
"Ampun Mbae kita hanya disuruh bapak tua itu."
"Iya, dia yang nyuruh kita manasin jemuran tetangga."
"Parah, aku dibilang bapak tua, sugar daddy ini," kata Pak Harry tak terima dibilang bapak tua. Secara Babang tampan pada masanya. Meski sekarang udah keriput dan ketampanannya berkurang 99%. Sisa 1% doang yang bisa dibanggakan.
"Papa!" pekik Humaira.
"Astaga putriku ngambek, habis aku," batin Pak Harry.
"Kita tak ikut-ikutan urusan keluarga harmonis, cabut yuk."
"Iya, kita cari laki orang aja biar aman dari pada bapak tua."
"Hei kalian, aku Om-Om bukan bapak tua," sanggah Pak Harry.
Humaira melotot ke arah dua wanita ganjen itu.
"Damai Neng kita hanya mencari nafkah dari belaian orang."
"Bapak tua itu yang patut dipersalahkan."
"Enak aja, kalian yang kasih diskonan tadi, mumpung masih lebaran."
Luki tepok jidat. Calon mertuanya nyari diskonan lebaran segala buat nyewa cewek kegatelan itu.
"Ke luar!" titah Humaira marah besar.
"Iya ya." Kedua wanita ganjen itu pun ke luar. Mereka takut kena libas Humaira yang sedang marah besar.
"Humaira, Papa ngantuk, banyak nyamuk juga," ujar Pak Harry mau kabur. Takut kena omel putrinya.
Humaira berbalik menatap ayahnya yang seenak jidat tes kejantanan segala pada Luki. Orang nanti bakal dites sama Humaira sendiri pas malam pertama kok repot-repot dites ma bapaknya.
"Damai, please ..., Papa cuma main catur ya Lukikan?" tanya Pak Harry sambil mengedipkan mata ke Luki.
"Gak ada caturnya Bos, bukannya tadi tes kejantanan ya?" jawab Luki.
"Sialan calon menantu gak bisa diajak kompromi, apes banget," batin Pak Harry. Kirain Luki bakal mau diajak kompromi ternyata dia jujur juga.
"Papa masuk! sholat isya dan mengaji sana, jangan lupa dzikiran!" titah Humaira.
"Iya, siap Bu komandan," jawab Pak Harry. Dia memilih menurut dari pada kena omel gara-gara memberi tes ini itu ke Luki sampai mendatangkan cewek-cewek genit tadi.
Pak Harry berjalan meninggalkan ruang tamu. Tinggal Humaira dan Luki di ruangan itu. Humaira duduk di sofa yang berada di seberang sofa yang diduduki Luki.
"Humaira maafkan aku, aku tidak bermaksud membohongimu," kata Luki.
Humaira terdiam. Merendahkan pandangannya ke bawah.
"Dulu aku memang mantan lelaki belok, aku menyukai Tuan Matteo," ujar Luki. Terserah Humaira mau menerimanya atau tidak yang penting dia sudah berusaha.
Humaira masih diam. Tak berkata satu katapun.
"Aku tahu masa laluku sangat memalukan, wanita manapun pasti jijik denganku," ujar Luki.
"Aku bukan lelaki yang sempurna untuk dicintai, aku pasti membuatmu malu," tambah Luki. Dia sudah pasrah apapun nanti yang akan terjadi pada hubungannya dengan Humaira.
Humaira hanya diam. Tetap di posisi yang sama.
"Kau wanita yang baik, cantik dan sholeha, tentunya banyak lelaki lain yang jauh lebih baik dariku untuk mempersunting mu," ujar Luki. Perih ketika harus mengatakan hal itu pada Humaira. Sejujurnya Luki ingin sekali menikah dengan Humaira. Ingin menyentuhnya selayahnya seorang laki-laki. Merasakan rasanya menjadi seorang laki-laki sejati yang bercinta dengan seorang wanita.
"Aku siap jika kau membatalkan pernikahan ini, semua ini salahku, aku bisa menerimanya dengan lapang dada," kata Luki.
Hening.
Ruangan itu bak kuburan yang sepi dan sunyi. Hanya angin sumilir yang berhembus. Suaranya terdengar dibalik pintu ruang tamu yang terbuka itu. Suara jangkrik dan tokek pun meramaikan suasana. Seakan mereka ingin menghibur hati yang terluka.
Hening.
Tak ada kata yang terucap. Hanya kehampaan di ruangan itu. Luki terdiam. Dia sudah memasrahkan semuanya pada Allah SWT. Setelah semua usahanya selama ini.
"Ya Allah jika Humaira jodohku, mudahkanlah. Dan jika tidak, kuatkanlah kami menghadapi ujian ini. Hamba ikhlas Ya Allah," batin Luki. Setelah berusaha dan berdoa, Luki hanya bisa bertawakal. Biarkan Allah SWT memutuskan segalanya.
"Oppa, aku ingin menikah denganmu," kata Humaira.
Luki terkejut. Tak percaya Humaira berkata seperti itu setelah dia tahu kenyataannya.
"Beneran Humaira?" tanya Luki antusias.
Humaira mengangguk.
"Tapi kenapa kau mau menikah denganku? Dulu aku lelaki belok," ujar Luki.
"Itukan dulu, lagi pula aku ingin mengajarimu jadi lelaki sesungguhnya, yang hanya mencintai seorang wanita, dan itu aku," jawab Humaira.
"Alhamdulillah." Luki senang sekali. Sampai mengangkat tangan kanannya ke udara saking senangnya.
Humaira hanya tersenyum di balik cadarnya.
"Humaira, I Love You," ucap Luki.
"Jangan katakan itu dulu," kata Humaira. Dia malu mendengar kata cinta dari Luki. Oppa Korea yang tampan itu.
"Memangnya kenapa?" tanya Luki.
"Katakan saat malam pertama kita, seribu kali ya," jawab Humaira.
"Siap!" sahut Luki kegirangan.
Di balik pintu Son dan Jon mengintip.
"Son orang kalau lagi jatuh cinta mesti gombal gitu ya, aku kok pacaran dimintain duit kaya kena palak."
"Kau sih pacaran ma preman pasar, siapa suruh."
"Pacarku bawa golok tiap pacaran, habis deh isi dompetku. Mau nolak jajan bakso, takut ditebas."
"Serem Jon, kalau dapet kunti minta beliin sate mulu, duitkukan terbatas."
"Iya ya, bangkrut kalau dia minta satenya segerobak."
Sementara para penguping dan pengintip itu berdiri di dekat pintu. Luki dan Humaira masih berbicara.
"Terimakasih Humaira, kau sudah mau menerimaku apa adanya. Dengan masa laluku yang kelam," ujar Luki.
"Iya Oppa, akan akan beruntung jika aku bisa membawa Oppa ke jalan yang benar," sahut Humaira.
"Aku yang jauh lebih beruntung karena dicintai wanita sholeha sepertimu Humaira," kata Luki.
Humaira hanya tertunduk malu. Hatinya berbunga-bunga. Ingin secepatnya halal.
"Kalau begitu aku pulang dulu, tunggu aku menghalalkanmu besok Humaira," ujar Luki.
Humaira mengangguk.
"Assalamu'alaikum," ucap Luki.
"Wa'alaikumsallam," sahut Humaira.
Luki pun ke luar dari ruangan itu. Dia tersenyum. Senyumannya mengembang seperti bulan sabit. Dia senang permasalahannya kelar tinggal nunggu besok menghalalkan Humaira.
***
Masjid Al Malik
Alex dan seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di dalam Masjid Al Malik. Begitupun Maria dan Mak Ros. Humaira dan keluarganya. Luki juga sudah siap di dalam bersama Gavin. Mereka akad ijab qobul bergantian. Alex duduk di samping Sophia. Mengelus perutnya yang dari tadi pagi mulai kontraksi palsu.
"Sayang masih kontraksi?" tanya Alex.
"Udah enggak, mungkin Dedenya mau lihat yang nikah Mas," jawab Sophia.
"Tahu aja nih Dede, jangan jadi korban sinetron Istri Yang Tertindas ya De," ujar Alex menasehati anaknya agar tak menjadi korban sinetron jaman sekarang.
Sophia tersenyum kecil. Mendengar ucapan Alex.
"Bajunya ngepas ya sayang," kata Alex melihat baju berwarna salem itu tampak pas di pakai Sophia.
"Satu minggu lalu masih kendor, eh sekarang ngepas, Dede laper mulu Mas," jawab Sophia.
"Gak papa, yang penting sehat sayang," sahut Alex. Dia menciumi perut buncit istrinya.
"Eh ..., nendang sayang, kerasa gak?" tanya Alex terkejut saat mencium perut istrinya.
"Iya Mas, mungkin Dede ingin bermain denganmu," sahut Sophia.
Alex sengaja meraba-raba perut Sophia.
"Ini pasti tangannya ya sayang? lucu banget," kata Alex.
"Iya Mas, dia memberi respon," jawab Sophia.
"Sehat terus ya Dede, Mamanya juga, kalian harus sehat. Biar kita selalu bersama," ujar Alex.
"Amin," jawab Sophia.
Tak lama akad nikah dimulai. Penghulu duduk bersama Gavin. Akad nikah pertama untuk Gavin dan Maria. Sedangkan Luki dan Humaira setelah keduanya.
"Sudah siap?"
"Insya Allah siap," jawab Gavin.
"Kita mulai ijab qobulnya ya?"
Gavin mengangguk.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau ananda Gavin Sebastian bin Ferdi Sebastian dengan ananda Maria Selena binti Abdul Aziz dengan mas kawin cincin berlian biru seberat 5 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Maria Selena binti Abdul Aziz dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," jawab Gavin.
"Sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah."
Ucapan syukur dan tepuk tangan terdengar riuh. Mereka semua turut bahagia dengan pernikahan sepasang pengantin itu.
Gavin langsung berdiri. Hendak berjalan.
"Mau ke mana Tong?" tanya penghulu.
"Mau nyium istri saya Pak, kan dah halal," jawab Gavin.
"Oalah udah gak sabar toh Tong," ujar penghulu.
Gavin tersenyum meringis. Memalukan sekali di dengar semua orang. Berasa dia nafsuan banget.
"Yaelah Kak Gavin, memalukanku kau," ujar Claudya.
"Untung kita gak dipisah ya saat akad langsung cium," kata Tuan Matteo.
"Nanti aja Gavin, gue akad dulu, biar barengan," ujar Luki.
Semua orang tertawa dengan kelakuan Gavin yang udah gak sabaran pengen nyium Maria yang aduhai itu.
Bersambung ...
Dilanjut nanti malam lagi dan besok ya. Kalau tak ada halangan author up 2 bab sehari. Satu malam hari dan satunya siang hari.
Jangan lupa like, komen, dan vote.
Terimakasih banyak.