
Baca bab sebelumnya baru nyambung ke bab ini.
.
.
Pagi itu Emily bangun dari tidur. Dia meraba bantal yang ada di sampingnya. Arfan tak ada di bantal miliknya. Emily membuka matanya perlahan. Melihat ke samping. Arfan sudah tidak ada di dalam kamar. Emily bangun dan duduk.
"Arfan ke mana?" ujar Emily. Dia beranjak dari ranjang. Mencari Arfan di sekeliling ruangan kontrakkannya. Namun Emily tidak menemukan keberadaan Arfan. Hanya secarik kertas di atas nakas yang tersisa.
Emily mengambil kertas itu dan membacanya.
"Arfan aku tidak ingin bercerai, aku akan mengejarmu ke mana pun," ucap Emily. Tersenyum melihat ke depan. Dia tidak akan menyerah. Ke mana pun Arfan pergi akan dikejar olehnya.
Sementara itu Arfan duduk di bus. Dia hendak pergi ke rumah Keluarga Sebastian. Arfan tampak gelisah meninggalkan Emily. Tapi ini sudah menjadi keputusannya. Dia tidak ingin Emily terus bergantung padanya. Dengan berpisah mereka bisa melanjutkan hidup masing-masing.
"Setelah semua urusan ini beres, aku akan mengurus perceraianku dengan Emily, hanya butuh kata talak kita sudah resmi bercerai," ucap Arfan. Dia menatap pemandangan di luar jendela kaca bus. Mengingat pertama kali bertemu Emily dan sampai digrebek warga.
Flash back
Pagi itu Arfan masih berbaring di ranjang. Tubuhnya terasa lelah dari semalam bekerja paruh waktu di salah satu cafe. Arfan terbangun saat suara handphone miliknya berdering.
"Siapa sih pagi-pagi nelpon," ucap Arfan. Dia mengambil handphone di atas bantal di sampingnya. Melihat layar handphone miliknya yang menyala.
"Morgan? Ngapain dia nelpon sih?" ujar Arfan. Morgan teman sekolah semasa SMA. Sudah lama Arfan tak bertemu dengannya. Terakhir tiga bulan lalu.
Arfan mengangkat telpon dari Morgan. Dia penasaran kenapa temannya itu menelponnya.
"Assalamu'alaikum," sapa Arfan.
"Wa'alaikumsallam," sahut Morgan.
"Ada apa sih Bro? Kenapa pagi-pagi nelpon gue?" tanya Arfan. Masih mengantuk dan malas berbicara.
"Temenin gue ngapel ke rumah temen gue yuk? Biar gak terjadi fitnah enaknya ditemenin sama Lo," jawab Morgan.
"Hm. Kenapa gak nikah aja sih? Pacaran mulu, dosa tau," sahut Arfan. Menasehati teman karibnya itu.
"Belum punya rumah, mobil dan pekerjaan mapan Bro," jawab Morgan.
"Sampai kapan? Rejeki mah nyusul kali, lagi pula nikah ibadah dari pada bikin dosa," kata Arfan. Dia tidak sependapat dengan temannya itu.
"Oke, tapi kali ini temenin gue, please!" pinta Morgan memohon pada Arfan.
"Hm. Oke sekali ini aja. Itupun karena gue lagi boring di kontrakkan," jawab Arfan. Kebetulan dia juga bingung mau mengisi hari libur dengan apa. Lebih baik menemani Morgan agar dia tidak berduaan dengan pacarnya.
"Sip!" jawab Morgan.
Pembicaraan mereka pun diakhiri. Arfan mematikan tombol merah di layar handphone miliknya. Terlihat seorang wanita cantik berhijab jadi wallpaper di handphone-nya.
"Annisa kangen, kapan bisa ketemu? Bisanya cuma chatting-an sama video call," ucap Arfan. Meski tak pernah bertemu setelah lulus sekolah Arfan masih mengubungi Annisa via chat dan video call disela-sela waktu senggangnya.
Ting tong
Sebuah pesan dari Morgan masuk.
[Buruan Bro!]
Arfan hanya membacanya lalu mematikan layar handphone miliknya dan meletakkan handphone di atas nakas. Dia masuk ke dalam toilet untuk madi. Lalu berganti pakaian rapi untuk pergi menemani Morgan.
"Dasar Morgan! Pacaran mulu, nyusahin gue aja," ucap Arfan sambil menyisir rambutnya.
"Ngapain tampil ganteng dan keren gini? Yang mau ngapelkan Morgan," ucap Arfan. Dia menggeleng. Padahal yang mau ngapel Morgan tapi justru Arfan yang tampil ganteng dan keren.
Arfan ke luar dari kontrakkannya. Dia naik bus ke tempat mereka janjian.
Dua jam berlalu. Arfan dan Morgan sampai di rumah Meisa pacar Morgan. Kebetulan di dalam rumah sudah ada Meisa dan teman cantiknya yang bernama Emily. Mereka duduk di ruang tamu.
"Arfan cewek cantik tuh, sikat!" bisik Morgan.
"Gak, hati gue dah ada yang punya," jawab Arfan. Di hatinya sudah ada Annisa. Dia tidak mungkin berpaling ke lain hati.
"Tapi dia lebih cantik dan bohay, gak tergoda?" bisik Morgan.
"Biasa aja, cantikkan Annisa. Luar dalam," tolak Arfan.
Mereka berdua malah asyik bisik-bisik berduaan.
"Arfan, kenalin Emily Haseena temanku," ucap Meisa. Memperkenalkan Emily pada Arfan yang masih jomblo seperti Emily
"Emily, senang bertemu denganmu ganteng," kata Emily memperkenalkan diri. Terlihat cantik dan menggoda. Bajunya seksi dan terbuka di bagian dada. Rok yang dikenakan ada di atas lutut. Membuat paha mulusnya terpajang sempurna.
"Arfan Fahreza," jawab Arfan datar. Dia sama sekali tak menatap Emily yang cantik dan seksi di depannya. Justru menurunkan pandangannya.
Mereka mulai berbincang-bincang dan bersenda gurau layaknya anak muda.
"Lagi pulkam ke Solo," jawab Meisa.
"Sepi dong," sahut Morgan.
Meisa mengangguk. Sambil mengedipkan mata memberi kode pada Morgan. Dengan cepat Morgan mengetahui kode dari Meisa.
"Aku ke dapur dulu ya kalian pasti laperkan? Aku masak yang spesial deh," ujar Meisa.
Morgan dan yang lainnya mengangguk.
Meisa pun meninggalkan ruang tamu. Tinggal mereka bertiga yang masih duduk mengobrol.
"Gue ke toilet dulu mules nih," keluh Morgan sambil memegang perutnya.
"Ya udah sana!" sahut Arfan.
Morgan mengangguk. Bangun dan berjalan meninggalkan mereka berdua. Tinggal Arfan dan Emily berdua di ruang tamu.
Morgan masuk ke dalam dapur. Melihat Meisa sudah menunggunya. Morgan langsung nyosor di sudut dapur dekat jendela yang tertutup.
"Kurang sayang," ucap Morgan.
"Tar ke blabasan," sahut Meisa.
"Gak kok," sahut Morgan.
Meisa mengangguk. Mereka berdua kembali berciuman. Lama-kelamaan tergoda setan. Masuk ke dalam hawa nafsu menyesatkan. Tak peduli lagi sedikit-sedikit. Syahwat sudah memuncak tak bisa lagi ditahan apalagi dihentikan. Tanpa ragu memadu cinta meski untuk yang pertama kalinya. Mereka menikmati zina penuh kenikmatan melupakan kata dosa apalagi arti sebuah kehormatan. Yang penting nikmat hajar terus.
Di luar seorang bapak-bapak sedang membawa kayu bakar melewati rumah orangtua Meisa. Dia melewati jendela dapur rumah itu.
"Suara apa ya? Kok kaya orang keenakkan?" Bapak itu kepo. Dia mendekatkan telinganya ke jendela yang tertutup itu.
"Wah ini mah lagi? Tapi Abah Surya sama Emak Nikenkan lagi ke Solo, jadi siapa yang lagi tempur?" Bapak itu mulai curiga. Dia berpikir tidak mungkin Abah Surya dan Emak Niken.
"Jangan-jangan Meisa? Diakan dah punya pacar katanya, gak bisa dibiarin harus digrebek biar kapok." Bapak itu pun segera meninggalkan tempat itu untuk mencari warga lainnya.
Sementara itu Arfan dan Emily masih berduaan di ruang tamu.
"Arfan mau minum?" tanya Emily dengan suara manjanya sambil mengangkat gelas berisi jus strawberry.
"Gak," jawab Arfan datar.
Emily meneguk jus strawberry miliknya. Karena fokus menatap Arfan terus, Emily terbatuk. Gelasnya tumpah ke bajunya. Melihat Emily terbatuk Arfan langsung menghampirinya untuk membantu Emily yang masih terbatuk.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Arfan.
Emily menggeleng. Dia membersihkan jus di bajunya tapi tak bisa hilang. Emily spontan melepas pakaiannya karena jijik dengan bajunya yang kotor.
"Emily!" Arfan terbelalak melihat Emily hanya mengenakan pakaian bagian d4lam saja.
"Kenapa?" tanya Emily.
"Bajumu pakai lagi!" titah Arfan.
Belum juga baju itu dipakai warga sudah menggebrek rumah itu. Arfan dan Emily yang ada di ruang tamu dituduh berzina. Sedangkan Morgan dan Meisa mengamankan diri mereka seolah tidak tahu apa-apa. Mereka justru ikut menuduh Arfan dan Emily yang berzina karena takut dengan amuk masa.
"Tidak, ini salahfaham, aku dan Emily tidak berzina," ujar Arfan mencoba menjelaskan.
"Arfan gue tahu Lo sering nonton bok€p tapi jangan dipraktekkin di rumah Meisa juga. Mentang-mentang sepi," tuduh Morgan.
"Iya, mereka gak tahu malu, masa begituan di rumah orang," tambah Meisa. Bukannya mengakui kesalahan mereka berdua justru menuduh Arfan dan Emily.
"Meisa, kenapa kau memfitnahku?" tanya Emily. Dia tidak menyangka sahabatnya tega memfitnah dirinya di depan warga yang marah.
"Udah Pak RT arak aja keliling kampung!"
"Bawa ke kantor polisi!"
"Nikahin aja Pak RT biar gak zina lagi!"
Warga mengamuk. Mereka mengusulkan ini itu. Tak terima ada yang berzina di kampung tempat tinggalnya.
"Tenang-tenang bapak-bapak, ibu-ibu, semua bisa dibicarakan baik-baik," sahut Pak RT.
"Kalau didiemin besok begitu lagi."
"Udah Pak RT gundulin aja!"
"Sabar! Kita bawa ke balai warga ya," sahut Pak RT menenangkan warganya.
Akhirnya Arfan dan Emily dibawa ke balai warga. Seluruh warga ikut rapat memutuskan hukuman apa yang pantas untuk mereka. Setelah semua suara disatukan mau tak mau Arfan dan Emily harus menikah.