Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Ayo Pulang



Luki memandangi wajah Claudya. Wajah itu manis dan cantik bagai putri tidur. Bibir pink-nya seksi. Hidungnya mancung. Alisnya tebal.


"Kenapa aku jadi tertarik melihatnya?" batin Luki.


Tangan kirinya hendak menyentuh wajah Claudya. Tapi si cantik itu terdengar mulet. Luki langsung pura-pura tidur.


Perlahan Claudya membuka matanya. Rasanya hangat padahal tadi malam dingin. Ketika matanya terbuka lebar. Dia baru ngeh kalau dirinya memeluk Luki.


"Astagfirullah, kenapa aku malah bermesraan sama penculiku?" ujar Claudya. Secepatnya Claudya melepas pelukannya dan menjauh dari tubuh Luki.


"Aku masih perawankan? Gak akan hamilkan kalau cuma pelukan?" ujar Claudya saking ketakutan.


"Kok bisa aku enak-enak memeluk Luki, diakan jahat, dimimpi aja kaya monster, ini malah dempetan kembar siam, iiih," ujar Claudya. Bulu kuduk Claudya naik. Merinding saat ingat memeluk Luki semalaman. Claudya langsung mengecek bajunya termasuk badannya. Membelakangi Luki. Memastikan aman. Masih disegel.


"Kau sedang apa?" tanya Luki.


"Hei, jangan ngintip!" ancam Claudya.


"Gak doyan, aku tahu dadamu besar, semalam aku tak sengaja pegang, lumayan empuk," ujar Luki.


"Apa? Kau memegang dadaku? Luki!" teriak Claudya.


"Sudahlah, jangan emosi, namanya juga gak sengaja, kau sendiri ngapain tidur meluk aku?" tanya Luki.


"Dia pake inget lagi, memalukan," batin Claudya.


"Aku takut semalam, mimpi melawan monster jahat, gak tahu kalau ternyata semalam aku mukulin kamu," ucap Claudya.


"Wah parah, pantes badanku sakit semua pas bangun, ternyata semalam kau memukulku?" ujar Luki.


Claudya tertawa kecil. Paling tidak sudah membalas Luki saat tidur.


"Buruan rapikan bajumu, ikut aku!" titah Luki.


"Ke mana?" tanya Claudya.


"Ke neraka," jawab Luki.


"Kau jahat!" pekik Claudya. Dia merapikan bajunya. Baru mau berdiri tangannya sudah dipegang Luki. Claudya terkejut. Ekspresi wajah Luki kembali dingin.


"Ikut aku!" bentak Luki.


"Kau jahat Luki, lepaskan aku!" titah Claudya.


"Aku takkan melepaskan dirimu, kau harus mati!" ujar Luki.


"Jahat!" pekik Claudya.


Luki menarik tangan Claudya. Berjalan menelusuri hutan lagi. Claudya berusaha melawan. Luki malah mengeluarkan batu runcing yang semalam didapatnya.


"Melawan, berarti mati sekarang," ucap Luki.


"Luki tidak bisakah kita berdamai?" tanya Claudya.


Luki hanya diam. Terus menarik tangan Claudya. Mencengkram tangannya begitu kuat. Claudya hanya bisa mengikuti Luki sampai ke sebuah air terjun. Mereka berada di atas air terjun.


"Luki kau mau apa?" tanya Claudya berusaha melepas tangan Luki. Namun cengkraman itu begitu kuat.


Luki melihat ke bawah air terjun. Lumayan tinggi. Di bawahnya terlihat dalam dan arusnya deras. Cocok untuk melenyapkan seseorang. Tersenyum licik.


Luki menarik Claudya ke depannya. Memegang kedua lengannya.


"Luki jangan gila? Kau ingin membunuhku?" tanya Claudya.


"Memangnya apa lagi? Kau harus mati Claudya," ucap Luki.


"Kenapa kau jahat, kita bisa jadi teman yang baik," ucap Claudya.


"Kau sudah merebut Tuan Matteoku," ujar Luki.


"Luki lelaki seharusnya mencintai perempuan," sahut Claudya.


Luki marah mencengkram lengan Claudya.


"Kau beraninya mengatakan itu!" ujar Luki.


"Luki sakit," ucap Claudya.


Luki melonggarkan cengkramannya.


"Aku tidak bisa berenang, ku mohon jangan lakukan ini," pinta Claudya.


Luki tersenyum licik. Dia mendorong Claudya. Hingga terjatuh ke bawah air terjun.


Byuuur ...


"Luki ... Luki ... Luki ... aku ... tidak ... bisa ... berenang," teriak Claudya sambil naik turun dari dalam air.


Luki hanya terdiam menyaksikan Claudya kesulitan di dalam air. Lalu berjalan meninggalkannya beberapa langkah.


Entah kenapa hatinya seakan terpaut. Langkahnya berat. Dia merasa ada sesuatu yang tak bisa ditinggalkan. Bayang-bayang kesehariannya bersama Claudya terlintas dibenaknya. Tergambar jelas, bahkan senyumannya.


Luki berbalik. Berlari. Menceburkan diri ke dalam air terjun.


Byuuur ...


"Claudya!" teriak Luki. Mencari keberadaan Claudya. Dia melihat ke sana sini. Mencari keberadaan gadis cantik itu.


Luki menyelam ke dalam air terjun. Tak ada. Dia kembali ke permukaan air. Mencarinya. Berenang ke sana ke mari. Ternyata Claudya terbawa arus.


"Luki!" teriak Claudya pelan. Tak mampu bertahan lagi.


Luki langsung berenang ke arahnya. Claudya mulai tenggelam. Luki secepat mungkin berenang ke arahnya. Meraih tubuhnya yang sudah lemas. Claudya sudah tak sadarkan diri. Luki menangkap tubuhnya. Membawanya menepi. Menuju tepi air terjun.


Luki membaringkan Claudya. Berusaha mengeluarkan air yang masuk ke perutnya. Dia menekan-nekan perutnya berkali-kali. Sedikit demi sedikit air ke luar dari mulutnya.


"Claudya ... Claudya ... bangunlah! Maafkan aku," ucap Luki.


Claudya masih tak sadarkan diri padahal semua air sudah ke luar. Luki meraih tubuhnya. Memangkunya. Dia menepuk pipinya. Rambut Claudya tergerai. Hijabnya terbawa air tadi.


"Claudya ... bangunlah! Maafkan aku," ujar Luki sambil menepuk pipinya..


Karena Claudya belum sadar juga. Luki berpikir memberinya nafas buatan. Dia mendekatkan bibirnya ke bibir pink itu. Memberi nafas buatan.


"Claudya ....," suara Luki pelan memanggil Claudya. Dia mengkhawatirkannya. Menepuk pipinya perlahan.


Mata Claudya terbuka perlahan. Menatap Luki di depannya.


"Luki!" panggil Claudya pelan.


Melihat Claudya sadar, Luki langsung memeluknya.


"Maafkan aku ... maafkan aku ...," ucap Luki.


Claudya mengangguk tak bertenaga. Tubuhnya lemas.


"Luki aku sulit bernafas," ucap Claudya.


Luki melepas pelukannya. Tersenyum melihat Claudya sudah sadar.


"Hijabku?" Tangan Claudya memegang rambutnya.


"Tadi terbawa air," sahut Luki.


"Aku harus mengenakan hijab," ujar Claudya.


"Baik," sahut Luki. Dia menyandarkan Claudya ke bebatuan besar di dekat mereka. Luki melepas bajunya. Merobek baju itu sampai membentuk segi empat. Dia memberikan robekan bajunya pada Claudya.


"Mau ku pakaikan?" tanya Luki. Dia tahu Claudya masih lemas.


Claudya yang masih tak berdaya mengangguk.


Perlahan Luki mengenalan robekan bajunya ke kepala Claudya. Menutup rambutnya dengan robekan bajunya.


"Nah selesai, kau cantik sekarang," ucap Luki menatap Claudya.


Claudya hanya tersenyum. Tapi mukanya pucat. Tubuhnya kedinginan.


"Kita harus membuat api unggun, kau kedinginan," ujar Luki.


Claudya hanya mengangguk.


Luki membelakangi Claudya. Menyuruhnya naik ke punggungnya.


"Luki punggungmu kenapa?" tanya Claudya. Banyak bekas cambukan di punggung Luki. Bahkan memenuhi seluruh bagian punggungnya. Meskipun bekas cambukan itu terlihat sudah lama sekali. Tapi bekas hitam-hitam kecoklatannya masih terlihat.


"Naiklah!" titah Luki.


Claudya tak bertanya lebih jauh. Dia juga belum punya tenaga. Tubuhnya tak mampu berdiri. Lemas dan kedinginan. Dia naik ke punggung Luki.


Perlahan Luki berjalan sambil menggendong Claudya. Gadis cantik itu lemas, menyandarkan kepalanya di bahu Luki. Lama-kelamaan tertidur.


Luki berjalan memasuki hutan kembali. Dia tersenyum. Setidaknya Claudya selamat. Entah kenapa dia begitu senang saat Claudya ada digendongannya. Apalagi saat gadis cantik itu bersandar di bahunya.


"Kenapa aku sesenang ini?" batin Luki.


Langkah kaki Luki berjalan ke tempatnya semalam beristirahat. Dia membaringkan Claudya di tumpukan daun kering biar hangat. Menyalakan api unggun kembali. Mengambil tubuh Claudya. Mendudukkannya di depannya. Menyandarkan di dadanya sambil menghangatkan tubuh di depan api unggun.


Tak lama Claudya terbangun. Tubuhnya terasa hangat. Tak kedinginan lagi. Dia juga merasa sudah baikan. Claudya menengok ke belakang.


"Luki," ucap Claudya.


"Kau sudah bangun?" tanya Luki.


Claudya mengangguk.


"Ayo pulang!" ajak Luki.