Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Pembicaraan Ayah Dan Anak



"Hari ini cuacanya cerah," ujar Pak Harry. Nada bicaranya jauh lebih santun dari sebelumnya pada Kakek David.


"Anak ini tumben sopan padaku? Apa dia sedang sakit?" batin Kakek David. Mungkin saja Pak Harry sedang ngelindur karena demam. Biasanya Pak Harry tak pernah bicara sopan padanya.


"Iya, itu sebabnya aku jogging pagi, biarpun puasa kesehatan tetap harus dijaga," sahut Kakek David.


"Aku juga suka jogging pagi. Selain untuk kesehatan, banyak cewek seksi di sini," ujar Pak Harry.


"Tak ku sangka anak ini cuci mata setiap pagi," batin Kakek David. Padahal dia sendiri juga sama. Selain menyehatkan tubuh tak lupa menyehatkan mata agar tetap segar setiap hari.


"Aku menjaga hati dan mataku karena hati dan mataku hanya untuk ibumu," jawab Kakek David. Padahal kenyataannya tak jauh beda dari Pak Harry. Hati dan pikiran boleh untuk istri atau orang yang dicintai. Tapi mata, mubazir kalau ada yang bening dilewati begitu saja.


"Yang benar saja, bukannya makin tua makin jadi, sepagi ini jogging mana banyak cewek cantik. Benarkah kakek tua itu menjaga matanya. Atau dia memang sukanya ninik-ninik," batin Pak Harry. Begitu banyak wanita berbaju seksi jogging pagi. Benarkah Kakek David tak cuci mata. Pak Harry saja rutin cuci mata pagi hari.


"Memang berobat di Dokter mata mana?" tanya Pak Harry. Dia mengira kakek tua itu matanya sudah rabun, banyak cewek seksi masa gak kelihatan. Apa matanya minus kebanyakan atau plus berkali-kali lipat. Jadi yang terlihat oleh matanya cuma kutu yang lagi konvoi atau upil yang nyelip.


"Meskipun sudah tua mataku masih jernih, burung di pohon itu saja aku masih bisa melihatnya," sahut Kakek David. Menunjuk ke arah burung di atas pohon.


"Itu bungklon bukan burung," jawab Pak Harry.


"Ternyata anak ini rabun pantas saja cewek gemuk-gemuk dibilang seksi," batin Kakek David melihat para gadis cantik yang sedang jogging kebanyakan bertubuh gemuk.


"Oh matamu jernih juga, bungklon bersayap saja kau bisa melihatnya dengan jelas," sahut Kakek David.


Mereka berdua mengobrol santai dari masalah harga baju lebaran yang naik, daging oplosan, bumbu dapur yang langka, dangdutan dinikahan massal, sampai tambal gigi biar bisa ngunyah rendang saat lebaran.


"Aku juga suka gitu saat ngunyah rendang gigiku hilang satu," ujar Kakek David.


"Berarti ke Dokter gigi sebelum lebaran," sahut Pak Harry.


"Kau benar, sepertinya aku harus ke Dokter gigi," jawab Kakek David.


Pak Harry membuang nafas leganya. Tak disangka dia bisa mengobrol santai dengan ayahnya.


"Aku minta maaf atas sikapku yang kemarin-kemarin," ujar Pak Harry.


"Kenapa kau harus minta maaf? Bukankah aku yang salah?" sahut Kakek David.


"Awalnya aku berpikir kau salah, tak ada di saat aku masih kecil dulu, bahkan sampai aku tua, aku baru tahu kalau kau ayahku," ujar Pak Harry.


Kakek David terdiam. Apa yang dikatakan Pak Harry benar. Selama ini Pak Harry tumbuh tanpa kasih sayang ayahnya. Dia merasa bersalah untuk itu.


"Apa yang kau lakukan padaku itu wajar. Seharusnya aku ada di saat kau kecil dulu," kata Kakek David.


"Kau tidak salah sepenuhnya. Semua sudah berlalu. Aku pun merasakan apa yang kau rasakan saat ini," ujar Pak Harry.


"Apa maksudmu?" tanya Kakek David penasaran dengan apa yang diucapkan Pak Harry.


"Alex anakku dengan Marisa," jawab Pak Harry.


Deg


Kakek David terkejut saat mendengar apa yang dikatakan Pak Harry. Dia tak menyangka Alex adalah adalah anak kandung Ibu Marisa dengan Pak Harry.


Hening


Hening


Suasananya berubah sepi. Tak seperti tadi yang sempat menghangat.


"Iya, meskipun dia bukan anak Ferdi tapi Alex anakku, secara tidak langsung kau sudah membesarkannya," kata Pak Harry.


Kakek David terdiam. Selama bertahun-tahun merawat Alex dengan penuh kasih sayang. Ternyata perasaan itu memang karena mereka memiliki ikatan batin sebagai sebuah keluarga. Meski sempat diragukan sebagai anak Ferdi, tetap saja Alex anak Harry Harold dan menjadi cucu kesayangannya.


"Aku berterimakasih atas semua kebaikanmu untuk anakku," ujar Pak Harry.


"Tapi semua yang ku lakukan karena aku sangat menyayanginya," sahut Kakek David.


Pak Harry tersenyum. Kakek David sudah merawat putranya dengan kasih sayang yang tulus. Bahkan menjadikan Alex pemimpin perusahaan yang hebat.


"Apa Alex sudah tahu kalau kau ayahnya?" tanya Kakek David.


"Sudah, baru kemarin," jawab Pak Harry.


"Lalu apa tanggapan Alex padamu?" tanya Kakek David.


"Sama persis yang ku lakukan padamu," jawab Pak Harry.


Kakek David terdiam. Apa yang terjadi pada Pak Harry sama yang terjadi padanya. Seperti mendapatkan karma yang nyata. Meskipun secara tidak langsung baik Kakek David dan Pak Harry tidak tahu kalau mereka memiliki anak.


"Minta maaflah padanya! aku yakin Alex akan memaafkanmu," ujar Kakek David.


"Apa benar? Dia begitu marah dan kecewa," jawab Pak Harry.


"Itu wajar, kau pun begitu kemarin, tapi lama-kelamaan pasti bisa menerima kenyataannya," jawab Kakek David.


"Iya kau benar, mungkin ini karma bagiku," ucap Pak Harry. Dia sadar sikapnya kemarin yang tidak baik pada Kakek David, ternyata dia merasakan di posisi Kakek David. Mendapatkan kemarahan, kekecewaan dan kekesalan anaknya.


Kakek David menepuk lengan Pak Harry. Dia bisa merasakan apa yang dirasakan anaknya itu. Karena dia pernah diposisinya. Tak mudah meminta maaf pada anaknya. Setelah apa yang telah dilakukannya.


"Aku yakin besok atau lusa Alex akan memaafkanmu, asal kau tetap berusaha," ujar Kakek David.


"Terimakasih Pa," ujar Pak Harry.


Terkejut.


Siapa yang tak terkejut saat Pak Harry memanggilnya sebutan ayah pada Kakek David. Padahal kemarin Pak Harry masih marah dan kecewa padanya. Nada bicaranya juga sangat keras padanya. Tapi sekarang Pak Harry sudah bisa bicara sopan dan menerimanya sebagai ayah kandungnya.


"Iya Nak, kita pasti bisa berkumpul sebagai keluarga," sahut Kakek David.


"Keluarga?" ucap Pak Harry.


"Iya. Aku, kau dan Alex, kita satu keluarga. Semoga bisa saling mendukung dan membantu satu sama lain," jawab Kakek David.


"Amin," sahut Pak Harry.


Pak Harry tersenyum. Dia merasa lebih lega saat mengobrol dengan Kakek David. Hal yang dulu sangat dirindukannya. Bisa bicara dan mengobrol dengan ayahnya.


"Nanti sore datanglah ke rumah! Buka bersama sekalian ajak ibu dan cucuku Humaira," ujar Kakek David.


"Apa Alex tidak keberatan jika aku datang?" tanya Pak Harry. Dia tidak ingin mengacaukan suasana hati Alex yang sekarang sedang tidak menentu.


"Kalau kau tidak berusaha meminta maaf dan memperbaiki hubunganmu dengannya, kau akan semakin sulit mendapatkan maaf dari Alex," ujar Kakek David.


"Iya Pa, aku akan datang dengan keluargaku, terimakasih atas undangannya," kata Pak Harry.


Kakek David tersenyum. Dia senang bisa mendamaikan anak dan cucunya. Dia tak sabar ingin menyaksikan keluarganya kembali utuh. Dari anak sampai cucunya.