Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Pilihan Terakhir



Dokter Leon membuang nafas gusarnya. Dia harus mengambil keputusan yang bijak. Apapun itu menyangkut Sophia.


"Baiklah, mari kita bicara di luar," kata Dokter Leon.


Alex mengangguk.


Kedua orang itu memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Mereka duduk di taman yang ada di samping Gedung Feronika itu. Alex duduk berdua bersama Dokter Leon. Mereka tampak serius. Satu sama lain sama-sama memikirkan Sophia.


"Sophia pasienku beberapa tahun ini. Sebelumnya Sophia pasien ayahku. Sejak kecil dia sudah menderita kanker hati," ujar Dokter Leon.


"Jadi Sophia sudah lama menderita kanker hati?" tanya Alex memastikan kembali ucapan Dokter Leon.


"Iya," jawab Dokter Leon.


Alex menarik nafas panjangnya menghembuskan perlahan.


"Sebagai suami Sophia, aku tidak pernah tahu kalau istriku sakit. Baru kemarin aku tahu kalau Sophia sakit," kata Alex.


Dokter Leon terdiam. Sebenarnya dia juga kasihan pada Sophia yang menyembunyikan penyakitnya dari siapapun.


"Sophia memang tidak ingin siapapun tahu penyakitnya. Dia wanita yang kuat dan mandiri. Sophia hanya ingin memberi tapi tak ingin diberi," sahut Dokter Leon.


Mata Alex berkaca-kaca mendengar ucapan Dokter Leon tentang Sophia. Dia tahu betul Sophia seperti lilin yang menyinari kegelapan tapi dia sendiri akan habis terbakar.


"Katakan padaku apa Sophia bisa disembuhkan?" tanya Alex.


"Insya Allah bisa, seandainya Sophia tetap melakukan pengobatan yang dilakukannya selama ini. Tapi sayangnya pengobatannya harus terhenti saat Sophia memutuskan berhenti dan hamil," jawab Dokter Leon.


"Jadi dengan kata lain Sophia sudah tidak melakukan pengobatan apapun lagi?" tanya Alex. Dia ingin tahu semuanya. Alex akan sangat bersalah jika tidak mengetahui apapun tentang Sophia.


"Iya, sejak memutuskan menikah Sophia sudah berhenti melakukan pengobatan. Dia ingin hamil dan memberi keturunan untuk suaminya. Sophia ingin merasakan memiliki sebuah keluarga," ungkap Dokter Leon. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia mencintai Sophia dengan tulus meskipun Sophia tak pernah tahu perasaannya.


"Keluarga, itu impian Sophia?" ujar Alex. Dia baru tahu kalau Sophia begitu menginginkan sebuah keluarga dalam hidupnya.


"Iya, dia ingin merasakan memiliki sebuah keluarga sebelum dia pergi selamanya, merasakan rasanya jadi istri dan seorang ibu," sahut Dokter Leon. Suaranya mulai berat untuk dikeluarkan. Dadanya terasa sesak sama dengan apa yang sekarang dirasakan Alex.


"Sophia ..." Kata yang terucap saat rasa sakit menumpuk di dadanya mendengar semua kenyataan ini.


"Tadinya aku melarang Sophia untuk hamil, karena kondisinya akan semakin menurun. Tapi Sophia bersikeras. Dia ingin memberimu keturunan sebagai bukti cintanya padamu," kata Dokter Leon. Meskipun dia ada sedikit rasa cemburu ketika dia harus mengakui bahwa Sophia mencintai Alex tapi rasa cintanya pada Sophia tulus.


Alex menunduk. Memijat pangkal hidungnya. Air matanya tak kuasa terbendung lagi dengan pengorbanan yang dilakukan Sophia demi memberinya keturunan.


"Sekarang kita hanya bisa berdoa semoga Sophia baik-baik saja selama masa kehamilannya, hanya itu yang kita bisa lakukan untuk saat ini," ujar Dokter Leon.


"Katakan padaku kemungkinan terpahitnya!" pinta Alex. Dia ingin tahu apa yang terjadi ke depannya. Meskipun itu pahit.


"Mungkin kondisi Sophia akan terus menurun jika dia tetep pada pendiriannya, hanya dalam beberapa tahun atau bulan kondisinya bisa semakin memburuk," ujar Dokter Leon.


Alex terdiam. Masih menunduk.


"Bahkan bisa lebih cepat lagi jika kankernya menyebar," ujar Dokter Leon.


"Berapa waktu yang tersisa jika tetap seperti ini? Katakan Dok meskipun itu kemungkinan terburuk sekalipun!" pinta Alex.


"Mungkin satu atau dua tahun itu paling lama, tapi kalau sel kankernya lebih cepat tumbuh dan menyebar, bisa lebih cepat dari perkiraan," kata Dokter Leon. Dia terpaksa menyampaikan hal terburuk yang akan terjadi. Agar Alex tahu seperti apa kondisi Sophia.


"Apa mungkin dalam satu bulan sel kanker itu berkembang lebih cepat dan menyebar?" tanya Alex.


"Bisa saja, kita tidak bisa memprediksi semua itu. Kembali lagi pada takdir," jawab Dokter Leon.


"Jadi nyawa Sophia dan buah hati kami terancam?" tanya Alex. Berat mengatakan kenyataan buruk itu tapi dia harus berpikir ke arah situ.


"Anda mau bilang Sophia akan memilih mati untuk menyelamatkan bayi yang dikandungnya, iyakan?" tanya Alex dengan nada yang meninggi.


Dokter Leon terdiam. Dia sudah tahu persis kemungkinan terburuknya.


"Sophia kenapa semua ini harus terjadi padamu?" ucap Alex sambil mengacak rambutnya menggunakan kelima jarinya.


Dokter Leon menepuk bahu Alex.


"Kau harus kuat, agar Sophia punya semangat untuk sembuh dan bertahan," kata Dokter Leon.


Alex menoleh ke samping. Menatap Dokter Leon.


"Iya, pasti. Aku tidak akan membiarkan Sophia pergi dariku," jawab Alex.


"Bahagiakanlah Sophia meskipun itu di sisa hidupnya! Karena kau beruntung mendapatkan cintanya," ujar Dokter Leon.


Alex mengangguk.


"Dok apa ada cara lain untuk kesembuhkan Sophia?" tanya Alex.


"Ada operasi pengangkatan sel kanker, tapi karena sel kankernya sudah menyebar di beberapa bagian hatinya, itu tidak memungkinkan. Hanya bisa dilakukan jika sel kankernya masih kecil," ujar Dokter Leon.


"Terus kita harus gimana Dok?" tanya Alex.


"Jalan satu-satunya transplantasi hati, mengangkat hati yang sakit dan diganti hati yang sehat dari pendonor," jawab Dokter Leon.


Alex terdiam memikirkan apa yang dikatakan Dokter Leon. Harus ada seseorang yang mendonorkan hatinya untuk Sophia.


"Berarti harus ada yang mendonorkan hatinya untuk Sophia?" tanya Alex.


"Iya, tapi untuk mendapatkan donor hati itu sulit, harus memiliki kecocokan antara pendonor dan penerima," sahut Dokter Leon.


Alex terdiam kembali. Siapa yang mau mendonorkan hatinya untuk Sophia. Apalagi harus mendapatkan donor hati yang cocok. Tak ada orang yang akan rela mendonorkan hatinya meskipun dibayar mahal. Jika ada pun satu banding seribu.


"Ambil hatiku, jika itu pilihan terakhir," pinta Alex.


"Anda akan mendonorkan hati anda untuk Sophia?" tanya Dokter Leon.


"Iya, bahkan jika jantungku dibutuhkan, aku akan memberikannya untuk Sophia agar dia sembuh," jawab Alex. Dia hanya ingin Sophia kembali sembuh seperti sedia kala.


"Aku terharu, anda berkorban apapun untuk Sophia," kata Dokter Leon.


"Aku ingin Sophia hidup dan merawat anak kami, dia lebih pantas hidup dari pada aku yang berlumur dosa ini," jawab Alex. Matanya kembali berkaca-kaca.


"Tapi Sophia belum tentu mau, lagi pula hati anda belum tentu cocok untuknya," kata Dokter Leon.


"Apapun itu lakukan yang terbaik, jika hatiku cocok untuk Sophia, sekalipun aku harus mati," jawab Alex.


Dokter Leon terdiam. Ternyata Alex benar-benar mencintai Sophia. Dia rela mati demi menyelamatkan nyawa Sophia.


"Aku tak perlu mengkhawatirkan Sophia lagi. Karena dia sudah punya malaikat yang selalu ada untuknya," ujar Dokter Leon pada Alex.


Alex tersenyum tipis.


"Dulu aku mencintai Sophia, aku tidak rela saat dia menikahimu, karena aku tahu kau lelaki brengsek, tapi sekarang aku salut padamu, Sophia tidak salah memilihmu," kata Dokter Leon.


"Tidak, akulah yang beruntung dipilih oleh Sophia untuk jadi imamnya," jawab Alex.


Keduanya sama-sama mencintai Sophia dengan tulus. Tapi kini Dokter Leon sudah ikhlas melepas Sophia saat tahu Alex memang benar-benar mencintai Sophia.