
Setelah makan malam Sophia pergi ke kamar Nada. Untung pintu kamarnya tak dikunci. Sophia masuk ke dalam. Seperti biasanya, dulu saat masih kecil hingga remaja Sophia selalu main ke kamar kakaknya. Untuk sekedar main bersama atau curhat apapun. Namun sejak beranjak dewasa, Nada mulai membatasi dirinya dari Sophia. Mulai tertutup, mungkin karena Nada sudah dewasa dan memiliki privasi tersendiri. Mereka jadi berkumpul hanya di meja makan atau saat nonton film di hoom teater yang ada di rumah mereka.
Sophia berjalan menghampiri Nada yang sedang berdiri di balkon kamarnya. Dia terlihat baru saja menangis. Sophia berdiri di sampingnya.
"Kak, Sophia ambilkan jaket ya, hawanya dingin," ucap Sophia.
"Gak usah sok perhatian Sophia," jawab Nada.
"Kalau gitu mau Sophia bikinin minuman hangat?" tanya Sophia.
"Kamu ngerti gak, aku gak butuh semua itu, aku tahu kamu lagi bahagia, sedangkan aku sedang berduka," ujar Nada.
"Kak, maafkan aku, jika kebahagiaanku melukai hati kakak, aku juga ingin melihat kakak bahagia, kita bisa tersenyum bersama lagi," sahut Sophia.
"Kamu berkata seperti karena kamu gak diposisi aku, hatiku hancur Sophia, mana bisa bahagia sepertimu, meskipun diperbaiki seperti apapun," ujar Nada.
"Aku tahu, tapi kakak tidak sendirian, ada aku," jawab Sophia.
"Sekarang suamimu setia, kau bisa tersenyum, tapi coba kalau suamimu selingkuh, kau juga akan menangis sepertiku," ujar Nada.
Sophia terdiam sesaat. Berpikir bagaimana cara bicara dengan Nada agar dia tak emosi dan tambah bersedih. Pertama Sophia membiarkan Nada mengeluarkan uneg-unegnya. Sophia hanya mendengarkan. Karena ketika orang bersedih, dia hanya butuh didengar. Jangan menggurui orang yang sedang emosi, dia akan semakin meluap-luap dan justru membuatnya semakin down.
"Selama ini aku percaya sama Mas Hanan, meskipun dia kunjungan ke luar kota, aku tak pernah curiga sedikitpun, karena aku tahu suamiku baik dan sholeh," ujar Nada.
"Tapi ternyata, dia bermain di belakangku, disaat aku sedang hamil anaknya," tambah Nada.
"Kenapa Mas Hanan tega, aku kurang apa?" ujar Nada.
Sophia hanya diam terus mendengarkan. Setelah dirasa Nada sudah mengeluarkan uneg-unegnya barulah Sophia bicara pada kakaknya.
"Kak Nada, ingat dulu ya, kita sering melihat bulan dan bintang, menghitung jumlah bintang di langit," ucap Sophia. Saat orang sedang sedih, menasehati atau mengguruinya itu tidak baik. Tidak akan diterima baik nasehat atau apapun. Justru terkesan kita menambah beban mereka. Orang yang sedang bermasalah mereka juga tahu mana yang baik dan buruk hanya saja mereka sedang dalam emosi yang tidak baik. Itu sebabnya Sophia memilih membicarakan hal lain. Hal yang bisa membuat mood-nya kembali naik.
Nada menengadah ke langit malam yang cerah tak berkabut. Bulan juga tidak sedang bersembunyi dibalik awan. Bintang-bintang berkelip dengan riang. Nada mulai teringat masa kecilnya bersama Sophia.
"Kak, bintangnya banyak, ayo kita hitung."
"Memang kita bisa hitung, mereka jumlahnya banyak Sophia."
"Setidaknya kita sudah berusaha, kalau dihitung bersama lebih menyenangkan."
"Ayo!"
"Satu, dua, tiga, ....."
"Seratus dua puluh, seratus dua puluh satu, seratus dua puluh dua, ...."
Kenangan itu terbayang kembali. Mereka memang pernah sedekat itu. Melakukan sesuatu bersama dan menghabiskan waktu layaknya adik dan kakak.
"Sophia, dulu aku selalu bilang, suamiku itu terbaik, lulusan pesantren, baik dan sholeh. Aku selalu menghina suamimu yang seorang casanova, dengan segudang sifat buruknya, tapi ternyata suamikulah yang justru selingkuh," ujar Nada.
"Kak Nada, di dunia ini tidak ada yang sempurna. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Siapapun bisa berubah kapanpun dan apapun bisa terjadi," ujar Sophia.
"Tapi ada hal yang tidak boleh berubah. Iman dan keikhlasan kita menjalani semuanya," tambah Sophia.
Nada terdiam. Air matanya kembali jatuh di pipinya. Sophia langsung memeluknya. Kehangatan pelukan Sophia dibutuhkan Nada. Dia butuh tempat bersandar di saat bersedih.
"Sophia maafkan sikap kakak tadi," ujar Nada.
"Gak papa, aku ada di sini, kakak bisa cerita apa saja, aku akan mendengarnya, aku akan menemani kakak," sahut Sophia.
"Makasih Sophia," ucap Nada.
Sophia mengangguk.
Malam itu Sophia menemani Nada. Mereka sholat malam bersama dan ngaji bersama. Sophia menemani Nada sampai tertidur. Kemudian menyelimutinya. Mencium keningnya. Barulah Sophia kembali ke kamarnya.
"Assalamu'alaikum," sapa Sophia masuk ke kamar.
"Wa'alaikumsallam," sahut Alex yang sedang main game di laptop miliknya.
"Mas belum tidur?" tanya Sophia menghampiri Alex yang duduk di ranjang.
"Tadi udah tidur sayang, kebangun karena bidadariku gak ada di samping," sahut Alex.
Sophia tersenyum. Dia duduk di samping Alex.
"Sayang dari kamar Nada?" tanya Alex.
Sophia mengangguk.
"Apa ada masalah?" tanya Alex.
"Nanti aku cerita, tapi boleh tidak kalau kita menginap lagi di sini sampai Kak Nada baikkan?" tanya Sophia.
Alex mendekati Sophia. Mencium bibir merah delima itu.
"Boleh dong, Sophiakukan baik hati, tak mungkin membiarkan kakaknya menghadapi kesulitannya sendiri," sahut Alex usai mencium Sophia.
"Makasih Mas," ucap Sophia.
Alex mengangguk sambil mengelus ubun-ubun pemilik mata emerald itu.
Tadinya mereka ingin pulang besok tapi karena Nada sedang ada masalah, mereka memutuskan menginap lagi. Malam itu Sophia bersandar di bahu Alex. Dia memikirkan masalah Nada.
"Sayang sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Alex.
Sophia akhirnya menceritakan semuanya pada Alex. Mungkin dengan begitu ada solusi untuk kakaknya.
"Jangan dulu Mas, sebenarnya belum pasti juga Mas Hanan selingkuh atau tidak," jawab Sophia.
"Berarti kita harus membuktikan, apa berita itu benar atau tidak," ujar Alex.
"Iya Mas, aku juga berpikir seperti itu," sahut Sophia.
Sambil berbincang, Alex mengelus perut Sophia.
"Sayang kau lebih cantik, segar dan bugar sejak hamil," ujar Alex.
"Aiko juga berkata seperti itu Mas," sahut Sophia.
"Semoga Allah SWT senantiasa memberimu kesehatan dan keselamatan, agar Dede bayi bisa lahir dengan sehat walafi'at," ujar Alex.
"Amin," sahut Sophia.
Alex membantu Sophia berbaring. Dia menyelimuti istri tercintanya. Mencium kening dan perut Sophia. Kemudian dia tidur di sampingnya.
***
Malam itu Kakek David sudah rapi mengenakan setelan jas hitam dengan dasi berwarna dongker bergaris. Kakek David melihat dirinya di depan cermin. Sudah lama sekali dia menjauh dari kehidupan para konglomerat meskipun kini dia sudah sukses dengan semua pencapaiannya. Tiba-tiba Claudya masuk ke kamarnya, dia sudah rapi mengenakan dress panjang berwarna peach. Hijabnya juga senada dengan dress yang dikenakannya. Dress itu sedikit mengembang seperti gaun pesta pada umumnya namun ada sentuhan gamisnya.
"Kakek sudah siap?" tanya Claudya.
Kaked David melihat ke arah Claudya yang menghampirinya.
"Sudah," jawab Kakek David.
"Kakek yakin pergi ke pesta dansa?" tanya Kakek David.
"Yakin," jawab Kakek David.
"Asyik, baru kali ini Claudya pergi ke pesta dansa, pasti banyak pangeran tampannya," ujar Claudya kegirangan.
Kakek David menggeleng. Cucunya itu memang masih jomblo, dia ikut ke pesta dansa hanya untuk mencari pangeran kodok yang nganggur dan siap mendengar ocehannya yang cerewet dan memanaskan gendang telinga.
"Kau cantik sekali Claudya," puji Kakek David.
"Iya dong Kek, mau ketemu pangeran tampan ya harus cantik," jawab Claudya.
"Awas tengah malam kau berubah jadi upik abu lagi," canda Kakek David.
"Kakek bisa aja, tengah malem nanti ya berubah jadi putri ngorok Kek," sahut Claudya.
Mereka tertawa bersama. Setidaknya bercanda agar tidak tegang, terlihat dari raut wajah Kakek David yang terlihat grogi.
"Ya udah Kek, ayo berangkat!" ajak Claudya.
Kakek David mengangguk.
Mereka berdua berjalan bersama ke luar dari kamar. Tahu-tahu Gavin dan si gendut Dodo sudah ada di depan kamar Kakek David. Mereka sudah tampil rapi dan berkelas.
"Malam Kek," ucap Gavin dan Dodo.
"Malam, kalian mau ke mana?" tanya Kakek David.
"Iya, tumben berkelas biasa juga nelangsa," sindir Claudya.
"Kita mau ikut kakek ke pesta dansa, iyakan Ndut?" ujar Gavin.
"Iya dong Om, perut Dodo siap menampung makanan di sana yang gak ketampung," jawab Dodo.
"Eh siapa yang ngajak kalian, itu hanya untuk konglomerat, bukan kolor melarat kaya kalian," sahut Claudya.
"Beda tipislah konglomerat dengan kolor melarat, sama-sama di dahului dengan huruf K dan diakhiri huruf T," jawab Dodo.
"Betul, sama-sama makan nasi dan darahnya juga warna merah," tambah Gavin.
Claudya menggeleng. Percuma berdebat dengan kakak dan bocah gendut itu.
"Ya udah, kalian boleh ikut," ujar Kakek David.
"Hore," jawab Gavin dan Dodo.
"Kok jadi se-RT gini yang ikut, berasa mau ngantri minyak murah, pura-pura gak kenal cuma buat dapet banyak" ujar Claudya.
Semuanya tertawa.
Akhirnya mereka berangkat bersama. Naik mobil Alphard berwarna hitam milik Claudya. Di dalam mobil mereka masih bercanda.
"Ndut bajumu tebel juga," ucap Gavin yang duduk di belakang bersama Dodo.
"Dodo bawa banyak plastik Om, buat nampung makanan sisa," jawab Dodo.
"Memalukan, emangnya pergi ke hajatan," ujar Claudya yang duduk di tengah.
"Kalau hajatan makanannya biasa, pesta dansa pasti luar biasa, lumayan diangetin seminggu," ucap Dodo.
"Astaga, memalukan sekali. Jangan deket-deket gue Ndut, anggap kita tak kenal saat di pesta," ujar Gavin.
"Siap Om! Nih plastik buat Om, biar hasilnya maksimal kalau Om ikut bantuin Dodo juga," sahut Dodo.
"Gendut gue jitak juga plontosmu," gumam Gavin.
Dodo hanya tertawa. Begitupun yang lainnya ikut tertawa.