
Pagi itu Sophia sarapan bersama Keluarga Sebastian. Dia duduk di dekat Alex. Mengambilkan Alex nasi goreng buatannya. Sophia terlihat sedikit pucat. Membuat Alex mencemaskannya. Alex memegang tangan Sophia.
"Sayang kau sakit?" tanya Alex.
"Tidak, mungkin sedikit lelah," jawab Sophia.
"Kalau begitu, hari ini cutilah," sahut Alex.
Sophia terdiam memikirkan ucapan Alex. Tiba-tiba Sophia langsung berdiri. Berjalan menuju wastafel. Dia muntah-muntah, dari belakang Alex menyusulnya. Memijat lehernya.
"Sayang kau masuk angin?" tanya Alex.
Sophia masih muntah-muntah. Dia memegang perutnya yang mual.
"Kak Sophia mungkin hamil," ujar Claudya yang baru saja menghampiri keduanya.
"Hamil?" Alex terkejut.
"Iya, biasanya kehamilan ditandai dengan mual-mual di awal kehamilannya," jawab Claudya.
Sophia berdiri memegang perutnya. Melihat itu Alex merangkul Sophia. Menyandarkan kepala Sophia di bahunya.
"Sayang kita ke Dokter ya, Claudya bilang bisa jadi kau hamil," ujar Alex.
"Aku hamil?" tanya Sophia.
"Iya Kak Sophia, terakhir haid kapan?" tanya Claudya.
Sophia terdiam. Mengingat tanggal haid terakhirnya.
"Tanggal 1 bulan lalu," jawab Sophia.
"Sekarang sudah tanggal 15, berarti telat dua minggu," sahut Claudya.
"Jangan-jangan kau hamil sayang," ujar Alex antusias.
Sophia terdiam. Ada rasa bahagia bercampur rasa takut. Sophia teringat penyakitnya. Apa penyakitnya tidak akan membahayakan janin di dalam rahimnya. Namun Sophia tidak berani berspekulasi.
"Udah lebih baik ke Dokter biar jelas Kak Alex, Kak Sophia," ujar Claudya.
"Iya sayang, hari ini kita cuti, kita ke rumah sakit ya," ucap Alex.
Sophia mengangguk.
Akhirnya Alex mengajak Sophia pergi ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Alex terlihat berseri-seri, dia tak sabar ingin tahu Sophia hamil. Sedangkan Sophia diselimuti mendung. Dia takut penyakitnya akan menganggu kehamilannya.
"Sayang kenapa?" tanya Alex.
"Tidak apa-apa," jawab Sophia sambil tersenyum tipis.
Alex memegang perut datar istri tercintanya.
"Di sini ada buah cinta kita sayang," ujar Alex.
Sophia hanya mengangguk. Hatinya menangis. Dia takut terjadi sesuatu jika benar dia hamil.
Sampai di rumah sakit, Alex langsung mendaftar.
Kemudian mereka berdua duduk di depan poli kandungan setelah Sophia mengukur suhu dan menimbang berat badan. Banyak ibu-ibu hamil yang juga hendak memeriksakan kandungannya. Mereka datang bersama suami, anak dan keluarganya.
"Sayang lihat ibu itu perutnya sudah besar, nanti perutmu juga sebesar itu," ucap Alex sambil memberitahu ibu hamil yang duduk di depan mereka.
Sophia mengangguk. Lalu menggandeng lengan Alex. Menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Kau lelah?" tanya Alex.
Sophia menggeleng.
"Ya udah, tidurlah, nanti saat dipanggil aku bangunkan," ujar Alex.
Sophia mengangguk.
Dia memejamkan matanya. Bukan karena mengantuk tapi rasa cemas di hatinya. Sophia tak tega jika Alex kecewa. Meskipun mungkin ternyata dia hamil. Tapi resiko kehamilannya tinggi. Sophia teringat ucapan Dokter Leon yang melarangnya hamil. Dengan penyakitnya sekarang bisa saja akan membahayakan nyawa Sophia dan calon anaknya. Sophia terdiam lemas.
"Nyonya Sophia Thalia." Perawat memanggil nama Sophia.
"Ya ada," sahut Alex.
"Silahkan masuk!" ujar perawat.
Alex mengangguk. Membangunkan Sophia. Kemudian masuk ke dalam ruangan Dokter bersama Sophia. Mereka duduk di kursi yang terletak di depan meja Dokter.
Sophia menceritakan keluhannya selama ini pada Dokter.
"Kita akan lakukan USG dulu, biar lebih pasti ya," usul Dokter.
Alex dan Sophia mengangguk.
Bergegas Sophia berdiri. Berjalan menuju ranjang, membaringkan tubuhnya, perawat membantu mempersiapkan proses USG.
Tak lama Dokter menghampiri Sophia. Duduk di sampingnya, dia mulai melakukan USG pada perut Sophia. Dokter menerankan bagian-bagian yang tampak di layar USG sambil melakukan USG pada rahim Sophia.
Setelah selesai, Dokter kembali duduk. Begitupun Sophia duduk kembali di samping Alex.
"Iya Dok," jawab Sophia tersenyum.
"Istri saya hamil Dok?" tanya Alex.
"Iya hamil, sudah telat dua minggu, jadi usia kehamilannya 6 minggu," jawab Dokter.
"Alhamdulillah," sahut Alex dan Sophia.
"Saya akan meresepkan obat mualnya, sekalian obat maag, penguat janin dan vitaminnya," ujar Dokter.
"Iya Dok," sahut Alex dan Sophia.
Dokter terlihat meresepkan obat-obatan dan vitamin. Dia juga menerangkan perihal USG tadi. Serta tanya jawab dengan Sophia dan Alex seputar kehamilan.
Di sela-sela itu tangan Alex menggengam tangan Sophia. Dia senang istrinya sedang mengandung buah cinta mereka.
"Jaga pola makan, istirahat yang cukup, jangan kecapean dan stressnya dikontrol ya, sangat penting untuk ibu hamil tetap happy," ujar Dokter..
"Iya Dok," sahut Alex dan Sophia.
Setelah itu mereka mendapatkan resep obat. Kemudian ke luar dari ruangan Dokter. Alex terus memegang tangan Sophia sampai ke konter pembayaran dan mengambil obat.
"Sayang dah selesai, kita mau pulang atau mau makan apa? Tadikan ke luar semua," ujar Alex.
"Pengen makan rujak Mas," sahut Sophia.
"Tapi kau belum makan loh," jawab Alex.
"Baiklah makan dulu baru makan rujak ya Mas," sahut Sophia.
Alex mengelus ubun-ubun Sophia. Dia mengangguk. Menemani Sophia beli makan dan rujak yang diinginkannya.
Setelah itu mereka kembali pulang. Alex membopong Sophia membawanya masuk ke dalam rumah.
"Mas malu dilihat yang lainnya," ujar Sophia.
"Gak papa, kan Sophiaku lagi hamil, aku harus jadi ayah siaga," ujar Alex.
"Mas," ucap Sophia sambil memegang dada bidang suaminya.
Alex membawa Sophia masuk. Mendudukkannya di ruang keluarga. Dia menciumi perut Sophia yang masih datar.
"Mas geli," ucap Sophia.
"Gemes sayang, ada Alex junior di perutmu," ujar Alex.
Sophia tersenyum. Mengelus kepala Alex yang berada di perutnya.
"Nanti anak kita pasti secantik dirimu," ujar Alex.
"Dan setampan dirimu Mas," sahut Sophia.
Tak lama Kakek David dan Claudya masuk ke dalam ruang keluarga. Melihat Alex yang terus menciumi perut Sophia.
"Kak gimana? Kak Sophia hamil?" tanya Claudya antusias.
"Iya, alhamdulillah," sahut Alex.
"Alhamdulillah," ucap Claudya dan Kakek David.
Mereka berdua lalu duduk bersama Alex dan Sophia.
"Kau harus sering pulang sore dan menjaga Sophia, dia sekarang hamil butuh perhatian dan kasih sayangmu lebih banyak dari sebelumnya," ujar Kakek David.
"Siap Kek," jawab Alex.
"Jangan keluyuran malam lagi, udah mau jadi bapak loh," sindir Claudya.
"Gak dong, semenjak sama sayangku Sophia aku dah tobat dari keluyuran, betah di rumah, iyakan sayang?" tanya Alex.
Sophia tersenyum dan mengangguk.
"Kalau Kak Alex macam-macam biar tak jitak, Kak Sophia," ujar Claudya.
Sophia tersenyum.
"Siapa juga yang akan macam-macam, udah happy juga sama Sophia dan Alex junior," sahut Alex.
"Ya kali kakak belum juga tobat, tadinya mau ku pukul pakai panci sama wajan," ledek Claudya.
"Parah, masa mau dipukul pakai panci dan wajan, abang lo nih," ujar Alex.
Sophia tersenyum.
"Berarti harus syukuran, biar berkah, kehamilan Sophia berjalan lancar," ujar Kakek David.
"Iya Kek, kita adakan syukuran mengundang anak yatim piatu," ujar Alex.
"Ide bagus tuh," sahut Claudya.
Mereka semua bahagia dengan kehamilan Sophia. Terutama Alex. Dia senang sekali ada buah cintanya bersama Sophia di perut datarnya Sophia yang nanti akan bertumbuh menjadi besar.