Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Dia Ayahmu



"David Sebastian," jawab Nenek Carroline pelan. Sebenarnya dia takut memberi tahu Pak Harry putranya tapi hubungan keduanya tak bisa disembunyikan lagi.


"Apa? David Sebastian?" Pak Harry terkejut mendengar nama itu disebut. Nama yang begitu familiar di telinganya. Nama yang begitu dibencinya. Seluruh Keluarga Sebastian adalah musuhnya.


"Iya," jawab Nenek Carroline. Menatap wajah Pak Harry yang mulai dingin. Tak bersahabat. Nenek Carroline sudah tahu pasti Pak Harry akan terkejut mendengarnya.


"Tidak, aku tidak setuju Mama menikah dengannya!" tegas Pak Harry. Tak ada dikamusnya menikahkan keluarganya dengan Keluarga Sebastian. Sangat pantang untuknya.


"Harry, ku mohon, Ibu sangat mencintai David," ujar Nenek Carroline. Matanya berkaca-kaca. Tangannya memegang tangan Pak Harry yang memanas.


"Cinta? Bu mereka itu musuh kita, ibu lupa?" tanya Pak Harry. Mengingatkan kembali rasa kesal ibunya pada Keluarga Sebastian. Meskipun kebencian mereka berbeda. Pak Harry benci Pak Ferdi dan Ibu Marisa, sedangkan Nenek Carroline membenci Kakek David.


"Iya, ibu ingat, tapi Harry ...," jawab Nenek Carroline. Mukanya menjadi sendu. Penuh harap yang mendalam. Rasa cinta yang terpendam puluhan tahun sungguh membuatnya terluka dan iya ingin mengakhirinya agar tak ada rasa penasaran saat dia pergi selamanya.


"Bu, aku tidak akan melarang ibu menikah, asal jangan dengan Keluarga Sebastian," ujar Pak Harry.


Air mata Nenek Carroline tak mampu dibendung lagi. Menetes, membasahi wajahnya yang ada beberapa gurat keriputnya. Antara cinta dan dendam. Nenek Carroline tak bisa berdiri di atas keduanya. Cinta lebih besar dari sebuah dendam.


"Aku hanya mencintai David, bahkan seumur hidupku, aku tidak bisa pergi sebelum bisa bersamanya," sahut Nenek Carroline. Ungkapan hatinya mulai berbicara. Dia tak bisa membohongi perasaannya.


"Cinta? Bu bukannya ibu sangat membencinya? Kenapa sekarang ibu selemah ini?" tanya Pak Harry. Wanita tua di depannya ini biasanya sangat kuat. Paling anti membicarakan cinta. Baginya cinta sudah lama menghilang. Cinta hanya sebuah ucapan tak pernah dibuktikan.


"Harry ada satu hal yang harus kau tahu ...," ujar Nenek Carroline. Mungkin sudah saatnya dia memberi tahu semuanya. Harry harus tahu kebenarannya. Meskipun itu akan menyakitkan.


"Apa? Ibu mau bilang kalau ibu akan tetap menikah dengannya, meskipun aku tak menyetujuinya?" tanya Pak Harry menebak apa yang akan dikatakan ibunya pada dirinya.


"Bukan, ini menyangkut ayahmu," jawab Nenek Carroline. Wajahnya menjadi dingin. Saat pembicaraan mereka tentang ayah Harry.


"Ayahku? Bukannya ibu kata dia lelaki pengecut yang meninggalkanmu? Untuk apa dibahas lagi?" ujar Harry. Dia sudah memendam kekecewaannya pada sosok seorang ayah. Tak pernah terlintas dalam pikirannya untuk mengingat ayah atau merindukannya. Saat melihat ibunya sudah cukup dia tahu seperti apa ayahnya yang tega membuat ibunya berjuang sendirian.


"Aku tahu kau sangat membencinya, ibupun begitu, tapi ibu ingin kita memperbaiki semuanya, menjadi sebuah keluarga yang utuh," jawab Nenek Carroline. Besar harapannya untuk menyatukan kaca yang pecah. Meski sulit tapi dia ingin memperbaikinya di waktunya yang mungkin tak lama lagi.


"Keluarga utuh? Di mana dia selama ini? Saat ibu menangis, saat aku diledek anak haram," ujar Pak Harry. Masa lalu yang begitu menyakitkan. Mengoreskan luka yang selalu diingatnya di masa depan.


"Aku tahu, dia pengecut, dia meninggalkan kita, tapi dia tetap ayahmu, David Sebastian," ujar Nenek Carroline. Akhirnya mengungkap jati diri ayah kandung Pak Harry. Lelaki yang telah menorehkan banyak luka padanya dan putranya Pak Harry.


"Apa? Ibu tidak bercandakan?" Pak Harry membentak karena marah. Bagaimana tidak, seumur hidupnya dia hanya kesepian dan sendirian tanpa sosok ayah. Ibunya selalu jadi bahan olok-olok karena seorang janda yang ditinggal suaminya. Berjuang hidup bersama Pak Harry meninggalkan keluarga besarnya. Keluarga bangsawan Inggris. Nenek Carroline malu kembali ke keluarganya, selain itu jika kembali Nenek Carroline harus menikah dengan lelaki pilihan ayahnya. Meskipun terluka dia hanya mencintai satu orang dalam hidupnya, siapa lagi selain Kakek David. Sejak jadi janda dia memulai hidup barunya. Dari pemulung yang menggendong bayi hingga jadi pengusaha besar. Luka demi luka sudah dipijakinya demi membesarkan Pak Harry seorang diri. Ocehan, hinaan, dan makian orang sudah jadi teman hidupnya, menjadi penyemangatnya selama ini untuk bertahan bersama putranya. Nenek Carroline bukan wanita biasa yang menyerah dan menangisi keterpurukannya. Tak peduli luka di hatinya tapi adanya Pak Harry justru membuatnya mampu merubah air mata jadi sebuah keberhasilan.


"Tidak, David memang ayah kandungmu Harry," jawab Nenek Carroline. Apapun resikonya dia sudah menyiapkan dirinya. Meski Pak Harry murka sekalipun. Di penghujung usianya dia harus memberi tahu semuanya.


"Ha ha ha ..., dunia ini sempit Bu, kenapa harus dia ayahku?." Pak Harry tertawa. Tapi tertawanya penuh luka. Bukan tawa yang membahagiakan tapi justru menyakitkan.


Nenek Carroline terdiam. Dia tahu dengan mengungkapkan jati diri ayahnya akan membuat Pak Harry semakin terluka.


"Ayahku David, berarti aku dan Ferdi kakak adik, musuhku adikku, begitu?" ujar Pak Harry. Merasa hidupnya seperti sebuah sinetron. Di mana musuhnya selama ini adalah adiknya. Yang merupakan keluarganya. Keluarga Sebastian yang dibencinya ternyata dalam darahnya juga mengalir darah mereka.


Nenek Carroline terdiam. Tak ingin berdebat. Saat ini Pak Harry masih meluapkan emosinya, kekecewaannya. Hanya diam dan mendengarkan yang bisa dilakukannya.


"Selama ini aku ingin membalas kematian orang yang ku cintai, dan membalas wanita busuk itu, tapi ternyata mereka keluargaku, lucu," ujar Pak Harry.


"David yang orang kenal sebagai pebisnis sukses yang baik hati, ternyata lelaki pengecut, yang mrninggalkan istri dan anaknya," tambah Pak Harry.


"Harry saat ayahmu meninggalkanku, ibu dan dia tidak tahu kalau kau ada di perut ibu Nak," sahut Nenek Carroline.


"Tetap saja, dia meninggalkanmu Bu, dia pengecut. Seharusnya dia memperjuangkanmu, di mana nyalinya sebagai suami?" ujar Pak Harry.


"Sampai kapan pun aku takkan menyetujui Ibu menikah dengannya, ataupun siapapun dari Keluarga Sebastian!" tegas Pak Harry. Kemudian berdiri. Berjalan meninggalkan Nenek Carroline.


"David, sepertinya tak mudah menyembuhkan luka di hati Harry, bagaimana ini?" ucap Nenek Carroline yang masih duduk di sofa.


"Mungkin Harry butuh waktu menerimamu," batinnya.


Nenek Carroline terdiam. Mungkin Pak Harry butuh waktu. Semua ini terlalu mendadak. Selama puluhan tahun. Semua baru terungkap. Tentu tak mudah menerimanya begitu saja. Apalagi kepergiaan Kakek David menorehkan luka mendalam padanya.


***


Pagi itu Nada sudah bersiap mengenakan setelan jas kerja berwarna abu-abu tua. Dengan hijab putih di kepalanya. Begitu anggun dan cantik. Tak salah lagi dia memang mantan model. Sophia masuk ke dalam kamarnya. Menghampiri Nada yang berdiri di depan cermin.


"Alhamdulillah, cantiknya kakakku," puji Sophia.


"Terimakasih Sophia," sahut Nada.


"Kakak kalau kaya gini bisa ngantri cowok-cowok di luar sana," goda Sophia sambil berdiri di samping Nada.


"Ah Sophia, aku janda bukan gadis," sahut Nada.


"Janda juga janda cantik, terpelajar dan baik, Sophia yakin kakak akan mendapatkan jodoh yang terbaik," ucap Sophia.


"Amin," sahut Nada. Semoga benar kata Sophia, dia bisa mengobati luka hatinya dan menatap masa depan yang baru.


"Aku sama Mas Alex mau berangkat, sore ini pulang ke rumah Keluarga Sebastian, kakak mau bareng gak berangkatnya?" tanya Sophia.


"Gak kayanya, aku pengen sendiri, sepertinya seru mulai kerja lagi," sahut Nada.


"Oke, aku berangkat dulu, assalamu'alaikum," ucap Sophia.


"Wa'alaikumsallam," sahut Nada.


Sophia ke luar dari kamar itu. Sedangkan Nada masih merapikan hijabnya. Kemudian mengambil tas cangklong miliknya. Berjalan ke luar kamar. Menuruni tangga. Dia pamit pada Paman Harun dan Bibi Fatimah. Tak lupa pada Nesa putri sulungnya.


"Nesa, Bunda kerja dulu ya," ucap Nada.


"Iya Bunda, tapi nanti sore beliin Nesa permen strawberry ya," sahut Nesa terlihat gembira. Perceraiannya bersama Hanan tak menggoreskan luka di hati Nesa. Itu karena selama ini Hanan memang jarang di rumah, jadi Nesa sudah terbiasa tanpa ayahnya.


"Ya udah, nanti Bunda beliin," jawab Nada. Dia berdiri. Mengucapkan salam. Kemudian berjalan ke luar rumah. Mengendarai mobilnya ke luar dari rumah Keluarga Wijaksana.


Mobil Nada melaju di jalanan. Dia menyetir dengan santai. Sesekali melihat ke samping. Hari pertamanya bekerja. Dia tak ingin terlambat, tapi mobilnya tiba-tiba mogok. Nada lupa semenjak dia off mobilnya jarang dibawa ke bengkel dan lupa meminta orang di rumah untuk memanaskan mobilnya.


"Mobilnya mogok deh, padahal mau berangkat," keluh Nada. Dia ke luar dari mobilnya. Berjalan ke depan menuju body mobil bagian depan. Membuka body mobil bagian depan itu. Melihat dan memeriksanya tapi karena dia tidak tahu Nada membiarkannya. Berdiri di depan mobil.


"Aduh pakai mogok, seharusnya dari kemarin ku siapkan, malah galau terus," batin Nada. Dia berjalan ke depan jalan. Berdiri di tepinya mencari taksi. Tiba-tiba sebuah mobil BMW berhenti di depannya.


"Mobil siapa?" batin Nada. Dia melihat ke arah mobil BMW berwarna hitam itu. Penasaran.


Seseorang mengenakan setelan jas berwarna hitam turun dari mobilnya. Berjalan menghampirinya. Namun seketika saat melihat wajah orang itu, Nada buru-buru berbalik dan berjalan meninggalkannya.