Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Pak Tua Kau Memang Ayahku



Alex tak menyangka jika benar lelaki tua yang sering bersitegang dengannya itu adalah ayah biologisnya. Dia jadi teringat kejadian hari kemarin saat di toilet bersama Pak Harry.


"Wajahku mirip dengan wajah Pak tua itu saat dia masih muda," batin Alex.


"Apa benar dia ayahku?" tambahnya di dalam hatinya.


Di balik kegalauan Alex, Pak Harry terlihat santai menunggu jawaban wanita yang pernah menjebaknya melakukan cinta satu malam dengannya.


"Kenapa? Kau takut aku tahu kalau Alex anakku?" tanya Pak Harry.


Ibu Marisa masih terdiam. Tangannya gemetar di dekat bersembunyi di balik pahanya. Dia tak menyangka mendapatkan pertanyaan panas dari Pak Harry. Pertanyaan yang membuat hati dan pikirannya kacau balau.


"Jawab dengan jujur, Alex anakku atau bukan?" tanya Pak Harry dengan suara yang keras.


Ibu Marisa terdiam. Menundukkan kepalanya.


"Jawab Marisa!" titah Pak Harry mulai marah. Kesabarannya mulai terkikis.


"Kau tidak berhak tahu, mau Alex anakmu atau bukan," jawab Ibu Marisa. Dia tidak ingin memberitahu benih unggul itu dari babang tampan atau justru dari Pak Ferdi yang lupa pakai kolor brukat yang biasa digunakan untuk menjaring ikan.


"Kalau Alex bukan anakku, aku tak segan lagi untuk menghabisinya," seru Pak Harry. Mengancam dan menekan Ibu Marisa biar dia buka mulut.


"Apa? Kau mau menghabisi anakmu sendiri?" ujar Ibu Marisa dengan suara yang keras. Tanpa disadari dia mengatakan yang sebenarnya.


"Jadi benar Alex anakku?" seru Pak Harry.


Ibu Marisa langsung terdiam. Tadi dia benar-benar keceplosan. Tak sengaja mengatakan yang sebenarnya. Dia sudah tak bisa menyangkal lagi.


Deg


Alex terkejut. Dia tak menyangka Pak Harry benar-benar ayahnya. Orang yang selama ini ingin mencelakainya. Selalu berseberangan dengannya dalam segala hal. Bahkan orang yang sudah mentelantarkan dirinya dan ibunya.


"Apa Pak tua itu ayahku?" Alex geleng-geleng. Dia buaya darat memakan semua jenis daging mau yang montok atau kurus, tapi Pak Harry angsa putih yang kesepian. Hanya mencintai satu orang sampai mati. Benar-benar berbeda.


"Iya Alex memang anakmu, terus kau mau apa?" tanya Ibu Marisa.


Pak Harry terdiam. Dia memikirkan semua yang sudah terjadi antara dirinya, Ibu Marisa dan Alex. Pak Harry bahkan hampir saja mencelakai Alex sampai mati. Dia begitu membencinya dan ingin menghabisinya, ternyata Alex adalah darah dagingnya yang selama ini tak pernah diketahui olehnya. Pantas saja wajah mereka begitu mirip dan itu tidak disadari Pak Harry selama ini.


"Aku mengandung Alex seorang diri, melahirkannya, dan merawatnya hingga tumbuh dewasa, karena kau tidak menginginkanku," ujar Ibu Marisa.


Pak Harry terdiam. Dia sadar betul kala itu Ibu Marisa sempat meminta dirinya untuk menikahinya. Hanya saja saat itu Pak Harry tidak tahu kalau Ibu Marisa sedang hamil anaknya. Dia yang tidak mencintai Ibu Marisa harus mengusirnya jauh-jauh dari hidupnya.


Ibu Marisa membuang nafas gusarnya. Sesak di dadanya saat dia harus mengingat masa lalunya. Saat di mana dia harus mengandung Alex tanpa Pak Harry.


"Kau sudah puas dengan jawabanku? Alex memang anakmu, darah dagingmu," tegas Ibu Marisa.


Pak Harry terdiam. Rasa bersalah dan sesal memenuhi hati dan pikirannya.


"Kau sudah membuatku hamil Harry, tapi kau tak mau bertanggungjawab," ujar Ibu Marisa.


"Itu kesalahanmu sendiri, kau yang menjebakku Marisa, kau bahkan membuat hubunganku dengan Tiara hancur," jawab Pak Harry.


"Jadi kau mau bilang Alex anak haram? Begitu?" ujar Ibu Marisa.


Alex yang duduk berjongkok di depan mereka terdiam. Dia tidak menyangka hubungan antara dia, ibunya dan Pak Harry begitu rumit. Yang lebih parah lagi dia anak yang terlahir dari hubungan di luar nikah. Hubungan terlarang yang terjadi di masa lalu.


"Tidak, dia anakku meski aku membenci wanita murahan sepertimu," kata Pak Harry.


"Dia bukan anakmu, Alex anak dari Keluarga Sebastian!" tegas Ibu Marisa. Sejak kecil Alex sudah


"Aku tidak peduli, aku ingin mengambil Alex darimu," jawab Pak Harry.


"Kau tidak bisa mengambil Alex dariku, Alex akan tetap tinggal di Keluarga Sebastian," sahut Ibu Marisa.


"Dia anakku, aku berhak mengambilnya," ucap Pak Harry.


Alex mulai emosi mendengar ucapan Pak Harry. Tangannya yang tadi mengepal sudah tak mampu ditahan lagi. Dia berdiri. Berjalan menghampiri Pak Harry. Melayangkan satu pukulan padanya.


Dug ...


"Aw ..." keluh Pak Harry sambil memegang pipinya yang terkena pukulan tangan Alex.


"Kau ingin mengambil anak yang tak pernah kau inginkan?" Alex benar-benar marah. Matanya menatap Pak Harry begitu tajam. Emosinya naik ke ubun-ubun.


Pak Harry terkejut. Alex ada di depan matanya. Dia mendengar semua pembicaraannya dengan Ibu Marisa.


"Alex kau harus tahu aku ayahmu," ujar Pak Harry.


"Pak tua kau mungkin ayahku, tapi kau tak pernah ada untukku, di mana kau selama ini?" ujar Alex.


Deg


Pak Harry merasa perkataan Alex sama dengan perkataannya pada Kakek David di episode sebelumnya. Pasti reader ingat episode itu.


"Kenapa aku merasa familiar dengan perkataan itu?" batin Pak Harry. Dia merasa tertampar dengan apa yang dikatakan Alex padanya. Mungkin sekarang dia berada di posisi Kakek David sebagai Bang Toyib yang tak pulang-pulang.


"Alex itu karena ibumu tidak memberi tahu kalau dia hamil," jawab Pak Harry.


"Pak tua kau pandai beralasan. Aku memang tak membenarkan perbuatan ibuku tapi aku juga tidak suka dengan caramu memperlakukan ibuku," sahut Alex sambil menunjuk ke arah Pak Harry.


"Alex sudahlah, ayo pulang Nak," ajak Ibu Marisa. Dia menegang lengan kiri Alex.


"Bu, aku harus memarahi Pak tua yang tak bertanggungjawab ini, dia sudah menelantarkan kita," ujar Alex berapi-api.


"Alex maafkan aku," ujar Pak Harry. Dia merasa sangat bersalah pada Alex. Sudah menelantarkannya dari dulu.


"Maaf, mudah sekali. Kau tahu selama ini aku kesepian tanpa sosok ayah yang menyayangiku, dan kau dengan mudahnya minta maaf," kata Alex. Dia masih dongkol dan kecewa dengan Pak Harry. Udah ratusan purnama berlalu. Lebih parah dari Bang Toyib tiga kali puasa tiga kali lebaran gak pulang. Statusnya antara ada dan tiada.


"Izinkan aku akan menebus semua kesalahanku," ujar Pak Harry.


"Astaga ini kata-kata kakek tua itu padaku kemarin, kenapa aku copy paste, bisa melanggar hak cipta nih," batin Pak Harry. Berasa de javu dengan apa yang terjadi padanya dan Kakek David. Pak Harry merasa jadi pecundang seperti ayahnya. Mati kutu di depan anaknya.


"Aku tidak akan memberimu kesempatan sedikit pun, ayo Bu pulang, jangan mengemis belas kasih Pak tua ini," ujar Alex. Dia menarik tangan Ibu Marisa meninggalkan tempat itu.


"Alex!" teriak Pak Harry.


Alex tak menggubris teriakan Babang tampan cap Bang Toyib itu. Berjalan meninggalkan Pak Harry bersama ibunya.


Pak Harry hanya terdiam. Dia merasa tak mampu membela diri ataupun beralasan di depan Alex. Dia duduk di kursi taman. Meratapi kesalahannya.