Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Siap Menerimanya



Alex dan Sophia duduk di sofa sedangkan Arfan dan anak kecil itu mainan buku yang diberikan pemilik panti asuhan itu. Mereka terlihat akur dan bermain bersama layaknya anak kecil yang ngoceh sesuka hati.


Sophia dan Alex menceritakan apa yang mereka ingin tahu dari anak kecil yang usianya diperkirakan tak jauh berbeda dari Arfan. Mungkin mereka hanya berbeda beberapa bulan.


"Nama anak ini Ezar Fauzan, satu tahun yang lalu dinas sosial membawanya ke sini. Katanya Ezar ditemukan di tempat sampah."


"Astagfirullah," ucap Alex dan Sophia. Mereka tak menyangka anak yang belum memiliki dosa dibuang oleh orangtuanya di tempat sampah.


"Jadi pihak dinas sosial tidak tahu siapa orangtua Ezar?" tanya Alex.


"Tidak, makanya Ezar dibawa ke sini."


Alex dan Sophia langsung melihat ke arah Ezar. Mereka kasihan padanya. Seakan melihat Arfan jika di posisi Ezar.


"Bu, saya ingin membawa Ezar pulang ke rumah untuk beberapa hari, apa boleh?" tanya Sophia.


"Sayang," ucap Alex menoleh ke arah Sophia sambil memegang tangannya.


Sophia hanya tersenyum pada suaminya. Kemudian beralih menatap pengurus panti.


"Boleh, Nak Sophia, andakan pemilik panti ini."


"Terimakasih," sahut Sophia. Dia senang pengurus panti sosial itu sudah mengizinkannya membawa Ezar pulang ke rumahnya.


Sophia dan Alex ke luar dari ruangan panti sosial itu. Mereka berjalan di lorong panti sosial itu. Sophia menggendong Ezar dan Alex menggendong Arfan.


"Sayang, kenapa kau ingin mengajak Ezar pulang ke rumah?" tanya Alex.


"Entahlah Mas, tapi aku ...," jawab Sophia ragu.


"Kau berpikir mungkin saja Ezar anakku?" tanya Alex.


Sophia terdiam. Alex tahu masa lalunya yang sudah tidur dengan banyak wanita mungkin saja secara tak sengaja benihnya tertinggal pada salah satu wanita yang sudah ditidurinya.


"Kita duduk di sana dulu sayang!" ajak Alex duduk di taman.


"Iya Mas," jawab Sophia.


Mereka berdua duduk di taman. Melihat Arfan dan Ezar bermain rumput dan berlari-lari kejar-kejaran.


"Sayang apa kau marah?" tanya Alex. Dia takut Sophia akan marah. Pasti semua ini karena masa lalunya yang seorang casanova.


Sophia tersenyum. Memegang kedua pipi Alex.


"Saat aku memutuskan melamarmu, saat itu juga aku menerima semua konsekuensi yang akan datang di kemudian hari," jawab Sophia. Menatap wajah tampan suaminya.


Alex memegang tangan Sophia. Mencium tangannya.


"Sophia, bagaimana aku bisa berpaling darimu jika kau terlalu baik untukku," sahut Alex.


Sophia tersenyum. Dia mencintai Alex apa adanya. Baik dan buruknya sudah diterimanya dengan lapang dada.


Alex mendekati wajah Sophia hendak mencium bibir merah delima itu.


"Papa! Mama!" panggil Arfan yang berdiri di depan Sophia dan Alex.


Seketika Alex dan Sophia terkejut. Alex menghentikan keinginannya mencium bibir merah delima itu. Mereka berdua langsung menoleh ke arah Arfan.


"Iya Dede Arfan," jawab Sophia dan Alex.


Arfan langsung tersenyum pada keduanya.


"Ezar sini!" pinta Sophia pada anak kecil yang mirip Arfan. Dia berdiri di dekat pohon. Melihat ke arah mereka bertiga.


"Sini Nak!" ajak Sophia.


Ezar berjalan perlahan. Menghampiri mereka bertiga. Setelah dekat Sophia mengangkat Ezar di pangkuannya. Begitupun dengan Alex yang mengangkat Arfan di pangkuannya.


"Sayang kalau ternyata Ezar anakku, apa kau akan menerimanya?" tanya Alex.


"Kenapa tidak Mas? Kalau memang Ezar anakmu, dia berhak mendapat pengakuanmu, justru aku akan marah jika Mas tidak mau mengakui Ezar," jawab Sophia.


"Terimakasih sayang, kau memang bidadariku," sahut Alex. Kemudian merangkul Sophia. Mereka berempat menikmati pemandangan yang ada di depannya. Menikah dengan seorang Alex Sebastian memang harus memiliki kesabaran dan kekuatan yang lebih. Masa lalunya mungkin akan datang dan menghantui di masa yang akan datang.


***


Sophia dan Alex membawa pulang Ezar bersama mereka ke rumah Keluarga Sebastian. Arfan dan Ezar berjalan duluan masuk ke dalam rumah. Sedangkan Sophia dan Alex berjalan di belakang mereka sambil membawa tas berisi perlengkapan dan barang-barang Arfan dan Ezar.


Ezar berjalan lebih dulu dari Arfan. Dia senang sekali masuk ke dalam rumah Keluarga Sebastian. Tempatnya luas dan mewah. Ezar merasa melihat sesuatu yang baru dan lebih luas dari pada main di panti asuhan. Ezar berlari sambil tertawa dan mengoceh. Tiba-tiba Ezar bertubrukan dengan Claudya.


"Arfan, Tante kangen dari pagi kau pergi ya," ujar Claudya sambil memegang kedua lengan Arfan. Menatap wajahnya.


"Tante!" panggil Ezar.


"Eh, tapi kok Arfan agak beda ya mukanya," ujar Claudya yang baru menyadari anak kecil itu memiliki perbedaan di rambut dan bentuk wajahnya.


"Wa'alaikumsallam," sahut Claudya. Menatap Alex dan Sophia yang datang bersama Arfan yang berjalan di depannya.


"Arfan!" Claudya terkejut melihat Arfan baru datang bersama Alex dan Sophia. Dia melihat dua Arfan dalam waktu bersamaan.


"Tante!" Arfan berlari ke arah Claudya. Langsung memeluknya seperti biasa kalau baru bertemu Claudya.


"Arfan! Arfan!" Claudya bingung melihat dua Arfan. Satu Arfan yang memeluknya dan satu Arfan yang berdiri di depannya.


"Nah loh bingungkan yang mana ponakannya?" ujar Alex.


"Iya Kak, anak lo yang mana?" sahut Claudya.


"Masa emak yang ngasuh dari bayi kagak tahu," sanggah Alex.


"Ini Arfan, ponakan Tante iyakan," ujar Claudya mengangkat Arfan. Menggendongnya.


"Tante Auia," kata Arfan yang bicaranya masih belum lancar.


"Lucunya ponakan Tante," ujar Claudya gemas melihat Arfan.


"Tante!" Ezar memanggil Claudya.


Mendengar Ezar memanggilnya, Claudya menurunkan Arfan. Dia membukakan tangannya agar Ezar datang padanya.


"Sini!" ucap Claudya.


Perlahan Ezar berjalan menghampiri Claudya. Kemudian memeluknya.


"Kau lucu juga kaya Arfan," ujar Claudya memeluk Ezar.


Sophia dan Alex tersenyum melihat Claudya memeluk Ezar. Begitupun Arfan.


"Kak yuk duduk! Biar ku buatkan teh anget," ujar Claudya mengajak duduk santai di ruang keluarga.


"Sip! Gitu dong, baru adik kakak," sahut Alex.


"Kali ini aja aku baik padamu Kak," ujar Claudya.


"Udah ketebak, mana mungkin kau baik padaku," sahut Alex.


Sophia dan Claudya tersenyum.


"Ya udah, kakak ke sana dulu," kata Sophia.


"Iya Kak," jawab Claudya.


Alex dan Sophia masuk ke ruang keluarga bersama Arfan dan Ezar. Di dalam ada Gavin, Pak Ferdi dan Ibu Marisa.


"Astagfirullah, Kak, lo foto copy Arfan jadi dua?" tanya Gavin terkejut melihat ada dua Arfan.


"Eh iya, Lex itu bukan tuyulkan?" tanya Ibu Marisa.


"Jangan bilang mata Ayah rabun gara-gara gula darah naik ke mata," ujar Pak Ferdi.


Mereka bertiga tercengang melihat Arfan double.


"Tenang semuanya ini Arfan ku gandakan biar gak pada rebutan," jawab Alex.


"Yang bener bisa digandakan, kalau gitu gue mau gandain Maria jadi dua, bisa?" tanya Gavin. Jika satu Maria mantep apalagi dua Maria, mantap luar dalam. Servis full color.


"Bisa, bisa disunat sama Mak Ros sampai habis mau?" tanya Alex.


"Iya Kak biarin Kak Gavin disunat sampai habis, maunya dua. Dasar cowok gatel," tambah Claudya yang membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat.


"Ayah gak ikut-ikutan," sahut Pak Ferdi. Mencari aman takut Ibu Marisa marah.


"Padahal baru aja mau bilang minta gandain istriku juga," batin Pak Ferdi. Untung gak jadi ngomong kalau gak disunat juga..


Alex dan Sophia duduk di sofa. Begitupun Claudya. Sedangkan Arfan dan Ezar bermain di sekitar ruang keluarga.


"Lex, mirip sama Arfan ya," ujar Ibu Marisa.


"Jangan-jangan ...," kata Pak Ferdi ragu mengatakannya. Dia tak enak dengan Sophia. Pak Ferdi tahu betul siapa Alex di masa lalu.


"Anak lo sama cewek lain Kak," celetuk Gavin tanpa dipikir panjang. Claudya langsung kesal. Menginjak kaki Gavin yang duduk di sampingnya.


"Aw ..., sakit Claudya, kakiku," keluh Gavin.


"Makanya kalau ngomong dijaga Kak," bisik Claudya sambil melotot ke arah Gavin.


"Astaga, untung bukan biniku, kok bisa Tuan Matteo beristrikan singa liar ini," batin Gavin. Tak habis pikir adiknya yang bak singa buas dinikahi Tuan Matteo yang penyayang. Apakah saat berdua Tuan Matteo seperti tikus kecil yang terjepit dan tersudutkan? Otak Gavin traveling ke mana-mana. Membayangkan dongeng sikancil dan buaya.