
Dokter Leon dan Erisa pergi ke hotel untuk menghabiskan malam pertama mereka. Dokter Leon sengaja membooking satu kamar di hotel bintang lima. Erisa ditutup matanya dan dibopong sampai kamar hotel oleh Dokter Leon. Dia sengaja tidak memberi tahu akan diajak ke mana.
"Akang udah sampai belum?" tanya Erisa.
"Udah atuh Neng, sekarang sudah sampai," jawab Dokter Leon.
Perlahan Dokter Leon membuka penutup mata yang dikenakan Erisa.
"Gimana?" tanya Dokter Leon. Dia ingin tahu apa yang dipikirkan Erisa.
"Aku suka," jawab Erisa menatap pemandangan di depannya. Ranjang dengan bunga-bunga yang berbentuk love dan balon-balon berwarna pink di lantai menambah indah kamar yang memang sudah indah.
"I Love You," bisik Dokter Leon.
"I Love You Too," jawab Erisa.
Dokter Leon tak ingin berlama-lama. Takut keburu karatan, lebih baik dibuktikan tingkat kematangannya. Dia segera mencium Erisa. Bibir ramun gadis cantik dan seksi itu begitu lembut. Perlahan dia membius Erisa masuk dalam alam mimpi. Membedah semua yang terpasang. Tak menyisakan bagian yang terhalang. Satu demi satu melakukan tindakan operasi pada setiap tahap dari atas hingga bawah. Menggunakan semua alat kecil hingga besar. Menyuntikkan obat demi obat di bagian yang akan membuat sang pasien sakit dan menjerit. Menjahit dengan teliti dan penuh kehati-hatian hingga mencapai tujuan. Tempat di mana penyakit itu bersarang. Merobek dan memotong semuanya hingga sang pasien tersenyum bahagia meski diawali gema yang membara.
Dua jam penuh Dokter Leon dan Erisa memadu cinta. Membuat keringat demi keringat bercucuran menjadi teman sepanjang operasi dilakukan. Kini berbaring disebalik selimut tebal mengistirahatkan rasa lelah yang mendera.
"Alhamdulillah, makasih ya Neng, Akang udah gak perjaka lagi," bisik Dokter Leon.
"Iya Akang, Alhamdulillah Eneng juga dah gak perawan lagi. Udah jadi milik Akang," jawab Erisa.
Dokter Leon memeluk Erisa. Dia senang sekali tidak sendirian lagi. Ada istri yang akan menunggunya setiap pulang kerja. Menambah semangat Dokter Leon untuk bekerja karena ada istri dan buah cintanya kelak.
"Akang, kalau Eneng pengen hamil cepet gak papakan?" tanya Erisa. Dia udah gak sabar ingin punya anak. Secara semua saudaranya sudah punya anak.
"Gak papa, justru Akang memang ingin punya anak cepet, udah umur," jawab Dokter Leon.
"Sama dong Akang, gas pol berarti tiap hari biar cepet," ucap Erisa.
"Iya Neng, Akang ambil cuti seminggu biar gas pol tiap jam," sahut Dokter Leon.
"Ah Akang kalau tiap jam Eneng kapan masak dan sebagainya," kata Erisa. Mengerucutkan bibir seksinya.
Cup
Dokter Leon mencium kening Erisa. Gemas melihatnya cemberut.
"Iya, Akang terlalu bersemangat, jadi lupa Eneng mesti beraktivitas," jawab Dokter Leon.
"Tapi kalau seminggu ini sih gak papa, kan masih pengantin baru," sahut Erisa.
"Alhamdulillah semangat Akang jadinya," kata Dokter Leon sambil tersenyum. Dia langsung berpikir boleh juga dicoba obat kuat dari gunung Merapi sepertinya rekomendasi dari Gavin cocok digunakan seminggu ini.
"Ya udah Akang jangan berpikir yang jorok, istirahat yuk! Neng capek," ucap Erisa.
"Iya sayang, tapi nanti gas pol lagi ya," sahut Dokter Leon.
Erisa hanya mengangguk. Kemudian mereka tidur. Ini awal dari kehidupan mereka ke depannya. Tentu tak semanis madu. Akan banyak lika-liku. Suka duka dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Namun pondasi yang paling kuat adalah iman di dada. Asal selalu ingat Allah, semua urusan pasti dilancarkan dan ada jalan ke luarnya.
***
"Papa!" teriak Nesya.
"Nesya!" Hanan begitu bahagia melihat putri semata wayangnya. Sudah lama mendekam di penjara jadi jarang bertemu anaknya.
Nesya langsung memeluk Hanan dengan erat.
"Nesya kangen sama Papa," ucap Nesya.
"Papa juga kangen sama Nesya, maafkan Papa ya," sahut Hanan. Tak kuasa membendung kebahagiaannya. Matanya berkaca-kaca memeluk Nesya.
"Iya Pa," jawab Nesya.
Mereka berdua melepas rindu. Setelah sekian lama tak bertemu. Hanan merasa menyesal telah meninggalkan dan menyia-nyiakan keluarganya. Padahal hidupnya dulu bahagia.
Tak lama Nada dan Kenan turun dari mobil. Mereka sengaja tidak membawa Tara dan Irfan. Hanya menemani Nesya untuk bertemu ayahnya.
"Assalamu'alaikum," sapa Kenan dan Nada.
"Wa'alaikumsallam," sahut Hanan. Dia mulai melepas pelukannya dari Nesya. Menatap kedua pasangan suami istri itu.
"Selamat atas kebebasanmu Hanan," ucap Nada. Dia sudah legowo untuk melupakan masa lalu dan tetap menjalin silaturahmi sebagai orangtua untuk Nesya.
"Iya, makasih Nada," jawab Hanan.
"Dari pagi Nesya ingin bertemu denganmu. Itu sebabnya kami mengantarnya ke sini," kata Kenan. Dia berusaha adil pada Nesya. Meski dia ayah sambungnya tetap saja Nesya juga butuh kasih sayang ayah kandungnya.
"Terimakasih Kenan. Selama aku di penjara kau sudah menjaga dan menyayangi putriku," jawab Hanan. Dia tahu Kenan sudah menggantikan posisinya sebagai suami dan ayah. Itu sebabnya Hanan berterima kasih karena sudah membahagiakan Nada dan Nesya.
"Iya sama-sama," sahut Kenan.
"Kalau begitu aku pamit, titip Nesya. Kalau ada waktu Insya Allah aku akan menjenguknya," ucap Hanan. Dia tidak mungkin terus bersama Nesya. Tidak baik untuk hubungan Kenan dan Nada.
"Iya, semoga kehidupanmu lebih baik ke depannya," sahut Kenan.
"Amin," jawab Hanan.
"Nada makasih atas semuanya, maafkan kesalahanku di masa lalu," ujar Hanan. Dia kembali meminta maaf. Tetap ada sedikit rasa bersalah yang tertinggal meski Hanan sudah berkali-kali meminta maaf dan Nada sudah memaafkan.
"Iya Hanan, semoga kau segera mendapatkan jodoh terbaik dan memulai hidup barumu," sahut Nada. Dia sudah lama memaafkan Hanan. Masa lalu biarlah jadi masa lalu untuk diambil pembelajaran dan hikmahnya untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.
"Amin," jawab Hanan. Lalu dia pamit pada Nesya. Mencium kening dan memeluknya lagi. Dia tahu ini bukan perpisahan tapi sebuah kasih sayang. Mungkin lusa atau nanti mereka akan bertemu lagi.
"Papa jaga diri. Kalau sudah punya Mama baru undang Nesya ya," ucap Nesya.
"Iya Nak, Papa pasti undang Nesya," jawab Hanan. Air matanya berlinang. Teringat saat Nesya baru lahir. Dia yang mengadzani Nesya dan mencium pipi merahnya. Karena nafsu dia sudah kehilangan istri dan anaknya. Dan menghabiskan empat tahun dalam penjara. Seandainya waktu bisa diputar Hanan ingin kembali dan bahagia bersama mereka. Tapi semua itu sudah terlambat.
"Belajar yang rajin, dengarkan kata Mama dan Papimu! Nesya harus jadi anak yang baik dan sholeha, Papa selalu mendoakan Nesya," ucap Hanan. Meski berat dia harus tetap melangkah ke depan. Meninggalkan kebahagiaan yang sudah disia-siakannya.
"Iya Pa," jawab Nesya.
Hanan melangkah ke depan meninggalkan mereka. Air mata sempat menetes di pipinya. Dia harus mengubur semua sesalnya. Menyambut masa depan yang jauh lebih baik.