia langsung mencium kening Maria, memegang tangan Maria sepangjang dia kesakitan menghadapi pembukaan demi pembukaan hingga bayi mereka terlahir ke dunia.
“Alhamdulillah bayinya perempuan Pak, Bu, sehat dan lengkap,” ujar Dokter sambil menggendong bayi Maria dan Gavin di tangannya.
“Alhamdulillah,” sahut Gavin dan Maria senang mendengar ucapan Dokter.
Di sisi lain Luki juga menemani Humaira yang sedang m€nyπsui bayi laki-laki mereka. Luki duduk di samping Humaira, merangkul dan mencium keningnya sambil mengelus pipi lembut jagoan kecilnya. Dia sangat bahagia sudah memiliki istri dan sekarang memiliki buah hati. Sesuatu yang tak pernah diimpikannya dari dulu saat masih menyimpang. Kini dia memiliki bidadari yang selalu mendampinginya dan buah cinta mereka yang lucu dan menggemaskan. Hidupnya menjadi sempurna.
“Sayang makasih ya, atas cintamu untukku dan buah cinta yang kau berikan dalam hidupku, aku merasa jadi suami dan ayah yang sejati,” ujar Luki.
“Iya Oppa, terimakasih Oppa sudah menjadi suami dan imam yang terbaik untukku,” sahut Humaira.
Luki mengangguk, dia tersenyum pada Humaira. Bidadari yang Allah amanahkan padanya, untuk melengkapi kekurangannya.
***
Satu tahun kemudian
Alex dan Sophia duduk bersama keluarga lainnya. Ada Keluarga Sebastian, Keluarga Harold, Keluarga Wijaksana, dan Keluarga Howard. Alex dan Sophia menggelar syukuran untuk anak kedua mereka yang bernama Aliza Bahira Sebastian. Sophia duduk di barisan para wanita sambil memangku Aliza. Dia duduk di samping Claudya yang juga sedang memangku Daffa Firdaus putra pertamanya bersama Tuan Matteo.
Selain itu ada Maria yang sedang memangku Cala Mahira, Humaira memangku Muhammad Naval Raiyan, Nada yang memangku Irfan, Vera yang memangku Celina Ghania dan Sora yang memangku Fiza Karima. Mereka terlihat sibuk dengan anak-anak mereka. Sedangkan para lelaki asyik mengobrol masalah bisnis sambil menunggu para tamu datang Di halaman Arfan, Ezar, Nesya, Tara, dan Dodo sedang bermain.
Erisa duduk bersama Sari di teras sambil memperhatikan anak-anak yang sedang bermain.
"Erisa, semua saudaramu sudah menikah dan punya keluarga kecil mereka, apa kau tidak ingin seperti mereka?" tanya Sari.
"Ingin, tapi ..." Erisa menatap ke depan. Ada seseorang yang sedang ditunggu olehnya.
"Tapi kau menunggu Dokter Leon ya?" tanya Sari.
Erisa hanya terdiam. Entah akan bermuara di mana kisah cintanya. Apakah dia akan bahagia seperti saudara-saudaranya? Atau menunggu tanpa kepastian.