
Kenan menghentikan mobilnya di tepi jalan. Dia menoleh ke belakang. Melihat putrinya yang masih tertidur.
"Kasihan Tara, maafkan Papi belum bisa memberikan tempat yang nyaman untukmu," ujar Kenan. Matanya berkaca.
Kenan mengambil handphone miliknya. Melihat-lihat nama-nama di kontak nama di layar handphone miliknya.
"Coba ku telpon Jamil, diakan sering minjem duitku bahkan belum balikin," ujar Kenan.
Kenan menelpon Jamil. Teman SMA-nya yang sering datang ke rumah untuk pinjam uang pada Kenan.
"Assalamu'alaikum," ucap Kenan.
"Wa'alaikumsallam," sahut Jamil dengan suara keras seolah tak suka.
"Lo ngapain sih Kenan malem-malem nelpon?" tanya Jamil marah.
"Galak banget Jamil, kalau lagi butuh aja manis," batin Kenan pada Jamil yang sok manis saat butuh bantuan Kenan.
"Aku lagi butuh duit Mil, bisa gak balikin duitku?" tanya Kenan.
"Pelit amet sih Lo, lagian juga lo sekretaris masa utang 3 juta aja lo tagih," jawab Jamil.
"Begini Jamil, aku lagi butuh banget," ujar Kenan coba menjelaskan pada temannya.
"Aku gak ada duit Kenan," jawab Jamil.
"Balikin sejuta aja Mil, bukannya kau baru gajian?" tanya Kenan. Dia tahu tanggal gajian Jamil saat Jamil hendak pinjam uang padanya, Jamil memberi tahu tanggal gajiannya agar bisa segera mengembalikan hutangnya tapi semua hanya janji manis. Giliran waktunya tiba menghilang entah ke mana, berasa Jamil sedang di luar angkasa, sulit ditemukan keberadaannya.
"Kebutuhan gue banyak, lo tahu sendiri gaji gue gak sebesar gaji lo tahu," jawab Jamil dengan nada keras.
"Tapi namanya hutang harus kau bayar meski dicicil sekalipun," sahut Kenan.
"Lo rewel banget sih Kenan kaya cewek," ujar Jamil.
"Inget Jamil hutang dibawa mati, sekarang kau tak bayar, nanti diakhirat akan diperhitungkan," kata Kenan.
"Lo kaya ustad aja, ganti ptofesi?" ledek Jamil.
"Astagfirullah, ya udah gue ikhlasin, semoga kau segera menyadari kesalahanmu," ujar Kenan.
"Jangan sok baik, utang 3 juta aja kaya rentenir lo, nagih mulu," sahut Jamil yang malah memaki Kenan.
"Assalamu'alaikum," ucap Kenan. Jamil bukannya menjawab salam Kenan malah menutup langsung telponnya.
"Astagfirullah, kenapa yang ngutang lebih galak?" ucap Kenan. Bukannya Jamil minta maaf karena belum membayar hutang malah marah-marah dan memaki Kenan.
Mata Kenan kembali melihat kontak nama yang ada di layar handphone miliknya. Dia ingin menelpon Alex, tapi tak enak mengganggu Bosnya malam-malam begini, apalagi Bosnya cuti.
Kenan kembali menelpon teman lainnya yang suka main ke rumah Kenan. Mereka sering minta ini itu pada Kenan, mungkin saja kali ini bisa membantunya.
"Assalamu'alaikum," sapa Kenan.
"Wa'alaikumsallam," sahut Didik.
"Apa sih Kenan ngantuk nih?" ujar Didik.
"Dik aku boleh minta tolong gak?" tanya Kenan.
"Lo tahu gue aja susah ngapain minta tolong sama gue?" tanya Didik.
"Aku gak minta tolong soal duit Dik," jawab Kenan.
"Minta tolong apa?" tanya Didik.
"Bisa gak aku ikut nginep semalam aja?" jawab Kenan.
"Aduh sorry Kenan, kontrakkan gue sempit, lo nginep aja di hotel sana," sahut Didik.
"Itu masalahnya aku lagi bokek, gak papa tidur di ruang depan juga," ujar Kenan. Tak masalah baginya tidur di manapun asal putrinya bisa tidur nyaman.
"Ruang depan penuh barang, gak cukup buat nampung lo," jawab Didik.
"Semalam aja Dik," pinta Kenan memohon. Keadaan di luar semakin malam, Kenan harus mendapatkan tempat tinggal untuk anaknya.
"Cari temen lainnya aja yang rumahnya gede, jangan gue," sahut Didik. Kemudian menutup telponnya.
"Astaghfirullah, Didik, baiknya kalau lagi butuh," ujar Kenan kecewa. Ternyata punya teman belum
tentu bisa menolongnya. Apalagi teman yang egois dan parasit. Mereka cenderung manis dan baik hati saat ada maunya.
"Ya Allah aku harus gimana?" batin Kenan.
Kini matanya tertuju pada jam di handphone miliknya.
"Jam 2 malam, tak sopan jika aku menelpon Bos," ucap Kenan.
"Tapi aku butuh bantuannya," tambah Kenan.
Mau tak mau Kenan memberanikan diri menelpon Bosnya. Semua demi putrinya, meskipun dia tidak enak hati harus menelpon malam-malam.
"Assalamu'alaikum," sapa Kenan.
"Wa'alaikumsallam," sahut Alex.
"Bos maaf ganggu," ujar Kenan.
"Gak kok, aku baru habis sholat," jawab Alex.
"Bos aku mau minta tolong," ujar Kenan.
"Minta tolong apa?" tanya Alex.
Kenan akhirnya menceritakan apa yang terjadi padanya, dia tidak bosnya salahfaham.
"Ya udah Kenan menginaplah di rumahku," ujar Alex.
"Beneran Bos?" tanya Kenan.
"Iya, kasihan anakmu sudah malam juga," jawab Alex.
"Alhamdulillah makasih Bos," ucap Kenan senang. Alex memang Bos yang loyal, meskipun menyebalkan. Tapi Alex selalu menolongnya dalam suka maupun duka.
"Iya, ku tunggu di teras," ujar Alex.
"Siap Bos 86," jawab Kenan.
Setelah bicara dengan Alex, Kenan lega. Ada tempat untuk putrinya tidur nyaman malam ini.
Kenan mengendarai mobilnya ke rumah Keluarga Sebastian. Kesedihannya sedikit berkurang. Ada Bosnya yang selalu membantu kesulitannya. Meskipun hatinya sedang terluka perih. Namun kondisi perekonomiannya lebih miris dari pada sekedar menangisi istri yang selingkuh.
Hanya satu jam perjalanan sampai juga di kediaman Keluarga Sebastian. Kenan menggendong Tara menghampiri Alex dan Sophia yang berdiri di teras.
"Assalamu'alaikum," ucap Kenan.
"Wa'alaikumsallam," sahut Alex dan Sophia.
Kenan berdiri di depan Alex dan Sophia. Terlihat kedua orang di depannya menyambutnya dengan ramah dan senyuman itu memancar bak bulan sabit yang melengkung. Bercahaya dan penuh ketulusan.
"Maaf Bos malam-malam ganggu," ujar Kenan.
"Tidak apa-apa, ayo masuk di luar dingin," ajak Alex.
Kenan mengangguk. Ikut masuk ke dalam bersama Alex dan Sophia. Mereka mengantar Kenan ke kamar tamu yang ada di lantai satu. Kamar yang bak hotel bintang lima. Nyaman dan mewah. Kenan tersenyum. Matanya berkaca-kaca.
"Bos, Presdir Sophia, makasih," ucap Kenan.
"Iya, kau baringkan dulu putrimu," sahut Alex.
Kenan mengangguk. Dia membaringkan Tara di ranjang kamar itu. Menyelimuti putri sulungnya yang masih tertidur.
"Kenan sudah makan?" tanya Sophia.
"Belum Presdir, baru pulang lembur," jawab Kenan.
"Biar ku hangatkan makanannya dulu ya?" tanya Sophia.
"Tidak usah Presdir merepotkan," jawab Kenan.
"Hei Kenan, makanan yang dihangatkan istriku ekslusif buatan tangan seorang Presdir," ujar Alex.
"Wah saya akan makan makanan ekslusif ya," jawab Kenan.
"Iya, makanya makan dulu, aku juga mau nambah," sahut Alex.
Sophia tersenyum. Padahal Alex baru saja makan saat Isya tadi. Sekarang mau makan lagi.
"Sayang boleh ya, mumpung ada Kenan," rengek Alex.
Sophia mengangguk.
"Tuh istri sudah memberi izin, kita ngopi dulu di luar Kenan," ajak Alex
"Oke Bos siap," jawab Kenan.
Alex dan Kenan nongrong di karpet yang berada di ruang keluarga. Mereka duduk lesehan sambil menikmati secangkir kopi yang dibuatkan Sophia.
"Bos kopinya lain ya, berasa ada rempahnya," ujar Kenan.
"Ini kopi kesehatan, prodak dari perusahaan Sophia," ujar Alex.
"Enak Bos, baru kali ini minum kopi bisa untuk kesehatan," sahut Kenan.
"Kopi ini idenya Sophia, karena aku suka minum kopi, selain enak sehat juga," ujar Alex.
"Ide yang brilian Bos," sahut Kenan.
"Ya dong, Sophiaku is the best," jawab Alex.
Kenan tersenyum. Melihat Bosnya begitu bahagia bersama Sophia yang memang wanita sholeha yang begitu baik hati. Tak salah waktu itu Bosnya menerima pinangan Sophia.
Tak lama Sophia mengajak Alex dan Kenan makan. Mereka bertiga masuk ke ruang makan. Di meja penuh hidangan makan malam tadi yang sudah dihangatkan Sophia tapi ternyata Dodo sudah di kursi.
"Bos itu gendruwo?" tanya Kenan yang baru melihat si gendut Dodo.
"Kau nilai sendiri, dia masuk ke dalam spesies apa," sahut Alex yang duduk di samping Kenan.
"Om, aku manusia, cuma tubuhku aja yang mirip gendruwo," jawab Dodo.
"Oh kau manusia, pantes botak," ujar Kenan.
"Om baru datang udah body shaming, aku memang botak, tapi tampan dan mapan," jawab Dodo.
Kenan tertawa. Kok bisa Alex menampung makhluk seperti Dodo. Pantas Alex menerima kedatangannya ternyata ada yang lebih aneh darinya.
"Sorry, ini kenyataan, kau sudah menikah?" tanya Kenan.
Alex dan Sophia tertawa kecil menahan tawanya.
"Om emang aku kelihatan tua, gendut bukan berarti aku ini bangkotan Om," jawab Dodo.
"Oh, memang usiamu berapa puluh tahun?" tanya Kenan.
"Mungkin kepala botakku lebih mirip cukong, tapi aku masih imut Om," jawab Dodo.
"Berarti umurmu 15 tahun ya," ujar Kenan.
"Sedih, Dodo baru 6 tahun, TK nih Om," jawab Dodo.
"Berarti seusia Tara," jawab Kenan.
"Anak Om?" tanya Dodo.
"Iya," jawab Kenan.
"Cantik gak? kalau cantik kita jalin hubungan mertua dan menantu Om," ujar Dodo.
Kenan menggeleng. Aduh masuk daftar tinjauan dulu beberapa tahun ke depan. Banyak yang harus direvisi dan difermak.
Akhirnya mereka bertiga makan. Hanya Sophia yang menyemil buah. Itupun disuapi Alex sambil makan makanannya.
"Ya Allah romantisnya Bos dan istrinya, semoga kelak aku merasakan seperti itu juga," batin Kenan melihat keromantisan Alex dan Sophia.
"Adem melihat mereka. Sophia menjadi penerang di hidup Bos," batin Kenan.
Malam itu Kenan belajar dari Alex dan Sophia. Yang begitu tulus membantu oranglain. Memuliakan tamu sebaik mungkin sesuai tuntunan Islam. Bagaimana Nabi Ibrahim AS ketika memuliakan tamu. Baik yang dikenalnya ataupun tidak.
Pagi itu Gavin pergi ke rumah Maria untuk mengenalkannya pada Keluarga Bastian. Gavin mengendarai mobil Fortuner berwarna hitam metalik milik Pak Ferdi. Mobil miliknya sedang diservis. Gavin bersemangat menyambut harinya. Rasa sakit di hatinya coba untuk dilupakan demi masa depan yang jauh lebih indah.
"Mariakan aduhai, inget itu terus, lupakan Humaira songsong hidup baru," ujar Gavin.
Mobil Fortuner itu sampai di pelataran rumah Mak Ros. Gavin ke luar dari mobil. Tak sengaja melihat seorang ibu yang menatapnya tajam. Ibu itu mengenakan daster dan memakai cipus di kepalanya.
"Kok ibu itu menatapku segitunya?" batin Gavin merasa aneh pada ibu tua yang tinggal berdekatan rumahnya dengan rumah Mak Ros.