Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Aku Yakin Menikahimu



Gavin makan bersama Maria, Vera dan Mak Ros. Baru pertama kalinya dia makan jengkol. Awalnya ragu. Tapi ternyata enak juga. Nambah terus. Keinget Dodo juga. Rasanya tak salah bungkus menu serba jengkol itu. Plus ikan asin bakar yang ternyata enak. Dengan bumbu rempah buatan Maria. Tak disangka ikan asin berubah seenak itu.


"Enak Nak Gavin?" tanya Mak Ros.


"Iya Alhamdulillah enak Mak," jawab Gavin.


"Ya enak, itukan buatan Kak Maria dengan bumbu rahasia," sahut Vera.


Gavin melihat ke arah Maria. Astaga matanya malah fokus ke bibir seksi dan dada Maria.


"Astagfirullah, pikiranku jorok lagi," batin Gavin.


"Kak Maria emang cantik, udah dong mandangnya tar dosa," ucap Vera.


"Eh iya," sahut Gavin.


Maria hanya menunduk malu.


"Beda banget Maria dan Vera, kaya petir sama udara. Satunya berisik, satunya diam gak ada suaranya," batin Gavin.


Maria hanya diam dan makan. Padahal Vera dan Mak Ros udah berapa kali bicara. Begitupun dengan Gavin.


"Nak Gavin ayo nambah lagi, mumpung masih ada," ucap Mak Ros.


"Iya Mak, makasih," jawab Gavin.


"Ayo jangan sungkan, di rumahmu pasti tak ada jengkol sama ikan asinkan?" ujar Vera.


"Iya, ini pertama kali aku makan ikan asin dan jengkol, ternyata enak," jawab Gavin.


"Mulai sekarang kau akan sering makan ini," ujar Vera.


"Benarkah?" Gavin kegirangan.


"Iya, ada kak Maria yang akan memasaknya," jawab Vera.


Gavin langsung melihat ke arah Maria. Meskipun Maria menunduk. Gadis cantik dan pendiam itu memang mempesona. Secara fisik memuaskan pandangan mata dan nafsunya. Tapi dia belum yakin dengan perasaannya yang baru saja patah hati. Masih ada rasa yang tersisa untuk Humaira.


"Nak Gavin serius mau nikahin Maria?" tanya Mak Ros.


"Iya Mak," jawab Gavin tanpa ragu.


"Mungkin tak ada salahnya aku menikahi Maria, siapa tahu dia bisa mengobati luka hatiku," batin Gavin.


"Mak, Maria masuk dulu," pamit Maria untuk beranjak dari ruang makan.


"Kau sudah selesai makan?" tanya Mak Ros.


"Sudah," jawab Maria.


"Kak, di sini aja napa, ada Gavin calon suami kakak," ujar Vera.


Maria hanya tersenyum tipis. Kemudian meninggalkan meja makan, masuk ke dalam kamarnya.


"Nak Gavin maaf ya, Maria memang pemalu dan pendiam," ujar Mak Ros.


"Tidak apa-apa," jawab Gavin.


"Tenang, Kak Maria memang begitu," sahut Vera.


Gavin mengangguk.


"Tapi kau gak akan nyesel nikahin Kak Maria, dia baik banget," ujar Vera.


"Iya, santai aja," jawab Gavin. Dia merasa yakin akan menikahi Maria. Mungkin akan jadi tantangan untuknya memecahkan misteri kenapa calon suami Maria selalu meninggal.


"Nak Gavin, keadaan kami ya begini, tinggal di gubuk, tidak sepertimu yang mungkin tinggal di tempat yang lebih nyaman," ujar Mak Ros.


"Justru saya senang bisa bertamu ke sini, ada pengalaman lain yang saya rasakan," jawab Gavin.


"Pengalaman lain apa Nak Gavin?" tanya Mak Ros penasaran.


"Ikan asin dan jengkol ini, Alhamdulillah enak Mak," ujar Gavin. Dia kembali menikmati ikan asing dan semur jengkol dengan nasi putih hangat.


"Kita beda kasta Gavin, kau harus bisa meyakinkan keluargamu, apa mereka mau menerima Kak Maria?" tanya Vera.


"Insya Allah, akhir pekan saya ingin membawa Maria ke rumah," jawab Gavin.


"Amin, semoga lancar dan sesuai rencana," ujar Mak Ros.


"Alhamdulillah, semoga kau memang jodohnya Kak Maria," tambah Vera.


"Amin," sahut Gavin.


"Nak Gavin rumor yang beredar di sini, tentang Maria, apa Nak Gavin bisa menerima Maria apa adanya?" tanya Mak Ros. Sebutan pembawa sial pada Maria selalu memanaskan telinga. Mak Ros tidak ingin Gavin setengah hati. Dia harus tahu lelaki muda itu serius meminang putrinya atau tidak.


"Insya Allah saya bisa menerima Maria apa adanya," sahut Gavin.


"Bilang aja udah mabok sama kecantikan Kak Maria," sindir Vera.


"Iya itu salah satunya," sahut Gavin. Tak ingin membohongi dirinya sendiri. Lelaki normal tentu akan tertarik pada Maria. Gavin pun pertama melihat Maria karena wajahnya yang cantik dan body-nya yang aduhai. Meskipun itu sebatas mata. Hatinya masih terluka.


"Gak masalah, semua lelaki normal begitu," ujar Mak Ros membela Gavin.


"Tuh lelaki normal," ucap Gavin.


"Iyalah, lelaki normal, kalau sekong gue lempar ke kutub utara biar beku di sana," sahut Vera.


Mak Ros tersenyum. Vera memang nyeblak kalau bicara. Dia selalu bicara sesuai apa yang dirasakannya. Berbeda dengan Maria lebih banyak diam dan memendam.


"Mak ucapkan terimakasih, Nak Gavin mau menikahi Maria, semoga ini yang terakhir dan bahagia," ujar Mak Ros. Matanya berkaca-kaca. Teringat kisah kandasnya rencana pernikahan putrinya karena kematian calon suaminya yang sudah beberapa kali. Mak Ros sudah putus asa. Apa mungkin Maria bisa bertemu jodohnya setelah semua yang terjadi.


"Sama-sama Mak, justru Gavin yang berterimakasih dapat meminang Maria," sahut Gavin.


"Awas ya kalau jelalatan di luar, cukup Kak Maria!" ancam Vera mengacungkan kepalan pada Gavin.


"Gaklah, Insya Allah aku setia, cukup Maria saja!" sahut Gavin. Ngilu kena bogem mentah dari Vera.


Setelah makan Gavin pamit pulang. Tapi Maria masih di dalam.


"Mau dipanggilin Kak Maria?" tanya Vera.


"Gak usah, biarkan dia istirahat," jawab Gavin.


"Oke," sahut Vera.


"Jangan kapok main ke sini," ujar Mak Ros.


"Iya Mak," sahut Gavin.


Langkah kaki Gavin meninggalkan ruang makan. Ke luar dari rumah. Mengenakan sepatunya kembali. Tak sengaja dia melihat Maria di jendela.


"Cantiknya Maria, seperti putri di menara, aku akan membebaskanmu, kau akan melihat dunia luar yang indah," ujar Gavin. Dia tahu tekanan batin Maria yang dianggap pembawa sial membuatnya lebih banyak di rumah. Mengurung diri di kamar. Gavin berdiri. Berjalan menghampiri Maria yang berdiri di depan jendela kamarnya yang terbuka.


"Maria," ucap Gavin.


Maria menunduk malu.


"Akhir pekan aku ingin mengenalkanmu pada keluargaku, tunggu aku menjemputmu," ujar Gavin.


Maria mengangguk. Tetap menunduk.


"Sampai bertemu di akhir pekan Maria," ujar Gavin.


Maria hanya mengangguk dengan menunduk.


"Assalamu'alaikum," ucap Gavin.


"Wa'alaikumsallam," sahut Maria.


Gavin berjalan meninggalkan tempat itu. Maria hanya memandangi kepergian Gavin. Di belakangnya, Vera menepuk bahu Maria.


"Kak calon imammu," ujar Vera.


Maria hanya terdiam tak mengatakan apapun. Tetap melihat ke depan.


***


Sore itu Alex dan Sophia duduk di ranjang sambil bersantai. Sophia menyandarkan kepalanya di bahu Alex. Tangan Alex memegang tangan pemilik mata emerald itu. Seakan tak ingin jauh darinya. Mereka menikmati sore sambil menonton televisi. Kebetulan acara yang sedang ditonton mereka adalah acara berita Netral News TV. Berita itu menayangkan mobil yang jatuh ke sungai Kalimalang. Seketika Alex tahu itu kalau mobil miliknya.


"Sayang, itu bukanya mobil kita ya?" tanya Alex memastikan kembali.


"Iya Mas, mobil kita," jawab Sophia.


"Tunggu, Lukikan yang membawanya," tutur Alex.


"Ya Allah, jangan-jangan terjadi sesuatu pada Luki Mas," ucap Sophia cemas.


"Kita dengar dulu kabar kelanjutannya," sahut Alex.


Sophia mengangguk. Mendengarkan kembali kelanjutan kabar berita itu.


"Alhamdulillah, Luki selamat," ucap Alex.


"Iya Mas, Alhamdulillah," sahut Sophia.


"Untung saja kita naik mobil Luki, kalau tidak mungkin yang dialami Luki terjadi pada kita, mana kau sedang hamil, Alhamdulillah Luki jadi perantara pertolongan dari Allah SWT," ujar Alex.


"Benar Mas, Allah Maha Melindungi hambaNya, dengan berbagai cara yang tidak kita ketahui termasuk melalui Luki," sahut Sophia.


"Aku telpon Luki dulu sayang," ucap Alex.


Sophia mengangguk.


Alex mencium kening Sophia. Mengelus perutnya. Dia bersyukur karena istri dan anak dalam kandungan istrinya selamat.


Alex beranjak dari ranjang. Mengambil handphone di atas laci. Berjalan menuju balkon kamarnya. Dia berdiri di tepi balkon menelpon Luki.


"Assalamu'alaikum," sapa Alex.


"Wa'alaikumsallam Bos Alex," sahut Luki.


"Terimakasih atas pertolonganmu, kalau tadi kau tak bertukar mobil denganku, aku dan istriku pasti dalam bahaya," ujar Alex.


"Iya Bos Alex sama-sama," jawab Luki.


"Luki apa yang terjadi pada mobilku? Kenapa bisa hilang kendali?" tanya Alex.


"Remnya blong Bos," jawab Luki.


"Mana mungkin, mobilku baru diservis dan pagi tadi aku sempat merevarasinya sendiri," sahut Alex.


"Saya tidak tahu kenapa, yang jelas rem mobilnya blong," kata Luki.


"Kau mengetahui sesuatu?" tanya Alex.


"Mengetahui apa maksud Bos Alex?" tanya Luki balik.


"Kau ada di alun-alun di waktu yang tepat, dan menukar mobilmu denganku. Luki aku bukan orang bodoh, katakan padaku apa yang kau tahu!" titah Alex.


Deg


Luki terdiam. Alex mempertanyakan pertanyaan yang akan sulit dijawab olehnya. Dia tahu Alex pasti curiga karena mobilnya baru diservis dan baru saja dia merevarasinya sendiri, tentunya dia tahu betul kondisi remnya.