
"Sophia angkat telpon dulu ya Kek," ucap Sophia. Dia meminta izin untuk mengangkat telpon dari orang kepercayaan Alex.
Kakek David mengangguk.
"Hati-hati Sophia," ucap Ibu Marisa yang meminta Sophia agar pelan-pelan ketika hendak berdiri karena perutnya sudah besar.
"Iya Bu," jawab Sophia. Ibu Marisa memang sangat perhatian dan sayang pada Sophia meskipun dulu dia sangat membencinya. Kebaikan dan ketulusan Sophia meluluhkan hatinya. Begitupun pada yang lainnya. Sophia memang mutiara yang berharga untuk Keluarga Sebastian.
Sophia bangun. Berjalan ke sudut ruangan. Dia mengangkat telpon dari orang kepercayaan Alex.
"Assalamu'alaikum," sapa Sophia.
"Wa'alaikumsallam."
"Rudi ada apa ya menelpon?" tanya Sophia. Dia ingin tahu kenapa orang kepercayaan Alex menelponnya. Tak bisanya Rudi menelponnya. Bahkan ini kali pertamanya dia menelpon Sophia. Biasanya Rudi hanya chat itupun kalau dia menanyakan Bosnya untuk urusan bisnis.
"Bos Alex hilang." Rudi tak tega menyampaikan kabar itu. Apalagi Sophia sedang hamil tua. Tapi ini tetap harus disampaikan pada keluarganya.
Deg
Sophia terkejut mendengar kabar dari orang kepercayaan Alex. Seperti disambar petir di siang hari. Air mata tanpa disadari menetes di pipi Sophia. Jantungnya berdebar kencang. Tubuhnya lemas dan memanas. Sophia terpaku. Tak percaya apa yang didengarnya. Seolah semuanya hanya mimpi dan Sophia ingin segera bangun.
"Bu Bos! Bu Bos!" Rudi mencoba memanggil Sophia berulang-ulang karena Sophia tak memberikan tanggapan apapun. Dia mengkhawatirkan keadaan Sophia. Pasti apa yang dia sampaikan menjadi kabar yang menyakitkan untuknya.
Sophia masih memegang handphone di telinganya. Dia masih terdiam. Matanya berkaca-kaca. Tidak percaya dengan apa yang disampaikan Rudi. Tiba-tiba terdengar suara berita di televisi.
"Selamat sore saudara, Anda menyaksikan berita Netral News TV. Kami akan menginformasikan terkait badai besar di Pantai Pangandaran yang menyebabkan air laut pasang hingga ke pesisir pantai. Beberapa rumah penduduk di pesisir pantai diterjang arus pasang hingga 2 meter. Puluhan orang dinyatakan hilang ...."
Semua orang di ruangan itu terkejut. Termasuk Sophia yang masih terpaku mendapatkan kabar dari orang kepercayaan Alex. Tak ada satu kata pun ke luar dari bibir merah delima itu.
"Innalilahi wainnailaihi raji'un," ucap semua orang yang ada di ruangan itu.
Semua orang termasuk Kakek David, Pak Ferdi, Ibu Marisa, Gavin, Maria, Tuan Matteo, dan Claudya membicarakan musibah air pasang di Pantai Pangandaran. Mereka jadi teringat Alex yang katanya pergi ke Pantai Pangandaran. Mereka semua mengkhawatirkan keselamatan Alex. Apalagi berita itu mengabarkan puluhan orang dinyatakan menghilang.
Di sisi lain Sophia masih mematung. Dia terkejut dua kali. Pertama kabar dari Rudi. Kedua kabar dari televisi. Tubuhnya seakan kehilangan kekuatannya. Hanya ada Alex di hati dan pikirannya. Air mata terus menetes di pipinya. Bulir-bulir kepedihan menyayat hatinya berjatuhan di lantai. Merobek mimpi dan kebahagiaannya.
"Bu Bos! Bu Bos!" Rudi kembali memanggil Sophia. Dia belum mematikan handphone-nya. Ada hal lain yang belum selesai dia sampaikan.
Semuanya hampa dan sunyi di dalam bayangan Sophia. Seakan waktu terhenti. Semua tak bergerak dan tak terlihat.
"Aku akan segera kembali Sophia," kata Alex. Matanya berkaca-kaca.
"Iya Mas, sampai kapanpun aku akan menunggumu, aku tidak akan pergi sebelum kau kembali," ujar Sophia. Air matanya menetes di pipi kemerahannya.
Bayang-bayang hari kemarin diputar ulang. Senyuman Alex, suaranya, dan pelukannya masih terasa. Dia masih bisa merasakan cinta dan kasih sayangnya.
"Mas Alex, Mas ...," lirih Sophia.
Baru saja kemari Alex mengatakan akan secepatnya kembali tapi pada kenyataannya berbanding terbalik. Alex entah ada di mana.
"Bu Bos! Bu Bos!" Rudi berusaha memanggil lagi. Dia semakin mengkhawatirkan keadaan istri Bosnya. Dia jadi merasa bersalah tapi mau gimana lagi.
Seketika lamunan itu pecah. Suara Rudi terdengar kembali di telinga Sophia. Waktu berputar kembali ke dunia fana. Di mana Alex dinyatakan hilang oleh Rudi.
"Kami sedang berusaha mencari Bos Alex, karena tadi beliau berangkat menyewa mobil Jeep menuju Pantai Pangandaran," kata Rudi.
"Kenapa menyewa mobil Jeep?" tanya Sophia. Seingatnya suaminya berangkat naik mobil Ferrari miliknya. Kenapa jadi menyewa mobil Jeep. Alex juga tidak cerita hal itu pada dirinya.
"Bos Alex ingin sekalian jalan-jalan jadi lebih nyaman menyewa mobil Jeep. Selain itu mobilnya lebih cocok untuk medan ke Pantai Pangandaran," jawab Rudi. Menjelaskan kenapa Alex memilih menyewa mobil Jeep tidak mengendarai mobil miliknya. Selain untuk jalan-jalan, dia juga tahu medan ke Pantai Pangandaran lebih cocok menggunakan mobil Jeep yang memang diperuntukkan untuk medan-medan sulit.
Sophia termenung. Dadanya terasa sesak memikirkan suaminya.
"Tadi saya menelpon supir mobil Jeep yang disewa Bos Alex, katanya baru setengah perjalanan Bos Alex turun dari mobil karena macet total," ujar Rudi.
"Jadi suamiku ke mana Rudi?" tanya Sophia.
"Saya tidak tahu Bu Bos, handphone Bos Alex tidak aktif. Saya tanya ke supir mobil Jeep, dia tidak tahu Bos Alex pergi ke mana. Apakah ke Pantai Pangandaran atau tidak," jawab Rudi menjelaskan semuanya.
Air mata Sophia kembali menetes di pipinya. Dia sangat mengkhawatirkan suaminya. Baru tadi pagi dia sempat menelpon. Alex masih tampak ceria dan romantis seperti biasa kini Sophia tidak tahu di mana keberadaannya.
"Bu Bos! Bu Bos!" panggil Rudi yang merasa Sophia sedang bersedih.
"Iya," jawab Sophia. Suaranya terisak tangis.
"Saya dan tim akan mencari Bos Alex hingga ke pesisir Pantai Pangandaran, doakan kami agar segera menemukan Bos Alex," kata Rudi.
"Iya, lakukan yang terbaik. Tolong temukan suamiku. Di mana pun dia berada hik hik hik ...," sahut Sophia. Rasa sedih tak bisa ditutupi olehnya. Dia memang sangat sedih dengan hilangnya suaminya.
"Baik Bu Bos," jawab Rudi.
Telpon pun di akhiri. Sophia masih terdiam. Mematung. Matanya sembab. Semangatnya menurun drastis. Sementara itu Keluarga Sebastian membicarakan Alex dan kabar air pasang di Pantai Pangandaran.
"Aduh, gimana ini Mas, mana Alex ke Pantai Pangandaran hik ... hik ... hik ...," keluh Ibu Marisa sambil menangis. Pak Ferdi langsung merangkulnya.
"Sabar sayang, kita akan mencari Alex, memastikannya selamat," sahut Pak Ferdi menenangkan Ibu Marisa yang terus menangis dari tadi.
"Aku takut terjadi sesuatu pada Kak Alex, aku nyesel kenapa kemarin nyomelin dia terus," ucap Claudya.
"Sabar sayang, ini ujian dari Allah. Bener kata ayah kita akan mencari kakakmu," sahut Tuan Matteo. Dia memeluk Claudya yang bersedih karena kabar duka itu.
"Astagfirullah, di saat seperti ini, Sophia harus mendapatkan ujian," ujar Kakek David. Sambil memijat dahinya.
"Kek, jangan banyak pikiran, nanti jantungmu kambuh lagi," sahut Nenek Carroline sambil memegang bahu Kakek David.
"Kak Sophia!" David teringat Sophia.
"Iya Sophia," jawab yang lainnya. Mereka baru ingat Sophia ada di sudut ruangan itu untuk mengangkat telpon dari orang kepercayaan Alex.
Semua orang yang ada di ruangan itu bangun. Menatap ke arah Sophia yang masih mematung di sudut ruangan. Sophia terlihat pucat, sembab dan lemas. Melihat itu Gavin berlari ke arah Sophia. Mereka takut Sophia akan pingsan.
"Cepat Gavin!" pekik Kakek David.
Benar saja tubuh Sophia tak mampu berdiri lagi. Dia hampir terjatuh, untung Gavin segera menangkapnya. Begitupun yang lainnya menghampiri Sophia.