
Satu tahun lalu Alex pergi ke Pantai Pangandaran. Dia mencari pemilik tanah yang bernama Anwar Junaidi. Karena macet yang parah. Membuat Alex terpaksa turun dari mobil yang disewanya. Dia berjalan mencari kendaraan lain yang bisa melewati kemacetan. Sampai akhirnya Alex naik ojeg menuju lokasi.
Sampai di lokasi yang ada di tepi Pantai Pangandaran Alex mencari Pak Anwar. Dia bertamu ke rumah orangtua Anwar. Hanya saja Anwar tak ada di tempat.
"Anwar baru aja pulang Nak Alex, baru setengah jam lalu."
"Jadi Pak Anwar sudah Bu?" tanya Alex ulang.
"Iya."
"Kalau begitu terimakasih ya Pak, Bu." Alex berpamitan pada kedua orangtua Pak Anwar. Dia berjalan di tepi jalan yang berada tak jauh dari bibir Pantai Pangandaran. Siang itu mendung. Angin begitu besar. Ombak mulai pasang dan semakin naik ke daratan. Perlahan badai besar datang. Alex yang sedang berjalan terkejut melihat badai. Dia berlari sejauh mungkin menyelamatkan diri bersama orang-orang yang berlari berhamburan ke sana ke mari. Namun tiba-tiba gelombang air pasang setinggi dua meter datang tiba-tiba. Menerjang semua tempat yang ada di bibir Pantai Pangandaran.
Alex terbawa air laut. Dia berusaha berenang sekuat tenaga hingga berhasil meraih sebuah bantalan kayu bekas bangunan rumah papan. Alex duduk di atas papan yang terbawa air laut. Dia terdiam dan kedinginan. Bajunya basah kusup. Angin juga masih kencang ditambah lagi gerimis yang turun dari atas langit membuat tubuhnya semakin dingin. Alex tak bisa berbuat apapun. Hanya berdoa dan memohon perlindungan Allah SWT.
"Ya Allah, istriku sedang hamil besar. Selamatkanlah hamba, izinkanlah hamba bisa bertemu dengan istri yang menanti di rumah," ujar Alex. Wajahnya menengadah ke langit yang mendung.
Ketika sedang berdoa, Alex mendengar suara ibu menangis. Alex menoleh ke arah suara itu. Seorang ibu terbawa arus sambil memegang anaknya. Alex yang melihat itu iba. Dia turun dari papan. Berenang ke arah ibu dan anak itu. Dia menolong keduanya. Membawanya ke papan berbentuk segi empat itu. Dia membantu ibu dan anak itu naik ke atas papan itu. Karena papan itu sempit, hanya bisa diduduki dua orang. Alex membiarkan ibu dan anak itu duduk di atasnya.
"Masnya gimana?"
"Yang penting ibu dan anak ibu selamat," jawab Alex.
"Semoga Allah SWT membalas kebaikan Masnya."
"Amin," jawab Alex. Dia mengikhlaskan tempatnya berlindung pada ibu dan anak itu. Padahal Alex sudah sangat kelelahan. Dia tak mampu berenang lagi. Dia juga tidak bisa berdiam diri. Air laut itu dingin dan arusnya cukup besar. Alex terpaksa kembali berenang. Hingga dia kelelahan dan kedinginan.
"Ya Allah hamba sudah tak kuat lagi. Hamba masih ingin bertemu Sophia, berilah hamba kekuatan," kata Alex. Gelombang pasang kembali datang Alex yang sudah tak mampu berenang lagi terbawa arus air laut.
"Jika aku memang harus mati, izinkanlah aku bertemu Sophia untuk yang terakhir kalinya Ya Allah," batin Alex yang mulai kehilangan kesadarannya. Tubuhnya terbawa arus. Terombang ambing hingga terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni.
Sinar matahari pagi terasa hangat menyentuh kulit. Suara deburan ombak terdengar bergemuruh. Suara burung-burung camar yang berterbangan. Dan angin sepoi-sepoi berhembus pelan.
Kedua netra Alex mulai terbuka perlahan. Tubuhnya yang tengkurap di atas pasir putih mulai bergerak. Matanya melihat ke sekeliling. Hamparan lautan terlihat sepanjang mata memandang. Alex mengingat kembali semua yang terjadi padanya.
"Sekarang aku ada di mana?" kata Alex. Dia berusaha bangun. Meskipun tubuhnya terasa sakit semuanya.
"Tubuhnya sakit sekali rasanya, susah untuk bangun," keluh Alex. Dia tidak mampu bangun. Tetap terdiam di posisi yang sama. Berjam-jam membiarkan dirinya kepanasan, lapar dan haus. Dia tidak bisa berbuat apapun lagi selain diam. Namun ombak mulai pasang ke arahnya.
"Aku harus bangun kalau tidak ombak akan kembali menerjangku," ujar Alex. Dia kembali berusaha untuk bangun meskipun rasanya sakit. Tubuhnya benar-benar sakit. Sekujur tubuhnya memar dan terasa sakit di bagian kaki.
"Kakiku sakit sekali," keluh Alex yang berusaha mengangkat kakinya.
"Aw ..." Alex benar-benar kesakitan. Dia tidak mampu bangun.
"Aku harus bangun, aku ingin bertemu Sophia," kata Alex. Hanya Sophia yang membuatnya bersemangat lagi untuk bangun. Tak peduli seberapa sakit kakinya. Dia berusaha bangun. Sambil mengigit bibirnya karena rasa sakit yang ditahannya.
"Alhamdulillah," ujar Alex berhasil bangun dengan posisi duduk. Tapi dia belum bisa berdiri. Duduk saja dia sudah berusaha setengah mati. Apalagi harus berdiri.
"Sepertinya kakiku cidera, atau mungkin patah," ujar Alex menebak. Melihat kakinya sulit digerakkan dan rasanya sakit.
Ombak sedang datang menerjang tubuhnya. Alex bertahan dari gelombang air laut itu hingga berkali-kali. Bajunya bolak-balik basah kuyup bahkan mukanya terus menerus tersapu air laut. Alex menahan rasa sakit dan kedinginan hingga beberapa jam. Dia tidak bisa berdiri. Hanya bisa duduk di tempat.
"Perutku lapar sekali," batin Alex. Jangankan mengisi perut. Untuk menepi dari terjangan ombak pun dia tidak mampu.
Alex pasrah, tak ada orang yang bisa menolongnya. Tempatnya terdampar pulau yang tak berpenghuni. Beberapa pulau yang ada di Indonesia belum semua diberi nama dan dihuni manusia. Termasuk pulau tempat Alex terdampar.
"Ya Allah apa ini rejeki untukku?" ujar Alex. Mungkin saja ikan itu dikirim Allah SWT untuk mengenyangkan perut laparnya.
Alex memegang ikan itu. Memakannya mentah-mentah. Meski bau amis dia tetap memakannya karena terpaksa. Perutnya harus diisi agar dia bertenaga.
"Aku harus bisa ke tepi. Ombak akan semakin besar saat malam hari. Bisa jadi akan ada badai," ujar Alex berspekulasi. Dia berusaha bangun dengan sekuat tenaga. Meski kakinya terasa sangat sakit.
"Aw ..., aku tidak bisa bangun," ucap Alex. Walaupun beberapa kali berusaha tetap saja dia tidak bisa bangun.
"Ayo Alex berpikir-berpikir!" titah Alex pada dirinya sendiri. Dia tidak akan menyerah. Keinginannya untuk hidup dan bertemu Sophia begitu besar.
"Iya, lebih baik aku nges0t," ucap Alex. Dia berusaha nges0t sedikit demi sedikit. Sampai satu jam akhirnya Alex bisa sampai ke tepi pantai. Dia beristirahat di dekat pohon kelapa. Bersandar sambil menyandarkan punggungnya ke batang pohon kelapa. Mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
"Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah," kata Alex. Dia bisa beristirahat sambil menatap hamparan lautan yang luas. Ada rasa rindu di dadanya. Wajah Sophia terbayang, suaranya terdengar memanggilnya. Membuat Alex semakin tersiksa oleh rasa rindu.
"Sophia, aku ingin bertemu, aku ingin kembali," ujar Alex.
Dua minggu berlalu. Alex sudah bisa berdiri dan berjalan dengan lancar. Dia masih berada di tepi pantai. Berharap ada kapal atau perahu datang dan melintas di dekat pulau tempatnya berdiri.
"Sudah dua minggu tak satupun kapal atau perahu melintas di dekat perairan ini. Bagaimana cara ku kembali," ujar Alex. Dia masih bertahan di tepi pantai. Berusaha membuat bendera sebagai tanda untuk minta tolong namun sudah satu bulan tak ada juga jawaban.
Alex putus asa. Hari demi hari dia hanya berdiri di tepi pantai. Sampai tiga bulan berlalu. Tak ada kemajuan. Tak ada tanda manusia yang datang atau melewati perairan di dekat pulau itu.
"Aku harus membuat kapal dari kayu, agar aku bisa ke luar dari pulau ini," kata Alex.
"Itu berarti aku harus masuk ke dalam hutan," kata Alex. Dia terpaksa masuk ke dalam hutan. Selain untuk mencari kayu atau apapun untuk membuat kapal. Dia juga butuh makanan untuk dimakan.
Alex masuk ke dalam hutan. Semakin masuk. Hingga dia kebingungan untuk kembali ke pantai.
"Astagfirullah, aku tersesat di dalam hutan, bagaimana caraku ke luar?" batin Alex. Di dalam hutan jalannya hampir sama semua. Dia kebingungan. Alex terus berjalan tapi kembali ke tempat yang sama.
"Capek, balik ke sini lagi," ujar Alex yang sudah beberapa kali mencoba. Akhirnya Alex beristirahat. Dia berusaha pasrah dengan hidupnya sekarang ini.
Esok harinya Alex kembali berjalan mencari jalan ke luar dari hutan itu. Dia kembali berjalan hingga siang hari masih saja berada di dalam hutan. Alex putus asa dia coba mencari jalan ke luar dengan mengikuti arah matahari terbenam. Alex terus berjalan hingga tak menyadari di depannya ada tebing. Kakinya terpeleset hingga terjatuh ke bawah.
Bluuug ...
Alex terjatuh. Kepalanya terbentur batuan. Untung tebing itu tidak dalam. Alex hanya pingsan. Ketika Alex terbangun, dia sudah tidak mengingat apapun lagi. Alex seperti orang linglung. Dia hidup di hutan bak tarzan.
Bulan demi bulan berlalu. Alex yang sudah seperti orang hutan berjalan mencari makanan. Dia mencium bau masakan yang enak. Alex terus berjalan hingga ke tepi pantai. Alex melihat sekumpulan orang sedang bertenda di tepi pantai. Ada tiga tenda dan satu kapal di tepi pantai.
Alex menghampiri tenda itu. Dia melihat banyak makanan. Namun ada satu hal yang membuatnya tercengang dan menghentikan langkahnya. Dia mendengar suara lantunan ayat suci Al-Quran
dari dalam tenda. Suara itu membuat hati dan pikirannya seakan mengingat sesuatu. Matanya berurai air mata. Seperti ada sesuatu yang dirindukannya saat mendengar lantunan ayat suci Al-Quran. Alex pun berlari kembali ke dalam hutan. Dia terus berlari. Kepalanya sangat pusing setelah mendengar lantunan ayat suci Al-Quran. Dia mulai mengingat sedikit demi sedikit. Hingga Alex menghentikan langkahnya, terduduk di bawah pohon. Alex memegang kedua tangannya. Dia mulai ingat semua memori yang ada dipikirannya.
"Sophia ... Sophia ... Sophia aku rindu," ucap Alex.
Dia teringat Sophia. Ingatannya mulai pulih perlahan-lahan. Alex rutin mendengarkan orang-orang yang mengaji di tenda dengan sembunyi-sembunyi.
Beberapa hari kemudian orang-orang yang berkamping akan pulang. Alex segera menghampiri mereka yang hendak naik ke kapal. Awalnya mereka semua ketakutan melihat Alex yang seperti gembel.
"Aku Alex Sebastian dari Jakarta, entah selama berapa hari atau bulan, atau mungkin tahun aku terdampar di pulau ini, aku ingin pulang bertemu istri dan anakku, ku mohon bantu aku," ujar Alex memohon pada orang-orang itu. Dia juga menceritakan semua hal yang terjadi padanya dari awal di Pantai Pangandaran sampai terdampar di pulau itu. Mereka iba mendengarkan cerita Alex. Dan sepakat menolong Alex. Memberinya tumpangan.
Akhirnya Alex naik ke kapal. Salah satu dari orang-orang itu memberinya jaket hitam. Ada juga yang memberinya beberapa barang.