
Dokter Leon naik ke atas. Kembali mengejar pencopet cantik itu. Tak peduli kotor atau celana sobek lagi. Dia harus menangkap wanita itu.
"Ke mana dia pergi. Aku harus menangkapnya," ujar Dokter Leon. Kali ini dia begitu bersemangat berperang. Seperti berada di medan perang. Maju terus sudah terlanjur basah.
Dokter Leon masuk ke gang kecil. Hanya muat dua motor. Dia melihat ada wanita duduk di bawah. Terlihat sakit dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Dia menutup wajahnya dengan masker. Dan memegang piring di tangannya.
"Bagi uangnya Bang, saya lapar. Sudah tiga kali puasa tiga kali lebaran suami saya tak pulang."
"Kasihan juga. Tapi dompetku hilang. Ada jam sih," batin Dokter Leon tak tega. Dia kasihan dengan wanita itu. Dengan suka rela melepas jam di tangannya. Memberikannya pada wanita itu dengan meletakkannya di piringnya.
"Aku hanya punya itu," ujar Dokter Leon.
"Asli atau kw Bang? Ada surat-suratnya gak?"
Dokter Leon terperanjat. Masa pengemis nanyain jam tangannya kw atau asli? Mana nanyain surat-suratnya segala.
"Sultan banget ngemis," batin Dokter Leon.
"Asli," jawab Dokter Leon.
"Beli di mana Amerika atau Inggris?"
Dokter Leon semakin terkejut lagi dengan ucapan wanita itu. Dia gaul banget sampai nanya jam itu berasal dari negara mana.
"Ada. Yang jelas dari luar negeri," jawab Dokter Leon.
"Cukup gak buat makan setahun? Biar gak usah ngemis dulu. Mau liburan ke Padokia."
Gubrak
Dokter Leon terperanjat. Gaul banget ini pengemis sampai mau ke Padokia. Padahal buat makan aja susah.
"Kau mau ke Padokia?" tanya Dokter Leon.
"Iya, makasih ya jam tangannya." Wanita itu berdiri. Memberikan selimut dan piring pada Dokter Leon.
"Makasih, muah!" Wanita itu membuka maskernya. Ternyata pencopet cantiknya yang tadi mengambil dompetnya.
"Kau!" Dokter Leon terperanjat.
"Bye, sering-sering bagi rejekinya." Pencopet cantik itu mengedipkan matanya. Kemudian berlari meninggalkan Dokter Leon.
"Hei! Kau!" seru Dokter Leon. Melihat pencopet cantik itu berlari meninggalkannya.
"Oh kau ya yang mencuri selimut dan piringku." Seorang ibu-ibu gendut menghampiri Dokter Leon. Dia berdiri di depan sang Dokter, mengambil selimut dan piring di tangannya. Tak lupa menampar Dokter Leon.
Plaaak ...
"Ganteng-ganteng kok nyolong." Ibu-ibu gendut itu meninggalkan Dokter Leon setelah menamparnya.
Dokter Leon memegang pipinya. Tamparan ibu-ibu gendut itu cukup menyakitkan.
"Dompet hilang, jam tangan melayang, berhadiah tamparan," keluh Dokter Leon.
"Lihat saja! Kalau sampai aku melihatmu lagi, akan ku cium bibirmu sepuasnya!" ancam Dokter Leon kesal. Dia tak menyangka bertemu pencopet cantik yang menyebalkan.
***
Pencopet cantik itu masuk ke sebuah warkop. Dia duduk. Tangannya mengambil roti yang ada di depannya. Dengan santai dia memakan roti itu. Beberapa lelaki melihat ke arahnya yang hanya menggunakan celana levis dan tangtop. Jaketnya diikatkan ke pinggangnya.
"Kenapa?" seru pencopet itu menatap tajam semua lelaki di warkop itu. Semua lelaki itu hanya menunduk. Mereka takut pada pencopet cantik itu. Mereka sudah kenyang kena bogem mentahnya.
"Gak pesen kopi Erisa?" tanya pemilik warkop itu.
"Susu jahe aja Bi," jawabnya. Kakinya naik ke atas kursi. Dia makan seperti laki-laki. Begitu lahap menyantap rotinya.
"Siap!"
Pemilik warkop itu segera membuatkan Erisa susu jahe untuk gadis cantik dan seksi itu, dia meletakkannya di atas meja.
"Belum Bi, nyopet mah udah. Gak tahu isinya berapa," jawabnya.
"Masih nyopet?" Pemilik warkop itu tahu persis seperti apa Erisa.
"Sampingan, kalau gak, aku gak sanggup bayar biaya rumah sakit Bi," jawabnya. Wajahnya berubah sedikit sendu mengatakan hal itu.
"Kalau Bibi udah ikhlasin aja, dari pada bayar terus dari mana coba?"
Erisa membuang nafas gusarnya. Seandainya bisa mungkin dia akan melakukannya tapi dia tidak bisa melakukan itu.
"Doain aja rejekiku lancar terus Bi," ujarnya.
"Hmm ..., gimana mau doainnya kalau nyopet?" Pemilik warkop itu bingung. Propesi Erisakan mencopet. Mana mungkin dia mendoakan hasil copetannya melimpah.
Erisa tertawa terbahak-bahak. Lucu mendengarkan ucapan pemilik warkop itu.
"Sekarang tinggal di mana Erisa?"
"Di mana aja, kemarin di masjid Bi," jawabnya. Erisa sudah biasa tinggal di mana saja. Mau di pos ronda, pos sekuriti, gajebo, gubuk sawah dan lain-lain.
"Kenapa gak jadi simpanan Om-om aja biar dapat apartemen, belum lagi transferan gelap."
"Gak doyan Om-om," jawabnya. Erisa tidak suka lelaki tua yang suka jalan dengan wanita muda. Apalagi wajahnya pas-pasan.
"Kalau gitu jadi pelakor aja, biar dapet suami orang yang muda dan kaya."
Erisa hanya tertawa. Tak hanya sekali, pemilik warkop itu selalu membujuknya berkali-kali agar hidupnya jauh lebih baik.
"Aku gak suka banyak drama Bi." Erisa bukan wanita yang suka terlibat drama menyedihkan antara istri dan sang pelakor, apalagi lelaki peselingkuh.
"Kalau gitu nyari anak SMA atau anak kuliahan yang sultan."
"Aku gak suka bocah tengil, kebanyakan ngatur," jawabnya. Pacaran dengan anak SMA ataupun anak kuliahan hanya akan membatasi hidupnya yang bebas.
"Kalau gitu gimana kalau nyari suami yang kaya?"
"Siapa yang mau nikahi pencopet sepertiku?" Erisa merasa mana mungkin ada lelaki kaya yang mau dengan gadis sepertinya apalagi dia hanya lulusan SMA.
"Banyak. Body bohay gitu idaman cowok masa kini."
"Gak ah Bi. Lagian aku belum mengembalikan uang-uang yang ku copet," jawabnya.
"Kau mau mengembalikan uang yang kau copet?"
"Iya, biar nanti saat aku tobat gak kebanyakan dosa," jawabnya.
Pemilik warkop itu tertawa. Dia tahu Erisa terpaksa mencopet. Makanya pemilik warkop itu senang mengobrol dengannya.
***
Dokter Leon berjalan di tepi jalan. Dia sudah tak punya uang lagi. Dompetnya diambil pencopet cantik tadi. Dia mengacak rambutnya dengan tangan kanan. Melepas kaca matanya yang pecah.
"Rugi banyak, wanita itu harus ganti rugi," keluh Dokter Leon.
Ketika Dokter Leon sedang berjalan, dia melihat Aiko sedang menyeberangkan seorang nenek ke tepi jalan. Bergegas Dokter Leon menghampirinya.
"Aiko!" panggil Dokter Leon sambil melambaikan tangan ke arah Aiko dan tersenyum padanya.
"Dokter Leon," sahut Aiko. Dia bergegas menghampiri Dokter Leon. Mereka berdua bertemu di satu titik.
"Wah cantik banget udah berhijab," puji Dokter Leon. Melihat penampilan Aiko yang sudah berhijab. Wajahnya tambah bersinar dan anggun.
"Makasih Dok," jawab Aiko. Dia senang mendapatkan pujian dari Dokter Leon. Lelaki yang selalu terlihat cool saat di rumah sakit.
"Dok kok penampilannya agak beda?" tanya Aiko melihat Dokter Leon acak-acakan. Tak hanya itu bau dan kotor. Untung saja Aiko sudah mengenakan parfum yang cukup banyak di gamisnya jadi tidak menyengat.
Dokter Leon hanya tersenyum. Teringat apa yang dari tadi terjadi padanya.