Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Sophia Sakit



"Sophia-Shopia sakit apa? Kenapa Dokter Leon menyuruhnya minum obat dan check up?" ujar Alex.


"Kenapa banyak pesan dari Dokter Leon? Siapa dia? Dokter apa?" Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi pikiran Alex. Membuatnya kebingungan dengan semua pesan dari Dokter Leon untuk Sophia.


Alex penasaran. Dia meletakkan handphone di dekat bantal tempat Sophia berbaring. Kemudian dia memeriksa tas milik Sophia. Alex menggeledah tas itu. Power bank, bedak, lipstik, dompet, charger, tisu basah, dompet, kunci, dan barang-barang lain yang biasa dibawa wanita di dalam tasnya.


"Gak ada yang aneh di tas Sophia," kata Alex.


"Apa ada yang lain? Mungkin di lemari atau laci?" ujar Alex. Dia mengambil kunci lemari dan laci milik Sophia. Alex berjalan ke arah lemari. Tangannya membuka lemari tempat baju-baju Sophia berada. Di dalam begitu banyak baju milik Sophia. Alex mencari sesuatu yang ada hubungannya dengan Dokter Leon. Setelah mencari-cari, Alex menemukan sebuah surat hasil pemeriksaan laboratorium. Segera Alex membaca surat itu.


"Kanker hati? Sophia menderita kanker hati stadium 2?" Alex terkejut. Kertas di tangan Alex terjatuh. Bagai disambar petir di siang hari. Apa yang baru dibacanya membuatnya terkejut setengah mati. Kertas di tangannya terjatuh ke bawah. Tubuh Alex lemas tak berdaya. Jantungnya berdebar kencang. Dadanya terasa sesak. Alex memegang dadanya.


"Sophia ... Sophia ... semua ini tidak mungkin. Sophiaku tidak mungkin sakit. Sophiaku sehat. Sophia ...," ujar Alex. Matanya berkaca-kaca. Tubuhnya gemetaran. Alex tak memiliki kekuatan lagi untuk berdiri. Dia sampai berlutut di lantai.


"Tidak-tidak mungkin. Sophia tidak mungkin sakit kanker hati," kata Alex.


Air mata mulai memenuhi mata Alex. Sedikit lagi akan terjadi. Dia tidak bisa membohongi dirinya betapa perihnya saat tahu kalau Sophia sakit.


"Kenapa ... kenapa Ya Allah, kenapa harus Sophia? Kenapa tidak aku? Aku brengsek, begitu banyak dosa yang sudah ku lakukan?" kata Alex.


"Sophia orang yang sangat baik. Penerang dalam hidupku, kenapa dia harus menerima ujian seberat ini? Kenapa?" Alex terlihat patah semangat. Putus asa. Dia takut kehilangan Sophia. Bagi Alex, Sophia adalah hidupnya.


Alex menangis. Tak peduli air matanya jatuh ke pipinya meskipun dia seorang lelaki yang kuat. Kali ini Alex benar-benar lemah tak berdaya mengetahui kenyataan bahwa Sophia sakit kanker hati stadium dua.


"Kenapa? Kenapa Sophia tidak memberi tahu ini padaku? Kenapa Sophia?" Alex bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Dia tidak tahu kenapa Sophia tidak memberitahu penyakitnya pada dirinya.


Alex bangun. Dia berjalan ke ranjang. Berbaring di samping Sophia. Memeluknya. Mencium keningnya, pipinya dan bibirnya sampai Sophia terbangun.


"Mas ada apa?" tanya Sophia.


Mata Alex tampak sendu. Terlihat gurat kesedihan dari wajahnya. Kedua tangannya memegang pipi Sophia. Menatap mata emerald itu.


"Aku sangat mencintaimu Sophia, jangan pernah tinggalkan aku," kata Alex.


Sophia melihat air mata jatuh di pipi suaminya. Dia menghapus air mata itu.


"Kenapa Mas menangis?" tanya Sophia.


Alex kembali memeluk Sophia. Mencium pipinya.


"Kau harus selalu sehat sayang. Kau harus menemaniku seumur hidupku," kata Alex.


Sophia tersenyum. Mengangguk. Dia belum tahu kalau Alex sudah tahu kalau dirinya menderita kanker hati.


"Ayo tidur sayang, biar ku peluk sampai pagi," ujar Alex.


"Beneran Mas?" tanya Sophia. Tampak senang dengan tawaran dari Alex.


"Iya beneran sayang," jawab Alex.


Sophia mengangguk.


Alex memeluk erat Sophia. Dia tidak ingin kehilangannya meskipun untuk sedikit waktu.


Esok harinya Sophia membuka matanya. Bau harum makanan sudah tercium di hidungnya dari tadi. Membuat dia lapar. Sophia duduk melihat Alex duduk di sampingnya.


"Selamat pagi sayang," ucap Alex.


"Pagi Mas, tumben Mas sudah rapi mau ke mana?" tanya Sophia.


"Mau seharian bersamamu sayang," kata Alex.


"Seharian bersamaku?" Sophia terkejut.


"Iya, ke manapun kau pergi dan berada aku akan bersamamu," jawab Alex. Dia membawa makanan di atas nampan yang ada di atas laci.


"Beneran Mas? Aku senang sekali kalau Mas seharian menemaniku," kata Sophia.


Alex memegang tangan Sophia. Mencium bibir merah delima itu.


"Sarapan dulu ya sayang, habis ini kita pergi ke masjid, yang lain sudah menunggu," kata Alex.


"Iya Mas," jawab Sophia.


"Mas Alex sangat perhatian dari sebelumnya, kenapa ya?" batin Sophia.


Alex mengambilkan Sophia minum sampai membantunya untuk mandi. Alex juga membantu Sophia mengenakan pakaian dan menyisir rambut panjangnya.


"Rambutmu indah sayang," kata Alex. Matanya berkaca-kaca. Dia tidak ingin membahas penyakit Sophia, itu akan membuat Sophia down.


"Alhamdulillah kalau indah Mas," jawab Sophia.


Alex membantu Sophia berhias. Di belakang tubuh Sophia, Alex menahan rasa sakit hatinya. Kalau dia bisa, Alex sudah menjerit. Berteriak. Menolak agar Sophia tidak sakit. Agar Sophia sembuh seketika.


Setelah berdandan Sophia dan Alex mengenakan seragam yang sama berwarna toska. Hari ini Kakek David dan Nenek Carroline menikah.


"Ayo berangkat sayang!" ajak Alex.


"Iya Mas," jawab Sophia.


Baru beberapa langkah Sophia melangkah Alex langsung menghentikannya.


"Sayang kau capek?" tanya Alex.


"Tidak Mas, memangnya kenapa?" tanya Sophia.


"Kau tidak boleh kecapean, tunggu di sini ya," jawab Alex.


Sophia mengangguk.


Alex meninggalkan Sophia, dia mengambil kursi roda kemudian kembali. Meminta Sophia duduk di kursi roda.


"Tapi aku masih kuat jalan Mas," kata Sophia.


"Kau tidak boleh capek, duduklah di kursi!" titah Alex protektif pada Sophia.


"Baiklah Mas," jawab Sophia. Dia duduk di kursi roda. Segera Alex mendorong kursi roda menuju lift di rumahnya. Turun ke lantai bawah, bergabung dengan yang lainnya yang sudah siap.


"Kak Sophia sakit Kak?" tanya Claudya melihat Sophia duduk di kursi roda.


Deg


Alex terkejut saat Claudya bertanya seperti itu. Dia bingung harus menjawab apa. Alex tak mungkin mengatakan kalau Sophia sedang sakit kanker hati. Itu pasti akan membuat semua orang panik dan Sophia down. Alex tidak ingin itu terjadi.


"Tidak, gak tahu Mas Alex gak mau aku capek," jawab Sophia.


"Iya sih Kak Sophiakan lagi hamil, jangan capek-capek," sahut Claudya.


"Iya, aku tidak mau Sophia kecapean," ujar Alex.


"Kak Sophia mau ini gak?" tanya Claudya menawarkan makanan ringan yang dibawanya.


"Mau, sepertinya enak ya," sahut Sophia. Tangannya baru mau ambil makanan ringan itu, Alex langsung menyetop tangannya.


"Jangan sayang, makanan itu terlalu berminyak, banyak mecinnya dan kurang higenis, tidak baik untuk keseharanmu," kata Alex.


"Wah Kak Alex mendadak jadi pakar gizi nih," ledek Claudya.


"Tapi Mas aku ingin sedikit saja, bawaan bayi," keluh Sophia manja.


"Gak boleh sayang, makan makanan sehat aja ya," sahut Alex.


Melihat Alex perhatian padanya Sophia tersenyum bahagia.


"Iya Mas," jawab Sophia.


Alex langsung mencium kening Sophia.


"Romantisnya, bikin ngiri," kata Claudya.


Alex hanya tersenyum.


Semua anggota Keluarga Sebastian berangkat ke Gedung Feronika. Di sana pernikahan pasangan mempelai pengantin tua itu diadakan. Mereka semua pergi ke gedung itu.


Satu jam perjalanan sampai juga. Mereka masuk ke dalam gedung. Alex tetap meminta Sophia duduk di kursi roda biar tidak capek. Dia mendorong kursi itu ke tempat akad nikah.