Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Minta Dukungan



"Emily, Papa hanya bercanda. Memotivasi dan menyemangatimu, iyakan Ma, Arfan, Yah, Bu, Liz," sahut Alex segera mengamankan situasi. Meyakinkan semua orang kalau ucapan pedasnya kemarin hanya sebuah candaan.


"Alex mengabsen kita semua demi mengamankan posisinya," bisik Pak Ferdi. Dia melihat gelagat Alex yang berusaha untuk mengamankan dirinya agar tidak ketahuan belangnya.


"Tanpa uang suapan aku takkan menyukseskan dia naik tahta," bisik Ibu Marisa. Bukannya menyelamatkan posisi anaknya justru menunggu uang suapan agar tutup mulut.


Alex mengedipkan mata pada Pak Ferdi dan Ibu Marisa di seberangnya. Berharap mereka sebagai tetua mau mendukungnya. Namun Ibu Marisa justru menggerakkan dua jemarinya meminta uang tutup mulut pada Alex.


"Kau saranghaeyo Nek?" bisik Pak Ferdi. Dia mengira istrinya sedang memberi kode isyarat cinta pada Alex.


"Bukan, ini kode uang suap," jawab Ibu Marisa. Tidak ada uang sebab semua tidak akan mulus, itu yang sedang ditawarkan Ibu Marisa pada Alwx.


"Bagus, aku juga deh," sahut Pak Ferdi. Ikut-ikutan seperti Ibu Marisa. Memberi kode uang suap agar Alex mau mengeluarkan uang.


"Ayah dan Ibu bukannya mendukungku malah memorotiku seperti ini, benar-benar keluarga yang matre," batin Alex. Kemudian memberi kode iya dengan mengangguk pelan. Daripada mereka berkata seenaknya lebih baik Alex menuruti kemauannya.


"Iya, Alex memang suka bercanda. Cara mendidik yang disiplin makanya anak-anak baik dan pintar-pintar, iyakan Nek?" kata Pak Ferdi.


"Iya Kek, Pak Yuga tidak perlu khawatir di tangan Alex anak bapak akan menjadi istri yang sholeha dan kebanggaan semua orang," tambah Ibu Marisa.


"Terimakasih Pak Alex, Emily memang manja dan tidak bisa apa-apa. Kami menyadari hal itu. Sebagai orangtua justru kami senang Pak Alex mau mendidiknya, iyakan Mi?" ujar Pak Yuga.


"Hm. Iya Pi," jawab Ibu Karina. Sebenarnya dia merasa aneh dengan putrinya yang sekarang mengenakan hijab.


"Ah Pak Yuga bisa aja. Semua ini berkat Emily yang tidak menyerah untuk berusaha lebih baik lagi," sahut Alex.


"Iya Pak Yuga. Emily selalu belajar dan tidak malu bertanya. Dia mengikuti nasehat baik dari kami selaku orangtua maupun anggota keluarga lainnya," tambah Sophia. Dia tahu Alex melakukan itu demi kebaikan Emily. Meski caranya berbeda dan lebih keras.


"Syukurlah kalau begitu. Saya justru berterimakasih karena Pak Alex dan Ibu Sophia mau menerimanya sebagai menantu dan mendidiknya dengan baik," kata Pak Yuga. Dia senang Emily sudah diterima Keluarga Sebastian dan didik dengan baik.


"Iya sama-sama Pak Yuga," jawab Alex.


"Saya juga bangga melihat Emily sekarang berhijab, ini prestasi tersendiri untuk kami," ujar Pak Yuga. Selama ini dia belum bisa menyuruh Emily berhijab tapi sekarang Emily sudah mantap berhijab. Keluarga Sebastian sudah mengajarkan hal yang baik padanya.


"Kami selaku orangtua juga ikut bangga karena Emily mau berhijab atas keinginannya," jawab Alex. Meski dia memberi komentar pedas pada Emily saat itu, kini Emily jadi berhijab dan menutup aurat.


Alex, Pak Yuga dan yang lainnya tersenyum bahagia. Mereka mengobrol santai perihal keluarga, bisnis hingga makanan.


"Kalau begitu mari kita makan!" ajak Sophia.


"Iya, istri dan anak-anak sudah masak banyak khusus menyambut Pak Yuga dan Ibu Karina," tambah Alex.


Mereka semua pun pindah ke ruang makan dan duduk bersama. Alex mempersilahkan Pak Yuga dan istrinya untuk makan. Satu per satu orang yang ada di ruang makan mulai mengambil piring, lauk pauk, nasi, sayuran dan air minum.


"Sebelum makan mari kita berdoa bersama!" ajak Alex. Kini dialah yang memimpin doa makan. Dulu Kakek David yang biasanya memimpin doa makan. Ada rasa rindu yang di hatinya pada sosok kakeknya.


"Mari dimakan!" ucap Alex.


Sophia dan yang lainnya mengangguk dan mulai menyantap hidangan makan malam itu. Semua orang lahap menyantap hidangan mereka masing-masing. Termasuk Pak Yuda dan Ibu Karina. Mereka juga memperhatikan Arfan dan Emily yang romantis. Mereka sesekali suap menyuapi.


"Lihat Mi! Anak kita bahagia," kata Pak Yuga. Dia senang melihat anaknya sudah bahagia bersama suami dan keluarganya. Dia tidak lagi mencemaskan Emily. Pak Yuga yakin di tangan Arfan anaknya akan mandiri dan jadi istri yang sholeha.


"Iya Pi, tadinya Mami merasa aneh dan khawatir pada Emily, tapi ternyata Emily bahagia," jawab Ibu Karina ikut senang melihat kebahagiaan putri kesayangannya.


Tak hanya Pak Yuga dan Ibu Karina yang senang melihat kebahagiaan Emily dan Arfan tapi Alex dan Sophia. Meski pernikahan Arfan dan Emily dadakan tapi mereka bisa saling melengkapi dan menerima pernikahan itu dengan baik. Mereka juga terlihat saling mencintai seiring berjalannya waktu. Benih-benih cinta itu mulai tumbuh.


Satu per satu selesai makan. Mereka masih duduk bersantai di ruang makan sambil mengatur nafas dan menunggu makanan dicerna lambung.


"Bagaimana makanannya Pak Yuga?" tanya Alex.


"Alhamdulillah, enak Pak, terimakasih atas jamuannya Pak," jawab Pak Yuga.


"Sama-sama, syukurlah kalau Pak Yuga suka," jawab Alex.


"Tak disangka di masa depan kita akan berbesan padahal saat SMA kita ini rival dalam segala hal," kata Pak Yuga. Dulu saingan terberat Pak Yuga adalah Alex. Mereka bersaing apapun agar jadi yang terbaik. Sekarang justru jadi besan. Anak-anak mereka menikah tanpa disengaja.


"Iya, itulah takdir siapa yang tahu selain Allah SWT, meski kita rival sekalipun," jawab Alex. Dulu saingan kini besan yang harus hidup berdampingan menasehati dan mendukung anak-anaknya.


"Tapi saya senang bisa berbesan dengan anda. Secara Anda sangat pintar, saya yakin anak dan keturunan kita nanti tak akan jauh beda," ujar Pak Yuga.


"Iya, Pak Yuga juga pintar saya sampai kualahan bersaing dengan anda. Sudah pasti cucu-cucu kita akan mewarisi bakat kita," tambah Alex. Dia dan Pak Yuga sama-sama pintar saat itu. Jadi anak dan keturunannya nanti tentu akan mewarisi semua itu.


"Asal mesumnya tidak diwariskan pada Arfan dan anak cucu kita," bisik Pak Ferdi yang tahu betul sejarah Alex seperti apa.


"Iya, repot. Satu casanova sudah aib, masa cucu kita juga," bisik Ibu Marisa. Dia tidak bisa membayangkan kalau cucu dan buyutnya seperti Alex. Entah bagaimana caranya menemukan Sophia-Sophia lainnya yang mau melamar sang casanova.


Kedua kakek nenek itu malah kembali mengghibar ria bukannya mendoakan mereka. Sudah tua kegabutan mereka semakin bertambah banyak.


Tak hanya Alex dan Pak Yuga yang mengobrol berdua tapi Sophia dan Ibu Karina juga. Mereka sesama wanita membicarakan kesukaannya pada masak memasak dan belanja. Begitupun dengan Arfan yang terus menghoda Emily. Dia gemas dengan istri manjanya itu.