
Sebelum ke rumah sakit Jack pergi ke toko bunga. Dia membeli seikat bunga mawar untuk Vera. Dia tidak tahu apa Vera suka bunga mawar atau tidak. Tapi Jack yakin semua wanita suka kalau diberi bunga.
Jack membawa seikat bunga mawar itu sambil berjalan menuju mobilnya. Dia tersenyum-senyum membawa bunga mawar merah. Jack masuk ke dalam mobilnya. Mengendarai mobilnya menuju rumah sakit jiwa tempat Vera berada.
Satu jam perjalanan sampai juga di tempat tujuan. Jack turun dari mobilnya. Dia membawa seikat bunga itu masuk ke dalam rumah sakit jiwa. Dia berjalan di lorong. Di ujung lorong terlihat wanita cantik berambut panjang dan bertubuh seksi.
"Jack!" panggil Vera dari kejauhan. Pipinya memerah melihat Jack semakin mendekat.
"Vera!" panggil Jack.
Mereka berdua bertemu di satu titik yang sama. Penuh kerinduan. Baik Vera dan Jack bahagia dengan pertemuan mereka.
"Vera aku menunggu lama untuk hari ini," kata Jack.
"Aku juga menunggu kedatanganmu," jawab Vera.
Jack berlutut di depan Vera. Memberikan seikat bunga mawar itu di tangannya untuk Vera.
"Jack," ucap Vera.
"Maukah kau menikah denganku Vera?" tanya Jack. Bukan karena ingin membayar kesalahannya di masa lalu tapi karena dia memang mencintai Vera.
"Iya aku mau Jack," jawab Vera. Matanya berkaca-kaca.
Jack langsung berdiri mau mencium Vera namun Vera menahan tubuh Jack mendekat.
"Kenapa Vera? Aku mau kiss," kata Jack.
"Gak boleh, belum halal," jawab Vera.
Jack mengacak rambutnya dengan jemari di kedua tangannya. Udah ngarep banget dapat ciuman.
"Sabar ya Jack," kata Vera.
"Iya Vera, jadi pengen cepet halal," sahut Jack.
"Kalau gitu ayo pulang, kita nikah," ujar Vera.
"Mau banget," jawab Jack.
Vera tersenyum. Dia senang Jack tak marah. Dia mau mengerti. Vera ingin memperbaiki diri. Tidak ingin menambah dosa. Sesuatu yang istimewa akan indah pada waktunya.
Jack berjalan bersama Vera. Ke luar dari rumah sakit jiwa. Vera benar-benar sudah sembuh. Dia terlihat lebih segar dan lebih tenang. Mereka berdua pergi ke rumah Gavin. Rumah baru yang sekarang di tempati Gavin, Maria, Dodo dan Mak Ros.
Di tempat yang berbeda, Dodo bantuin Mak Ros metik buah mangga buat rujakan Maria yang sedang nyidam.
"Do setahun mesantren kau jadi kurus, Mak pangling loh," ujar Mak Ros.
"Nah jangankan Mak, Dodo juga pangling melihat Dodo yang kurus gini," jawab Dodo.
"Kau tak mengidap cacingan atau pusing ditagih utang?" tanya Mak Ros.
"Dodo tinggal di lantai tujuh Mak, tiap hari naik turun tangga tujuh putaran mana kelas Dodo di gedung yang berbeda, di lantai lima lagi Mak," jawab Dodo. Menceritakan suka dukanya mesti naik turun tangga.
"Astaga, niat sekali takdir ingin membuatmu kurus," jawab Mak Ros. Tak disangka cucunya itu mesti menderita naik turun tangga. Kasihan kegendutannya mesti ke laut gak balik lagi. Kini Dodo kurus bikin pangling.
"Udah gitu Mak, Dodo puasa senin kemis, ngaji dari subuh, piket, kerja bakti membersihkan halaman pesantren, main basket, pokoknya Dodo gerak terus Mak," ujar Dodo.
"Pantes kau kurus, kirain gara-gara patah hati, ditolak anak Kyai," kata Mak Ros.
"Dodo bukan ditolak Mak, justru dikejar-kejar anak Kyai," sahut Dodo.
"Wah, bagus dong," sahut Mak Ros.
"Anak Kyainya masih kecil-kecil, lima anak lagi, tiap hari minta gendong Dodo muterin lapangan bola," jawab Dodo.
"Pantes, kau kurus, bener-benar selelah itu," kata Mak Ros.
Mereka terus mengobrol. Hingga Gavin dan Maria menghampiri mereka berdua yang sedang asyik mengupas mangga di tepi kolam renang.
"Do! Rujak mangganya udah?" tanya Gavin.
"Udah nih Om," jawab Dodo.
"Wah Tante dah gak sabar nih pengen rujak," kata Maria.
"Sini Maria, udah Mak siapin," sahut Mak Ros.
"Sayang rujaknya jangan banyak-banyak," ujar Gavin.
"Tapi aku lagi pengen Abang," sahut Maria.
"Sabar Om, ini ujian. Nyontek aja dulu," ledek Dodo.
"Gendut, kau bentolan gitu, gak pernah mandi ya?" tanya Gavin melihat tubuh Dodo banyak bentolnya.
"Ini oleh-oleh dari mondok Om, khusus buat anak yang baik kaya Dodo," ujar Dodo.
"Budukan itu, kau pasti gak bersih mandinya di sana, atau kau mandi pakai sabun, anduk, atau barang temanmu?" tanya Gavin.
"Emang Om, Dodo suka lupa pakai barang temen, eh make punya temen yang kapalan, kudisan dan panuan, makanya Om nih panu di pipi Dodo," kata Dodo memperlihatkan pulau panu di pipinya.
"Kirain kau tambah putih, gak tahunya panu toh," sahut Gavin.
Maria dan Mak Ros geleng-geleng.
"Udah Ndut, makan yang banyak nih. Biar gendut gak kurus," ujar Maria.
"Iya Tante, Dodo program gendut selama libur, rindu tubuh Dodo yang dulu," sahut Dodo.
"Kalau gitu panggilanmu ganti, ceking," kata Gavin.
"Tapi dua minggu lagi gendut Dodo Om, tar beli pupuk Urea biar subur," kata Dodo.
"Bagus, pupuk tai sapi sekalian, biar gembul dan murah. Tinggal ambil di jalan," ujar Mak Ros.
Mereka semua tertawa dengan gurauannya. Senang bisa kumpul bersama dengan keluarga.
"Assalamu'alaikum," ucap Jack dan Vera yang datang.
"Wa'alaikumsallam," sahut Gavin dan yang lainnya.
"Sini rujakan! Banyak nih!" kata Maria.
"Iya Kak, dah lama gak makan rujak, kangen," sahut Vera. Selama di dalam rumah sakit jiwa, dia tak pernah makan rujak sekalipun.
"Sini makanya!" titah Maria.
Vera dan Jack bergegas menghampiri mereka. Duduk bersama di tikar. Mereka ikut menikmati rujak bersama Gavin dan Maria.
"Seger ya rujakan siang-siang gini," ujar Jack.
"Ku pikir kau tak suka rujak Jack," ujar Gavin. Dia tak menyangka cowok cool kaya Jack suka rujak.
"Aku kurang suka, tapi rujak buatan Mak emang enak," sahut Jack.
"Bilang aja pingin nikah, bawaannya jadi serba enak," ledek Gavin.
"Iya sih, pengen cepet," jawab Jack.
"Loh tanya-tanya sama gue, tutorial ini itunya," sahut Gavin. Merasa suhu di bidang perkawinan. Sekalian mau dipesenin obat kuat dari Gunung Merapi.
"Boleh, asal gak ketuker obat pelancar BAB aja," balas Jack.
"Astaga, kau ingat juga," sahut Gavin.
Jack tertawa. Begitupu Dodo yang gak mudeng topik yang dibahas. Sedangkan Maria, Vera dan Mak Ros asyik makan rujaknya.
***
Claudya berdiri di atas balkon melihat Alex dan Sophia menggendong Arfan sambil berjemur. Dari bayi Arfan sudah diasuh olehnya. Seperti ada yang kurang sejak Arfan tidur bersama Alex dan Sophia lagi. Melihat itu Tuan Matteo menghampirinya.
"Sayang lagi apa?" tanya Tuan Matteo. Dia memperhatikan si cantik tampak murung. Wajahnya tampak sendu. Dia terlihat memperhatikan ke bawah.
"Gak papa, cuma liat Arfan lagi berjemur ma Kak Alex," jawab Claudya.
Tuan Matteo berdiri di sampingnya melihat ke bawah. Arfan sedang bermain bersama Alex dan Sophia. Mereka terlihat bahagia.
"Kau ingin punya baby ya?" tanya Tuan Matteo. Dia tahu apa yang saat ini dirasakan Claudya. Sejak mereka menikah sampai saat ini belum juga diberi momongan. Padahal mereka rutin melakukan hubungan suami istri. Claudya juga menjaga pola makan, istirahat dan kelola stress. Tapi belum juga ada hasilnya.
"Iya, tapi sudah setahun lebih kita belum juga diberi momongan," jawab Claudya. Matanya berkaca-kaca tiap teringat keinginannya untuk hamil.