Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Berdebat DenganMu



"Loh kok lelaki mesum ini ada di sini," ucap Claudya.


Alex langsung berdiri saat Claudya menyebut lelaki mesum. Begitupun Tuan Matteo yang menengok ke samping. Gadis kecil yang tadi di lift ada di ruang meeting.


"Lelaki mesum?" ujar Alex tidak tahu maksud Claudya.


"Iya dia lelaki mesum yang ku ceritakan waktu itu Kak," jawab Claudya menunjuk ke arah Tuan Matteo. Lelaki berumur 35 tahun itu hanya tersenyum pada Claudya gadis kecil yang usianya 23 tahun. Perbedaan usia yang cukup jauh. Membuat Claudya berpikir lelaki di depannya itu mesum.


"Claudya duduklah dulu! kau belum berkenalan dengannya, tak kenal berarti tak sayang," ujar Alex.


"No, aku tidak sudi berkenalan dengan lelaki mesum itu, dia itu pedofilia Kak, mesum, otak ngeres, pokoknya dia itu menyebalkan," ujar Claudya.


Tuan Matteo langsung berdiri. Memperkenalkan dirinya pada gadis kecil di depannya.


"Perkenalkan Nona, aku Matteo Renaldi, senang bertemu kembali di sini," ujar Tuan Matteo.


"Siapa yang mau kenalan dan bertemu dengan lelaki mesum sepertimu lagi," gumam Claudya.


Luki langsung ikut berdiri. Dia tak terima Tuan Matteo dihina.


"Nona jaga mulutmu, lelaki di depanmu ini sangat terhormat, bukan lelaki mesum yang kau sebutkan," ucap Luki.


Tuan Matteo langsung menahan Luki untuk bicara. Justru menyuruhnya untuk diam dan duduk kembali.


"Sekali mesum tetaplah mesum," gumam Claudya.


"Tuan biar aku ...," ujar Luki.


"Jangan, aku suka dengan apa yang dia katakan, menarik," ujar Tuan Matteo.


"Tuan Matteo maaf atas kekacauan ini," ucap Alex.


"Tidak apa-apa, aku suka melihatnya, dia adikmu?" tanya Tuan Matteo.


"Iya dia Claudya adik paling kecil, mari duduk kembali!" jawab Alex.


Tuan Matteo mengangguk. Dia duduk kembali bersama Alex sedangkan Claudya masih berdiri di samping meja bersama Kenan.


"Claudya duduklah!" titah Alex.


"Gak mau, aku gak mau satu meja dengan lelaki mesum itu," sahut Claudya sambil memangku tangannya.


"Oke," jawab Alex. Dia kembali berbincang dengan Tuan Matteo. Mereka justru berbincang di saat Claudya marah. Kenan yang di samping Claudya berusaha menenangkannya.


"Sudah Nona kecil, lelaki mesum itu tampan mana tahu jodoh," ucap Kenan.


"Apa kau bilang? Jodoh?" Claudya makin kesal.


"Iya," sahut Kenan meringis.


"Aku tidak mau berjodoh dengan lelaki mesum sepertinya, kau berkata seperti itu pasti tim suksesnyakan?" tanya Claudya.


"Tidak Nona kecil, makan aja daun dari kemarin, mana mungkin jadi tim sukses yang makan nasi kotak," jawab Kenan.


Claudya melotot menatap Kenan yang ada di samping Claudya.


"Nasib ditindas kakaknya sekarang adiknya menindas juga, selalu berujung jadi korban penindasan," batin Kenan.


Alex terus berbincang dengan Tuan Matteo.


"Adik saya memang seperti itu," ujar Alex.


"Sepertinya saya harus menjinakkannya," gumam Tuan Matteo.


"Anda bisa dipatuk saat menjinakkan ular liar," ujar Alex.


"Saya sangat suka ular yang liar, lebih menantang," sahut Tuan Matteo.


Alex kembali melihat ke arah Claudya yang berdebat dengan Kenan.


"Duduklah! Kau datang ke sini untuk apa?" tanya Alex.


Claudya mendekat. Meletakkan berkas yang dibawanya tadi ke meja. Sambil menatap sinis Tuan Matteo yang melihat ke arah Claudya dengan senyuman.


"Dasar mesum," lirih Claudya pada Tuan Matteo. Dia kembali menatap kakaknya yang sedang memeriksa berkas yang dibawanya.


"Untung kau bawa ke sini berkasnya, ini sangat kakak butuhkan," ujar Alex.


"Kakek yang menyuruhku, katanya ini penting untukmu Kak," sahut Claudya.


"Anak pintar, kau tak ingin berdamai dengan lelaki mesum itu, dia jomblo," bisik Alex menggoda adiknya.


Plaaak ...


Claudya menampar lengan Alex. Dia kesal kakaknya sama saja. Malah menggodanya.


"Jangan galak-galak di depan lelaki, tar perawan tua, ujung-ujungnya berjodoh dengannya," bisik Alex.


"Iiih kakak," ucap Claudya gemas pada kakaknya.


"Oke-oke, kau harus berkenalan dengan Tuan Matteo, dia orangnya baik," ujar Alex.


Claudya melihat ke arah lelaki mesum dengan jambang dan kumis tipis. Tampak seksi dan maco. Tatapan matanya begitu menggoda. Membuat Claudya sedikit merinding. Dan menggeleng.


"Aku pulang dulu," ujar Claudya.


"Yakin? Gak pengen ...?" goda Alex.


"Gak, aku mau pulang," jawab Claudya. Dia tak tertarik untuk berdamai ataupun berbicara dengan lelaki berjambang dan kumis tipis itu.


"Ya udah, hati-hati di jalan ya," ujar Alex.


Claudya mengangguk. Sekali lagi menatap Tuan Matteo dengan tatapan sinis. Bak anjing bertemu kucing. Tak bisa damai. Kemudian berjalan ke luar.


Tuan Matteo masih melihat Claudya sampai ke ujung pintu dan ke luar. Matanya seakan tak ingin kehilangan gadis kecil yang dua hari ini mengusik hidupnya. Membuat harinya jadi menarik kembali. Sampai panggilan Alex tak kedengaran di telinganya. Terpaksa Luki menepuk bahunya.


"Tuan," panggil Luki.


"Iya ada apa?" tanya Tuan Matteo.


"Bos Alex," jawab Luki.


Tuan Matteo kembali memfokuskan pikirannya. Menatap Alex yang satu meja dengannya.


"Bagaimana Tuan Matteo? Bisa kita mulai penandatanganan kontrak ini?" tanya Alex.


"Iya, mari!" jawab Tuan Matteo.


Setelah itu Tuan Matteo dan Luki ke luar dari ruang meeting. Tuan Matteo terlihat diam. Dia memikirkan gadis kecil yang membuat hatinya terpaku padanya.


"Sial pasti wanita tadi yang membuat Tuanku gundah gulana," batin Luki yang melihat raut wajah Tuan Matteo yang sedang galau karena jatuh cinta.


"Awas saja kau gadis kecil," batin Luki yang terus berjalan bersama Tuan Matteo. Mereka meninggalkan perusahaan itu.


Alex membereskan semua berkas kontrak kerja sama. Dia memikirkan Sophia. Pagi ini Sophia sedang ke perkebunan. Alex ingin sekali menyusul pujaan hatinya.


"Bos senyum-senyum sendiri, kesambet?" tanya Kenan.


"Aku ingin menyusul Sophiaku di perkebunan, bereskan semua pekerjaan sisanya Kenan," jawab Alex.


"Siap Bos! Ajudan akan mendukungmu saat Bos menjadi bapak siaga," sahut Kenan.


"Bagus, aku suka sekretaris serbaguna sepertimu, mecin aja kalah," ujar Alex.


"Ya disamainnya sama mecin Bos, Kenan memangnya kaldu sapi?" ujar Kenan.


"Bukan, kau kaldu tikus, kalau sapi kebagusan," sahut Alex.


"Nasib selalu berujung derita," ujar Kenan.


Alex tertawa senang. Penderitaan Kenan menjadi hal menggelitik untuknya.


"Assalamu'alaikum," ucap Alex yang hendak meninggalkan ruangan itu.


"Wa'alaikumsallam," sahut Kenan.


Alex berdiri. Berjalan meninggalkan ruangan itu. Dia tersenyum. Senang pekerjaannya sudah beres. Dia ingin bertemu pujaan hatinya pemilik mata emerald yang selalu dirindukannya.


***


Di perkebunan Sophia berjalan bersama Aiko memantau panen yang sedang berlangsung. Sophia terlihat segar dan bugar. Dia juga sering lapar. Sepagi itu Sophia sudah makan soto tiga mangkuk di tukang soto yang sering lewat di depan perkebunan.


"Sophia aku merasa kau lebih segar dan bugar," ucap Aiko.


"Benarkah?" tanya Sophia balik memastikan.


"Wajahmu bercahaya, kau lebih cantik dari sebelumnya, terus makanmu jadi banyak," ujar Aiko.


"Oh, itu karena aku sedang hamil," jawab Sophia.


"Apa? Kau hamil?" Aiko terkejut. Sophia memang belum memberitahu tentang kehamilannya pada Aiko.


"Iya, aku hamil 6 minggu," jawab Sophia.


Aiko langsung tersenyum bahagia.


"Sophia selamat, akhirnya kau hamil juga," ucap Aiko.


"Iya aku juga sangat senang, aku hamil Aiko," sahut Sophia.


Tiba-tiba Aiko terdiam sesaat. Dia teringat penyakit Sophia. Pasti ini sangat membahayakan untuk Sophia dan janinnya.


"Aiko kenapa?" tanya Sophia.


"Aku senang kau hamil, tapi aku mengkhawatirkan kesehatanmu Sophia," jawab Aiko. Matanya berkaca-kaca.


Sophia memegang kedua tangan Aiko. Menatap mata sahabatnya itu.


"Insya Allah aku akan baik-baik saja Aiko," ujar Sophia.


Aiko mengangguk.


Tak lama Alex terlihat dari ujung perkebunan. Dia melambai ke arah Sophia dan Aiko.


"Sophia your husband," ucap Aiko menunjuk ke arah Alex.


"Iya, suamiku," sahut Sophia sambil melihat Alex yang berjalan ke arahnya.


"Sepertinya Alex banyak berubah, kau berhasil mendaki jurang tanpa dasar," ujar Aiko.


"Iya, alhamdulillah," sahut Sophia.


"Semoga hidupmu selalu bahagia, Alex bisa menjagamu selalu," ucap Aiko.


"Makasih Aiko," kata Sophia.


Aiko mengangguk. Kemudian berjalan ke arah yang berbeda dari Sophia. Dia sengaja membiarkan Sophia berduaan dengan Alex.


"Sayang," ucap Alex.


"Mas," sahut Sophia.


Alex langsung mendekat. Hendak memeluk Sophia tapi ditahan oleh Sophia dengan tangannya.


"Sayang kenapa? Aku kangen," ujar Alex.


"Mas banyak orang," jawab Sophia.


"Oya, maaf ya sayang lupa, habis kalau ketemu bawaannya pengen nempel," ujar Alex.


Sophia tersenyum.


Alex menyodorkan lengannya agar Sophia menggandengnya. Tanpa berpikir panjang Sophia langsung menggandeng lengan Alex. Mereka berjalan di perkebunan bersama. Serasi bagai Romeo and Juliet.


***


Kakek Davin duduk di kursi goyangnya sambil memegang undangan pesta dansa di tangannya. Dia terlihat memikirkan sesuatu. Dari dulu dia selalu menghindari acara perkumpulan para konglomerat. Namun kali ini dia berada dalam kebimbangan. Dia teringat sesuatu. Seakan itu baru terjadi kemarin.


"Mas kenapa? Kenapa kita harus berpisah?"


"Aku miskin."


"Kau menyerah?"


"Iya aku tak mampu menghidupimu, benar kata Papamu."


"Jadi kemiskinan membuatmu menyerah? Padahal aku tidak mempermasalahkan, aku rela hidup susah denganmu."


"Maafkan aku, aku ingin kau bahagia."


Kata-kata itu terngiang di telinga Kakek David. Dia masih terdiam memegang undangan pesta dansa itu.