Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Talak Untukmu



Kenan mengambil sandal itu. Mencium baunya dan menjilat rasanya.


"Rasanya asem tak seperti coklat atau gula?" ujar Kenan.


"Pasti ini bukan sandal istri atau anakku," tambah Kenan.


"Sandal istriku harum bunga mawar, sandal anakku wangi coklat," jelas Kenan. Dia mulai curiga dengan keberadaan sandal yang tiba-tiba muncul entah dari mana.


"Apa sandal Pak RT? Tapi ngapain Pak RT malem-malem nagih iuran keamanan?" ucap Kenan. Memikirkan pemilik sandal tak bertuan itu. Kedinginan di luar.


"Atau Pak Kades? dia orang yang sering bergadang di rumahku," ujar Kenan.


Dia masih berpikir panjang. Takut ada orang yang belum terabsen yang biasanya bertamu dan curhat sampai malam.


"Apa mungkin?" Kenan memikirkan sesuatu yang jauh lebih liar.


"Aku harus buktikan sendiri," batin Kenan. Dia melangkah. Membuka pintu dengan kunci serep yang dibawanya. Membuka pintu perlahan. Ruangan tamu remang. Hanya lampu kecil yang dinyalakan. Terlihat berbagai pakaian berserakan.


Kenan mengambil kolor yang ada di lantai.


"Ini kolor yang pengen ku beli tapi gak kesampaian. Kolor antik gambar power rangers. Lengkap nih ada ranger merah, biru, hijau, putih, hitam, pink dan kuning," ujar Kenan.


"Tapi kolor antik gini punya siapa?" batin Kenan. Berpikir mungkin di otaknya ada berkas yang belum dianalisis.


"Aku inget, punya Pak Kades, kolor limited edition yang dicuci setahun sekali saat bulan purnama dan di luar tidak sedang hujan," ujar Kenan.


"Pak Kades? Ngapain malem-malem gini lepas kolor? Apa bermain sesuatu dengan istriku?" batin Kenan. Dia mulai mencurigai Pak Kades pemilik kolor antik power rangers.


"Pak Kades mantep deh, bikin nagih." Suara Monika terdengar di telinga Kenan. Hati Kenan hancur berkeping-keping. Bulu kuduknya berdiri. Jantungnya berdebar. Matanya melihat ke arah pintu. Suara-suara cinta itu menggema. Memanaskan telinganya.


"Monika, apa dia berselingkuh? Baru saja minta rujuk," batin Kenan. Dia sudah hampir menceraikan Monika. Tapi istrinya itu minta rujuk dengan alasan anak. Selain itu Kenan juga belum punya bukti perselingkuhannya, baru mendengar dari tetangga. Jadi rujuk kembali dengan Monika.


"Pak lagi, mumpung suami pulang malem." Suara itu kembali menyayat hati Kenan. Kakinya terasa berat untuk melangkah. Semua jirih payah dan pengorbanannya selama ini sia-sia. Semua gajinya sudah diberikan pada istrinya, Kenan hanya memegang 3 juta per bulan. Itu pun istrinya minta ini itu setiap pulang kerja.


Kenan berjalan mendekati pintu. Jantungnya semakin berpacu dengan irama yang ada di dalam. Tangannya mengepal, tubuhnya mulai memanas. Kenan memutar gagang pintu. Perlahan pintu terbuka. Kenan menyaksikan istrinya bercinta dengan Pak Kades. Bahkan mereka tak menyadari saat Kenan berdiri di depan pintu. Keduanya begitu menikmati kegiatan terlarang itu.


"Ternyata aku datang di waktu yang tepat, selamat malam Pak Kades," sapa Kenan.


Pak Kades dan Monika menengok ke samping. Melihat Kenan berdiri di depan pintu. Mereka langsung panik. Merapikan diri. Monika menarik seprai sedangkan Pak Kades mengambil selimut. Menutupi tubuh mereka masing-masing.


"Eh Kenan sudah pulang, aku hanya mampir, katanya rumahmu kemalingan," ujar Pak Kades.


"Iya benar Pak Kades, malingnya mencuri istriku dan bermain gila dengannya," jawab Kenan.


"Kenan ini salahfaham, aku hanya memijat istrimu, dia sedang tak enak badan," sahut Pak Kades.


"Kalau begitu bagaimana memijatnya di balai warga, biar semua orang melihat cara Pak Kades memijat istri orang," ujar Kenan. Tatapannya dingin. Suaranya berbeda dari Kenan sebelumnya. Penuh amarah dan kekesalan.


"Mas, Pak Kades benar, semua ini salahfaham," kata Monika.


"Oya, jadi seperti ini saat aku tak di rumah, kau dipijat Pak Kades?" tanya Kenan.


Monika terdiam. Menunduk malu. Takut melihat Kenan marah. Sedangkan Pak Kades menghampiri Kenan. Menepuk bahunya.


"Kenan, istrimu masih utuh, aku cuma sekali dua kali, kau juga bisa bersama wanita lain," ujar Pak Kades.


Dug ....


Kenan langsung memukul Pak Kades dengan kepalan tangannya hingga terjatuh di lantai.


Bruuug ....


"Kau pikir istriku barang yang bisa kau pinjam, heh!" Kenan emosi. Istrinya seakan barang yang bisa dipinjam siapapun.


Pak Kades kesakitan.


"Wanita bukan objek pelampiasan hasratmu, kau merendahkan mereka, jijik aku memanggilmu Kades!" ujar Kenan.


"Kenan!" teriak Pak Kades.


Kenan tak menggubris. Maju ke depan. Menghajar Pak Kades kembali. Berkali-kali sampai babak belur. Namun istrinya memeluknya dari belakang. Kenan langsung melepas pelukan itu dengan keras sampai Monika jatuh ke lantai.


Bruuug ....


"Aw ....," keluh Monika.


Kenan menghentikan pukulannya pada Pak Kades. Berbalik ke arah Monika. Berdiri di depannya.


"Aku sudah memberikan segalanya untukmu, harta, tenaga, dan hatiku untukmu. Tapi ini balasannya?" tutur Kenan.


"Mas, maafkan aku," ucap Monika kembali memasang muka sendu. Berharap Kenan kembali berbelas kasih padanya.


"Monika, aku sering lapar agar kau tersenyum. Aku sering lelah agar kau nyaman, aku sering mengantuk agar kau kenyang, semua itu ku lakukan karena aku suamimu," ujar Kenan. Matanya berkaca-kaca. Semua pengorbanannya menjadi serpihan-serpihan yang berterbangan entah ke mana akan berlabuh.


"Aku pikir cuma aku sekretaris yang kere, tapi aku happy, yang penting aku bisa mewujudkan semua mimpimu," ujar Kenan.


Monika terdiam. Mendengarkan apa yang diucapkan Kenan.


"Terkadang aku lupa kalau aku punya hidupku sendiri, demi hidupmu yang lebih baik, demi anak kita. Tapi kau malah memberiku goresan yang menyakitkan," ujar Kenan.


Monika masih terdiam.


"Aku takkan mengekangmu lagi, kau bisa menjalani hidupmu sesuai kemauanmu, mulai malam ini aku menalakmu Monika," ujar Kenan. Dia menjatuhkan talak. Tak ada lagi yang bisa dipertahankan.


"Ha ha ..., kau pikir aku sedih kau talak, aku kaya Kenan, sedangkan kau gembel. Semua hartamu sudah atas namaku," sahut Monika. Semua harta Kenan baik yang bergerak atau tidak sudah atas nama istrinya. Kelicikan istrinya dan kasih sayang Kenan, membuatnya memanfaatkan semua itu tanpa Kenan sadari. Kenan hanya sibuk bekerja tak pernah berpikir istrinya akan berkhianat.


"Tidak masalah, ambilah semuanya! Tapi berikan anak-anak padaku," jawab Kenan.


"Anak-anak? Anakmu hanya Tara, Tian bukan anakmu," jawab Monika.


"Apa?" Kenan semakin terkejut. Bukan hanya diselingkuhi. Ternyata anak Kenan hanya Tara putri sulungnya.


"Bawalah! Lagian repot banget harus ngurus anak," jawab Monika.


Kenan membuang nafas gusarnya. Berusaha tenang. Meskipun jantungnya berdebar kencang. Nafasnya mulai sesak. Dia memegang dadanya.


"Baik, kita bertemu di pengadilan, nikmatilah keserakahamu Monika!" ujar Kenan. Dia berjalan ke luar dari kamar itu. Membanting pintu dengan kencang. Kemudian menuju kamar Tara putri sulungnya. Kenan menggendong Tara yang masih tidur di punggungnya. Membawanya ke luar dari rumah itu bersamanya.


"Mulai sekarang Tara tinggal sama Papa ya," ujar Kenan pelan pada putrinya yang ada digendongannya.


Kenan memasukkan Tara ke mobil operasional milik perusahaan. Mengendarai mobilnya meninggalkan tempat itu.


Di perjalanan, Kenan melamun. Memikirkan nasibnya dan anaknya. Dia tak punya uang pegangan yang cukup untuk menginap di hotel. Dia juga tak punya sanak saudara di kota. Kenan terus mengendarai mobilnya.


"Aku harus tinggal di mana?" tanya Kenan pada dirinya sendiri. Dia bingung harus membawa putrinya ke mana. Hari sudah semakin malam. Semua orang mungkin sudah tidur. Kenan hanya terdiam.