
"Monika!" panggil Kenan pada wanita yang mengenakan daster sambil menggendong anaknya.
"Kenan," sahut Monika.
"Kenapa kau mengantri sembako gratis?" tanya Kenan.
Monika langsung mendekati Kenan. Memegang lengannya sambil merengek.
"Kenan hik ... hik ... hik ...," ucap Monika sambil menangis tersedu-sedu.
"Pak Kenan mengenal ibu ini?"
"Iya, dia mantan istri saya," jawab Kenan pada panitia.
"Oh, maaf ya Pak kami tidak tahu."
"Tidak apa-apa," sahut Kenan.
Monika masih merengek. Mengeluh itu itu pada Kenan sambil memegang lengannya. Untungnya Kenan langsung melepasnya dan mengajaknya bicara di tepi alun-alun.
"Kenan, Pak Kades menipuku, semua hartaku ludes," ujar Monika.
Kenan hanya terdiam. Melihat wanita yang dulu sangat dicintainya itu telah menorehkan luka padanya.
"Aku sudah tidak punya apa-apa lagi, dia bahkan menjual rumah kita," kata Monika sambil menangis.
"Rumah kita? Bukankah katamu itu rumahmu?" ujar Kenan.
"Kenan, maafkan aku, seharusnya aku tak berselingkuh," kata Monika.
"Monika itu pilihanmu sendiri, dan sekarang kau menikmati hasilnya," sahut Kenan.
Monika berlutut di depan Kenan.
"Ku mohon, beri aku kesempatan lagi. Aku janji akan jadi istri yang baik untukmu," ujar Monika memohon. Sambil menundukkan kepalanya. Air matanya berlinang. Wajahnya sendu penuh kesedihan.
"Maaf Monika, seharusnya kau lakukan itu dari dulu, kaca pecah takkan kembali utuh," ujar Kenan. Otaknya sedang berada di kutub utara jadi bener tak sedang terkena pemanasan global karena matahari tertawa terus dengan tingkahnya.
"Kenan hik hik hik ..., aku akan melakukan apapun, kau boleh menghukumku, ku mohon kembalilah demi kedua anak kita," sahut Monika. Berharap Kenan akan iba dengan membawa anak-anaknya. Kenan orang yang sering berbelas kasih pasti terbawa suasana saat Monika mengatakan hal yang sensitif.
"Anak? Anakku hanya Tara, kau bahkan tidak ingin merawatnya, aku lelah Monika dengan semua sikapmu," jawab Kenan.
Monika mendekat. Meraih tangan Kenan. Tapi Kenan langsung menangkisnya.
"Kenan," ucap Monika.
"Monika, hubungan kita sudah berakhir. Jika aku akan menikah lagi itu bukan denganmu, aku bukan Kenan bodoh seperti dulu," ujar Kenan.
"Kenan, maaafkan aku, ku mohon hik hik hik ....," ucap Monika sambil menangis.
Melihat itu Kenan mengeluarkan uang di dompetnya. Memberikan pada Monika beberapa lembar uang seratus ribuan.
"Pergilah! Jangan pernah melakukan hal yang sama pada orang yang akan menjadi suamimu nanti," ujar Kenan. Kemudian pergi meninggalkan Monika.
"Kenan ... hik hik hik ...," ucap Monika menangis. Dia masih berlutut. Menyesali semua perbuatannya dulu.
"Makanya Mba kalau punya suami baik jangan disia-siain," ujar Aiko yang ada di belakangnya. Dia sempat menguping pembicaraan Kenan dan Monika.
Aiko menghampiri Monika. Berdiri di depannya.
"Orang tuh nyeselnya belakangan, nafsu diduluin, nah sekarang mba rasain sendiri hasilnya," kata Aiko.
Monika tambah menangis. Benar kata Aiko dia terlalu mendulukan nafsu dan keserakahannya. Menyia-nyikan Kenan yang selalu baik dan mengalah padanya.
"Makanya lain kali kalau punya suami baik bersyukur, jangan malah disakitin, terima karmanya sekarang, sabar yah," ujar Aiko kemudian meninggalkan Monika dengan senyuman lepasnya.
Monika bangun. Berjalan perlahan meninggalkan alun-alun. Dia sadar apa yang didapatnya sekarang buah dari kesalahannya. Dia sudah durhaka pada suaminya.
***
Pagi itu Vera memasak di dapur. Dia membuat soto betawi untuk sarapan. Dengan emping dan kacang mede yang digoreng olehnya. Di rumah besar itu hanya ada sekuriti dan pembantu yang bertugas bersih-bersih. Tak ada pembantu yang memasak. Biasanya Jack tak pernah sarapan di rumah. Seharian penuh bekerja di balik layar. Pagi itu dia penasaran apakah Vera sudah bangun atau belum. Jack masuk ke kamarnya. Dia tidak mendapati Vera ada di kamarnya.
"Ke mana wanita itu? Apa dia akan membunuhku juga?" batin Jack. Dia merasa kematian teman-temannya ada sangkut pautnya dengan Vera.
Jack mencarinya di lantai atas. Tapi dia tak menemukan keberadaannya. Jack mencari ke lantai bawah. Dia juga tidak menemukannya. Hanya makanan di atas meja yang sudah tersaji.
Jack masih terdiam menatap makanan itu.
"Apa kau mencariku?" tanya Vera.
Deg
Jantung Jack berdebar kencang saat mendapati Vera memegang pisau. Bajunya kotor dipenuhi bercak darah begitupun mukanya terdapat bercak darah di beberapa bagian. Vera berdiri di depan pintu dapur menatap Jack dengan tatapan pembunuh. Bulu kuduk Jack langsung berdiri. Dia seorang lelaki bejat tapi melihat Vera saat ini, membuat nyalinya sedikit ciut.
"Aku baru saja memotong sesuatu hidup-hidup," ujar Vera.
Jack menelan ludahnya. Tangannya bergetar.
"Kau-kau menotong apa Vera?" tanya Jack terbata-bata.
"Tikus nakal, yang mencuri milikku," jawab Vera.
Deg
Jantung Jack kembali berdebar tak karuan. Dia merasa tersindir dengan ucapan Vera. Dialah yang melecehkan Vera saat itu.
"Apa masih ada tikus nakal di rumah ini, biar ku potong hidup-hidup," ujar Vera.
Jack terdiam. Vera terlihat seperti seorang psikopat menakutkan.
"Ha ha ha ..., aku bercanda, lihat wajahmu seperti kanebo kering," ucap Vera.
"Duduklah aku sudah membuatkan sarapan untukmu," ujar Vera.
Mata Jack beralih pada makanan di atas meja. Dia masih terdiam.
"Jangan-jangan ada racun di makanan itu," batin Jack. Bisa saja Vera balas dendam padanya. Setelah kematian beberapa temannya yang ikut perundundungan dengannya.
"Kenapa diam? Ayo dimakan," ujar Vera.
"I-iya," jawab Jack.
Vera meletakkan pisau yang masih berlumuran darah itu di atas meja. Dia duduk di depan Jack yang duduk di seberangnya.
"Soto itu ku buat dari ayam yang masih hidup, aku potong sendiri, rasanya pasti masih segar," ujar Vera.
Jack menelan ludahnya. Dia berada dalam situasi horor. Wanita di depannya bisa saja membunuhnya dengan satu tebasan.
"Ayo di makan, rasanya sama dengan soto yang biasa kau makan," ujar Vera.
"Aku tidak suka soto," sahut Jack.
"Oya, kau sering memesannya," jawab Vera.
"Baiklah aku akan memakannya," kata Jack. Dia mengambil nasi dan soto itu ditambah emping dan kacang mede. Awalnya Jack ragu untuk memakannya. Tapi saat tahu rasanya enak Jack memakannya sampai habis bahkan nambah lagi karena enak.
"Aku lupa tadi sotonya ketumpahan pestisida," ujar Vera.
"Eeeek ... eeeek ... eeeek ..." Jack memegang lehernya. Bangun. Berlari ke arah pintu depan. Dia berusaha membuka pintu tapi tak bisa.
"Uuups kunci rumahnya hilang," ujar Vera berdiri di belakang Jack.
"Kau ingin membunuhku kan? Iyakan?" bentak Jack.
"Ha ha ha ..., kau takut mati?" ujar Vera.
Jack berlari menuju kamarnya. Dia mencari handphone miliknya di kamarnya, mencari ke laci, ranjang, meja, semua tempat.
"Sial handphone-ku juga hilang, pasti dia mengambilnya," ujar Jack.
Vera masuk ke kamar itu. Berjalan menghampiri Jack.
"Vera, jangan gila. Maafkan aku," ujar Jack.
"Kau takut? Di rumah ini hanya ada kau dan aku. Sekuriti dan pembantu sudah ku pulangkan. Dua temanmu sudah mati duluan, kau mau dengar?" Vera mengambil handphone Jack di sakunya. Menyalakan pesan suara di handphone-nya.
"Jack pergilah jauh! Vera gila, dia akan membunuhmu juga."
Vera mematikan pesan suara itu. Berjalan mendekati Jack.
"Vera maafkan aku ku mohon," ujar Jack berlutut di depan Vera.
"Maaf, kau dan teman-temanmu menghancurkan hidupku, kalian harus mati," ujar Vera.
"Baiklah bunuh aku, kau puas," jawab Jack.
"Kau memang akan mati, bersamaku," sahut Vera.
"Apa maksudmu?" tanya Jack.
Vera tertawa terbahak-bahak. Meskipun air matanya bercucuran di pipinya.
"Rumah ini akan terbakar, dalam hitungan menit. Aku sudah membakar semuanya, kita akan mati bersama," ujar Vera.
"Tidak, kau gila Vera!" bentak Jack.
Vera hanya tertawa. Sedangkan Jack mulai panik. Dia berlari ke luar dari kamar itu. Api sudah membakar sebagian rumahnya.
"Sialan aku akan mati beneran," ujar Jack melihat kobaran api itu. Jack berlari ke sana ke mari. Api semakin membesar. Dia berlari ke lantai bawah namun Vera memeluknya dari belakang.
"Lepaskan aku Vera!" teriak Jack.
"Kenapa bukankah dulu kau memelukku seperti ini saat melecehkanku?" tanya Vera.
"Vera, aku memang salah, maafkan aku," ujar Jack.
Vera hanya tersenyum sambil memeluk Jack.
"Kita akan mati kalau tetap di sini," ujar Jack.
"Kita memang akan mati bersama," sahut Vera.
"Kau gila Vera!" teriak Jack. Dia menyikutnya. Mendorong Vera hingga terjatuh ke lantai.
Bruuug ...
Vera berbaring di lantai. Dia berusaha bangun. Memegang kepalanya.
"Aku di mana?" Kebakaran," ujar Vera.
Jack tak menghiraukan Vera. Dia berlari ke arah pintu. Mendombrak pintu depan sekuat tenaga. Sebelum semuanya habis terbakar bersama dirinya.
Braaak ... braaak ... braaak ...
"Ayolah pintu!" bentak Jack marah karena pintu belum juga terbuka. Sedangkan asap sudah memenuhi ruangan. Jack menutup hidungnya dengan kaosnya yang diikat menjadi masker. Dia terus mendobrak pintu depan.
Braaak ...
Bluuug ....
Pintu berhasil terbuka. Jack berlari ke luar. Dia berlari ke arah gerbang namun langkahnya terhenti saat dia mengingat tangisan Vera saat dia melecehkannya.