Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Bonus Chapter



Arfan menarik Emily masuk ke dalam kamar. Emily hanya tersenyum malu-malu mengikuti Arfan. Dia tidak menyangka akan sampai dititik ini. Tangannya dingin dipegang tangan hangat Arfan. Membuat jantungnya berdebar tak karuan.


"Emily, kita mandi dulu biar seger barulah malam pertamaan," ujar Arfan.


"Arfan! Kenapa harus mandi?" tanya Emily malu-malu.


"Biar badan kita seger dan wangi, tahan deh sampai pagi," celetuk Arfan. Dia sudah memikirkan strategi berperang yang terbaik.


Emily mengangguk. Yang penting Arfan senang, diapun ikut senang. Tak tahu seperti apa yang diinginkan Arfan lebih liar dari yang ada di otaknya yang kecil.


Mereka berdua mandi masing-masing karena Emily malu. Emily mandi lebih dulu barulah Arfan.


Meski sedikit kesal karena Emily mandi sendiri, Arfan berusaha memahami istri manjanya. Sampai saat dia membuka pintu toilet, Emily sudah cantik bagai boneka barbie mengenakan baju seksi yang transparan. Hingga semua keindahannya terekspose sempurna.


"Arfan!" panggil Emily malu-malu. Dia sering mengenakan pakaian seksi tapi ini pertama kalinya mengenakan pakaian transparan di depan Arfan.


"Gak suka ya?" tanya Emily karena tak ada tanggapan dari Arfan.


Emily menunduk. Mungkin Arfan tidak menyukai dirinya mengenakan pakaian seksi itu. Namun tiba-tiba Arfan berlari dan mengangkat tubuh Emily ke atas.


"Arfan! Aku terkejut tahu!" keluh Emily menatap ke bawah.


"Kau seksi banget Emily, kalau gini semangatku naik drastis," sahut Arfan kegirangan melihat Emily sesuai yang ada di imajinasi liarnya.


"Kirain Arfan gak suka," kata Emily.


"Bukan gak suka, tapi suka banget," jawab Arfan senang. Matanya terus menatap barbie cantik di atasnya.


"Turunkan aku!" pinta Emily. Dia ingin turun.


"Oke," jawab Arfan.


Perlahan menurunkan Emily ke bawah. Menatap wajah cantik yang imut itu. Dia membelai pipinya.


"Kau cantik sekali Emily," ucap Arfan. Memuji kecantikan istrinya Emily. Dia tak menyangka akan mencintai Emily, padahal awal mulanya mereka tidak saling mengenal apalagi dekat.


"Yang bener?" tanya Emily. Hatinya berbunga-bunga ketika Arfan memuji kecantikannya.


Arfan tak menjawab justru mencium bibir merah delima yang dari tadi menggodanya. Mereka berdua berciuman mesra.


"Arfan," ucap Emily sambil mengatur nafas.


"Emily, jadilah milikku!" sahut Arfan. Dia ingin memiliki Emily. Menjadikannya ratu di istananya dan bidadari di surganya nanti.


Emily mengangguk.


Mereka berdua pun memadu cinta. Melukis semua warna dengan berbagai tinta warna-warni di dalam kertas kosong yang kini dipenuhi simbol-simbol cinta. Menggambar berbagai bentuk hingga menuangkan semua pemandangan dalam bentuk imajinasi liarnya. Torehan demi torehan menampilkan keindahan gunung dan lautan yang begitu subur hingga sedap dipandang mata. Bunga-bunga semerbak harum dan burung-burung bersiul gembira. Menyuarakan semua rasa, hasrat, dan kenikmatan yang tiada tara. Berpadu menjadi satu gambar yang sudah sempurna.


Kini tetes-tetes keringat jadi saksi cinta mereka. Dan diakhiri dengan selimut tebal yang membungkus keduanya untuk beristirahat bersama setelah semua cinta sudah digambarkan.


"Terimakasih sayang," ucap Arfan.


"Iya Arfan, I Love You," sahut Emily.


Mereka berdua pun tidur setelah kelelahan dan mengistirahatkan tubuhnya agar fit kembali. Tersenyum bahagia karena sudah saling memiliki dan tidak ada lagi keraguan di antara mereka berdua.


***


Pagi itu Meisya pergi ke kontrakan Morgan. Dia menunggu Morgan di depan teras tapi Morgan tak juga membukakan pintu kontrakannya. Mata Meisa terlihat sembab menandakan dia habis menangis semalaman. Di tangannya sebuah alat tes pack dengan garis dua. Sesekali Meisa mengecek handphone miliknya. Dia berusaha untuk menelpon Morgan yang tak juga keluar dari kontrakannya. Tiba-tiba pintu terbuka, seorang gadis cantik keluar dari dalam kontrakan Morgan.


Melihat itu Meisa terkejut dan menghampirinya.


"Siapa kau?" tanya Meisa. Melihat wanita berbaju seksi dan cantik itu berdiri di depan pintu kontrakan Morgan.


"Aku Yuli pacarnya Morgan, kau siapa?" tanyanya. Dia menatap sinis Meisa yang terlihat lesu dan lemas itu.


"Aku pacarnya Morgan, kok pasti mengaku-ngaku kan?" sahut Meisa. Tak terima Yuli menganggap Morgan pacarnya Padahal sudah jelas Meisalah pacarnya.


"Kaulah yang mengaku-ngaku jelas-jelas Morgan memang pacarku," sanggah Yuli. Dia tidak terima Meisa mengaku-ngaku pacarnya Morgan.


"Gak, aku yang pacarnya Morgan. Bahkan aku mengandung anaknya," kata Meisa menyombongkan dirinya yang sudah mengandung anaknya Morgan.


"Kasihan, kau hanya akan dibuang Morgan karena kebodohanmu. Mana mau Morgan tanggung jawab. Untuk hidup sendiri saja dia susah apalagi harus menghidupimu dan anaknya," sahut Yuli. Dia sudah tahu seperti apa Morgan itu sebabnya Yuli memberitahu Meisa.


"Kau sengaja berkata seperti itu agar aku meninggalkan Morgan kan dan kau bisa mendapatkannya?" Tanya Meisa. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Yuli padanya. Pasti itu hanya akal bulusnya agar Meisa meninggalkan Morgan.


"Terserah kau mau percaya atau tidak, ambil tuh Morgan kesayanganmu aku udah nggak butuh. Karena aku nggak mau laki-laki yang hanya ingin enaknya aja," sahut Yuli. Sama seperti Meisa dia juga menjadi korban Morgan. Untung saja Yuli tidak sampai hamil.


Yuli berjalan melewati Meisa. Dia tidak peduli Meisa mengambil Morgan lagi pula tidak ada gunanya meminta pertanggungjawaban pada lelaki yang tidak ingin bertanggung jawab.


Meisa masuk ke dalam kontrakan. Di dalam Morgan sedang duduk sambil memegang pipinya yang lebam karena ditampar Yuli.


"Morgan!" ucap Meisa. Dia menghampiri Morgan yang kesakitan.


"Pergilah Aku tidak membutuhkanmu!" usir Morgan pada Meisa. Dia sudah tidak membutuhkan wanita yang ada di depannya itu. Apa yang dia mau dari Meisa sudah didapatkan olehnya. Meisa hanya sampah yang sudah tak ada harganya lagi di mata Morgan.


"Apa? Jadi setelah semua ini kau membuangku?" Meisa tak percaya Morgan akan membuangi seperti sampah setelah apa yang dilakukan mereka waktu itu.


"Itu salahmu sendiri sebagai wanita kau memberikannya padaku cuma-cuma," jawab Morgan dengan santai, dia tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Meisa.


"Morgan, aku hamil," sahut Meisa.


"Aku gak peduli, terserah kau mau aborsi atau mau kau besarkan itu urusanmu," jawab Morgan. Dia tidak peduli lagi dengan apapun yang berhubungan dengan Meisa atau bayi yang di kandungnya.


"Ini anakmu Morgan," kata Meisa berusaha membela diri agar Morgan mau bertanggung jawab atas kehamilannya.


"Meisa, itu memang anakku. Tapi aku belum siap memilikinya lagi pula aku tidak punya pekerjaan pasti dan untuk hidup sendiri saja masih susah," elak Morgan. Dia tidak ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah ditanamnya.


Meisa marah. Dia menampar Morgan dengan keras. Mendapat hamparan itu Morgan Tak terima dan mendorong Meisa hingga terjatuh ke lantai.


"Aw ...." Meisa kesakitan dengan memegangi perutnya. Dia sampai berteriak kesakitan karena perutnya yang mulas hebat. Darahpun mengalir di kedua pahanya.


Mendengar suara Meisa yang kesakitan beberapa warga datang ke kontrakan Morgan. Mereka menangkap basah apa yang dilakukan Morgan pada Meisa. Dan langsung menangkap Morgan untuk diserahkan ke polisi. Begitupun dengan Meisa yang dibawa ke rumah sakit. Mereka berdua sama-sama mendapatkan hukuman yang berbeda atas perbuatan yang sudah dilakukannya. Apa yang kau tanam itulah yang akan kau panen di kemudian hari. Jika kau menanam kebaikan maka kebaikan pula yang akan kau dapatkan.