Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Salahfaham 1



"Gak tahu Tuan. Bibi juga gak kenal," sahut Bi Siti. Kalau orang dekat atau tamu yang sering datang ke rumah Keluarga Sebastian Bi Siti pasti kenal meski tak tahu namanya. Tapi tamu yang satu ini dia tidak tahu sama sekali.


"Memang dia mau apa ke sini?" tanya Kakek David. Penasaran dengan tujuan tamu itu datang ke rumah Keluarga Sebastian.


"Mau bertemu Tuan Ferdi," jawab Bi Siti.


"Mau ketemu denganku?" Pak Ferdi penasaran dengan tamu yang ingin mencarinya. Seingatnya dia tidak sedang janjian dengan seseorang.


"Iya Tuan," jawab Bi Siti.


"Ayah siapa dia? Kau tidak sedang bermain apikan?" Ibu Marisa udah kesel duluan.


"Gaklah sayang, cintaku untukmu," sahut Pak Ferdi. Dia tidak mungkin mencintai wanita lain. Hidupnya sudah bahagia bersama Ibu Marisa dan keluarganya.


"Apa dia cantik, muda, dadanya gede, rambutnya panjang, dan aduhai?" tanya Gavin. Otaknya udah mikir yang tidak-tidak dulu.


"Iya Tuan muda," sahut Bi Siti.


"Dasar Gavin, gue laporin Maria loh!" ancam Alex.


"Ampun Kak jangan. Aku cuma mencari tahu pacar ayah itu seperti apa?" sahut Gavin.


Ibu Marisa tambah ngambek gara-gara ucapan Gavin.


"Dia pacarmu Sayang?" tanya Ibu Marisa.


"Gak sayang, beneran. Gavin tukang gosip," jawab Pak Ferdi. Gara-gara Gavin posisi Pak Ferdi tersudutkan.


"Sabar Bu. Mungkin temen Ayah," kata Alex. Dia tidak berpikir sesuatu yang janggal. Wajar kalau ada tamu yang datang.


"Iya Marisa, mungkin anak temennya Ferdi," tambah Kakek David ikut menenangkan menantunya.


"Atau cemceman Ayah nih," celetuk Gavin. Mendengar Gavin bicara ngasal Claudya langsung menutup mulut Gavin.


"Ehm ... ehm ..."


"Diamlah Kak! Kau tak liat Ibu bertanduk." Claudya menunjuk ke arah Ibu Marisa yang menatap tajam Pak Ferdi.


Gavin mengangguk. Paham apa yang dimaksud adiknya.


"Awas kalau ngomong tanpa direm, aku bagi cacing tanah fresh dari oven!" ancam Claudya. Gavin hanya mengangguk saat Claudya mulai melepas tangannya dari mulut Gavin.


"Kalau begitu saya undur diri Tuan besar," ucap Bi Siti.


Kakek David mengangguk. Bi Siti pun berlalu meninggalkan ruangan itu.


"Sayang," panggil Pak Ferdi.


Ibu Marisa diam saja, mengerutkan bibirnya dan memangku tangannya. Dia kesal mendengar ada wanita yang mencari suaminya.


"Sayang, dia pasti sales penjual obat kuat," kata Pak Ferdi berusaha membujuk istrinya yang sudah ngambek duluan. Sedangkan yang lainnya bengong mendengar Pak Ferdi menyebut obat kuat.


"Apa kau langganan obat kuat?" Ibu Marisa terperanjat. Tak disangka suaminya langganan obat kuat.


"I-iya sesekali. Terakhir aku lupa bayar pasti dia nagih ke sini," jawab Pak Ferdi. Mau tak mau jujur kalau dia sering langganan obat kuat.


"Ayah, tak ku sangka kita satu server, iyakan Kak Alex?" tanya Gavin sambil mengedipkan mata ke arah Alex.


Alex menggeleng. Malu banget kalau dia ketahuan ikutan pesen.


"Mas juga beli obat itu?" tanya Sophia.


"Gak sayang, itu Gavin. Aku gak ikut-ikutan," sanggah Alex. Buru-buru cari aman.


Gavin mengambil buku catatan kecil miliknya di kantung celananya. Kemudian membacanya.


"Tuan Matteo satu, Alex Sebastian dua, Ferdi Sebastian 5, Harry Harold 10, dan David Sebastian 15," ucap Gavin membaca pesanan obat kuat.


"Apa?" Semua orang terperanjat. Para lelaki melotot ke arah Gavin. Mereka siap menjitak Gavin yang tidak bisa tutup mulut.


"Aku hanya membaca, jangan pada protes. Semua bisa dibicarakan baik-baik." Gavin ngilu melihat Kakek David, Alex, Tuan Matteo, Pak Ferdi dan Pak Harry bersiap menghajarnya.


"Gavin!" seru Alex, Tuan Matteo, Kakek Davin, Pak Ferdi dan Pak Harry.


"A-aku gak ikutan. Hanya perantara." Gavin langsung kabur mengamankan diri dikejar Alex dan Tuan Matteo.


"Ampun, aku cuma menjelaskan agar tak salahfaham." Gavin lari ke lantai atas.


"Ayo Matteo kita hajar dia biar gak ember." Alex berlari ke lantai atas menyusul Gavin.


"Iya, biniku bisa marah gara-gara mulut lemesnya." Tuan Matteo juga ikut mengejar Gavin ke lantai atas.


Sementara itu Ibu Marisa masih ngambek. Pak Ferdi yang duduk di sampingnya masih berusaha menjelaskan.


"Sayang aku tidak mungkin mendua," ujar Pak Ferdi.


"Tapi kalau nikah lagi mau?" tanya Ibu Marisa.


"Kalau diijinkan boleh tiga sekalian," jawab Pak Ferdi.


"Ih ... Maunya. Dasar buaya," sahut Ibu Marisa semakin kesal bukannya mereda.


"Otakku masih bersih, polos, jangan tercemar." Pak Harry mengamankan diri. Baru juga jadi pengantin baru masa kena omel bini.


"Om bukannya tadi pesan juga," sanggah Claudya mengingatkan Pak Harry juga pesan malahan 10 biji.


Pak Harry hanya tersenyum malu-malu.


"Abang ikutan pesan juga?" Sora ikut sensi gara-gara Gavin.


"Awas lo Gavin, Om gitak habis," batin Pak Harry yang gemes dengan Gavin yang ember.


"Iseng doang Neng, dikomporin Gavin," sahut Pak Harry.


"Iseng tapi paling banyak urutan kedua loh Om," sanggah Claudya. Mengingatkan Pak Harry yang pesan paling banyak diurutan kedua.


"Diurutan kedua ya?" Pak Harry malu. Gara-gara mulut ember Gavin dia dan para suami lainnya kena omel istrinya.


"Sudah-sudah lebih baik kita lihat siapa tamunya," ujar Kakek David.


"Kek, kau tadi pesan paling banyak. Buat kau pakai sendiri?" tanya Nenek Carroline.


Kakek David kena sembur Nenek Carroline juga. Dikira dia paling aman.


"Gak Nek, itu cuma pesanan Ferdi tapi dia malu jadi minta aku yang harus pesan banyak," sanggah Kakek David.


Habis Pak Ferdi makin ngambek Ibu Marisa. Mendengar penjelasan Kakek David.


"Sayang, maaf," ucap Pak Ferdi. Ibu Marisa hanya memalingkan muka. Dia kesal dan marah pada suaminya.


"Astaga ayah paling banyak dong, is-is!" Claudya menggeleng tak disangka ayahnya paling banyak pesan.


"Sudah, ayo kita temui tamunya," ujar Kakek David.


Semua orang mengangguk.


Mereka masuk ke ruang tamu untuk membuktikan wanita muda yang bertamu sales obat kuat atau selingkuhannya Pak Ferdi.


Pak Ferdi baru masuk bersama yang lainnya, Erisa langsung merangkul Pak Ferdi.


"Ayah aku kangen," ucap Erisa memeluk erat Pak Ferdi.


"Eh siapa kamu!" elak Pak Ferdi sambil melepas pelukan Erisa.


"Sayang siapa dia?" tanya Ibu Marisa. Dia semakin salahfaham dan kesal. Begitupun dengan yang lainnya yang masih mematung di tempat melihat Pak Ferdi dipeluk Erisa.


"Gak tahu sayang," sahut Pak Ferdi sambil melepas tangan Erisa.


"Aku ini anak Papa," kata Erisa. Dia tetap berusaha memeluk Pak Ferdi.


"Gak mungkin, kau bukan anakku," sahut Pak Ferdi sambil melepas kedua tangan Erisa. Karena gadis itu tidak ingin melepaskan tangannya, Pak Ferdi mendorongnya keras hingga terjatuh ke lantai.


Bruuug ...


"Aw ..." Erisa terduduk di lantai. Memegang pinggangnya.


Melihat itu Sophia bergegas membantu Erisa. Dia membantu gadis itu bangun dan duduk di sofa.


"Kita bicarakan baik-baik ya, biar jelas semuanya," kata Sophia. Mencoba menenangkan Erisa agar tidak lagi memeluk Pak Ferdi.


Erisa mengangguk.


Semua orang duduk di sofa dari Kakek David sampai Pak Ferdi. Mereka menatap gadis cantik yang duduk di sofa. Celana levisnya bolong di lutut, mengenakan topi, rambutnya panjang, dan mengenakan kemeja yang tidak dikancingkan, terlihat tangtop berwarna putih di dalamnya.


"Siapa namamu?" tanya Kakek David. Dia kepala keluarga di rumah Keluarga Sebastian. Tentunya orang yang paling bertanggung jawab.


"Erisa Frisilia," jawab Erisa.


"Erisa, aku David Sebastian. Kau bisa panggil aku Kakek David, senang bertemu denganmu," ujar Kakek David.


"Iya Kek, Erisa juga senang bertemu kakek," jawab Erisa. Menatap lelaki paling tua di rumah itu.


"Kenapa kau ingin bertemu Ferdi anakku?" tanya Kakek David. Dia ingin tahu tujuan Erisa ingin bertemu Pak Ferdi.


"Karena dia ayahku," jawab Erisa.


Deg


Semua orang terperanjat mendengar pernyataan Erisa. Entah dari mana asalnya mengaku anak dari Pak Ferdi.


"Gak mungkin, kau pasti pelakorkan atau simpanan suamiku?" sahut Ibu Marisa marah dan menunjuk ke arah Erisa. Matanya memerah. Dia marah besar.


"Sayang sabar, ini pasti salahfaham." Pak Ferdi berusaha menenangkan istrinya yang duduk di sampingnya.


"Kau jangan melindungi dia Mas, kau pasti takut ketahuankan kalau kau sugar daddy-nya," sahut Ibu Marisa emosi.


"Sabar Bu, kita dengar penjelasannya dulu. Belum tentu ayah bersalah," kata Sophia.


"Benar kata Sophia, kita dengar penjelasan Erisa dulu kenapa memanggil Ferdi ayahnya," tambah Kakek David.


"Bu sabar, belum tentu ayah selingkuh. Nanti ibu nyesel udah nuduh duluan," celetuk Claudya. Sama seperti Sophia dan Kakek David, dia juga berusaha menenangkan ibunya.