
Baca dulu bab sebelumnya baru ke bab ini
.
.
"Emily aku juga kangen," sahut Arfan sambil membalas pelukannya. Dia sadar Emily yang terbaik untuknya. Sudah cantik, seksi dan nempel terus kaya perangko.
Alex dan semua orang di ruang tamu semakin terkejut melihat Emily yang seenak jidat memeluk Arfan di depan semua orang.
Emily melepas pelukannya langsung mencium pipi Arfan.
Cup
Arfan terperanjat mendapatkan ciuman di pipinya.
"I Love You Arfan," ucap Emily. Tersenyum pada suaminya sambil memegang kedua tangannya.
"E- ..." Baru saja Arfan mau bicara Alex langsung bangun dan berkata," Siapa dia Arfan?" tanya Alex dengan suara keras. Melihat Arfan tak tahu malu bermesraan dengan Emily di depan semua orang.
"Sabar Mas, biarkan Arfan duduk dulu, kita bicara baik-baik ya Mas?" ucap Sophia. Dia berusaha menenangkan emosi suaminya yang berapi-api.
Alex mengangguk. Membuang nafas gusarnya.
"Arfan duduklah Nak!" pinta Sophia.
Arfan mengangguk. Dia dan Emily pun duduk di sofa bersama. Semua orang tampak tegang hanya Emily yang terlihat santai.
"Pa ..." Arfan bingung harus mengatakan apa. Kedua orangtuanya tidak tahu soal Emily. Apalagi soal pernikahan dadakan keduanya. Hanya ayah Emily yang datang menjadi wali nikah mereka.
"Hai semuanya, aku Emily Haseena. Istrinya Arfan Fahreza," ucap Emily memperkenalkan dirinya pada semua orang.
"Apa?" Alex dan yang lainnya terperanjat mendengar pernyataan Emily. Bagai disambar petir pernyataan Emily di luar dugaan mereka semua. Tadinya mereka berpikir Emily hanya teman Arfan yang kegenitan ternyata istrinya Arfan.
"Maaf semuanya, E-Emily memang istriku," tambah Arfan menjelaskan siapa Emily untuknya. Agar mereka tidak salahpaham lagi.
"Istrimu? Kau tidak salah bicara Arfan?" tanya Alex. Dia tidak percaya wanita cantik dan seksi itu istrinya Arfan. Padahal Alex sudah cocok dengan Annisa yang dianggapnya sholeha seperti Sophia. Bisa membawa Arfan menjadi pribadi yang lebih baik.
"Tidak Pa, Emily memang istriku, kami belum lama ini menikah," jawab Arfan dengan gugup. Dia tahu Alex tidak menyukai wanita yang membuka auratnya di depan umum. Apalagi sikap Emily yang tidak memiliki tata krama.
"Tidak mungkin, kenapa Papa dan Mama tidak mengetahui hal ini?" tanya Alex. Dia merasa Arfan berbohong. Kalau benar dia sudah menikah, kenapa Alex dan Sophia tidak mengetahui pernikahan keduanya. Padahal pernikahan itu penting, keluarga tentunya menjadi orang pertama yang seharusnya mengetahui dan memberi doa restu untuk pernikahan mereka.
"Mas sabar, biarkan Arfan menjelaskan dulu," kata Sophia sambil memegang lengan Alex. Agar dia lebih tenang dan memberi kesempatan untuk Arfan menjelaskan semuanya.
Alex menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Dia berusaha tenang atas semua hal yang terjadi.
Emily hanya diam menempel pada Arfan. Namun tangan Arfan terus memegang tangan kanannya. Emily senang suaminya memberi respon positif padanya. Dia tidak lagi sendirian yang genit padanya.
"Astagfirullah, bagaimana ink Pak Alex? Seharusnya anda tahu betul status anak anda. Bukannya menjodohkan Arfan pada Annisa. Kami merasa sangat kecewa padahal sudah berharap banyak," ujar Ustad Fikri. Dia kecewa karena ternyata Arfan sudah memiliki istri. Padahal dia dan keluarganya sudah sreg dengan Arfan dan keluarganya.
"Iya Pak Alex. Putri kami sudah terlanjur senang akan ta'aruf dengan Arfan. Kalau tahu begini kami tidak akan ke sini," tambah Umi Hawa. Dia ikut kecewa. Sejak lama Annisa menyukai Arfan bahkan sering berkomunikasi dengannya via chat dan video call. Ternyata Annisa dibohongi dan beri harapan palsu.
"Maaf Pak Ustad, Umi Hawa, kami selaku orangtua memang tidak mengetahui adanya pernikahan ini," sahut Alex. Dia merasa tidak enak hati pada Ustad Fikri dan Umi Hawa. Mereka sudah sepakat menjodohkan Arfan dan Annisa. Tapi justru kenyataan pahit ini yang terjadi.
"Om, aku pikir Arfan memang jodoh Annisa. Sampai setiap hari aku menolak banyak orang demi Arfan. Tapi aku justru mendapatkan ini. Annisa kecewa Om," ujar Annisa. Dia sangat kecewa dan patah hati. Udah berharap bersanding dengan Arfan di pelaminan justru malah sudah menikahi orang. Padahal Annisa gak laku-laku karena tubuhnya yang gemuk, membuat semua lelaki yang dulu mengejar-ngejarnya pada kabur. Harapan terakhirnya adalah Arfan. Eh gak tahunya Arfan sudah memiliki istri.
"Maafkan aku Annisa. Semua ini salahku. Bukan salah kedua orang tuaku," sahut Arfan. Dialah yang bersalah dalam hal ini. Tidak memberi tahu orangtuanya tentang pernikahan dadakan itu.
"Kau memang bersalah Arfan, memberiku harapan palsu. Padahal kau bilang aku wanita yang terbaik untukmu. Mana? Kau malah menikah dengan wanita itu," balas Annisa yang kecewa. Mimpinya menikah dengan Arfan pupus sudah. Arfan sudah memiliki istri yang cantik dan seksi. Berbeda jauh darinya.
"Maafkan aku Annisa," sahut Arfan. Dia menundukkan kepalanya.
"Ustad Fikri, Umi Hawa, dan Annisa, kami minta maaf atas kesalahan kami selaku orangtua dan anak kami Arfan. Untuk perjodohan ini mungkin dibatalkan. Semoga Annisa mendapatkan jodoh yang terbaik," ujar Sophia. Dia harus mengakhiri suasana menegangkan itu.
"Ma!" ucap Alex pada keputusan Sophia.
"Pa, anak kita sudah menikah. Tidak mungkin perjodohan ini dilanjutkan," sahut Sophia. Tidak mungkin menjodohkan Arfan dengan Annisa jika Arfan sudah menikahi Emily. Sophia tidak ingin membuat masalah semakin rumit.
"Pak Alex, Ibu Sophia, saya dan keluarga sangat kecewa!" tegas Ustad Fikri. Tatapan matanya dingin. Dia sangat kecewa dengan pembatalan perjodohan itu.
"Maafkan kami Ustad Fikri," ucap Sophia.
"Ustad Fikri ini hanya salahfaham. Kita bisa bicarakan ini baik-baik dan perjodohan mereka masih bisa ditunda," sahut Alex yang masih kekeh ingin Arfan menikahi wanita sholeha. Bukannya wanita yang seperti Emily.
"Umi, Annisa, ayo kita pulang!" ajak Ustad Fikri pada istri dan anaknya.
Umi Hawa dan Annisa mengangguk.
"Ustad Fikri tunggu dulu!" pinta Alex. Dia tidak ingin semua berakhir dengan kekecewaan Ustad Fikri dan keluarganya.
"Assalamu'alaikum," ucap Ustad Fikri dengan wajah dingin penuh kekecewaan. Dia bangun berjalan meninggalkan tempat itu bersama keluarganya.
"Wa'alaikumsallam," sahut Sophia, Arfan dan Emily sambil tersenyum. Akhirnya suaminya tidak jadi dijodohkan dengan Annisa.
"Ustad Fikri tunggu!" Alex memanggil Ustad Fikri yang terlanjut kecewa. Meninggalkan tempat itu. Alex merasa bersalah Ustad Fikri dan keluarganya.
"Sudahlah Pa, mungkin semua ini takdir dari Allah SWT, jodoh Arfan ya Emily," ucap Sophia. Dia ingin suaminya menerima takdir yang sudah tertulis.
"Tidak bisa. Papa tidak setuju Arfan dengan Emily. Lihat Ma! Seperti ini menantu kita? Auratnya terbuka, gak punya tata krama," jawab Alex. Dia tidak setuju Arfan dengan Emily. Alex ingin Arfan memiliki istri seperti Sophia.