
"Ezar memang punya tanda lahir di pundaknya. Apa benar anaknya Sora?" ujar Tuan Matteo. Dia membenarkan apa yang dikatakan Ibu Nita.
"Aku yakin benar, karena Sora sendiri meyakini itu," jawab Ibu Nita sambil tersenyum licik.
"Itu mudah dibuktikan, Sora bisa tes DNA, tapi maaf Sora tidak ada di sini," sahut Tuan Matteo.
"Tidak mungkin, pasti kau menyembunyikan Sora, agar Ezar tidak diambil olehnyakan?" tuduh Ibu Nita tanpa berpikir panjang. Dia hanya mengikuti emosinya yang menggebu-gebu.
"Silahkan cari sendiri! Sora tidak ada di sini," jawab Tuan Matteo. Percuma berdebat dengan wanita tua yang keras kepala. Dia akan tetap pada pendiriannya.
"Aku harus melihatnya sendiri!" Ibu Nita tak percaya sebelum melihatnya sendiri. Dia berjalan masuk ke dalam rumah besar itu. Berteriak-teriak memanggil Sora.
"Sora! Sora! Sora!" teriak Ibu Nita yang tak ada matinya.
"Ngapain teriak-teriak di rumahku?" pekik Ibu Marisa. Seperti mendapatkan lawan seimbang dalam pertandingan gulat. Mereka saling menatap tajam.
"Aku mencari anakku!" seru Ibu Nita. Tak takut dengan Ibu Marisa.
"Anakmu gak ada di sini!" pekik Ibu Marisa.
"Dasar nenek lampir, kau pasti penunggu Gunung Merapi," ujar Ibu Nita. Meledek Ibu Marisa.
"Berani sekali Nenek sihir menghinaku. Kau pasti penunggu Gunung Cicalobak, iyakan?" sahut Ibu Marisa tak mau kalah. Nenek lampir VS Nenek sihir mulai berperang. Mengadu kekuatan air, api, gempa, petir, topan, halilintar, es, dan solar udah kaya serial anak-anak.
"Bukan, kurang elit kalau Gunung Cicalobak, lebih tepatnya Gunung Lenca," jawab Ibu Nita.
"Ya elah Gunung Lenca, tinggal dikaredok jadi," jawab Ibu Marisa. Mudah mengalahkan lawannya kali ini.
"Enak aja, aku takkan kalah darimu Nenek lampir!" pekik Ibu Nita.
"Ayo adu jurus, segala goyangan aku bisa!" ujar Ibu Marisa. Menantang Ibu Nita.
"Ayo sayang, aku dukung! Pastikan menang membawa nama baik Keluarga Sebastian," seru Pak Ferdi. Bukan mendamaikan malah siap jadi tim supporter untuk Ibu Marisa.
"Iya Bu, aku juga dukung! Pasti goyangan Ibu lebih mematikan," ucap Claudya yang datang ikut mendukung Ibu Marisa. Sedangkan Tuan Matteo tidak ikut-ikutan. Angkat tangan.
"Curang, kau punya dua biji pendukung, aku gak ada," sahut Ibu Nita.
"Tenang, aku punya tim supporter untukmu," jawab Ibu Marisa.
Akhirnya mereka berdua pindah ke halaman siap-siap melawan satu sama lain. Ibu Marisa dengan tim supporter Pak Ferdi dan Claudya. Sedangkan Ibu Nita dengan tim suporter tukang kebun tua, yang suaranya juga sudah gak kuat untuk berteriak.
"Punya tim supporter juga udah kadaluarsa," keluh Ibu Nita. Merasa tim suporter-nya tak mempuni malah khawatir masuk UGD saat mereka terlalu banyak berteriak.
"Makanya dari rumah bawa dong tim supporter, jangan gratisan. Jatuhnya dapet sisaan," jawab Ibu Marisa.
Tuan Matteo hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan ibu-ibu tua ini yang akan mengikuti pertandingan tujuh belasan. Mereka sudah bergaya mengenakan baju olahraga kaya anak SMA. Eh beneran memang baju SMA milik Claudya dan Gavin. Yang kala itu masih gemuk.
"Siap sedia!" Tuan Matteo jadi wasit. Pertandingan keduanya. Mereka sudah siap mendorong gerobak kecil yang berisi beban masing-masing.
"Siap!" sahut Ibu Marisa dan Ibu Nita.
"Satu! Dua! Tiga!" Hitungan ketiga mereka berdua mulai mendorong gerobak kecil menuju lintasan. Sampai ke pita yang sudah terpasang sebagai tempat finish.
"Ayo sayang, lupakan berat badan. Fokus ke depan!" dukungan dari Pak Ferdi.
"Yah emang bebannya sama?" tanya Claudya.
"Eh iya, tadi Ayah lupa. Punya ibumu lebih berat soalnya beras," jawab Pak Ferdi. Dia salah menaruh karung beras. Bukannya karung tepung.
"Astaga, percuma dukung. Paling ibu kalah," jawab Claudya.
"Senjata makan tuan ya?" ujar Pak Ferdi.
Claudya hanya menggeleng. Gak yakin ibunya menang gara-gara kesalahan ayahnya.
Sementara itu kedua peserta asyik mendorong gerobak menuju tempat finish.
"Aduh kok berat banget dorongnya, karungnya isi apaan?" ucap Ibu Marisa. Tak disangka karung miliknya lebih berat dari yang dibayangkan.
"Aduh kok berat banget ya, isi apaan ini karung?" Ibu Nita juga mengeluh.
"Ayo! Ayo! Ayo!" teriakkan tim supporter terus berteriak menyemangati dua peserta yang pada encok. Belum lagi masalah osteoporosis.
"Yah emang karung Ibu Nita isi apaan?" tanya Claudya.
"Tukang kebun yang naruh, paling isi batu kerikil," jawab Pak Ferdi.
"Pantes, Ibu Nita tepar," jawab Claudya.
Sementara itu Ibu Marisa dan Ibu Nita tak sanggup lagi mendorong. Mereka sudah mengeluarkan segala jurus. Dari berbagai goyangan, senam aerobik hingga tarian daerah. Gerobak gak jalan juga.
"Lihat tuh mereka pada nari, apa lomba beralih ke desa Penari ya?" tanya Pak Ferdi.
"Itu beradu jurus Yah," jawab Claudya.
"Lah tim supporter Ibu Nita idup lagi, seger denger suara musik," sahut Pak Ferdi.
"Siapa yang nyalain musiknya?" tanya Claudya.
Pak Ferdi hanya menunjuk ke arah Tuan Matteo yang memegang radio sambil bergoyang p0c0- p0c0. Sedangkan Claudya menggeleng. Ternyata suaminya sama saja dengan para peserta yang kesetanan gara-gara sudah tak mampu mendorong gerobak.
Akhirnya tak ada yang menang. Kedua peserta tepar. Malah pijat-pijatan bergantian. Udah gak sanggup dorong gerobak. Yang dorong gerobak justru kedua tukang kebun tua.
"Pijetanmu enak juga, seminggu sekali datang ke sini aja, ku bayar sejuta tiap memijatku sampai puas," ujar Ibu Marisa yang dipijat Ibu Nita.
"Sejuta tiap mijat?" Ibu Nita terkejut dengan tawaran job yang fantastis. Selama ini mau dapet uang seratus ribu aja susah banget.
"Iyalah, gak cuma aku, ada Ibuku, menantuku dan anak perempuanku, kalau kau sanggup," ujar Ibu Marisa. Dia menawarkan pekerjaan untuk Ibu Nita.
"Mau, lumayan juga mijat empat orang sekaligus," sahut Ibu Nita. Membayangkan uang yang akan didapat olehnya.
Akhirnya mereka berdamai. Ibu Marisa mempersilahkan Ibu Nita mencari Sora di rumahnya. Dan pada kenyataannya tidak ada. Ibu Nita juga sempat bertemu Ezar yang ramah dan santun menyapanya.
"Nenek!" ucap Ezar yang lucu.
Ibu Nita merasa tak enak. Dulu sudah membuang cucunya demi mempertahankan nama baik keluarganya dan masa depan Sora yang ingin jadi pengacara.
Ibu Nita membelai wajah Ezar yang tampan meski masih kecil. Matanya berkaca-kaca melihat Ezar berbicara dengan pintar.
"Nenek!" ucap Arkan.
Ibu Nita terkejut melihat wajah Arfan yang mirip Ezar. Dia tak menyangka ada dua anak yang mirip.
"Ini?" ujar Ibu Nita.
"Itu Arkan, cucuku," jawab Ibu Marisa.
"Mirip Ezar," sahut Ibu Nita.
"Iya, kita semua juga beranggapan begitu," jawab Ibu Marisa. Bukan hanya Ibu Nita tapi semua orang yang melihat dua bocah itu akan mengira anak kembar.
"Apa mungkin Ezar memang berasal dari keluarga ini?" batin Ibu Nita. Dia merasa Ezar ada hubungannya dengan Keluarga Sebastian.
"Kalau Ezar memang cucumu, kau bisa bertemu dan bermain dengannya, asal kau tidak menyakitinya. Dia anak yang baik dan pintar seperti cucuku," ujar Ibu Marisa. Dia tahu betul Ezar seperti apa. Dari pertama diajak masuk ke rumah Keluarga Sebastian, Ezar memang anak yang baik, pintar dan lucu. Ibu Marisa menyayangi Ezar seperti cucunya sendiri.
Iya, aku tidak akan menyakiti Ezar, kalau dia memang cucuku," sahut Ibu Nita. Air mata jatuh di pipinya. Teringat saat membuang cucunya.
"Nenek jangan nangis." Ezar menyeka air mata yang jatuh di pipi Ibu Nita yang duduk di depan Ezar.
Ibu Nita hanya tersenyum. Melihat Ezar yang masih kecil tapi sudah bisa memahami situasi.
***
Sore itu Claudya duduk bersama Tuan Matteo di ranjang. Claudya tampak murung melihat Ezar yang asyik bermain dengan mainannya bersama Arkan. Melihat itu Tuan Matteo merangkulnya. Pasti ada yang sedang dipikirkan istrinya itu.
"Sayang kenapa?" tanya Tuan Matteo.
"Kalau Ezar memang anak Sora bagaimana?" jawab Claudya.
Tuan Matteo terdiam sesaat. Dia tahu perasaan istrinya. Sudah lima bulan ini Claudya mengasuh dan merawat Ezar, tentunya sudah seperti anaknya sendiri.
"Kita tetap harus memberi tahu Ezar siapa ibu kandungnya," sahut Tuan Matteo.
Claudya mengangguk.
"Gimana kalau Ezar memilih tinggal bersama ibu kandungnya?" tanya Claudya.
"Sayang, kita harus ikhlas. Selama inkan kita juga merawat Ezar dengan ikhlas sebagai titipan dari Allah, iyakan?" jawab Tuan Matteo.
Mata Claudya berkaca-kaca. Dia sudah menyayangi Ezar seperti anaknya sendiri. Tak pernah terbayangkan jika Ezar akan pergi meninggalkannya.
"Sabar ya sayang, kita masih bisa bertemu dengan Ezar, atau kalau ibunya mengizinkan, Ezar akan tetap bersama kita," ujar Tuan Matteo.
Claudya mengangguk. Dia berharap Ezar akan tetap bersamanya.