Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Belajar Memasak



"Buah bawang kok rasanya gak enak dan bikin nangis terus ya?" batin Emily sambil mengunyah bawang di mulutnya.


"Hik ... hik ... hik ..." Emily menangis terbawa suasana memakan bawang. Matanya sembab seperti orang yang sedang berduka.


"Emily kenapa kau menangis?" tanya Sophia terperanjat melihat Emily menangis.


"I-itu Mama buah bawangnya bikin nangis," jawab Emily. Dia masih memegang kantung yang berisi bawang. Beberapa sudah dimakan Emily.


"Kamu makan bawangnya ya?" tanya Sophia. Dia melihat kantung bawang sudah tinggal sedikit.


"I-iya Mama, buah bawang memang rasanya getir ya Mama?" tanya Emily.


"Bawang memang untuk dimakan tapi harus dimasak dulu sebagai bumbu atau campuran sayur. Kalau dimakan langsung memang getir dan membuat mata kita perih," jawab Sophia sambil tersenyum. Menantunya itu masih sangat polos.


"Oh, berarti harus dimasak dulu ya Ma?" tanya Emily.


"Iya, digoreng, ditumis atau dijadikan bumbu halus," jawab Sophia. Menjelaskan kegunaan bawang.


"Kalau gitu Emily apakan bawangnya Ma?" tanya Emily. Dia tidak tahu bawang itu mau diapakan.


"Gak usah deh Emily, nanti kamu nangis lagi. Lebih baik goreng ikannya ya tapi ...." Tiba-tiba suara handphone milik Sophia berdering. Sophia bergegas mengambil handphonenya yang ada di sakunya. Dia melihat panggilan di layar handphone itu.


"Papa," ucap Sophia melihat panggilan dari Alex.


"Emily Mama angkat telpon dulu ya," kata Sophia sambil memegang handphone miliknya.


"Iya Ma," jawab Emily.


Sophia bergegas ke luar dari dapur untuk mengangkat telpon dari Alex. Sedangkan Emily mulai mengerjakan tugas yang diperintahkan Sophia. Dia mencari ikan yang dimaksud Sophia.


"Tuh ikannya masih di ember," kata Emily. Dia mengambil ikan itu dengan ember-embernya. Kemudian dia menyalakan kompor. Di atas kompor sudah ada wajan berisi minyak goreng.


"Tinggal masukin ikannya untuk digoreng," ucap Emily. Dia menangkap ikan emas besar yang ada diember kemudian melempar ikan itu ke wajan yang belum panas.


"Tinggal benerin hijab dulu deh," ucap Emily. Dia berjalan menuju kulkas yang ada di sudut ruangan. Letak kulkas itu agak jauh dari kompor. Emily mengeluarkan kaca kecil yang ada di kantung bajunya. Dia melihat hijab yang dikenakannya rapi atau tidak. Namun ikan hidup di atas minyak itu mulai melompat-lompat karena minyaknya mulai panas.


Pletok! Pletok! Pletok!


"Ikannya kenapa? Apa dia lagi lompat jauh atau lompat tali ya?" Emily malah menganggap ikan sedang berolahraga sebelum matang. Dia justru memperhatikan ikan itu melompat-lompat.


Tak lama Sophia datang karena mendengar suara letupan minyak panas.


"Astagfirullah, Emily ikannya," ucap Sophia.


"Ikannya lagi ikut olimpiade olahraga Ma," sahut Emily. Dia tidak tahu cara menggoreng ikan dengan benar.


Sophia hanya tersenyum tipis. Kemudian mengenakan helm dan jas hujan untuk mematikan kompor.


"Alhamdulillah, hampir saja," ucap Sophia. Dia melihat ikan sudah tenang di alamnya. Minyak juga sudah tidak meletup lagi.


"Ma ikannya kenapa?" tanya Emily.


"Sebelum menggoreng, ikannya harus dibersihkan terlebih dahulu. Tidak boleh hidup-hidup begini," jawab Sophia. Dia merasa bersalah tadi tidak menjelaskan dulu pada Emily tentang cara menggoreng ikan.


"Jadi ikannya digoreng saat mati ya Ma?" tanya Emily.


"Iya, kalau hidup akan seperti yang tadi," ucap Sophia. Dia tidak marah dengan ketidaktahuan Emily. Butuh waktu untuk mengajarinya.


"Kalau begitu Emily bantuin apa Ma? Maaf ya salah semua," kata Emily.


Sophia mendekati Emily membuka helm yang dikenakannya. Dia memegang tangan Emily.


"Dulu saat Mama masih kecil gak bisa berjalan, berbicara, ataupun membaca. Semua Mama dapatkan karena belajar dari waktu ke waktu. Emily pun seperti itu. Dengan belajar dari waktu ke waktu Insya Allah pasti bisa," ujar Sophia.


"Makasih Ma, Emily seneng deh punya mertua sebaik Mama," sahut Emily. Dia tersenyum pada Sophia.


Sophia mengangguk. Dia juga senang memiliki menantu seperti Emily yang masih berupa kertas putih. Sophia harus mengajarinya banyak hal agar Emily bisa jadi istri yang baik.


"Ya udah Emily bikin teh hangat buat Papa ya, sebentar lagi Papa pulang," ucap Sophia.


"Pasti mudahlah buat teh hangat. Tinggal kasih teh dan gula," kata Emily. Dia mulai membuat teh hangat untuk Alex sekalian untuk Arfan dan yang lainnya.


"Ma, udah selesai, dibawa ke mana?" tanya Emily.


"Bawa ke ruang keluarga aja ya, semuanya ada di sana," kata Sophia.


"Siap," jawab Emily. Dia membawa teh hangat itu ke ruang keluarga. Di sana ada Pak Ferdi, Ibu Marisa, Arfan, Aliza dan Alex yang baru datang.


"Alhamdulillah Emily kau sudah berhijab," ucap Ibu Marisa.


"Iya Nek, Alhamdulillah," jawab Emily.


"Nah begitu jadi perempuan berhijab," sahut Alex. Dia memang ingin menantunya seperti Sophia.


"Tahu aja Kakek lagi pengen teh hangat," ujar Pak Ferdi kegirangan melihat Emily membawa teh hangat.


"Semuanya kebagian, Emily membuat banyak," sahut Emily. Dia meletakkan teh hangat itu di meja. Satu per satu memberikan pada semua anggota keluarga.


"Makasih ya Emily," ucap Pak Ferdi.


"Thanks cantik," tambah Arfan. Dia mengedipkan mata pada Emily.


"Kak Emily makasih ya," ucap Aliza.


"Makasih Emily," ujar Alex datar. Dia belum ingin berbaik hati pada Emily.


"Makasih ya cantik," kata Ibu Marisa.


"Iya sama-sama," kata Emily untuk semua orang.


Satu per satu mulai meminum teh hangat buatan Emily khususnya Alex yang lebih dulu. Dia langsung menyembur Pak Ferdi yang kebetulan ada di depannya.


"Lex kenapa hujan turun deras?" kata Pak Ferdi.


"Sorry Yah, tehnya asin banget," sahut Alex.


"Emang asin ya?" tanya Emily.


"Gak kok cantik hanya kesedikitan manisnya," jawab Arfan. Dia tidak ingin mental Emily down.


"Teh asin enak juga kok," kata Aliza. Padahal lidahnya sudah getir merasa keasinan.


"Sepertinya teh ini sangat cantik, Nenek harus museumkan jangan diminum sayang," ujar Ibu Marisa. Beralasan padahal tak sanggup meminum teh asin.


"Sayang sekali teh milik kakek sudah terkena semburan Papamu padahal baru mau diminum," ucap Pak Ferdi beralasan. Dia juga tidak sanggup meminum teh asin.


"Emily kau bisa bikin teh atau tidak? Tanya kek sama orang, Papa saja dulu ..." Alex ingin membanggakan dirinya namun tidak jadi. Dia juga hampir mirip seperti Emily membuat teh asin.


"Papa dulu buat teh?" tanya Aliza.


"Memang Papa buat teh untuk siapa?" tanya Arfan kepo.


Melihat kedua anaknya penasaran Alex gengsi. Dia tidak mungkin menceritakan kalau membuat teh keasinan.


"Papa lelah sebaiknya berbaring sebentar," kata Alex.


"Pa ceritain dulu dong," pinta Aliza.


"Kapan-kapan saja," jawab Alex. Dia bergegas meninggalkan tempat itu sebelum semuanya pada kepo.


.


.


Kemungkinan endingnya besok karena author sedang tidak sehat. lagi flu dan radang.