
Satu minggu berlalu
Bak dinegeri dongeng pernikahan Dokter Leon dan Erisa begitu meriah dan mewah.Semua tamu undangan senang karena acaranya meriah. Pengantin wanita yang begitu cantik dan pengantin laki-laki yang begitu tampan. Seperti Cinderella dan pangerannya. Mereka duduk di atas pelaminan dengan wajah yang berseri-seri.
Semua anggota keluarga hadir. Dari Keluarganya Dokter Leon, Keluarga Harold, Keluarga Sebastian, Keluarga Wijaksana dan Keluarga Howard. Mereka semua ikut bahagia dengan pernikahan Erisa dan Dokter Leon.
"Alhamdulillah, kita sudah menjadi suami istri Neng," ucap Dokter Leon.
"Iya Akang," sahut Erisa. Dia tersenyum menatap Dokter Leon.
"Hari ini hari yang selalu ku nantikan dalam hidupku, dulu tak pernah terpikirkan bisa bersanding dengan orang yang dicintai, tapi Allah sudah mewujudkan mimpiku," ucap Dokter Leon.
"Iya Akang, aku juga berpikir seperti itu, ku pikir hanya akan lontang-lantung di jalanan sampai tua, tapi Allah memiliki rencana yang lebih baik untukku," sahut Erisa.
"I Love You Erisa," ucap Dokter Leon.
"I Love You Too Leon," sahut Erisa.
Dokter Leon dan Erisa tersenyum bersama. Mereka bisa menikah setelah masa penantian panjang tanpa kepastian.
Di sisi lain Sophia dan para wanita sedang duduk sambil menikmati hidangan yang disajikan di prasmanan untuk keluarga. Sedangkan Alex dan para lelaki menggendong anak mereka sambil melihat pelaminan.
"Kak Sophia enak nih begini, berasa singel, biarin bapak-bapak pada gendong anak," ujar Claudya.
"Iya biar gak ada pelakor yang berani deketin kalau buntutan," tambah Nada. Dia sudah kenyang diselingkuhin Hanan, jadi tahu banget rasanya sakit hati saat suami diambil pelakor.
"Jangan salah, pelakor gak pandang bulu. Awalnya godain anaknya eh sekalian godain bapaknya," sahut Sora.
"Ngeselin ya, kalau gitu aku mesti buruan, mana tahu ada pelakor ada di sekitar sini," kata Claudya.
"Kalau menurutku mau dijagain atau gak tergantung suami kita sendiri. Kita gak bisa jagain suami kita dua puluh empat jam, kalau suami kita setia Insya Allah tidak akan tergoda," sahut Sophia. Pada dasarnya selingkuh atau tidak tergantung pribadi masing-masing.
"Tapi kita tetap harus berusaha. Dengan memberi yang terbaik untuk suami kita, biar dia juga mikir-mikir lagi kalau ada cewek yang kecentilan," tambah Humaira.
"Iya sih, usaha, doa, dan tawakal. Semoga suami kita setia dan selalu sayang keluarga," kata Nada.
"Amin," sahut Sophia dan yang lainnya.
Sementara itu Tuan Matteo, Gavin, dan Luki sedang menggendong anak mereka.
"Vin sejak kapan kau pakai pink? sampai sepatu pink juga? sweety boy ya?" tanya Luki melihat penampilan Gavin pink dari atas sampai ke bawah.
"Maklum anak gue perempuan, bapak sayang anak ini," sahut Gavin.
"Jangan bilang CD loh pink juga?" tanya Tuan Matteo.
"Jangankan CD, kamar gue pink, handphone gue pink, sampai mobil gue pink, pokoknya sweet banget gue semenjak punya anak perempuan," sahut Gavin. Segala hal pink. Demi merayakan anak perempuan.
"Itu atas inisiatif Lo serba pink, gue aja anak laki gak serba biru," sanggah Luki.
"Gue anak laki aja Claudya suka warna kuning, kecuali yang ditoilet terserahlah. Kalau makan coklat ya coklat," sahut Tuan Matteo. Menceritakan si kuning yang di toilet tak harus berwarna kuning juga.
"Astaga repot sekali kalau harus warna kuning juga, mesti dicat dulu tuh tai," kata Gavin.
Mereka bertiga tertawa bersama disela-sela gurauan mereka.
"Emang loh suka pink?" tanya Luki penasaran.
"Gak, tapi bini gue. Mesti serba pink semenjak ada Cala. Gue sih seneng aja. Tapi tiap ada cewek yang deketin, gue dibilang terong," jawab Gavin. Setiap kali ada perempuan yang mendekati selalu disindir terong atau pisang terkadang tak jarang pedang.
"Kalau gitu aman dari pelakor dong," sahut Tuan Matteo.
"Aman, tapi ke mana-mana cewek-cewek pada kabur duluan, dikiranya aku omprengan kali ya," jelas Gavin.
"Asal nenek-nenek masih mau, gak masalahkan? mata merekakan rabun," sahut Luki. Menyarankan Gavin dengan nenek-nenek.
"Iya, tapi tiap kencan mesti bantuin ganti pempes, belum lagi kalau mati saat kencan, gue bisa jadi tersangka," kata Gavin.
Tuan Matteo dan Luki tertawa bersama. Ada aja senda gurau mereka saat sedang bersama. Apalagi sekarang sudah jadi bapak-bapak punya anak.
"Tapi gue senengnya semenjak ada Cala hidup gue sempurna. Punya istri montok, dan putri cantik," ucap Gavin. Dia bahagia bisa memiliki keluarga kecilnya.
"Sama, aku juga merasa hidupku jauh lebih bahagia. Berasa hidup lagi. Punya istri muda dan anak yang lucu," guman Tuan Matteo. Hidupnya yang dulu kesepian kini penuh kebahagiaan.
"Berarti kita harus bersyukur dan jangan disia-siakan nikmat yang Allah berikan," ucap Luki.
Tuan Matteo dan Gavin mengangguk.
Tak hanya mereka bertiga Alex dan Kenan lebih repot karena anak mereka lebih dari satu. Sambil gendong yang kecil, ngasuh yang gede juga.
"Bos berasa kuli. Beban hidupku terlalu besar," keluh Kenan.
"Itu karena anakmu tiga, sabar Kenan," sahut Alex melihat Kenan menjaga tiga anak.
"Iya sih Bos, untung bini cantik dan baik semangat tetap membara meski menjaga tiga anak sekaligus," kata Kenan.
"Ya elah Kenan, anakmu baru tiga. Lihat itu anaknya sepuluh biasa aja!" Alex menunjukkan tamu undangan yang membawa sepuluh anaknya.
"Kalau kaya gitu aku mesti bawa buku catatan Bos, ketinggalan satu lupa yang mana," sahut Kenan.
"Ya udah diabsen tiap mau pulang dan pergi, bereskan!" kata Alex.
"Iya sih Bos, kondangan juga untung dari makan di rumah," sahut Kenan.
Alex menggeleng. Sekretarisnya memang aneh.
Di tempat prasmanan umum Sari mengambil makanan tak sengaja dia bertemu Yuda. Lelaki yang mau dijodohkan dengan Erisa. Mereka sama-sama gemuk. Hobi makan dan malas berolahraga. Tak sengaja mereka sama-sama mau mengambil daging.
"Eh Yuda," ucap Sari.
"Sari temannya Erisa ya?" tanya Yuda.
"Iya, Yuda mau makan?" jawab Sari.
"Iya, Sari juga ya?" sahut Yuda.
Mereka berdua malu-malu kucing sambil mengambil makanan. Tadinya niatan ngambil banyak jadi dikit. Gengsi kelihatan makan sebakul.
"Makan di sana yuk!" ajak Yuda duduk di kursi.
"Boleh," jawab Sari.
Keduanya berjalan menuju kursi kosong, masing-masing menduduki dua kursi dan makan bersama. Mereka jadi gugup dan canggung.
"Sari cantik banget," ucap Yuda. Udah bingung mau nyari cewek yang mau dan tulus susah. Siapa tahu Sari mau.
"Beneran? Padahal keseringan disebut paus terdampar," jawab Sari.
"Sama dong, aku malah paus berlemak," sahut Yuda.
"Kita senasib ya," kata Sari. Mulai melakukan pendekatan. Dari pada jomblo terus.
"Iya, sering jadi bulan-bulanan masa," tambah Yuda.
"Itu makanan setiap hari, tapi Sari happy aja. Toh gak minta makan mereka," kata Sari. Seandainya minta juga gak sanggup ngempanin Sari.
"Aku suka wanita tahan banting sepertimu," sahut Yuda.
"Beneran?" tanya Sari. Udah kode alam nih. Sari tinggal memprovokasinya.
"Iya," jawab Yuda.
"Aku juga suka cowok gemuk, biar kalau diet ada temennya, olahraga bareng dan nonton drakor bareng," ujar Sari. Pepet terus selagi ada promo dan iklan mumpung momennya tepat.
"Kalau gitu mau gak sama Yuda?" tanya Yuda.
"Mau banget," jawab Sari.
Akhirnya tak hanya Erisa dan Dokter Leon. Saripun mendapat pasangan yang satu server dengannya. Sama-sama gemuk dan tukang makan.
Acara pernikahan itu berjalan lancar. Semua tamu undangan tertib bersalaman dan berfoto dengan pengantin. Keluarga juga berfoto bersama untuk mengabadikan momen langka itu. Mereka ikut bahagia dengan pernikahan Dokter Leon dan Erisa.