Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Tes Untukmu



Humaira masih terdiam. Matanya terbelalak. Apa yang didengarnya tadi seperti sebuah petir yang menyambar.


"Assalamu'alaikum," sapa Luki di depan pintu.


Pak Harry, Dokter Randi dan Humaira semakin terkejut saat Luki datang di saat semuanya sedang memanas. Dia membawa foto prewedding yang terpisah antara dirinya dan Humaira. Foto itu diambil masing-masing. Akan dipasang di pintu masuk gedung.


"Wa'alaikumsallam," sahut Humaira. Meneteskan air matanya di balik cadarnya. Matanya berkaca-kaca melihat calon suaminya.


"Wa'alaikumsallam," sahut Pak Harry dan Dokter Randi.


Melihat cangkir di bawah kaki Humaira, Luki langsung mendekat. Meletakkan foto prewedding-nya. Kemudian mengambili pecahan cangkir itu satu per satu.


"Oppa!" ucap Humaira melihat Luki yang mengambili pecahan cangkir itu.


"Ternyata umurmu panjang ya, baru saja aku membicarakanmu," kata Dokter Randi mendekat. Berdiri di atas Luki yang berjongkok mengambili pecahan cangkir itu.


Luki terdiam, berjalan ke luar, membuang pecahan cangkir itu ke tempat sampah di sudut ruangan. Humaira masih berdiri. Terdiam.


"Humaira apa yang tadi ku katakan itu benar, kalau kau tidak percaya tanyakan pada Luki sendiri," kata Dokter Randi tersenyum licik.


"Sudah malam sebaiknya anda pulang Dok!" titah Pak Harry menghampiri Dokter Randi yang berdiri di depan Humaira.


"Bos Harry, tadinya aku berniat menggantikan Luki dari pada anda malu karena pernikahan ini akan dibatalkan," ujar Dokter Randi.


"Jika putriku batal menikah pun, aku tidak akan menikahkan Humaira denganmu," kata Pak Harry.


"Bos Harry!" pekik Dokter Randi.


"Pintu di sebelah sana, silahkan pergi!" titah Pak Harry. Dia tidak ingin Dokter Randi semakin berkicau ke sana ke mari.


"Anda akan menyesal Bos Harry, tapi aku masih memberimu kesempatan, telpon aku jika anda berubah pikiran, aku bersedia menjadi suami Humaira," ujar Dokter Randi. Kemudian dia ke luar dari ruangan itu. Berjalan di teras memuju halaman depan. Berpapasan dengan Luki.


"Besok akulah yang akan menikahi Humaira, bukan kau," kata Dokter Randi.


"Kenapa anda tidak bisa membiarkan hidup orang lain tenang?" sahut Luki.


"Itu karena kau mengambil orang yang ku cintai," ujar Dokter Randi.


"Cintamu itu buta, sampai kau tidak bisa melihat Humaira sudah memilihku," sahut Luki.


Dokter Randi mengepalkan tangannya. Ingin memukul Luki namun tangannya ditangkap tangan Luki.


"Ini rumah orang bukan sarana adu jotos," kata Luki.


"Kau memang membuatku kesal," sahut Dokter Randi. Matanya melotot menatap Luki.


"Kau sendiri yang datang dan mencampuri urusanku," jawab Luki dia mencengkram erat tangan Dokter Randi.


"Aw ..." keluh Dokter Randi kesakitan.


"Aku bisa saja mematahkan tanganmu, bahkan tulang-tulangmu, kalau kau mengganggu milikku," ujar Luki dengan tatapan membunuh.


"Seram sekali bocah ini. Aku dengar lelaki belok bisa lebih menakutkan dari pembunuh bayaran," batin Dokter Randi ketakutan melihat Luki.


"Kau ingin tanganmu patah?" tanya Luki.


"Aw ... ampun." Dokter Randi berusaha melepas tangannya tapi tak bisa. Padahal dia sudah menggunakan tangan satunya untuk melepas tangan Luki.


"Aku bisa menghancurkannya sampai remuk tak tersisa, kalau kau macam-macam padaku," kata Luki.


"Aw ..." Dokter Randi meringis.


Perlahan Luki melepas tangannya dari tangan Dokter Randi.


"Kalau kau berani mengganggu milikku, aku akan membuatmu menyesal," ancam Luki.


Dokter Randi ketakutan. Dia takut Luki nekad. Buru-buru kabur meninggalkan tempat itu.


Luki membuang nafas gusarnya. Dia masuk ke dalam ruang tamu. Di dalam Humaira sudah tak ada. Hanya Pak Harry yang masih duduk di sofa.


"Duduklah!" titah Pak Harry.


Luki mengangguk. Duduk di sofa. Berseberangan dengan Pak Harry.


"Apa benar kau lelaki penyuka sesama jenis?" tanya Pak Harry.


"Iya," jawab Luki.


Tangan Pak Harry mengepal. Siap memberikan pukulan pada Luki.


"Tapi dulu, sekarang aku sudah normal. Aku mencintai Humaira dan ingin menikahinya," jawab Luki.


Kepalan tangan Pak Harry mulai melemas. Tak lagi keras. Meskipun masih mengepal.


"Aku sudah normal, aku ingin membahagiakan Humaira dan memiliki anak dengannya," kata Luki.


"Baiklah, aku harus memastikan kau sudah normal atau tidak," ujar Pak Harry.


Luki mengangguk. Cari aman dari pada babak belur kena kepalan panas dari mertua.


Luki ikut ke dalam ruangan kosong mirip aula kecil. Di dalam Pak Harry duduk di kursi bak juri. Luki hanya di suruh berdiri di tengah aula itu. Tak lama Son dan Jon datang.


"Son masa Bos nyuruh kita pakai BH isi kue nastar gini."


"Kau masih enak isi kue nastar, bisa dicemil selagi bertugas, aku isi es batu, dingin Jon."


"Siapa suruh isi es batu, kenapa tak isi kue salju?"


"Aku dengernya salju, ya tak isi es batu."


"Iya, ini sandal yang ku sambung kaleng sarden Jon biar ada haknya."


Jon langsung tertawa. Tak kuasa menahan kelucuan sahabatnya.


"Kalian cepat lakukan yang ku suruh! Jangan ngerumpi!" titah Pak Harry.


"Ayo Son buruan!"


"Jon nastar mu berjatuhan."


"Iya ya, kebanyakan ngisinya, sampai ke bokong juga ku isi."


"Bau tai dong Jon nastarnya."


"Biarin tak kita cemil barengan."


Son dan Jon ditugaskan menggoda Luki. Cewek abal-abal yang disuruh Pak Harry untuk membuat Luki mengeluarkan hasratnya.


"Astaga gimana mau bernafsu, ini mah abal-abal, KW seribu juga udah empet-empetan," kata Luki.


"Abang godain Eneng."


"Son genit banget, fokus goyang."


Mereka berdua goyang di depan Luki dari goyang ngebor, ngecor, gedor, ngekor, sampai ngopor.


"Digoyang Bang, dangdutan ah."


"Kita ini kok berasa penyanyi omprengan Son."


"Udah terusin digoyang, bikin cowok itu bernafsu melihat kita."


"Muntah yang ada Son."


Luki malah tertawa terbahak-bahak oleh tingkah kedua tukang pukul Pak Harry. Perutnya sampai sakit melihat mereka goyang gak karuan.


"Cukup!" kata Pak Harry.


"Siap Bos!" Mereka berdua mengakhiri kontes itu. Ke luar dari tempat audisi.


"Sekarang tahap kedua tes mental," kata Pak Harry.


Luki duduk di kursi. Di depan Pak Harry menyalakan prosesor ke dinding. Muncul gambar cewek-cewek seksi. Dia membiarkan Luki melihatnya.


"Paling celana tuh basah habis ini, masa milih timun dan terong buat tumisankan," kata Pak Harry sambil melihat Luki.


Pak Harry berdiri. Berjalan menghampiri Luki yang masih diam. Terpaku.


"Tong celanamu udah basah belum?" tanya Pak Harry.


"Basah kenapa Bos?" tanya Luki.


"Kau tak tergoda melihat cewek-cewek seksi itu?" tanya Pak Harry.


"Hanya Humaira yang bisa membuat celanaku basah," jawab Luki.


Tepok jidat Pak Harry. Kirain polos gak tahunya ngerti celana basah segala.


"Ya udah, aku percaya kau sudah normal. Ku kasih cewek omprengan kau tak doyan," ujar Pak Harry.


"Kalau Humaira yang pakai baju seksi aku jauh lebih senang Bos, bisa?" tanya Luki.


"Bisa, bisa ku hajar kau Tong," jawab Pak Harry.


Akhirnya Pak Harry selesai mengetes Luki. Dia kembali ke ruang tamu. Duduk bersama Luki.


"Nikah sama cewek itu enak Tong, ku pastikan kau ketagihan," kata Pak Harry.


Luki tersenyum-senyum. Antara mudeng dan tidak.


"Sebentar lagi ada tes lainnya," kata Pak Harry.


"Tes apa lagi Bos?" tanya Luki.


"Sabar, aku juga lagi nungguin," jawab Pak Harry.


Tak lama muncul dua cewek seksi. Berpakaian minim. Dada terekspose, paha mulus mentereng. Masuk ke dalam ruang tamu.


"Bos siapa yang mau dipanasin?"


"Kita dah siap goyang atas bawah."


"Aku dulu deh," ujar Pak Harry.


"Inget umur dan dosa Bos, aku gak jamin habis itu masih hidup," kata Luki.


"Astaga calon menantu gak ngertiin mertua jomblo," sahut Pak Harry.


Kedua cewek seksi itu harus menggoda Luki. Mereka mendekatinya. Duduk mengapit Luki di tengah. Meraba dadanya dan pahanya.


"Stop!" pekik Humaira yang masuk ke ruang tamu.


"Lepaskan calon suamiku Papa!" titah Humaira.


"Sabar Nak, ini hanya tes kejantanan," sahut Pak Harry takut Humaira marah besar.


"Cewek gatel keluar! Dia calon suamiku!" tegas Humaira dengan mata tajam. Menatap kedua wanita kegatelan itu.