
Lelaki misterius itu membuka masker dan kaca matanya termasuk cipus yang menutup kepalanya. Membuat kedua orang di depannya terbelalak melihatnya.
"Kau bukan Alex, kau pasti orang gila yang kemarin di pengkolan," kata Aiko. Dia tidak percaya lelaki misterius itu Alex.
"Alex Sebastian orangnya tampan dan keren sangat berbeda dengan Anda, jangan membohongi kami," ujar Sekretaris Wang yang tak percaya pada lelaki gembel itu.
"Alex seorang casanova, dia begitu dipuja wanita. Tidak mungkin gembel sepertimu," tambah Aiko.
Kedua orang itu justru merasa aneh melihat lelaki misterius di depannya. Dia berambut panjang, berkumis lebat, dan berjambang penuh di pipinya. Penampilannya gimbal. Lebih mirip orang gila.
"Aku Alex Sebastian. Aku tidak bohong!" tegas Alex. Kutu-kutu di kepalanya tampak jelas cukup banyak di rambutnya.
"Jangan bercanda, saya bisa melaporkan anda ke polisi karena mengaku-ngaku sebagai Alex Sebastian," ujar Aiko. Dia tak bisa percaya begitu saja pada lelaki di depannya.
"Aku tidak bercanda, aku Alex Sebastian. Memang penampilanku jadi seperti ini," sahut Alex. Dia berusaha meyakinkan Sekretaris Wang dan Aiko kalau dia memang Alex Sebastian, bukan gurauan.
"Kalau kau Alex Sebastian kenapa kau seperti ini?" tanya Sekretaris Wang. Dia ingin tahu kenapa Alex yang mengaku di depannya ini lebih mirip gembel.
"Aku jarang mandi dan keramas, mandipun kalau ada air hujan turun," jawab Alex.
"Kepalaku pusing, benarkah ini Bos Alex?" ujar Aiko memegang kepalanya. Dia mabok bau sampai mual.
"Coba kau ceritakan sesuatu yang berhubungan dengan Alex dan Sophia," kata Sekretaris Wang. Dia harus menyakinkan dirinya kalau lelaki gimbal di depannya Alex bukan orang gila.
"Oke," jawab Alex. Dia menceritakan apapun yang berhubungan dengan Alex dan Sophia sedetail mungkin tak ada yang terlewatkan.
"Jadi anda memang Bos Alex?" Aiko tak menyangka lelaki gimbal itu Alex Sebastian. Meskipun penampilannya sangat berbeda mirip sunggokong yang sedang mencari kitab suci ke barat.
"Iya, aku ingin bertemu Sophia," jawab Alex. Matanya berkaca-kaca. Dia rindu sekali dengan Sophia. Satu tahun tak bertemu membuatnya ingin bertemu.
"Sophia ..." Sekretaris Wang ragu untuk mengatakan keadaan yang sedang terjadi pada Sophia.
"Sophia kenapa?" Alex membentak. Dia mengkhawatirkan Sophia dari cara Sekretaris Wang bicara padanya.
Sekretaris Wang bangun. Dia menunduk. Begitupun Aiko yang ikut menunduk tak berani menatap mata Alex.
"Di mana istriku?" Alex berteriak. Dia ingin tahu di mana istrinya berada.
Alex berdiri di depan dua orang yang menunduk tak berani menatapnya.
"Dimana istriku?"
Kedua orang itu diam tak memberinya jawaban.
"Dimana istriku?" Nada suara Alex semakin keras dan penuh emosi.
Tak ada jawaban, hening. Mereka berdua tetap menunduk tanpa kata.
"Kenapa kalian tidak menjawab pertanyaanku!" pekik Alex marah karena kedua orang itu tetap terdiam.
"Kami tidak bisa menjawabnya, Keluarga Sebastian, Keluarga Harold atau Keluarga Wijaksana yang tahu di mana Sophia berada. Kami tidak bisa memberi tahumu," ujar Sekretaris Wang. Dia tidak bisa memberi tahu tanpa izin Keluarga Sophia.
"Tapi aku suaminya kenapa aku tidak boleh tahu di mana Sophia?" tanya Alex.
Kedua orang itu terdiam.
"Kenapa hanya aku yang tidak tahu? apa karena aku brengsek?" tanya Alex.
Sekretaris Wang dan Aiko hanya diam.
Braaak ...
Alex menggebrak meja di depannya. Begitupun dengan kutu-kutu yang berjatuhan di atas meja gara-gara rambutnya bergoyang. Terkena gempa dadakan dan susulan.
"Sophia-Sophia koma," jawab Aiko. Dia merasa harus memberitahukan Alex. Meski dia ragu karena seluruh keluarganya Sophia belum mengetahui kalau Alex sudah kembali.
"Apa? Sophia koma?" Alex terkejut mendengar ucapan Aiko. Dia menggeleng. Matanya berkaca-kaca. Tubuhnya lemas tak bertenaga. Usahanya untuk kembali seakan dipatahkan saat mendengar Sophia koma.
"Sudah satu tahun ini Sophia koma, dia menunggu kedatanganmu Bos Alex," ujar Aiko. Dia mengatakan itu sambil berurai air mata. Dia tahu perjuangan Sophia yang berusaha bertahan meski tubuhnya tak memungkinkan.
Sekretaris Wang terdiam. Dia tak tega menceritakan semua yang terjadi pada Sophia. Hanya Aiko yang menguatkan dirinya menceritakan semuanya pada Alex. Dari hilangnya Alex sampai Sophia melahirkan dan koma selama satu tahun. Dia menceritakan itu sambil terisak tangis.
"Sophia ... Sophia ... " Alex terlihat sedih. Matanya berkaca-kaca sampai meneteskan air mata. Dia tak menyangka sampai seperti itu apa yang terjadi pada Sophia saat dia tak ada di sisinya.
"Sophia menunggumu, kau harus segera menemuinya," kata Aiko. Dia menyampaikan apa yang ditunggu Sophia. Hanya Alex yang membuatnya bertahan untuk menunggunya kembali.
"Sophia, aku harus bertemu dengannya," kata Alex. Dia bergegas meninggalkan ruangan itu. Dia berlari secepatnya. Di hati dan pikirannya dipenuhi Sophia. Alex ingin menemuinya.
"Tunggu aku Sophia, jangan tinggalkan aku," ucap Alex sambil berlari kencang. Tak peduli lagi dengan penampilan gimbalnya yang dilihat banyak orang.
Bluuug ....
Beberapa karyawan pingsan dadakan yang berpapasan dengan Alex. Yang lain gatal-gatal badan dan kepalanya.
"Bau ya, untung mulutku lebih bau."
"Aku kentut jadi terlindung dari bau lainnya."
"Kalian masih untung bau, aku kok gatel-gatel ya." Seorang perempuan berambut panjang menggaruk-garuk kepalanya.
"Apa ada kutu yang mudik? terjebak macet."
"Mungkin kutu yang arus balik, beli oleh-oleh dulu."
"Mereka korban bau tornado tadi."
"Panggil tim evakuasi, biar diberi nafas buatan."
"Sayangnya mereka gemuk, aku gak sanggup angkat."
"Panggil tim konsevasi lingkungan!"
"Buat apa?"
"Tanah longsor ini harus ditanggulangi."
Mereka tertawa. Bukannya menolong temannya yang pingsan karena kebauan. Malah sibuk ngerumpi dan foto-foto dengan korban pingsan.
Alex berlari ke luar dari lift. Semua orang terbelalak melihat penampannya bak orang gila yang gimbal. Dia berlari ke luar. Sekuat tenaga melangkahkan kakinya secepat mungkin hingga ke jalan raya.
"Sophiaaaa ... Aku sudah kembali. Tunggu aku!" Alex berlari di tepi jalan sambil berteriak.
Alex terus berlari tak peduli kakinya lelah. Dia harus segera bertemu Sophia. Apapun itu. Kakinya terus melangkah secepatnya.
Di tepi jalan tak sengaja Alex yang berlari bertemu Kenan yang sedang duduk di tepi jalan sarapan bubur ayam.
"Itu Kenan," ucap Alex. Segera menghampiri Kenan. Menepuk bahu Kenan yang asyik makan bubur ayam.
"Kenan!" panggil Alex.
Kenan menoleh ke samping. Menatap lelaki gimbal di sampingnya.
"Maaf Mas, saya gak bawa uang receh, gepokan mau?" tanya Kenan yang mau bersedekah sultan.
"Kenan ini aku kau lupa?" tanya Alex. Berusaha meyakinkan Kenan.
"Tidak, kau pasti kera sakti yang mencari kitab suci ke barat bukan?" tanya Kenan.
"Aku Alex Sebastian Bosmu Kenan," kata Alex. Berharap Kenan mengenalinya meski gimbal.
"Apa?" Kenan terkejut. Dia tak menyangka lelaki gimbal di depannya Bosnya. Dia tercengang melihat Alex yang berubah dari sebelumnya.
"Aku Bosmu, percayalah. Aku butuh tumpangan untuk ke rumah sakit," ujar Alex. Berharap Kenan percaya dan mau mengantarnya ke rumah sakit.
"Ini Bos beneran?" Kenan seperti bermimpi melihat Alex meski versi jeleknya. Kenan berdiri menghampiri Alex. Dia langsung memeluk Alex.
"Bos, aku sangat merindukanmu," ucap Kenan.
"Aku juga rindu padamu," jawab Alex.
Tiba-tiba hidung Kenan kebauan dan tubuhnya gatal-gatal.
"Bau sekali," kata Kenan. Dia melepas pelukannya.
Bluuug ....
Kenan terjatuh di bawah. Tak disangka Bosnya bau sekali. Tubuhnya gatal-gatal sampai menggaruk-garuk.
"Kenan!" teriak Alex.
"Bos tubuhmu bau sekali, badanku sampai gatal-gatal setelah memelukmu," kata Kenan sibuk menggaruk-garuk tubuhnya.
"Sorry Kenan, sudah lama aku tak mandi dan tak pernah ganti baju," sahut Alex. Selama terdampar Alex memang tak pernah hidup dengan benar. Makan dan minum saja kesulitan.
Kenan bangun meski masih garuk-garuk.
"Bos, kau reinkarnasi ke tubuh orang gila ya? Apa tak ada yang lebih bagusan?" tanya Kenan bercanda.
"Aku akan memotong gajimu jika kau tak percaya padaku," tegas Alex. Mengeluarkan kata-kata yang sering diucapkannya ke Kenan.
"Bos!" sahut Kenan teringat suara dan kata-kata Alex.
"Iya ini aku," jawab Alex. Dia senang Kenan sudah percaya. Dia sampai melongo melihat Alex gimbal sambil memegang semangkuk bubur yang sudah ditaburi kutu dari rambut Alex.
"Bos, aku senang sekali kau masih hidup, Alhamdulillah," ujar Kenan.
"Cepat habiskan sarapanmu lalu antar aku ke rumah sakit!" titah Alex.
Kenan mengangguk. Kembali menyantap bubur di mangkuknya. Sedangkan Alex berdiri menunggunya menghabiskan bubur ayam.
"Ayo Bos, kau harus bertemu Sophia, dia menunggumu," kata Kenan yang sudah selesai makan.
"Iya, aku harus bertemu Sophia," sahut Alex.
"Sophia akan senang saat melihatmu Bos, dia sudah menunggu selama ini," kata Kenan. Dia tahu Sophia menunggu kedatangan Alex.
"Kau benar, ayo Kenan, buruan!" Alex sudah tak sabar ingin bertemu Sophia.
Kenan mengangguk.
Setelah itu Kenan mengantar Alex ke rumah sakit mengendarai mobilnya.
Bersambung dulu ...
Nanti di lanjut di episode ini baru lanjut ke episode selanjutnya.