Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Menuju Akad



"Angkat Mak!" titah Gavin.


"Iya Nak Gavin, Mak angkat dulu ya," sahut Mak Ros.


Gavin mengangguk.


Mak Ros pun berdiri. Berjalan ke sudut lorong. Dia berdiri di dekat jendela kaca. Mengangkat telpon dari polisi.


"Hallo selamat malam."


"Malam," sahut Mak Ros.


"Apa ini Mak Rosmalian?"


"Iya," jawab Mak Ros.


"Saya dari kepolisian mau memberi tahu terduga Vera Bianka melarikan diri."


"Apa?" Mak Ros terkejut. Dia tidak percaya apa yang didengarnya.


"Kok bisa Vera melarikan diri?" tanya Mak Ros.


"Terduga Vera menyerang kepolisian saat kami hendak membawanya ke kantor polisi. Kemudian dia melarikan diri."


"Astaghfirullah, Vera," ujar Mak Ros.


"Jika nanti terduga Vera pulang, atau menghubungi Mak dan anggota keluarga tolong segera hubungi kami."


"Iya Pak," jawab Mak Ros.


"Terimakasih atas waktunya."


"Sama-sama."


Mak Ros menutup telponnya. Dia terdiam sesaat. Memikirkan Vera. Mungkinkah dia pulang ke rumah atau tidak.


"Vera kau ke mana Nak?" ujar Mak Ros. Dia mengkhawatirkan putri bungsunya itu. Selama ini Vera tak pernah jauh dari rumah. Apa mungkin dia pulang ke rumah?


Mak Ros bergegas menghampiri Gavin yang sedang duduk.


"Gavin," sapa Mak Ros.


"Iya Mak," sahut Gavin.


"Mak mau pulang dulu, bolehkah Mak minta tolong," ujar Mak Ros.


"Boleh," jawab Gavin.


"Tolong jaga Maria," pinta Mak Ros. Hanya itu yang diminta Mak Ros pada Gavin.


"Iya Mak," jawab Gavin.


Mak Ros meninggalkan tempat itu. Dia memutuskan untuk mencari keberadaan putrinya. Seburuk apapun perbuatan Vera, bagi Mak Ros Vera tetap anaknya.


***


Hari pernikahan yang ditunggu datang juga. Sore itu acara pernikahan Tuan Matteo dan Claudya. Keluarga Sebastian sudah rapi mengenakan seragam. Begitupun dengan beberapa orang yang dekat dengan Keluarga Sebastian. Mereka semua berkumpul di Masjid Al Malik tempat diselenggarakannya akad nikah.


Claudya masih berdandan di tenda yang disediakan di pelataran masjid. Dia sedang dirias oleh penata rias yang disewa Keluarga Sebastian. Begitupun dengan Sophia dan Ibu Marisa.


"Pengantin cantiknya," puji Sophia yang sudah rapi dengan dress pesta yang menyerupai gamis berwarna silver. Dress itu mengembang dibagian roknya. Cantik dan elegant. Perut Sophia terlihat mulai besar. Dia juga sedikit berisi.


"Alhamdulillah, makasih Kak Sophia," sahut Claudya yang masih di rias.


"Sophia, nyaman tidak? Dressmu harus bisa membuatmu leluasa bergerak?" tanya Ibu Marisa sambil meletakkan tangan kanannya di perut Sophia.


"Nyaman Bu, cuma sedikit gerah, mungkin karena Sophia gemukkan," jawab Sophia.


"Itu sudah biasa terjadi pada ibu hamil, dulu berat ibu sampai 65 KG saat hamil Alex, perut ibu besar sekali, orang pada bilang hamil anak kembar," sahut Ibu Marisa.


"Berarti aku akan lebih gemuk dan perutku akan lebih besar ya Bu?" tanya Sophia yang belum berpengalaman. Ini kehamilan pertamanya.


"Iya, perutmu akan besar dan berat badanmu naik, tapi itu umum terjadi pada ibu hamil, yang penting kau dan bayi sehat Nak," ujar Ibu Marisa sambil mengelus perut Sophia yang membuncit.


"Amin, semoga aku dan bayiku sehat, makasih Bu," ujar Sophia.


"Amin, iya Nak," sahut Ibu Marisa.


Dari luar Alex masuk ke dalam. Dia mengenakan baju yang berwarna silver juga. Masuk ke dalam menghampiri Sophia yang sedang menemani Claudya berdandan. Begitupun Ibu Marisa yang menambah riasannya. Maklum mantan incaran mau datang, dia mau tampil cantik biar nyesel dia gara-gara nolak Ibu Marisa terus. Kini dia udah move on sama Pak Ferdi.


"Assalamu'alaikum," sapa Alex. Mendekati Sophia dan memeluknya dari belakang.


"Wa'alaikumsallam, Mas," sahut Sophia.


"Wa'alaikumsallam," sahut yang lainnya yang ada di tenda.


"Sayang cantik banget," ujar Alex.


"Alhamdulillah makasih Mas," jawab Sophia.


"Kak bini doang yang dipuji, penganten gak nih?" kata Claudya pada abangnya yang memang sulit berdamai dengannya.


"Ngapain? Untungnya buat gue apa?" tanya Alex yang masih nyaman memeluk Sophia sambil mengelus perutnya.


"Kali-kali Kak, puji gue cantik napa? Hari married gua nih," kata Claudya.


"Boleh, tapi lo berani bayar berapa?" tanya Alex.


"Sebel deh Kak Alex, mahal banget muji gua," ujar Claudya cemberut. Mengerucutkan bibirnya.


"Mas, ayolah, ini hari spesial Claudya," pinta Sophia.


"Oke sayang, buat bidadariku apa sih yang gak," sahut Alex.


"Hih, giliran bini nyuruh baru dah," ketus Claudya.


Alex tersenyum kecil. Terlihat Claudya pengen banget dipuji abangnya.


"Claudya cantik banget, pakai kedok berapa senti?" tanya Alex.


"Loh kenyataan, cantikkan habis dirias, gak tahu kalau dibersihin, bisa aja beda," sahut Alex.


"Emang ya lo Kak, gak asyik," ujar Claudya.


Alex melepas pelukannya. Menghampiri Claudya berdiri di belakang kursinya.


"Cantiknya adikku, semoga jadi putri tercantik sore ini, Tuan Matteo pasti pangling," ujar Alex.


"Amin, makasih Kak gitu dong," ujar Claudya seneng banget.


"Oya, dah telpon Tuan Matteo udah sampai mana?" tanya Alex.


"Belum, bentar lagi. Tadi sih masih siap-siap di rumahnya," jawab Claudya.


"Oh, yaudah telpon lagi. Akad nikahnya mau dimulai nih," ujar Alex menasehati adiknya.


Claudya mengangguk.


Kemudian Alex ke luar dari tenda itu. Dia berkumpul dengan keluarga dan beberapa kenalan yang duduk santai di teras masjid.


"Gavin, Maria datang?" tanya Alex.


"Datang sama Mak Ros, duduk di dalam," jawab Gavin.


"Bentar lagi lo married juga, tegang gak?" tanya Alex.


"Kak bukan cuma tegang, gak sabar," sahut Gavin.


Alex tertawa. Secara dia udah married duluan santai. Mana nikah udah Sophia yang nyiapin. Dia tinggal hadir tok. Jadi gak ngerasain saat-saat tak sabar seperti Gavin.


Alex merangkul adik lelakinya yang galau.


"Sabar, yang belakangan lebih enak," bisik Alex.


"Lagi puasa Kak jangan bahas itu," sahut Gavin.


"Loh siapa yang bahas itu, lo pikirannya ke arah mana?" tanya Alex.


Gavin memastikan para tetua dan bocah piyik jauh dari peredaran. Repot kalau dengar. Usia mereka terlalu polos untuk tercemar pembicaraan dewasa.


"Sejak kenal Maria gak sabar Kak, tahu sendiri body-nya kaya apa," ujar Gavin.


"Astaga, kau se-ngeres itu, udah besok nikah aja," ujar Alex.


"Iya, tapikan ada kakek yang masuk antrian selanjutnya," sahut Gavin.


"Emang lo antrian ke berapa dari kita?" tanya Gavin.


"Setelah empat bulanan Kak Alex yang diundur, sunatan Dodo, dan nikahan kakek," jawab Gavin.


"Tuker aja sama Dodo, biar Kak Alex pesenin dulu pisau yang gedean, takut gak cukup kalau pisaunya kecilan," canda Alex.


"Lo Kak parah, anak gua itu," jawab Gavin.


"Emang ya? kirain lo mau buang habis married, tar berat loh ngempaninnya, bikin hidup lo susah aja," sahut Alex.


Gavin tertawa kecil. Bener juga si gendut bakal ikut dia. Ngempaninnya gak mungkin pakai rumput sama air kali.


"Oya Tuan Matteo belum datang," ujar Alex.


"Iya, biar gue telpon Luki, diakan pengiring pengantin pria," jawab Gavin.


"Yaudah telpon sana!" titah Alex.


Gavin mengangguk. Dia berdiri berjalan ke sudut teras. Mencari tempat sepi untuk menelpon Luki. Gavin menyalakan layar handphone miliknya menelpon nomor kontak Luki.


Tuuut ... tuuut ... tuuut ...


"Aduh kok gak diangkat Luki, ke mana sih dia?" batin Gavin.


"Nomor yang anda telpon sedang sibuk, silahkan lakukan panggilan beberapa saat lagi."


Gavin terdiam sesaat.


"Luki kok susah dihubungi? Apa ku telpon Tuan Matteonya langsung?" ujar Gavin.


Karena dia ingin tahu segera, Gavin menelpon Tuan Matteo.


Tuuut ... tuuut ... tuuut ....


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silahkan menghubungi beberapa saat lagi."


"Nomor Tuan Matteo gak aktif, pada ke mana nih?" Gavin cemas.


"Vin gimana?" tanya Alex menghampiri Gavin.


"Nomor Luki sibuk, nomor Tuan Matteo gak aktif," jawab Gavin.


"Dah jam 5 sore belum datang, udah mau magrib," ujar Alex ikut gelisah. Seharusnya akad nikah pukul 4.30 setelah sholat ashar. Tapi sudah jam 5 sore belum juga datang.


"Alex, Gavin!" panggil Kakek David.


Alex dan Gavin berbalik. Menatap Kakek David yang menghampirinya.


"Tuan Matteo kok belum datang?" tanya Kakek David.


"Itu dia Kek, tadi coba dihubungi tapi belum ada kabar," ujar Alex.


"Mungkin masih dijalan Kek," jawab Gavin.


Kakek David melihat ke jam di tangannya.


"Udah jam 5, masa iya gak jadi," ujar Kakek David.


"Mungkin terkendala di jalan Kek," sahut Alex.


Kakek David mengangguk. Coba berpikir positif thinking. Begitupun Alex dan Gavin.