
Tara berlari masuk ke dalam gerbang rumah. Pengajian itu baru saja selesai. Orang-orang ke luar dari halaman menuju pintu gerbang. Tara ketakutan gara-gara melihat kedua temannya diculik. Dia berlari mencari ayahnya.
"Papi ...!" teriak Tara berlari ke arah Kenan yang sedang mengobrol dengan Alex, Tuan Matteo, Luki dan Gavin.
Mendengar suara gadis kecilnya memanggil Kenan menoleh ke arahnya.
"Tara," sahut Kenan.
Tara menghampiri Kenan, langsung memeluknya.
"Kenapa? Laper?" tanya Kenan pada putri kecilnya sambil memegang kedua pipinya.
"Papi ... hik hik hik ..." Tara berbicara sambil menangis.
"Kenapa? Kok nangis," ujar Kenan. Menatap mata putrinya yang mulai berurai air matanya.
"Papi ... Dodo sama Nesa diculik hik hik hik ...," ujar Tara.
"Apa? Dodo, Nesa, diculik!" Alex, Kenan dan Gavin terkejut. Begitupun dengan yang lainnya. Mereka terkejut dengan apa yang dikatakan Tara.
"Iya, tadi aku main sama mereka. Ada du-a o-rang nangkep Dodo sama Nesa hik hik hik ...," kata Tara.
Kenan menggendong Tara. Putri kecilnya itu terlihat ketakutan. Mendekapnya dalam pelukannya.
"Nesa dan Dodo diculik?" ujar Alex.
"Ini seriusan?" tanya Gavin yang belum sepenuhnya percaya kalau si gendut diculik. Kira-kira penculiknya udah nyairin BPJS atau Deposito gak? Kalau tidak repot mereka bisa bangkrut, bingung ngempaninnya.
"Kenan anakmu tidak bohongkan?" tanya Alex. Memastikan kembali apa yang dikatakan Tara bukan hoak.
"Iya ini menyangkut keselamatan dua bocah itu," tambah Tuan Matteo.
"Sepertinya beneran, Tara jarang berbohong apalagi sampai menangis gini," jawab Kenan. Selama merawat putri kecilnya meskipun sering nakal layaknya anak kecil, Tara jarang berbohong kecuali dia pipis di kasur atau makan permen tanpa izin Kenan atau ibunya.
"Berarti kita harus segera mencarinya," usul Luki.
"Ya udah, aku beritahu Nada dulu, yang lainnya tolong cari Dodo dan Nesa duluan," pinta Alex.
"Oke," jawab Tuan Matteo, Gavin dan Luki.
Mereka berpencar. Tuan Matteo dan Claudya naik mobil ke arah kiri. Gavin dan Maria naik mobil arah kanan. Sedangkan Luki menelusuri jalan yang tadi diberi tahu Nesa bersama Humaira.
Sementara mereka mencari, Alex berusaha menenangkan Nada bersama Sophia dan yang lainnya di ruang tamu.
"Nesa di mana kamu Nak hik hik hik ...," ujar Nada menangis tersedu-sedu.
Sophia mendekati Nada yang duduk di sofa. Berdiri di sampingnya, memeluk Nada. Membiarkannya bersandar dipelukannya.
"Sabar ya Kak, semoga Allah SWT melindungi Nesa dan Dodo," ujar Sophia.
"Amin," sahut semua orang. Sedangkan Nada hanya mengangguk sambil menangis.
"Kita semua bantu doa, semoga Nesa dan Dodo baik-baik saja dan bisa segera ditemukan," ujar Bibi Fatimah. Dia hanya datang sendirian ke acara empat bulanan Sophia karena Paman Harun sedang menjalankan ibadah umrah ke Mekkah.
"Amin," sahut semua orang.
Nada tetap menangis. Sebagai seorang ibu tentunya dia panik dan sangat sedih mengetahui putri semata wayangnya diculik.
"Kok bisa diculik padahal dari tadi banyak orang," ujar Ibu Marisa.
"Aku liat mereka main gelembung sabun di halaman depan," tambah Nenek Carolline.
"Mereka sempat ke luar dari pintu gerbang," jawab Alex.
"Pantas saja, di luar pasti lebih rawan," sahut Kakek David.
"Apalagi mau lebaran, orang jahat menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang biar bisa mudik bawa uang banyak," kata Pak Ferdi.
Mereka mulai membicarakan apa yang terjadi pada ketiga anak kecil itu sampai bisa diculik kedua orang asing yang entah dari mana asalnya. Yang jelas dari keterangan Kenan yang mengintrogasi putri kecilnya, kalau penculik itu mengenakan baju butut dan motor tua yang sekarat.
"Kok ada penculik kere gitu, biasa penculik identik dengan mobil sport gede gitu, ini kok motor kiloan," ujar Ibu Marisa.
"Yang pasti bukan penculik top kaya di film-film action, masa motornya aja mesti ke UGD," ucap Nenek Carroline.
"Paling tinggal di kolong jembatan, paling banter di gubuk liar," tutur Pak Ferdi.
"Mereka kasih makan Dodo pakai apa? Kakek kasihan pasti tekor ngempanin Dodo," tambah Kakek David.
"Ya udah, Alex dan Kenan mau nyari Dodo dan Nesa, yang lainnya coba mencari di dekat sini, atau lapor polisi," kata Alex.
Semua orang di ruang tamu mengangguk.
Alex ke luar dari ruang tamu. Menghampiri Kenan, mereka mengendarai mobil ke luar dari rumah Keluarga Sebastian.
Di ruang tamu Nada sampai pingsan. Dia dibawa ke kamar tamu yang berada di lantai bawah. Kabar itu sudah membuatnya syok. Untungnya Nada masih memiliki Sophia dan Bibi Fatimah yang selalu ada dan menguatkannya. Mereka menemani Nada. Menenangkannya dan memberi semangat.
"Insya Allah Nesa dan Dodo secepatnya ditemukan, Mas Alex dan yang lainnya sedang mencarinya," ujar Sophia.
"Iya Nada, Bibi yakin Allah akan melindungi mereka, itu sebabnya kita harus terus mendoakannya," tambah Bibi Fatimah.
"Saat ini kakak harus kuat, untuk mencari dan mendoakan Nesa," ujar Sophia.
Nada mengangguk. Benar kata Sophia dan Bibi Fatimah, dia harus kuat, untuk mencari dan mendoakan anaknya agar segera ditemukan.
Di tengah kebun terbengkalai, ada gubuk reyot yang terbuat dari bambu. Di teras terdapat motor tua kebanggan si empunya rumah. Motor legend yang mewakili status sosial mereka. Berbagai botol plastik, kardus bekas dan besi tua ada di teras dan pekarangannya. Dodo dan Nesa sedang disekap oleh dua orang laki-laki itu.
Para penculik itu berjumlah dua orang. Orang pertama bernama Dudung, tubuhnya gendut dan bodoh. Orang kedua bernama Udin, tubuhnya kurus dan gaptek. Mereka berdua sedang menganyam tikar untuk penghasilan tambahan. Selain memulung rongsokan dan menculik sebagai sambilan.
"Dung coba kamu telpon orangtuanya kedua bocah ini."
"Gimana mau nelpon tadi kau bilang pulsanya tinggal seribu, mana cukup nelpon beda operator." Sedih Dudung dengan nasib mereka yang tak pernah ada kemajuan. Menculik saja modal ikan asin dan motor butut. Pulsa cuma serebu baru bilang assalamu'alaikum aja udah putus sambungan. Maaf pulsa anda tidak cukup silahkan melakukan pengisian ulang.
"Yaudah miscall aja dulu."
"Mana mereka tahu itu kita Din."
"Kalau gitu sms aja, minta tebusan 1 juta."
"I juta kebanyakan Din, tar dosa kita kebanyakan. Apalagi bulan puasa. Korting aja biar dosanya dikitan."
"Lima ratus ribu gimana?"
"Cukup buat ongkos ke Brebes tuh?"
"Kita jalan kaki sebagian, biar irit."
Dudung mengangguk. Gak masalah jalan kaki dua hari asal dosa dikitan. Penculik yang masih berdedikasi tinggi dan rajin mengaji jadi inget dosa segala.
"Ya udah sms sana!"
"Iya Din, tapi gimana cara nulisnya akukan gak bisa baca dan gak bisa nulis."
"Aku juga gak ngerti cara menggunakan handphone."
"Yaudah Udin kasih tahu aku hurufnya, nanti aku pencetin di tombol handphone-nya."
"Sip."
Udin mendekati Dudung, dia mengeluarkan handphone dari kantong celananya. Handphone milik Udin masih handphone jadul. Udin membacakan huruf yang akan ditulis Dudung. Segera Dudung mulai mengetik setiap hurup yang diberitahu Udin. Setelah itu mereka pergi ke dapur di gubuk reyot itu. Mereka masak untuk buka puasa mereka.
"Dung kasih makan kedua anak itu dengan nasi sisa kemarin dan ikan asin bakar tadi pagi."
"Tapi tinggal kepalanya, gak papa?"
"Tambahin lalapan yang banyak, metik sana di kebon."
"Emang bocah doyan lalapan?"
"Yang gendut pasti doyan, kalau gak cariin laron atau kepompong, sangrai buat lauk tambahannya."
"Oke."
Dudung ke kebun metik lalapan, mencari kepompong pohon jati yang banyak terdapat di bawah pohonnya. Setelah itu pergi ke dapur. Dan memasak kembali. Kemudian membawa makanan dan minuman ke kamar di mana Dodo dan Nesa disekap. Dudung membuka tali ikatannya dan plaster mulutnya
"Ayo makan sudah adzan!"
"Gak mau, itu ulet masa dimakan," sahut Nesa.
"Iya sih, tapi kami gak punya uang."
"Paling gak makan nasi Padang tiga bungkus Om," ujar Dodo.
"Jangankan buat beli nasi padang, uang saja gak punya."
"Om penculik atau kaum dhuafa?" tanya Dodo.
"Dua-duanya."
"Kalau gitu daftar dulu ke Pak RT buat dapet kartu miskin, biar dapet tunjangan tiap bulan dari pemerintah," ujar Dodo.
Dudung mendengarkan. Lumayan buat nambah-nambah penghasilan. Bantuan dari pemerintah paling tidak mensubsidi kesulitan yang mereka rasakan.
"Kau pinter juga Ndut."
"Tapi Dodo laper Om, segini doang gak cukup," kata Dodo.
"Tar ku tambahin nasi lagi."
Dodo mulai memakan kepompong sangrai dengan lahapnya ditambah nasi putih kemarin sampai mau habis. Sedangkan Dudung ke luar dari kamar itu.
"Do itu ulet kau makan?" tanya Nesa. melihat Dodo makan begitu lahap padahal cuma pakai kepala ikan asin, kepompong sangrai dan lalapan.
"Enak kok, paling gerak dikit di lidah kepompongnya."
"Iiiih ... geli Do," kata Nesa.
"Nesa mau, nih yang masih idup, kayanya gak kesangrai," ujar Dodo memperlihatkan kepompong yang masih gerak.
"Gak mau, takut," sahut Nesa.
Dodo menghabiskan semua makanan. Sampai tepar di lantai. Kepomponnya lagi holiday di perut Dodo. Menari India yang gulung-gulung ke kanan dan ke kiri.
Tak lama Dodo ke luar dari kamar itu mencari keberadaan kedua penculik yang menculiknya. Ternyata mereka sedang berbicara via telpon dengan seseorang. Dodo ingin tahu kedua penculik itu bicara dengan siapa dan apa yang dibicarakannya.