
Tuan Matteo masuk ke dalam rumah yang kebetulan pintu depannya sudah dibuka.
"Assalamu'alaikum," sapa Tuan Matteo.
"Wa'alaikumsallam," sahut Claudya.
Tuan Matteo tersenyum melihat sang pujaan hatinya berdiri di depannya. Claudya begitu cantik dengan gamis berwarna pink senada dengan hijabnya. Terlihat feminim dan lebih cerah. Claudya malu-malu menundukkan kepalanya.
"Secantik ini pasti untukkukan?" tanya Tuan Matteo.
"Gaklah, aku memang cantik setiap hari," jawab Claudya.
"Oke, cintaku memang can...tik tiap hari," sahut Tuan Matteo.
Claudya tersenyum hanya membuang mukanya agar Tuan Matteo tak mengetahuinya.
"Laper sayang, belum sarapan nih dari rumah," keluh Tuan Matteo sambil memegang perutnya.
"Ayo masuk, makan dan pulanglah!" ujar Claudya.
"Aku tidak akan pulang secepat itu sayang, sebelum kau terima cintaku," batin Tuan Matteo.
"Oke," sahut Tuan Matteo.
Keduanya masuk ke dalam ruang makan. Di meja makan terdapat tudung saji berukuran cukup besar. Tuan Matteo heran kenapa makanannya ditutup tudung saji.
"Ayo dimakan lelaki mesum! semua ini ku siapkan untukmu," ucap Claudya.
"Terimakasih cintaku, manis sekali," sahut Tuan Matteo. Dia maju ke depan. Duduk di kursi. Hanya saja Claudya masih berdiri. Dia tak juga duduk. Membuat Tuan Matteo merasa ada yang aneh.
"Ayo dibuka lelaki mesum, laparkan?" tanya Claudya.
"Iya tahu aja cintaku," jawab Tuan Matteo. Tangannya bergerak membuka tudung saji itu. Ketika dibuka. Seekor ikat lele melompat. Sampai mengenai mukanya.
Pluuuk ....
Ikan lele meleset ke bawah, terjatuh ke bawah lantai.
Tak hanya ikan lele. Ayam betina yang masih hidup juga sedang berjalan di atas meja.
"Pooook ... poook ...poook ...." Suara ayam betina yang heboh lagi enak-enak ngedekem malah keganggu. Tangan Tuan Matteo yang satunya di atas meja, dipatuk ayam betina itu.
"Aw ..., tanganku," keluh Tuan Matteo sambil memegang tangannya.
Claudya tertawa sepuasnya sampai perutnya sakit melihat itu.
"Lelaki mesum ayo makan, masih fresh dari ladang," ujar Claudya.
"Cintaku aku ini bukan monster yang makan mentah-mentah apapun," ujar Tuan Matteo.
"Kalau mau makan yang matang, masak aja sendiri, tuh bahannya udah ada," ujar Claudya.
"Gak masalah, akan ku sulap semua ini jadi makanan enak," sahut Tuan Matteo. Dia tak gentar. Demi memperjuangkan cintanya apapun akan dilakukan termasuk memasak.
"Ayo buktikan ucapanmu!" tantang Claudya.
"Kalau aku berhasil, terima cintaku," tantang Tuan Matteo balik.
"Oke, siapa takut? Paling juga lelaki berdasi sepertimu tak bisa masak," ujar Claudya.
"Aku akan menunjukkan kemampuan tersembunyiku, kau akan terpukau," sahut Tuan Matteo.
Keduanya tersenyum. Claudya tak percaya lelaki yang biasa bergulat dengan berkas dan laptop bisa masak. Sedangkan Tuan Matteo merasa inilah saatnya dia membuktikan. Ada kesempatan yang terbuka lebar. Saat dia menunjukkan kemampuan yang tersembunyinya. Hingga dia terdampar di belakang rumah mencuci dan membersihkan ikan lele.
"Nasib, ini lele kok licin banget. Diem apa? Jangan matil," ucap Tuan Matteo.
Claudya hanya tersenyum melihat Tuan Matteo kesulitan menangkap ikan lele untuk dibersihkan.
"Katanya kemampuan tersembunyi, mana ngenes banget," ujar Claudya.
"Belum, ini on proses, lihat saja lelenya akan siap digoreng," sahut Tuan Matteo. Namun ucapan tak semanis kenyataan. Berkali-kali dipatil dan salah memotong tangannya sendiri karena lelenya licin.
"Tuh tangan atau daging ya, berapa kali dicincang?" tanya Claudya.
"Tenang, ini bahan percobaan dulu, buat mastiin pisaunya tajam sayang," jawab Tuan Matteo.
"Padahal perih nih kena air, apalagi kena sabun?" batin Tuan Matteo. Dia sok kuat di depan Claudya padahal tangannya keperihan, salah nyincang tangan sendiri bukannya lele.
Setelah urusan lele selesai, kini ayam betina yang siap dipotong. Tuan Matteo harus mengejar ayam betina itu yang masih asyik mejeng sana sini.
"Ayolah ayam, kompromi, nanti ku tahlilin setelah ku goreng," ucap Tuan Matteo mengejar-ngejar ayam di halaman belakang. Dia sudah jatuh berkali-kali mengejar ayam betina itu. Perjuangannya tak mudah. Ayam itu jinak-jinak merpati. Ketika diberi beras mendekat, udah abis ya kabur, siapa juga yang mau dipotong.
"Tenang, akan ku makamkan dengan layak, kau tak perlu khawatir setelah ku potong," ucap Tuan Matteo.
"Poook ... poook ... poook ...." Suara ayam itu asyik dengan dunianya sendiri.
"Ha ha ha, ayamnya gak ridho tuh, sudahlah, menyerah saja," ujar Claudya.
"Aku akan menikahimu, mana mungkin menyerah sayang," sahut Tuan Matteo.
Claudya hanya menggeleng. Sedangkan Tuan Matteo masih berusaha menangkap ayam betina itu. Dia berjuang sekuat tenaga sampai masuk ke dalam semak, masuk ke kolong gajebo, dan nyemplung kolam renang. Semangatnya tak pernah pudar. Demi cinta semangat 45 dikobarkan.
"Akhirnya ketangkep juga, ku beri kau satu permintaan, monggo!" titah Tuan Matteo pada ayam betina digendongannya.
Cruuut ...
Pop ayam betina itu jatuh ke kaos putih Tuan Matteo.
"Yah ini toh permintaannya," ucap Tuan Matteo.
Ayam betina itu terlihat lega setelah buang pop. Dia akan mati dengan tenang, dari tadi dah nahan pop gara-gara dikejar Tuan Matteo.
Claudya hanya tertawa terbahak-bahak melihat itu.
"Kau suka sayang? Gak masalah kena pop asal kau suka," ucap Tuan Matteo.
"Siapa juga yang suka, huh!" ujar Claudya.
Setelah proses panjang dari membersihkan lele dan memotong ayam. Akhirnya tiba saatnya memasak. Tuan Matteo memakai celemek. Mulai menyiangi sayuran dan membuat bumbu.
"Wah Chef lagi masak, bisa gak?" ledek Claudya.
"Bisa dong, kau meragukanku cinta," sahut Tuan Matteo.
Claudya hanya tersenyum membiarkan Tuan Matteo membuktikan ucapannya. Lelaki mesum itu terlihat lihai saat memotong sayuran dan menyiapkan bumbu masakan. Namun saat menggoreng ayam dan lele, dia mengenakan baju APD dan mukanya ditutup helm yang dibelinya secara online. Dia pesan minta dikirim langsung. Untuk orang seperti Tuan Matteo, apa sih yang tidak bisa.
"Ha ha ha, mau kemana? Kok pakai APD?" ledek Claudya.
"Ini cara aman menggoreng ayam dan lele," sahut Tuan Matteo.
"Kenapa gak pakai baju astronot sekalian," sanggah Claudya.
"Tar kelamaan pesennya, ini lebih cepet," sahut Tuan Matteo.
Claudya memfoto Tuan Matteo dengan APD dan helmnya kemudian menyimpannya. Dia akan ingat terus momen lucu itu.
"Kau memfotoku, buat wallpaper ya sayang," ucap Tuan Matteo.
"Ngapain? malu-maluin aja," sahut Claudya.
"Beneran? Paling tidak buat kenang-kenangan anak kita nanti, biar mereka tahu perjuangan ayahnya menaklukan ibunya," ujar Tuan Matteo.
"Huh ..., gak denger," ucap Claudya. Padahal dia seneng banget lihat Tuan Matteo segitunya buat dirinya.
Tuan Matteo kembali fokus memasak. Dia mulai menumis sayuran, memanggang sebagian ayam, dan menggoreng lele dan ayam sisanya.
Pletok ... pletok ... pletok ...
Suara minyak terdengar nyaring dari wajan penggorengan. Tuan Matteo bukannya menunggu gorengannya malah sembunyi di dekat kulkas.
"Udah pakai APD, helm, masih takut juga?" ujar Claudya.
"Serem juga denger pletokkannya," sahut Tuan Matteo.
"Gosong tar kalau gak dibalik," ucap Claudya. Dia maju ke depan. Membalik ayam goreng di wajan. Tiba-tiba minyaknya mletok. Claudya terkejut hampir saja kecipratan minyak panas, untuk Tuan Matteo menghalangi tubuh Claudya dengan tubuhnya sendiri.
"Aaa ...," teriak Claudya terkejut mendengar minyak yang mletok itu. Dia menutup matanya. Ketika membukanya, dia melihat Tuan Matteo ada di depannya.
"Kenapa kau di situ lelaki mesum?" tanya Claudya.
"Untuk melindungimu," jawab Tuan Matteo.
Claudya menunduk, tersenyum bahagia. Malu-malu, meskipun dia senang sekali dengan apa yang dilakukan Tuan Matteo untuknya.
"Duduklah di ruang makan, tunggu aku selesaikan semuanya," titah Tuan Matteo.
Claudya mengangguk. Dia berjalan ke luar dari dapur. Tinggal Tuan Matteo yang kembali memasak. Sampai semuanya selesai. Dia melepas baju APD dan helm. Membawa semua masakannya ke meja makan. Dia menghidangkan semua masakannya di atas makan. Claudya tersenyum melihat semua masakan selesai dimasak Tuan Matteo.
"Semua masakan ini ku persembahkan untukmu sayang," ucap Tuan Matteo yang berdiri di depan meja makan.
"Jangan senang dulu, aku belum mencicipinya, bisa saja gak enak," ujar Claudya.
"Monggo dicicipi!" titah Tuan Matteo.
Claudya mulai mencicipi satu per satu masakan Tuan Matteo. Dia terpaku. Mematung dengan rasa yang ada dilidahnya.
"Kenapa? Gak enak?" tanya Tuan Matteo.
Claudya kembali mencicipinya. Memakannya beberapa suapan. Dia ingin membuktikan apa yang tadi dirasakannya tidak salah.
"Kalau gak enak bilang, aku siap masak ulang, gak mau ditolak," ucap Tuan Matteo.
"Enak," sahut Claudya. Hanya satu kata itu yang ke luar dari mulutnya.
"Aku bilang apa, aku akan menang, jadi kau harus menerima cintaku," ucap Tuan Matteo.
"Tapi ...," sahut Claudya.
"Gak ada tapi, mulai hari ini kau milikku, aku akan melamarmu," ucap Tuan Matteo.
"Kau memaksa," ucap Claudya.
"Tapi kau suka tuh dipaksa," sahut Tuan Matteo.
Claudya menunduk malu. Menyembunyikan senyumannya.