Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Aku Ingin Menikah



"Iya aku menyukai adikmu Bos Alex, bahkan aku ingin melamarnya," sahut Tuan Matteo.


"Alhamdulillah, semoga niatan baik Tuan Matteo bisa segera terlaksana, karena tidak baik jika berduaan terus, lebih baik dihalalkan," ujar Alex.


"Amin, saya sih maunya secepatnya, tinggal nunggu jawaban Keluarga Sebastian," sahut Tuan Matteo.


"Kalau begitu nanti saya akan bicara dengan keluarga saya, asalkan Claudya mau," sahut Alex.


"Terimakasih Bos Alex," sahut Tuan Matteo.


Alex mengangguk. Tak disangka rekan bisnisnya itu akan menjadi adik iparnya. Walaupun Tuan Matteo lebih tua darinya, tapi dia akan menjadi calon suami adiknya. Lagi pula Alex mengenal sosok Tuan Matteo yang tak pernah dekat dengan perempuan. Hanya ada satu perempuan dalam hidupnya itupun sudah meninggal.


***


Malam itu Alex baru pulang ke rumah Keluarga Wijaksana. Dia terlihat bersemangat akan bertemu Sophia sang pujaan hatinya. Alex berjalan masuk ke dalam rumah. Berjalan ke ruang makan karena haus. Tak disangka Sophia sedang asyik makan buah dan camilan di meja makan.


"Assalamu'alaikum," sapa Alex.


"Wa'alaikumsallam, Mas," sahut Sophia.


Alex langsung menghampiri Sophia. Memeluk pemilik mata emerald itu.


"Kangen," ucap Alex.


"Iya, aku juga kangen, semalam Mas gak pulang," sahut Sophia.


Alex tersenyum. Senangnya dikangenin si cinta. Dia melepas pelukannya, mencium Sophia dan perutnya. Sekarang ada dua orang yang selalu dicintainya. Pertama Sophia dan sekarang bayi yang dikandungnya.


"Kok masih makan jam segini sayang?" tanya Alex.


"Laper Mas, bawaan laper terus sejak hamil," sahut Sophia.


"Dedenya laper terus ya, berarti besok Papa bawain makanan yang banyak ya," ucap Alex.


Sophia tersenyum. Mengangguk. Tak disangka Alex segitu perhatiannya pada bayi yang masih berupa janin.


"Mas gimana Claudya? Sudah ketemu?" tanya Sophia.


"Sudah," jawab Alex. Dia duduk di samping Sophia.


"Apa benar dia diculik Luki, sekretarisnya Tuan Matteo?" tanya Sophia sambil menuangkan air di teko ke dalam gelas. Memberikannya pada Alex.


"Iya benar, bahkan Luki hampir membunuh Claudya," sahut Alex sambil memegang gelas bening berisi air putih di tangannya.


"Apa? Luki mau membunuh Claudya Mas?" Sophia terkejut. Luki adalah sekretaris Tuan Matteo, otang kepercayaannya, kok bisa hampir membunuh Claudya.


"Iya sayang, untungnya Luki mengurungkan niatnya dan menjaga Claudya selama bersamanya," jawab Alex.


"Alhamdulillah, kalau Claudya baik-baik saja," sahut Sophia.


Alex meminum air di gelas. Meneguknya sampai habis. Meletakkan kembali gelasnya di atas meja.


"Tuan Matteo ingin melamar Claudya," ucap Alex.


"Yang bener Mas?" Sophia terlihat senang.


Alex mengangguk.


"Terus Claudya-nya gimana? Mau?" tanya Sophia.


"Aku belum sempat tanya, rencananya besok sore sekalian kita pulang ke rumah kakek," jawab Alex.


"Iya sih Mas, apapun itu perasaan Claudya tetap harus paling utama, kalau dia mau barulah Mas tanya keluarga," ujar Sophia.


"Iya sayang," sahut Alex.


Sophia kembali mengunyah buah apel. Alex memperhatikan Sophia saat makan.


"Kenapa Mas? Mau?" tanya Sophia.


Alex mendekat mengambil potongan buah Apel di tangan Sophia. Memasukkan ke mulutnya setengah, mendekati bibir merah delima itu. Dia memberi kode Sophia agar menggigit setengah potongan yang tersisa.


Sophia mengangguk.


Mereka menggigit satu potong berdua. Mengunyahnya bersamaan sampai tak tersisa di dalam mulut. Mata keduanya bertautan. Penuh cinta mendalam.


"Aku juga mencintaimu Mas," sahut Sophia.


"Udah ya makannya, kangen," rengek Alex.


Sophia tersenyum. Sudah tahu apa yang suaminya mau.


Alex langsung membopong Sophia. Membawanya ke lantai atas. Namun Alex sempat berhenti sebentar di atas.


"Kenapa Mas?" tanya Sophia.


"Sayang kau agak berat sekarang," keluh Alex.


Sophia tersenyum. Dia memang merasa berat badannya bertambah karena nafsu makannya yang semakin meningkat.


"Tapi seksi, tambah montok," ujar Alex.


"Mas," sahut Sophia sambil meraba dada bidang Alex.


"Jangan di sini sayang, panas dingin nih," ucap Alex.


Sophia tersenyum manis.


Akhirnya keduanya masuk bilik cinta. Bercocok tanam biar subur dan makmur. Alex dan Sophia memadu cinta. Meluapkan segala rasa. Kerinduan selama semalam tak bertemu terobati karena persatuan arus positif dan negatif. Nyetrum dengan tenaga power yang mengelegar di seluruh ruangan. Gempa bumi di sana sini membuat baju berserakan, bantal dan guling tercampakan dan selimut berterbangan. Kursi dan meja bergetar, sofa aduk-adukan, ranjang pun bergoyang.


Satu jam penuh Alex dan Sophia bergulat. Akhirnya mereka beristirahat. Alex tersenyum manis. Setelah semua hasratnya tersalurkan pada wadah yang tepat. Begitupun Sophia yang begitu bahagia karena kali ini staminanya mampu mengimbangi sang casanova.


***


Malam itu Nenek Carroline membawa secangkir kopi masuk ke ruang keluarga bersama Pak Harry yang sedang membaca majalah bisnis. Nenek Carroline meletakkan cangkir kopi itu di atas meja. Dia duduk di samping Pak Harry.


"Kau sibuk Harry?" tanya Nenek Carroline.


"Begitulah Bu," sahut Pak Harry.


"Ibu ingin bicara denganmu," ucap Nenek Carroline.


"Bicara apa Bu?" tanya Pak Harry.


Nenek Carroline bingung harus mengatakan dari mana dulu. Hubungannya dengan Kakek David sudah bukan ABG yang cinta-cintaan. Bahkan mereka sudah bau tanah.


"Minum kopinya dulu, mumpung hangat," ucap Nenek Carroline.


Pak Harry mengangguk. Mengambil kopi di atas meja. Meneguk kopi itu perlahan.


"Harry, Ibu mau nikah lagi," ucap Nenek Carroline.


Bruuuut ...


Pak Harry menyembur Nenek Carroline karena terkejut. Air kopi itu mengenai muka Nenek Carroline.


"Harry, keriputku kena kopi makin mengkerut," keluh Nenek Carroline. Dia mengusap kopi di mukanya dengan tangannya.


"Apa? Ibu mau nikah?" tanya Pak Harry.


"Iya, Ibu kesepian selama ini, pengen ada yang dibawa kondangan dan mejeng kalau ketemu temen," sahut Nenek Carroline.


Pak Harry geleng-geleng.


"Bu, umur Ibu udah tua? Siapa yang mau sama Ibu?" ujar Pak Harry.


"Pacar Ibulah, ganteng loh," sahut Nenek Carroline.


"Jangan bilang brondong Bu, malu dong sama aku, aku aja masih jomblo," jawab Pak Harry.


Nenek Carroline membuang nafas gusarnya. Menstabilkan emosinya. Umur udah gak banyak jangan mancing emosi bisa bablas tar gak jadi ke pelaminan sama Kakek David. Gak tahu deh tar masih kuat berdiri gak, secara udah osteoporosis.


"Gak brondong, aki-aki kok, sama kaya Ibu ninik-ninik, serasikan aki dan ninik," jawab Nenek Carroline.


Pak Harry geleng-geleng. Dia aja masih jomblowan ini kalah start sama ibunya yang sudah nenek-nenek. Lebih laku dari pada dirinya. Padahal udah lama pengen punya bini biar ada yang dikekepin bukan cuma ngekepin guling yang biasa diilerin.


"Memangnya siapa Bu?" tanya Pak Harry. Dia penasaran dengan orang yang ingin dinikahi ibunya. Selama ini ibunya Miss jomblowati. Udah judes, jeles dan keles. Gak ada satupun aki-aki mau mendekat. Baru say hello aja udah disembur lahar panas gunung merapi. Apalagi berani memacarinya. Pasti panas tuh telinganya tiap hari yang jadi pacarnya secara ibunya nenek lampir.


Nenek Carroline menelan ludahnya. Berat memberitahu siapa orangnya pada Pak Harry.