Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Bertemu Kembali Di Bus



Dokter Leon pulang ke rumah Kakek Daniel membawa sekeranjang sayuran yang baru di panen. Dia meletakkan sayuran itu di teras. Baru mau melepas pakaian berkebunnya, Kakek Daniel menghampirinya.


"Leon, tadi ada dua wanita ke sini mencarimu," ujar Kakek Daniel. Berdiri tak jauh dari Dokter Leon.


"Dua wanita? Siapa Kek?" tanya Dokter Leon. Penasaran dengan dua wanita yang dimaksud kakeknya. Dia tidak tahu dua wanita itu siapa. Begitu banyak teman wanita yang dikenalnya selama jadi Dokter.


"Dari Jakarta," jawab Kakek Daniel menjelaskan.


Dokter Leon terdiam sesaat. Mencerna ucapan kakeknya. Jakarta membuat ingatannya kembali pada pekerjaannya, rumahnya, keluarganya, dan seseorang yang ada dijauh sana.


"Siapa namanya Kek?" tanya Dokter Leon. Dia ingin tahu siapa nama wanita yang mencarinya. Terlalu dini jika dia berspekulasi tentang mereka.


"Erisa Horald dan Sari Sridevi," jawab Kakek Daniel.


"Erisa?" Dokter Leon terperanjat. Nama yang selalu dirindukan olehnya setiap saat. Dia teringat pertemuan terakhirnya di bus bersama Erisa. Saat dia hendak meninggalkan Erisa pergi ke Garut.


"Iya, yang satu cantik dan yang satu gendut," jawab Kakek Daniel. Memberitahu gambaran fisik kedua orang yang mencari cucunya.


"Erisa," batin Dokter Leon. Dia teringat sosok cantik dan seksi yang terlihat ceria. Pencopet yang sudah mencuri dompet dan hatinya sekaligus.


Dokter Leon langsung berlari ke depan saat menyadari kalau itu pasti Erisa. Dia harus mencari Erisa dan bertemu dengannya.


"Leon! Mau ke mana?" tanya Kakek Daniel. Melihat cucunya yang berlari meninggalkannya.


"Mau nyusul Erisa Kek!" sahut Dokter Leon dengan suara lantang. Menoleh ke belakang sesaat.


"Iya, bawa cepetan ke buru balik ke Jakarta!" sahut Kakek Daniel membalas dengan suara yang kencang.


"Sip!" jawab Dokter Leon. Dia kembali berlari kencang ke depan. Sedangkan Kakek Daniel nafasnya tersengal-sengal.


"Huh ... huh ... huh ....! Udah tua akinya udah soak," keluh Kakek Daniel.


Di sisi lain Dokter Leon berlari melewati jalan-jalan di antara rumah penduduk. Jalannya tidak begitu besar. Hanya muat dilewati pejalan kaki dan motor. Dia tak sengaja bertemu Sari yang asyik menangkap ikan-ikan.


"Dokter Leon!" panggil Sari.


"Siapa ya? Gak kenal," jawab Dokter Leon yang tidak mengenal wanita gendut asyik berendam di dalam kolam ikan punya warga.


"Aku femes di Jakarta. Miss cantik dan membahana," jawab Sari.


"Gak tahu. Emang ada ya?" sahut Dokter Leon.


"Dokter Leon tolongin, Sari terdampar di tepi pantai tak bisa kembali ke laut," sahut Sari. Dia tidak bisa naik ke atas. Malah asyik namgkep ikan. Tapi kasihan ikannya pada mabok dikentutin Sari.


"Nanti ku telpon petugas hewan langka! Biar bisa kembali ke lautan oke!" jawab Dokter Leon. Dia kembali berlari ke depan meninggalkan Sari yang masih terdampar di dalam kolam ikan.


"Astaga mermaid cantik sepertiku kenapa tak ada satupun pangeran berkuda putih yang menolong.


Di dalam bus Erisa sudah duduk. Dia sudah merelakan Dokter Leon bersama orang lain. Air matanya sudah kering. Tak mampu menangis lagi untuk lelaki yang tidak memberinya kepastian. Erisa ingin kembali ke Jakarta dan melupakan Dokter Leon.


"Aku tidak akan mengingatmu lagi Leon. Kau tidak salah. Akulah yang terlalu berharap. Kau berhak bersama wanita lain. Aku yang menganggapmu milikku itulah yang membuatku menangis dan terluka," batin Erisa. Dia bersandar di kaca. Perih rasanya dia menunggu tanpa kepastian. Saat dia tahu semuanya tenyata sudah berakhir itu sangat menyakitkan.


"Mungkin kita memang tidak berjodoh, mungkin kita tidak harus bersama, kau hanya sebuah kenangan bukan masa depan," ucap Erisa. Tubuhnya terasa lemas. Tak bertenaga lagi. Semangatnya menghilang. Dia harus menata kembali semuanya dari awal. Mengumpulkan pecahan-pecahan yang terpisah.


"Selamat tinggal Leon. Cinta yang hanya berupa harapan dan mimpi yang tak pernah bisa tergapai," lirih Erisa. Dia memegang dadanya. Begitu sakit saat mengingat semuanya sudah harus diakhiri dan melangkah meninggalkannya.


Di terminal Dokter Leon mencari Erisa dari satu bus ke bus lainnya. Dia masuk ke setiap bus, berjalan di lorong bus memperhatikan satu per satu orang yang naik bus. Dia mencari keberadaan Erisa.


"Kau ada di mana Erisa?" batin Dokter Leon. Dia berharap segera menemukan Erisa. Dokter Leon berjalan turun dari bus. Masuk ke dalam bus lainnya.


"Apa bus yang dinaikinya sudah jalan ke Jakarta?" ujar Dokter Leon. Dia hampir putus asa. Dia sudah mencari Erisa hampir di semua bus yang ada di terminal. Ini bus terakhir yang akan berangkat ke Jakarta. Dokter Leon berjalan dengan pelan. Rasa lelah sudah mendera. Kakinya sudah sulit digerakkan. Dia menatap satu per satu kursi, berharap Erisa ada di dalam bus itu. Dokter Leon tetap melangkah ternyata di tengah bus, ada seorang wanita cantik dan seksi sedang bersandar di kaca bus sambil melamun. Dokter Leon langsung duduk di samping wanita itu.


"Kenapa melamun cantik?" tanya Dokter Leon.


Erisa tak menggubris ucapan lelaki di sampingnya. Matanya hanya fokus ke pemandangan di luar.


"Apa sudah bertemu dengan Dokter Leon?" tanya Dokter Leon.


Mendengar kata Dokter Leon, Erisa terperanjat. Dia langsung menoleh ke samping. Melihat seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya. Bukan hanya mimpi ataupun bayangan yang selalu terlintas dibenaknya.


"Leon," ucap Erisa. Menatap Dokter Leon yang ada di depannya.


"Baru datang kenapa mau pulang?" tanya Dokter Leon.


Erisa langsung teringat wanita bercadar yang ada di foto bersama Dokter Leon. Dia memasang muka masam dan cemberut padanya.


"Loh kok cemberut? Kenapa cantik?" tanya Dokter Leon. Tersenyum tipis pada Erisa.


"Kenapa aku harus menunggumu tanpa kepastian?" tanya Erisa. Dia harus menunggu Dokter Leon tanpa sebuah kepastian.


Dokter Leon terdiam. Dia tahu sudah menggantung Erisa tanpa sebuah kejelasan.


"Kenapa kau tidak bilang berakhir saat itu? aku tidak akan terus berharap dan bermimpi untuk bersamamu," ujar Erisa. Jika dipertemuan terakhir Dokter Leon mengakhiri semuanya mungkin Erisa tidak akan berharap dan bermimpi. Terus menunggu entah kapan sang arjuna kembali.


"Maafkan aku, aku salah," jawab Dokter Leon. Menunduk di depan Erisa. Dia merasa sangat bersalah.


"Gak perlu minta maaf, kau tidak salah. Mungkin aku yang terlalu berharap," ujar Erisa.


"Erisa aku ..." Dokter Leon menaikkan pandangannya kembali.


"Aku tahu, kau sudah punya seseorang dalam hidupmukan? Dia pasti istrimu. Aku sudah melihatnya, dia wanita bercadar. Iyakan?" ujar Erisa. Matanya berkaca-kaca. Perih mengingat kembali wanita bercadar yang ada di foto bersama Dokter Leon.