
Pagi itu hari minggu. Seperti biasa orang-orang pada libur dan bermalas-malasan di atas ranjang. Kangen-kangenan dengan bantal dan guling. Bergulat dengan selimut tebal dan bermanja dengan waktu. Matahari jadi ikut mejeng menyaksikan hari yang biasa digunakan untuk manusia berkumpul, menghabiskan waktu dengan keluarga tercinta. Alex masih di dalam kamarnya. Memeluk Sophia sambil menonton acara kartun pagi.
"Sayang masa iya aku nonton kartun? casanova sepi job nih, ibarat super hero udah gak femes lagi," ujar Alex.
Sophia tersenyum kecil sambil mengelus perutnya yang mulai terlihat. Meskipun masih kecil. Kini kehamilan Sophia memasuki bulan keempat. Tak terasa waktu berputar cepat. Hari berganti hari. Bulan pun bertambah. Sophia mulai tambah berisi dan berat.
"Sayang tontonanku kaya si gendut, kalau Kenan tahu aku pasti diledekin terus," keluh Alex.
"Tapi lucu dan imut, lihat Si Kancil pinter ya bisa ngibulin buaya," ujar Sophia menatap Alex.
"Kok bilang buayanya ke arahku sayang," ucap Alex.
"Mas pantes jadi buayanya, aku kancilnya," jawab Sophia.
"Berarti siap ku terkam ya," ujar Alex sambil mendekat. Sophia tak bisa menghindar. Alex sudah menerkamnya beneran. Mau tak mau pagi itu indah membuat dadar gulung selai madu. Berkelut dengan kelembutan dan manisnya cinta.
Seirama dalam hentakan demi hentakan dan alunan yang merdu. Mendendangkan debaran-debaran raga yang menghanyutkan jiwa. Berlayar di pulau rasa yang disebut kenikmatan dunia. Menyusuri sungai surgawi yang hanya bisa diarungi berdua. Dan meredakan hasrat membara yang memanaskan seluruh indera.
Alex memangku Sophia yang sudah kelelahan. Di balut selimut tebal menutupi tubuh polos istrinya yang begitu indah.
"Sayang katanya pagi ini Gavin mau mengenalkan seseorang pada kita semua," ujar Alex.
"Jangan-jangan calonnya ya Mas?" tanya Sophia.
"Bukannya Gavin naksir Humaira ya?" sahut Alex.
"Apa mungkin kandas ya Mas, kan Kakek mau nikahin Nenek Carroline," jawab Sophia.
"Tapi kalau cuma karena pernikahan kakek, masih bisa menikahkan cuma iparan," ujar Alex.
Sophia terdiam sesaat. Memikirkan masalah itu.
"Kecuali kalau mereka saudara Mas, misal ternyata ayah dan ayahnya Humaira adik kakak," sahut Sophia.
Alex gantian terdiam. Memikirkan silsilah keluarganya. Mungkin saja ada yang kelewat atau sesuatu hal yang lainnya.
"Apa ada yang belum diceritakan kakek pada kita?" ujar Alex.
"Maksudnya Mas?" tanya Sophia.
"Kalau ayah dan ayahnya Humaira adik kakak, berarti Pak Harry itu kakaknya ayah," jawab Alex.
Sophia terdiam. Coba menyambungkan silsilah yang mungkin terlepas ataupun terputus.
"Bisa jadi, tapi lebih baik Mas tanya langsung sama kakek biar gak salahfaham," kata Sophia.
"Iya sayang, ide bagus," jawab Alex.
Sophia bersandar di dada Alex. Menyandarkan semua rasa penatnya. Merasakan kehangatan suaminya yang begitu memanjakannya.
"Sayang sore ini aku mau membelikan Kenan rumah, selama ini dia sudah banyak membantuku dan loyal pada perusahaan," ujar Alex.
"Iya Mas, kasihan Kenan, dia gak punya rumah, anaknya masih kecil lagi," sahut Sophia.
"Semua ini ulah istrinya yang selingkuh, mana semua duit dan harta Kenan diambil, Kenan udah kaya gembel sayang," ujar Alex. Dia prihatin dengan nasib Kenan. Biar bagaimanapun Kenan selalu bekerja keras untuk membantu Alex dan perusahaannya.
"Kalau begitu bantu Kenan Mas," usul Sophia.
"Insya Allah," jawab Alex.
Sophia tersenyum. Sedangkan Alex mengelus perut Sophia dengan penuh kelembutan.
"Jagoan tumbuhlah yang sehat di perut Mama ya," ujar Alex.
"Belum juga di USG Mas," sahut Sophia.
"Insya Allah cowok sayang," jawab Alex.
"Amin, semoga benar," sahut Sophia.
Alex mencium kepala Sophia. Senangnya bisa menghabiskan hari bersama istri tercintanya.
"Mas besok puasa, bagaimana kalau kita berbagi sembako gratis," usul Sophia.
"Boleh sayang, ini puasa pertamaku, terakhir puasa waktu SD," jawab Alex.
"Berarti Mas akan belajar dari awal lagi ya?" tanya Sophia.
"Iya, semoga bisa," jawab Alex.
Sophia berbalik mencium kening suaminya.
"Mas pasti bisa," ucap Sophia memberi semangat. Mata emerald itu menatapnya penuh cinta. Matanya berbinar. Begitu indah dan cantik.
"Kalau gitu puas-puasin di kamar sayang, besokan puasa," ujar Alex.
"Mas bisa aja," sahut Sophia memegang pipi Alex.
"Lagi yuk," ajak Alex.
Sophia hanya tersenyum. Mengangguk.
***
Gavin mengajak Maria pergi ke Butik Queen. Butik langganan ibunya. Di butik itu tersedia pakaian, tas dan sepatu. Maria masuk ke dalam bersama Gavin. Mereka berkeliling di dalam. Maria melihat-lihat tapi tak berani memilihnya.
"Maria pilihlah baju yang kau suka ya," ujar Gavin.
"Gavin apa tidak sebaiknya beli di pasar," sahut Maria.
Gavin tersenyum. Biasanya wanita paling suka beli barang branded. Ini Maria malah ingin beli di pasar.
"Maria, di sinilah tempat yang sesuai denganmu," ujar Gavin.
"Tapi ...," balas Maria.
"Sekarang pilihlah aku menunggu di sana," ujar Gavin menunjuk ke arah sofa yang berjejer di sudut ruangan.
"Iya," jawab Maria.
Gavin berjalan meninggalkan Maria. Dia duduk di sofa. Gavin tahu Maria butuh waktu untuk berbelanja untuk dirinya. Jika Gavin terus bersama, Maria akan malu.
Maria berjalan melewati baju-baju yang dipajang. Tiba-tiba seorang pelayan butik itu menghampirinya.
"Nona ingin membeli baju apa? Biar saya bantu."
Pelayan butik itu memperhatikan Maria dari atas sampai ke bawah.
"Mari ikut saya!"
Maria mengangguk. Mengikuti pelayan butik itu memilih baju sampai fitting baju tersebut. Maria berdiri di depan cermin besar. Sebesar dinding ruangan itu.
"Bagian dadanya terlalu terbuka," ujar Maria.
"Lelaki suka bagian itu, pasti dia semakin menyukai Nona."
Maria terdiam. Memandang dirinya di depan cermin. Saat sedang termenung, di sampingnya berdiri seorang wanita berhijab mengenakan dress panjang. Begitu anggun dan cantik.
"Nona Aisyah cantik sekali, pasti semua lelaki kagum dengan kecantikan anda."
"Justru saya sungkan jika lelaki hanya melihat kecantikan fisik saja, saya ingin mereka melihat saya sebagai wanita sholeha."
"Tapi lelaki suka wanita cantik."
"Saya mencari imam bukan penikmat kecantikan saja."
"Susah loh nyari lelaki yang seperti itu."
"Itu sebabnya saya ingin mereka melihat saya sebagai Aisyah, bukan wanita yang hanya bisa dinikmati pandangannya saja."
Seketika Maria terdiam. Melihat dirinya ke cermin. Tubuhnya seksi terbuka dan begitu molek. Membuat lelaki di manapun akan memandangnya karena nafsu semata. Bukan ketulusan ataupun akhlaknya. Maria terdiam. Merenung. Memikirkan ucapan Aisyah tadi.
Satu jam berlalu. Gavin mulai lelah bermain game sambil menunggu Maria. Dia melihat jam di handphone miliknya. Sudah satu jam dia menunggu. Gavin membuang nafas bosannya. Menatap ke depan siapa tahu Maria sudah selesai. Tapi belum juga. Gavin mulai kembali melihat foto-foto gadis cantik di Instagram. Gadis-gadis molek dan seksi.
"Maria seseksi mereka, montok lagi, gak tahan jadinya," batin Gavin. Membayangkan sosok Maria di kepalanya yang selalu seksi dan montok.
"Gavin!" panggil Maria yang berjalan ke arah Gavin.
Mendengar suara lembut Maria bulu kuduk Gavin berdiri. Gadis cantik itu pasti seksi dengan balutan dress minim. Gavin mengalihkan pandangannya ke depan.
"Maria!" Gavin terkejut melihat Maria yang berjalan ke arahnya.
Gavin menelan ludahnya. Tak percaya dengan Maria yang dilihatnya. Matanya terbelalak. Mulutnya membuka. Tercengang melihat Maria.
"Apa penampilanku aneh?" tanya Maria.
"Cantik dan anggun," jawab Gavin yang melihat Maria mengenakan dress panjang yang sopan dan hijab.
"Tidak apa-apakan aku mengenakan hijab?" tanya Maria.
"Tidak apa-apa, biarlah hanya aku yang melihat keindahannya," jawab Gavin yang masih tak percaya Maria berhijab tanpa diminta Gavin. Meskipun Gavin tadinya ingin Maria berhijab usai menikah. Namun sepertinya hidayah datang lebih awal tanpa harus Gavin memintanya.
Maria menunduk. Begitu cantik dan anggun.
"Alhamdulillah, aku akan menjadi imammu, menuntunmu ke surga," ujar Gavin.
"Amin," sahut Maria.
"Maria tetap cantik, biarlah mataku melihat keindahan itu saat halal nanti, jadi gak sabar," batin Gavin.
"Ayo," ajak Gavin.
Maria mengangguk. Berjalan mengikuti Gavin. Membayar semuanya di kasir. Kemudian berjalan ke luar dari butik.
Pukul 10 pagi Gavin dan Maria sampai di kediaman Keluarga Sebastian. Mereka turun dari mobil. Berjalan masuk ke dalam rumah besar itu.
Gavin dan Maria duduk di sofa bersama semua anggota Keluarga Sebastian.
"Semuanya, ini Maria Selena," ujar Gavin menunjuk ke arah Maria yang duduk di sampingnya tapi beda sofa.
"Saya Maria Selena, senang bertemu dengan semuanya," ucap Maria sambil tersenyum ramah.
Semua orang di ruangan itu membalas perkenalan Maria dengan satu per satu memperkenalkan diri. Dari Kakek David, Pak Ferdi, Ibu Marisa, Alex, Sophia dan Claudya.
"Kakek, Ayah, Ibu dan yang lainnya. Aku ingin mempersunting Maria dalam waktu dekat," ujar Gavin.
"Alhamdulillah," ucap Kakek David, Alex, Sophia, Pak Ferdi dan Claudya.
"Kakek setuju, lebih cepat lebih baik," ujar Kakek David.
"Barengan aja kita Kak, biar hemat," ledek Claudya.
"Ya udah barengan empat bulanan Sophia tambah irit," ledek Alex.
"Barengan nikahan kakek aja paket komplit," tambah Kakek David.
"Sekalian ma anniversary pernikahan Ayah dan Ibu, jadi dempetan kita," ucap Pak Ferdi.
"Jadi pernikahanku bersama pernikahan Claudya, empat bulanan Kak Sophia, pernikahan kakek, anniversary ayah dan ibu. Massal banget, nikahan tuh bukan pasar loak," ujar Gavin.
Semua orang tertawa. Kecuali Ibu Marisa yang masih terdiam.
"Ya elah Kak, udah bagus dapat tebengan dari pada dirayain bareng sunatan Dodo, mau?" tanya Claudya.
"Astaga, belum acara dimulai hidangan ludes ma Dodo semua," ujar Gavin.
"Tuh tahu," sahut Claudya.
"Ya kalau gak mau bareng syukuran Si Kitty, harimaunya kakek yang ada di kebun binatang, biar ada sensasi alam liar," usul Alex.
"Abis ijab kabul dicaplok harimau dong Kak, balik nama doang," jawab Gavin.
"Berarti nasibmu sudah ikut tebengan aja," ujar Kakek David bercanda.
Maria hanya tersenyum. Tak disangka keluarga Gavin lucu dan ramah.
"Dempetan Ayah saja, kita bisa dansa dengan lagu lawas," ujar Pak Ferdi.
"Gavin kembali ke zaman prasejarah kalau itu," sahut Gavin.
"Udah nikmati jika pernikahan harus banyak tebengan gini," ledek Alex.
Mereka semua tertawa. Kecuali Ibu Marisa.
"Ibu gak setuju!" ujar Ibu Marisa.
Gavin dan semua orang terkejut. Menatap Ibu Marisa.
"Kenapa Bu?" tanya Gavin.