
Baca bab sebelumnya baru nyambung ke bab ini. Baca ulang di bab akhirnya. Author tambahin cukup banyak.
.
.
Claudya terbangun. Kedua netranya terbuka perlahan-lahan. Menatap ke depan. Ayah, ibu, kakek dan neneknya sudah ada di depan matanya bersama Arfan yang dipangku ayahnya.
"Nak kau sudah sadar," ucap Ibu Marisa sempat cemas melihat keadaan Claudya.
"Apa kau sakit?" ujar Pak Ferdi.
"Biar kakek panggilkan Dokter," ujar Kakek David.
"Tidak, aku tidak apa-apa, tapi ...," sahut Claudya. Dia mengatur nafasnya kembali. Tadi dia pingsan karena syok mendengar kabar baik dari Kenan. Sekarang dia harus lebih tenang saat menyampaikan pada keluarganya. Agar apa yang terjadi padanya tidak terjadi pada anggota keluarganya. Mereka pasti juga syok mendengar kabar yang akan disampaikannya.
"Tapi apa?" tanya Ibu Marisa penasaran.
"Iya," sahut yang lainnya. Mereka ingin tahu apa yang akan disampaikan Claudya. Pasti ada hubungannya dengan pingsannya tadi.
"Kak Sophia sudah sadar," ujar Claudya. Matanya berkaca-kaca. Dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan sekaligus kesedihannya karena rasa haru.
"Apa?" Semua orang terkejut.
"Sophia sudah sadar?" Mereka takut salah dengar. Apa ini kabar yang nyata atau hanya mimpi Claudya setelah pingsan.
"Mama ... Mama ... Mama ..." Arfan menyebut mama saat mendengar nama Sophia. Sejak bayi Claudya terus mensugestikan nama Sophia pada Arfan. Agar dia tahu Sophia adalah ibunya. Dan Alex adalah ayahnya. Meski dia yang merawat Arfan dari lahir sampai dia berumur satu tahun.
Claudya meneteskan air matanya mendengar Arfan menyebut mama. Dia tahu Arfan pasti rindu pada Sophia.
"Claudya apa yang kau katakan benarkan?" tanya Kakek David. Karena Claudya hanya menangis.
"Iya Claudya jangan buat kami bersedih dengan harapan yang entah kapan terwujud," kata Ibu Marisa. Dia selalu berharap agar Sophia segera sadar. Kasihan Arfan masih kecil.
"Claudya!" pekik yang lainnya. Tak sabar ingin mendengar jawaban Claudya.
"Benar aku tidak bohong, tadi Sekretaris Kenan menelponku," jawab Claudya. Matanya tampak serius mengatakan semua itu.
"Alhamdulillah," ucap semua orang bersyukur. Mereka senang dengan kabar baik itu. Arfan juga terlihat lebih ceria dari biasanya.
"Pantas Arfan tidak mau minum susu botol dari tadi, ternyata dia tahu Mamanya sudah sadar," ujar Ibu Marisa. Dari tadi Arfan selalu menolak diberi susu botol. Bahkan Arfan senyum-senyum terus.
"Iya ya, Ayah pikir dia sakit, tapi gak panas atau rewel," sahut Pak Ferdi. Dia juga tahu Arfan tidak mau minum susu botol seperti biasanya.
"Pasti Arfan mau susu dari Mamanya," sahut Nenek Carroline sambil menegang tangan Arfan dan dig0yangkan.
"Ikatan batin ibu dan anak memang tak bisa dibohongi, meski jauh hati tetep dekat," ujar Kakek David.
Claudya dan yang lainnya mengangguk. Benar kata Kakek David ikatan batin ibu dan anak tak bisa dipisahkan atau diputus. Meski jarak dan waktu memisahkan.
"Kak Alex juga sudah kembali," kata Claudya. Perlahan menyampaikan kabar selanjutnya.
"Apa?" Semuanya terkejut. Baru saja mendapat kabar baik tentang Sophia kini mendapat kabar baik lainnya.
"Kau tidak salah bicarakan Claudya?" tanya Kakek David dengan nada yang tinggi.
"Sabar Kek, nanti sakit jantungmu kambuh, tenangkan dirimu!" ujar Nenek Carroline sambil mengelus dada Kakek David.
Kakek David mengangguk. Mengatur nafasnya. Menurunkan emosinya yang sempat syok. Dia berusaha tenang.
"Claudya kau tidak bohongkan? Alex sudah kembali?" tanya Pak Ferdi.
"Iya, beneran Yah," jawab Claudya.
Ibu Marisa mengelus kepalanya. Dia senang Arfan akan bertemu ayah dan ibunya.
"Alhamdulillah," ucap semuanya. Mereka senang Alex sudah kembali. Hampir saja harapan mereka pupus. Sudah ke sana ke mari mencari Alex hingga satu tahun lamanya. Mereka hampir putus asa tapi ternyata Allah SWT menjawab doa-doa yang senantiasa dipanjatkan.
"Kalau gitu ayo kita ke rumah sakit!" ajak Kakek David.
Semuanya mengangguk. Mereka tak sabar ingin bertemu Alex dan Sophia. Apalagi Arfan, dia berhak bertemu dan bersama ayah dan ibunya.
***
Semua alat bantu hidup sudah dilepas. Sophia juga sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Alex terus menemaninya. Duduk di samping ranjang sambil memegang tangan Sophia. Seolah tak ingin dipisahkan dari sang pujaan hatinya.
"Mas gak capek? Istirahatlah dulu!" kata Sophia.
"Aku sudah beristirahat selama satu tahun, sekarang aku ingin bersamamu Sophia," sahut Alex. Menatap mata emerald itu tak pernah lepas.
"Aku juga ingin bersamamu terus Mas," jawab Sophia.
Alex tersenyum. Dia senang Sophia juga menginginkan hal yang sama dengannya.
"Sayang bajumu basah," kata Alex melihat baju di bagian dadanya basah.
"Oya?" ucap Sophia.
"Di dadamu sayang," sahut Alex menunjuk ke arah baju di bagian dada Sophia.
Tangan Sophia segera memeriksa bajunya.
"Iya Mas, basah," jawab Sophia memegang bajunya.
"Basah kenapa ya sayang?" Alex tidak tahu kenapa baju di bagian dada Sophia basah padahal tidak ketumpahan air.
"Oh, ini air asiku Mas," jawab Sophia. Dia itu air asinya. Ternyata selama dia koma asinya tidak mengering.
"Alhamdulillah, asimu tidak kering, Arfan bisa m€nyu$u padamu sayang," sahut Alex.
"Alhamdulillah, iya Mas, Arfankan masih butuh asiku, dia pasti senang kalau bisa m€nyu$u langsung dariku," kata Sophia. Dia tahu putranya Arfan sudah lama tak mendapatkan asi. Sophia senang masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk memberi putranya asi.
"Iya sayang, aku dengar asi sangat bagus untuk bayi dari pada susu botol," sahut Alex.
Sophia mengangguk.
Tak lama Claudya masuk ke ruangan itu sambil menggendong Arfan bersama Pak Ferdi, Ibu Marisa, Kakek David dan Nenek Carroline. Mereka semua terlihat bahagia bercampur haru. Matanya berkaca-kaca melihat Sophia dan Alex ada di ruangan itu dan baik-baik saja.
"Assalamu'alaikum," sapa Claudya dan semuanya.
"Wa'alaikumsallam," sahut Sophia dan Alex.
Banjir air mata ke luar dari mata semua orang. Pertemuan yang sudah ditunggu-tunggu. Kerinduan yang begitu besar. Membuat mereka menangis bahagia.
"Kak Sophia, Kak Alex!" panggil Claudya. Matanya sembab dari tadi di mobil sudah menangis.
"Claudya!" sahut Alex dan Sophia. Mereka menatap Claudya dan anak mereka yang sudah setahun ini tak pernah melihatnya sekalipun. Arfan kecil yang lucu, montok, putih dan tampan. Mirip Alex.
"Ini Arfan, kalian pasti rindu," ujar Claudya mendekat memberikan Arfan pada Alex dan Sophia.
Bergegas Alex mengambil Arfan. Memberikan pada Sophia yang sudah bangun dan duduk. Arfan duduk dipangkuan Sophia. Dia terlihat tersenyum-senyum. Senang sekali melihat Sophia dan Alex. Biasanya hanya melihat di foto. Sekarang bisa melihatnya langsung.
"Arfan, ini Mama, dan ini Papa sayang," ucap Sophia pada Arfan yang ada di pangkuannya. Sedangkan Alex merangkul Sophia dan mengelus pipi Arfan yang cabi.
"Mama ... Papa ..." Ocehan Arfan yang pertama ketika melihat Alex dan Sophia.