Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Tes Fungsi Hati



Dua bulan berlalu. Kini kehamilan Sophia sudah memasuki tujuh bulan. Perut Sophia semakin besar. Dia sudah mulai kesulitan berjalan. Pagi itu Sophia mau pergi ke tempat Humaira untuk pengajian sebelum acara pernikahan di hari esoknya. Sophia sudah rapi dengan gamis berwarna putih sesuai tema pengajian itu.


"Sayang," sapa Alex menghampiri Sophia yang berdiri di depan lemari kaca.


"Iya Mas," sahut Sophia.


"Mau ke mana sore-sore begini?" tanya Alex yang baru saja pulang dari kantor. Pakaiannya masih formal. Mengenakan setelan jas berwarna biru tua.


"Aku mau pengajian ke rumah Papa Harry Mas," kata Sophia.


"Bukannya sore ini di rumah Maria juga ada pengajian?" tanya Alex.


"Itu sebabnya, Ibu membagi tugas. Aku dan Mas pergi ke rumah Papa Harry bersama kakek. Sedangkan Ibu dan Claudya pergi ke rumah Maria," jawab Sophia.


Alex mengangguk. Kemarin Alex tidak begitu mendengarkan saat pembagian tugas itu. Dia hanya sibuk dengan game di handpone-nya.


"Mas mandi dulu, terus pakai baju koko, kita akan berangkat bersama kakek," ujar Sophia.


"Terus Nenek?" tanya Alex.


"Nenek sudah ada di sana sejak kemarin pagi Mas," jawab Sophia.


"Berarti aku harus mandi dulu sayang," ujar Alex.


"Iya Mas," jawab Sophia.


Alex mendekati Sophia, mencium perut buncitnya. Mengelus perut Sophia yang semakin membesar.


"Mas ayolah nanti kesorean," kata Sophia yang gemas melihat suaminya masih sibuk menciumi perutnya.


"Iya sayang," jawab Alex. Namun justru malah mencium pipi kemerahan pemilik mata emerald itu.


"Mas!" ucap Sophia.


"Wangi jadi bikin pengen nyium terus," ujar Alex menatap mata Sophia.


"Mas mandi dulu biar wangi juga," sahut Sophia mengelus pipi Alex dengan kedua tangannya dicakupkan ke pipinya.


"Mandi bareng yuk sayang," ajak Alex.


Sophia tertawa kecil dengan ucapan Alex.


"Kok diketawain sayang?" tanya Alex.


"Habis Mas lucu, aku sudah rapi begini minta mandi bareng, bilang aja Mas malas mandikan?" kata Sophia. Tawanya renyah memecah kesunyian di ruangan itu.


"Baiklah aku mandi sendirian tapi hadiahnya satu ciuman ya?" tawar Alex minta imbalan pada Sophia.


"Iya Mas," jawab Sophia. Tersenyum pada Alex yang memohon padanya.


"Oke, aku semangat nih sayang mandinya," sahut Alex. Dia melewati Sophia. Melempar tas kerjanya di ranjang kemudian mengambil handuk, masuk ke dalam toilet.


"Mas ada-ada maunya," kata Sophia sambil tersenyum. Senyuman itu mengembang bagai bulan sabit yang melengkung.


Sophia mendekati ranjang. Mengambil tas kerja Alex yang senaknya diletakkan di atas ranjang.


"Udah kebiasaan Mas Alex pasti naruh tasnya sembarangan," keluh Sophia. Tak hanya satu dua kali suaminya sering meletakkan tasnya sembarangan. Bukan hanya tas tapi barang lain seperti kunci mobil, handphone, dompet, uang, baju kotor, sepatu dan barang lainnya.


Sophia menggeleng. Melihat tasnya juga tidak disletingkan. Membuat Sophia terpaksa harus menyeletingkan. Namun tak sengaja mata Sophia tertuju pada amplop putih di dalam tas itu. Sophia penasaran dan mengambil amplop putih itu.


"Amplop apaan ya?" tanya Sophia pada dirinya sendiri.


Sophia membaca keterangan di luar amplop putih itu. Ada keterangan nama rumah sakit dan logonya. Membuat Sophia ingin membuka amplop itu. Tangannya bergerak membuka amplop. Mengambil kertas putih itu. Membaca keterangan di dalamnya.


"Tes fungsi hati? Untuk apa Mas Alex melakukan tes fungsi hati?" ucap Sophia setelah membaca kertas yang dipegangnya.


Sophia terdiam sesaat. Dia tidak tahu kenapa suaminya menjalani tes fungsi hati. Karena rasa penasarannya masih memuncak, Sophia menggeledah tas suaminya. Tak hanya satu amplop bahkan ada beberapa amplop. Sophia mengambil amplop-amplop itu. Dia membacanya satu satu. Ternyata amplop-amplop itu berisi hasi tes pemeriksaan darah, pemeriksaan penyakit menular, tes penyakit yang mengancam jiwa, tes golongan darah, tes ukuran hati dan lainnya.


"Kenapa Mas Alex melakukan berbagai tes ini? Untuk apa?" kata Sophia. Dia terdiam. Mencerna semuanya. Dia ingat akhir-akhir ini sikap Alex lebih posesif dan perhatian lebih padanya. Alex bahkan bolak-balik ke kantor Sophia jika ada waktu untuk mampir. Setiap malam selalu memeluk Sophia. Dia selalu menyiapkan keperluan Sophia dari A sampai Z.


"Apa?" Sophia tidak berani menebak. Saat dia ingin berpikir lebih jauh. Terdengar suara pintu toilet mau terbuka. Sophia segera memasukkan amplop-amplop itu ke dalam tas. Dia meletakkan tas milik Alex ke atas laci.


"Sayang keren gak?" tanya Alex yang menghampiri Sophia. Dia memperlihatkan kumis dan jenggotnya sudah dicukur.


"Keren, tambah ganteng seratus persen," puji Sophia melihat suaminya.


Alex mendekat. Menyudutkan Sophia di dinding. Dia mengambil tangan istrinya. Meletakkannya di dada bidangnya.


"Mas jangan ngeres, mau berangkat," kata Sophia malu-malu. Pipinya memerah.


"Katanya ada yang mau kasih hadiah," sahut Alex. Sudah siap mendapat hadiah dari Sophia.


"Mas," kata Sophia usai melepas ciuman itu.


"Maaf sayang, haus kalau mencium bibir manismu," sahut Alex sambil membelai bibir merah delima itu.


"Ayo nanti kita kesorean," kata Sophia.


"Iya sayang," jawab Alex.


Sophia tersenyum menunggu Alex berpakaian sampai selesai. Kemudian mereka ke luar dari kamar menghampiri Kakek David yang ada di ruang tamu menunggu keduanya. Mereka pergi bersama ke pengajian di rumah Keluarga Harold.


***


Rumah Keluarga Harold


Sophia dan Alex masuk ke dalam. Sophia menghampiri Humaira dan Nenek Carroline yang duduk di sudut ruangan. Sedangkan Alex menghampiri ayahnya. Dia duduk bersampingannya.


"Bocah jam segini kau baru datang?" ujar Pak Harry.


"Memang kenapa Pak tua? Orang tampan harus mempersiapkan diri lebih lama untuk tampil keren," jawab Alex.


"Kau tahu ini acara pengajian adikmu? Tak perlulah bersolek terlalu lama," sahut Pak Harry.


"Pak tua, itu sebabnya kumismu lebat. Jenggotmu tak terawat. Semua wanita pada kabur. Kau tampak menyeramkan dan tua," kata Alex.


"Bocah aku ayahmu? Kalau ayah menyeramkan dan tua berarti anaknya tak jauh beda," sahut Pak Harry.


Ayah dan anak itu kembali berdebat. Membahas ketampanan dari harga gillate sampai harga cukur rambut di tukang cukur pengkolan deket tukang jualan cimol isi telor.


Sementara itu pengajian dimulai. Semua orang melantunkan ayat suci Al-Quran. Begitupun Alex dan Pak Harry. Meskipun Pak tua itu kesulitan di belum bisa membaca Al-Qur'an. Membuat Alex tersenyum dan mendekatinya. Dia membantunya membaca Al-Qur'an, agar mengiringinya berbicara. Alex jadi teringat saat Sophia mengajarinya. Dari Sophialah Alex belajar banyak hal. Sholat kembali, membaca Al-Qur'an, berpuass, zakat, sedekah, berbuat baik dan sebagainya. Sophia menjadi magnet yang menariknya pada kebaikan.


Setelah selesai, acara pengajian itu jadi acara prasmanan. Semua tamu makan nasi dan memakan camilan kue kering maupun kue basah.


Alex mengambil beberapa piring makanan. Menghampiri Sophia yang duduk sendirian di sudut ruangan. Sambil memegang perut. Dia tampak mengatur nafasnya.


"Sayang laper?" tanya Alex.


"Iya Mas, tapi gerah dan ngos-ngosan," jawab Sophia.


"Mau duduk di halaman, di luar ada gajebo," sahut Alex.


"Mau," jawab Sophia. Dia berpikir di luar lebih sejuk dan dia bisa menghirup lebih banyak udara.


Alex membantu Sophia bangun. Menuntunya ke luar dari dalam rumah. Mereka berjalan menuju gajebo yang ada di luar rumah. Sophia duduk sedangkan Alex meletakkan piring makanannya di dekat Sophia.


"Sayang, aku ambil makanan lagi dan air minumnya ya? Kau pasti lapar dan haus," kata Alex.


"Iya Mas, makasih," jawab Sophia.


Alex mengangguk. Berjalan meninggalkan Sophia. Mengambil beberapa piring makanan berat maupun makanan ringan berupa kue kering, kue basah dan buah. Tak lupa satu botol air mineral. Dia membawa semua itu ke luar. Kembali ke gajebo. Meletakkan semuanya di dekat Sophia dan duduk di gajebo itu juga.


"Sayang ayo makan, biar Dede bayi makan juga," kata Alex.


"Iya Mas, kayanya enak," jawab Sophia.


"Mau disuapin?" tanya Alex.


Sophia mengangguk.


Alex menyuapi Sophia dengan sabar dan telaten. Dia begitu menyayangi Sophia. Ada rasa khawatir yang teramat dalam. Menghantui hati dan pikirannya. Dia takut hari esok atau lusa akan kehilangannya.


"Alhamdulillah, kenyang Mas," kata Sophia.


Alex mengelus perut buncit Sophia.


"Dede udah bobo nih, pasti kekenyangan," kata Alex.


"Iya Mas, tiap kenyang langsung bobo," sahut Sophia.


Alex tersenyum. Meskipun hatinya perih jika mengingat penyakit Sophia. Dia ingin istri dan anaknya baik-baik saja. Mata Alex berkaca-kaca. Sulit membohongi hatinya yang sedang bersedih.


"Mas," ucap Sophia melihat mata Alex yang berkaca-kaca.


"Iya sayang," jawab Alex. Berusaha menetralkan matanya lagi agar tak ke luar air mata.


"Ada yang ingin ku tanyakan," kata Sophia.


"Apa sayang?" tanya Alex.