
"Kak Nadaaa ...," teriak Sophia. Dia langsung berlari ke arah Nada yang masih terduduk. Membantu Nada bangun. Memapahnya berjalan menuju tangga. Sophia ingin membawa Nada ke rumah sakit. Untung saat Sophia memapah Nada berpapasan dengan Bibi Fatimah.
"Sophia, Nada kenapa?" tanya Bibi Fatimah.
"Gak tahu Bi, lebih baik kita segera membawa Kak Nada ke rumah sakit," jawab Sophia.
Bibi Fatimah mengangguk. Segera menggantikan Sophia memapah Nada turun dari lantai atas. Mereka menuju ke lantai bawah. Ke luar rumah. Membantu Nada masuk ke mobil Alphard berwarna hitam milik Sophia. Mereka bertiga pergi ke rumah sakit.
Di perjalanan Sophia menelpon Alex. Dia memberitahu kalau dirinya pergi ke rumah sakit mengantarkan Nada.
"Sophia, telpon juga Paman Harun!" titah Bibi Fatimah.
"Iya Bi," sahut Sophia.
Sementara Sophia menelpon, Nada terus mengeluh sakit perut. Dia memegangi perutnya.
"Bi sakit," ucap Nada sambil menangis.
"Sabar Nada, sebentar lagi kita sampai," sahut Bibi Fatimah menenangkan Nada yang kesakitan.
Mobil terus melaju ke rumah sakit. Di sela-sela kemacetan pagi hari yang padat. Mobil-mobil menghujani jalanan. Tak hanya itu pejalan kaki lulu lalang di tepi jalan dan trotoar. Sophia dan Bibi Fatimah terus mendampingi dan menenangkan Nada yang kesakitan.
***
Pagi itu Kakek David menemani Dodo mencari sekolah untuknya. Mereka mengendarai motor supaya bisa menikmati udara pagi yang sejuk. Kakek David masih gagah mengendarai motor vespa miliknya. Meskipun motor tua masih bisa melaju dijalanan.
"Kek motornya gak akan rewel? Yang numpang gajah nih Kek," ujar Dodo.
"Gaklah Do, paling kempes doang bannya," jawab Kakek David.
"Tapi kok jalannya lambat Kek? ini motornya sekarat ya?" tanya Dodo.
"Namanya juga motor tua Do," jawab Kakek David.
"Bunyinya kok kaya orang kentut ya Kek, apa Dodo ya yang kentut?" tanya Dodo.
"Pantes dari tadi bau, kamu makan apa?" tanya Kakek David balik.
"Goreng ikan gede Kek yang ada di aquarium," jawab Dodo.
Kakek David tertawa dengan ucapan Dodo.
"Kok kakek tertawa?" tanya Dodo.
"Itu ikan arwana peliharaannya Om Gavin," jawab Kakek David.
"Astagfirullah, bisa dipecat jadi anak aku Kek," sahut Dodo.
Kakek David tertawa lagi. Tak menyangka diusianya yang sudah kepala tujuh punya cucu dadakan yang selalu membuat hari-harinya menjadi hangat.
"Kek kok motornya makin lambat, bannya gak muter lagi apa?" tanya Dodo.
"Iya ya, berasa berat belakang, apa kita dorong aja Do?" usul Kakek David.
"Mogok Kek? Dodo belum sarapan sebakul, lemes nih Kek," ujar Dodo.
Benar saja motor vespa yang dinaiki mereka mogok. Mau tak mau Dodo dan Kakek David mendorong motor vespanya.
"Kek berapa meter lagi? Dodo udah mau tepar," ujar Dodo.
"Sabar Do, masih 2 KM lagi," jawab Kakek David.
"Astagfirullah Kek, Dodo bakal kurus," sahut Dodo.
"Baguslah kalau begitu, kamu gak perlu diet," ujar Kakek David.
Mereka terus berjalan mendorong motor vespa tua di tepi jalan. Dodo sudah bolak balik tepar sampai berbaring di jalanan. Sedangkan Kakek David terus mendorong motor vespa di depannya. Dodo tertinggal beberapa meter dari Kakek David. Tiba-tiba mobil Mercedes berwarna pink berhenti di samping Dodo. Kaca mobil di bagian belakang mobil itu diturunkan.
"Bocah gendut kau mau mati?" tanya Nenek Carroline.
Dodo yang tepar di jalanan menengok ke arah Nenek Carroline.
"Hai Nenek cantik, apa kabar?" tanya Dodo berkata manis.
"Aku gak mempan rayuan gombalmu, pasti minta tumpangankan?" tanya Nenek Carroline.
"Nenek cantik tahu aja, aku dan Kakek David yang ganteng dan baik sedang dalam kesusahaan," jawab Dodo.
"Kasihan, tapi aku gak mau tuh numpangin kamu dan kakekmu yang menyebalkan itu," ujar Nenek Carroline.
"Kalau begitu Dodo nyari tumpangan nenek cantik lainnya deh," gumam Dodo.
"Terserah," jawab Nenek Carroline.
"Kakekkan ganteng dan baik, bisa ku tawarkan, pasti banyak yang mau," sahut Dodo.
"Sialan nih bocah gendut bikin cemburu aja, tumpangin gak ya? Mulutnya itu bisa aja jual David ke cewek lain," batin Nenek Carroline. Dia masih memikirkan ucapan Dodo.
"Gimana nih Nek? selagi Kakek David belum laku, siangan dikit ada yang nawar," ujar Dodo.
"Mana kakekmu?" tanya Nenek Carroline.
"Ada tuh di depan, Dodo dah gak sanggup jalan," jawab Dodo.
Nenek Carroline melihat ke depan. Benar saja, Kakek David mendorong motor vespa tua itu
Seketika ingatannya kembali ke masa lalu. Motor vespa tua itu penuh kenangan.
"Carroline kau tak malu ku bonceng naik vespa butut?" tanya David.
"Tidak Mas, yang penting sama Mas," jawab Carroline.
"Iya Mas," sahut Carroline.
"Aku mencintaimu Carroline," ucap David.
"Aku juga mencintai Mas, apapun keadaan kita, mau senang ataupun susah," sahut Carroline.
Kenangan itu masih tergambar jelas dalam ingatan Nenek Carroline. Dia tak pernah melupakan saat-saat indah bersama Kakek David. Rasa cintanya lebih besar dari rasa bencinya meskipun masih diselimuti rasa marah dan kesal. Bagaimana tidak, Kakek David menyerah dan meninggalkannya hanya karena alasan miskin padahal Nenek Carroline rela hidup bersamanya dalam keadaan apapun.
Air mata jatuh di pipi Nenek Carroline. Tiba-tiba sebuah tangan kecil mengusap pipinya. Menyeka air matanya.
"Sabar Nek, Kakek jomblo kok, aku bisa comblangin," ucap Dodo yang duduk di samping Nenek Carroline.
"Loh, kamu kok udah di dalem aja?" tanya Nenek Carroline.
"Tadi waktu nenek ngelamunin, Dodo masuk," jawab Dodo.
"Siapa yang menyuruhmu masuk?" tanya Nenek Carroline.
"Kitakan sudah sepakat, dari pada kakek ku tawarkan sama nenek yang lainnya," sahut Dodo.
Nenek Carroline menggeleng. Kenapa Kakek David punya cucu seperti Dodo. Berasa dunia ini milik Dodo seorang yang lain ngontrak.
"Nenek cinta ya sama kakek?" tanya Dodo.
Nenek Carroline memegang kepala botak Dodo.
"Gendut jangan sok tahu, aku ini musuh kakekmu," ujar Nenek Carroline.
"Masa? tuh di dompet foto kakek," sahut Dodo.
"Kok kamu tahu," ujar Nenek Carroline.
"Dompet nenek jatuh di bawah jok, Dodo ambil, eh ada foto kakek lagi pakai kolor ijo," ucap Dodo.
"David kau impor dari mana cucu modelan begini?" ucap Nenek Carroline kesal.
Dodo mengacungkan dompet Nenek Carroline.
"Nih Nek dompetnya, nanti Dodo kasih foto kakek yang lagi ngiler, paling ganteng deh Nek," ujar Dodo.
Nenek Carroline tertawa. Biasanya dia jarang tertawa. Lebih sering judes dan jeles. Cuek pada siapapun dan mulutnya pedas kaya sambel. Kali ini dibuat tertawa sama kelakuan Dodo.
"Udah Nek, jangan ketawa terus, stokkan umur masih cukup gak? Dodo khawatir nih," ujar Dodo.
"Kau bocah gendut!" Nenek Carroline bertanduk hendak menjitak kepala botak mengkilap.
"Dodo, kakek cariin kemana-mana eh di sini," ujar Kakek David berdiri di depan kaca mobil yang terbuka.
Nenek Carroline langsung salah tingkah melihat si bebeb ada di dekatnya. Yang tadinya hendak menjitak kepala botak mengkilap Dodo jadi mengelus penuh kasih sayang.
"Cucumu lucu," ucap Nenek Carroline.
"Untung kakek datang, aku hampir dijitak Kek, tertindas nih," keluh Dodo.
Nenek Carroline tersenyum. Mendekati telinga Dodo.
"Kau mau numpang gendut?" bisik Nenek Carroline.
Dodo mengangguk.
"Berkata manislah tentang diriku di depan kakekmu," bisik Nenek Carroline.
Dodo memberi jempol.
Nenek Carroline kembali ke posisi semula dan tersenyum.
"Kek, Nenek Carroline memberi tumpangan, kakek ikut yuk! keburu siang, Dodokan mau pendaftaran," ujar Dodo.
"Kasihan sekali cucumu, bisa kesiangan masuk sekolah, aku sih gak sudi tuh naik motor butut. Mending naik mobil," ujar Nenek Carroline.
"Ya udah, Dodo naik mobil, kakek naik motor, udah jalan tuh, mungkin keberatan bonceng kamu," sahut Kakek David.
"Kakek gak ikut? AC-nya dingin Kek, keringetku aja kering sekarang," ujar Dodo.
"Astaga, pantes bau asem dari tadi, kok bisa kau punya cucu modelan begini," ucap Nenek Carroline.
Kakek David hanya tersenyum. Kemudian berjalan meninggalkan mobil.
"David, cucumu!" teriak Nenek Carroline.
Kakek David yang berjalan berhenti. Menengok ke belakang.
"Antarkan ke TK Annisa dekat sini! aku nunggu di sana," pinta Kakek David kemudian berjalan kembali.
"Eh, kenapa aku yang momong bocah gendut ini?" ucap Nenek Carroline. Dia mengelus dada. Niatan caper malah harus nganterin Dodo ke sekolah.
"Tenang Nek, pedekatenya di sekolah TK aja, nanti Dodo bantu prosesnya," ujar Dodo.
Nenek Carroline hanya menggeleng. Kembali menutup kaca mobilnya. Meminta sopir jalan. Segera mobil itu melaju ke TK Annisa.
***
Tuan Matteo mengendarai mobil Lamborghini berwarna putih miliknya tanpa supir. Dia juga tak mengajak Luki bersamanya. Penampilannya juga berbeda dari biasanya. Tuan Matteo mengenakan T-shirt putih dan celana cargo berwarna abu tua. Tak lupa Tuan Matteo memakai topi di kepalanya dan kaca mata hitam. Penampilannya lebih santai tapi tetap stylish. Dia ingin tampil lebih santai. Agar tak terkesan Om-Om dan formal. Seakan terus dibebani dengan kesibukkannya. Wanita muda seperti Claudya akan lebih suka lelaki yang santai dan stylish.
Sampai di rumah Keluarga Sebastian, Tuan Matteo turun dari mobilnya. Matahari pagi seakan memberinya support, cahayanya menyambut tubuh Tuan Matteo sampai menghangatkannya. Senyuman berseri tampak dari bibir kecoklatan itu. Wajahnya yang sedikit bule karena blasteran Amerika-Indonesia, membuatnya terlihat maco. Tubuhnya juga kekar dan tinggi. Dadanya bidang. Membuat wanita pasti ingin menempel padanya. Ditambah lagi Tuan Matteo punya harta dan tahta. Wanita mana yang takkan bertekuk lutut. Namun beda dengan Claudya. Dia tak mudah menerima Tuan Matteo. Bahkan menolaknya mentah-mentah. Jangankan jadi pacarnya. Baru dekat saja sudah disembur.
"Pagi ini aku akan menaklukkanmu gadis kecil," ucap Tuan Matteo. Dia berjalan menuju rumah Keluarga Sebastian dengan arogan dan percaya diri.