Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Mencoba Merajut Kembali



"Aku ingin dia hancur seperti keluargaku," jawab Luki. Dendam di hatinya sudah lama tersimpan.


"Kau tahu siapa dia?" tanya Tuan Matteo.


Luki mengangguk.


"Dia bukan orang sembarangan, berurusan dengannya sama saja kau masuk ke alam liar, dia bukan orang yang bisa diajak kompromi," ujar Tuan Matteo.


Luki terdiam sesaat. Dia tahu betul yang dihadapinya siapa.


"Aku dengar dia punya anak perempuan, coba lumpuhkan dia dari titik kelemahannya dulu," sahut Tuan Matteo.


Luki memikirkan saran dari Tuan Matteo.


"Aku akan mengcovermu agar layak untuk mendekati anaknya, setelah kelemahannya dalam gengamanmu kau mudah menyetirnya sesukamu," ujar Tuan Matteo.


"Maksud Tuan?" tanya Luki.


"Aku mendirikan perusahaan baru, nanti kau pimpin perusahaan itu. Jadilah orang baru di depannya. Ambil hatinya dan anak gadisnya. Barulah balas semuanya!" jawab Tuan Matteo.


Luki terdiam. Memikirkan tawaran Tuan Matteo.


"Tapi ini tidak gratis, ada harga yang harus kau bayar," ujar Tuan Matteo.


"Apa?" tanya Luki.


"Aku ingin melamar Claudya secepatnya, kau harus ada dipihakku, kau tau itu?" tanya Tuan Matteo.


"Aku tahu," jawab Luki.


"Jangan berkhinat apalagi mengambil orang yang ku cintai," ancam Tuan Matteo.


Luki mengangguk.


"Aku akan selalu dipihakmu untuk membalas perbuatannya," ujar Tuan Matteo sambil menepuk bahu Luki.


"Baik Tuan," jawab Luki.


Tuan Matteo tersenyum. Kemudian meninggalkan tempat itu. Luki hanya terdiam. Dia akan memilih tawaran Tuan Matteo dari pada perasaannya sendiri.


"Gak penting perasaanku, lagi pula Claudya akan bahagia bersama Tuan Matteo, lebih baik aku fokus pada pembalasanku untuk lelaki itu," ucap Luki. Mengubur dalam-dalam perasaannya.


***


Di dalam kamar Ibu Marisa berbaring. Menikmati pijatan dari Pak Ferdi. Akhir-akhir ini suaminya itu mulai memanjakannya dari berbagai hal. Baik itu makanan, menemani nyalon, menemani arisan, memijatnya dan menemaninya setiap saat. Pak Ferdi merasa harus membayar waktu yang telah dilewatkannya selama ini pada istri dan anaknya.


"Ferdi pijatanmu makin enak, kau belajar di mana?" tanya Ibu Marisa.


"Belajar semenjak jadi suami untukmu," sahut Pak Ferdi.


"Tak perlu berkata manis, kau ada mau padaku? Biar Alex mencabut laporannya saat kau sembuh nanti, iyakan?" tanya Ibu Marisa. Kini Pak Ferdi jadi tahanan kota karena kondisi kesehatannya.


"Tidak, aku tidak berpikir ke situ, aku hanya ingin kita jadi suami istri beneran, memberi keluarga utuh untuk anak-anak," jawab Pak Ferdi.


"Kau yakin? Bukannya selama ini uang di atas segalanya untukmu?" tanya Ibu Marisa yang belum percaya kalau Pak Ferdi berubah.


"Dulu uang segalanya untukku, tapi sekarang keluarga segalanya untukku, hidupku jauh lebih tenang dan bahagia," jawab Pak Ferdi.


Ibu Marisa terdiam. Memikirkan perubahan sikap Pak Ferdi. Dia memang sangat manis akhir-akhir ini. Kalau tidurpun memeluknya.


"Kau tidak ingin memberiku kesempatan, kita bisa membuat adik baru untuk Claudya," ujar Pak Ferdi. Sudah lama tak menyentuh istrinya sejak Claudya lahir. Dia hanya menyentuh Ibu Marisa saat mabuk. Bukan karena cinta dan keinginannya. Selama menikah bisa dihitung berapa kali menyentuh istrinya.


"Astaga kita sudah tua, pikiranmu jorok," ucap Ibu Marisa.


"Tapi aku masih tampankan?" tanya Pak Ferdi.


"Kau romantis seperti itu membuatku merinding, apa obatmu habis?" tanya Ibu Marisa.


"Jalan aja pakai tongkat, jangan berpikir yang aneh," sahut Ibu Marisa.


"Kali ini aku ingin melakukannya sebagai suamimu, yang memberimu nafkah batin," ujar Pak Ferdi.


"Aku tidak mencintaimu," sahut Ibu Marisa.


"Beri aku kesempatan sekali saja, aku akan membahagiakanmu, beneran," ujar Pak Ferdi merayu.


Ibu Marisa meski sudah tua tetap seksi dan cantik. Secara perawatan setiap minggu. Duduk manis tanpa harus capek bekerja. Hidup dimanjakan dengan uang. Usia boleh tua wajah masih kinyis-kinyis. Bikin Pak Ferdi matanya udah terbuka jadi tak tahan.


"Aku mau tidur capek," sahut Ibu Marisa.


"Besok ku temani keliling Mall, gimana?" tanya Pak Ferdi.


"Keliling Mall? Aku ingin pergi ke pameran lukisan, teman-temanku akan pergi ke sana bersama suaminya," jawab Ibu Marisa.


"Aku akan menemanimu seharian, aku tampan semua temanmu tahukan," sahut Pak Ferdi.


Ibu Marisa berpikir. Besok semua temannya akan membawa suaminya. Malu kalau dia tak membawa suaminya. Tar dikira suaminya selingkuh, tergoda daun muda, Ibu Marisa tak cantik lagi, dan kalah sama pelakor.


"Oke, malam ini saja, tapi berjanjilah besok temani aku," ucap Ibu Marisa.


"Siap," jawab Pak Ferdi semangat.


"Akan ku buat kau kecanduaan, tak bisa lepas dariku, lupakan cinta bertepuk sebelah tanganmu itu," batin Pak Ferdi.


Akhirnya Ibu Marisa memberi peluang malam itu. Meski jalan masih pakai tongkat. Untuk kegiatan yang satu itu lupalah rasa sakit. Hajar terus demi membuat Ibu Marisa kecanduan. Makin tua makin jadi, toh sama istri sendiri. Yang halal jauh lebih aman gak digerebek Pak RT dan kawan-kawan.


Setelah lelah pasangan mesra diusia tua itu berbaring dalam selimut tebal. Ibu Marisa udah capek berbaring dipelukan Pak Ferdi.


"Gimana?" tanya Pak Ferdi.


"Sudah jangan dibahas, kita sudah tua," jawab Ibu Marisa.


"Meski sudah tua, keromantisan harus dijagakan?" tanya Pak Ferdi.


"Iiih ..., jangan cerita sama anak-anak, malu," sahut Ibu Marisa.


"Iya, lagian masa iya cerita sama mereka," kata Pak Ferdi. Tersenyum.


"Aku capek, ayo tidur," ucap Ibu Marisa.


"Iya sayang," sahut Pak Ferdi.


"Tadi kau bilang apa?" tanya Ibu Marisa.


"Sayang, wanita suka panggilan itu," jawab Pak Ferdi.


"Terserah," jawab Ibu Marisa. Kemudian memejamkan matanya dipelukan Pak Ferdi.


"Semoga kita bisa memperbaiki pernikahan ini dan menyaksikan anak-anak bahagia, maafkan aku yang dulu, aku janji akan memberikan kalian yang terbaik," sahut Pak Ferdi memeluk erat istrinya kemudian ikut tidur.


Di balkon lantai atas Gavin berdiri. Melihat gelapnya malam. Dia terdiam. Membiarkan angin malam menyapu kesendiriannya. Menatap langit yang mendung. Tak ada satupun bintang terlihat. Bahkan bulan bersembunyi dibalik awan hitam. Seakan malam itu menggambarkan perasaannya. Hatinya juga sedang mendung. Galau dengan kisah cintanya yang mungkin akan kandas. Impiannya meminang gadis bercadar itu akan berakhir dengan keputusasaan. Hanya menjadi sebuah mimpi yang tak pernah bisa digapai olehnya.


Gavin membuang nafas gusarnya. Dada sesak dan penat. Kabar malam ini membuat beban berat di dadanya. Hingga bernafaspun sulit. Melangkah pun tak berdaya.


"Jika kakek menikah dengan neneknya Humaira, aku tidak bisa menikah dengan Humaira," ujar Gavin. Tak bisa dipungkiri. Gavin dan Humaira akan jadi saudara saat nanti kakek dan neneknya menikah.


Gavin kembali membuang nafas gusarnya. Menenangkan hati dan pikirannya.


Tiba-tiba Kakek David menghampiri Gavin. Berdiri di sampingnya. Dia tahu cucunya ada masalah dengan rencana pernikahannya. Bisa terlihat saat Gavin meninggalkan ruang makan dengan wajah murungnya.


"Ada yang ingin kau katakan pada kakek?" tanya Kakek David. Dia ingin cucunya mengatakan apa yang mengganjal di hatinya.