Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Tempatku Melepas Lelah



Mereka berempat langsung berlari ke arah bangunan ambrug untuk memastikan ada tidaknya tukang yang sedang bekerja. Untung saja tukang-tukang selamat, hanya luka-luka. Alex langsung menyuruh Kenan menelpon ambulan.


"Lihat Bos, ini yang dikatakan bahan berkualitas, kau hampir mencelakai pekerjamu," ucap Hendri.


"Ini penipuan, kau ingin untung besar dengan mengorbankan pembelimu, bahkan pekerjamu," ucap Sofyan.


Mereka terus mencaci dan marah pada Alex. Kecewa dengan bangunan rumah yang dibandrol dengan harga jual yang tinggi.


Alex terpaksa meminta maaf dan mengakui kesalahan atas kelalaiannya sebagai pemilik perusahaan yang membangun perumahaan elit itu. Akhirnya Hendri dan Sofyan pun pergi setelah puas mengeluarkan uneg-uneg-nya.


Tak lama ambulan datang membawa para pekerja yang luka-luka ke rumah sakit. Alex terdiam di depan bangunan ambrug itu.


"Bos apa yang harus kita lakukan?" tanya Kenan.


Alex hanya terdiam. Dia belum tahu kenapa semua ini terjadi. Bukan masalah soal custemer yang tak jadi beli. Tapi kepercayaan mereka dan para pekerja yang terluka membuatnya merasa bersalah..


"Kenan tolong selidiki semua ini, mungkin ini sabotase," ucap Alex.


"Benar Bos, semen dan bata yang ada di teras rumah itu, bukan milik kita, saya rasa ada yang sengaja ingin menjatuhkan kita," tambah Ilham.


"Ilham tolong hubungi pihak kontraktor, aku ini bicara langsung dengan atasannya," ucap Alex.


"Baik Bos," sahut Ilham.


Alex meninggalkan tempat itu. Dia pulang ke rumah dikarenakan sudah sore. Di perjalanan Alex masih terdiam. Mematung duduk di kursi belakang. Dia memikirkan semua masalah yang terjadi tadi. Tiba-tiba suara handphone-nya berdering. Alex mengambil handphone di sakunya. Panggilan dari Kenan. Alex langsung mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum," ucap Alex.


"Wa'alaikumsallam Bos," sahut Kenan..


"Ada apa?" tanya Alex.


"Bos lihat berita di televisi, atau trending topik sore ini di media sosial?" tanya Kenan.


"Tidak, memang ada apa?" tanya Alex.


"Kejadian tadi masuk berita Bos, bahkan video ambrugnya bangunan rumah itu trending," jawab Kenan.


"Apa? Video?" Alex terkejut.


"Iya Bos, coba lihat, Kenan gak bohong," ucap Kenan.


Alex langsung menutup percakapannya dengan Kenan. Melihat berita di stasiun televisi dan media sosial. Tenyata benar kata Kenan, apa yang terjadi tadi menjadi trending topik.


"Kenapa jadi seperti ini? Nama baik perusahaanku pasti akan tercoreng," batin Alex.


Kejadian tadi membuat efek yang besar pada perusahaannya yang memang bergerak di bidang properti. Alex tak habis pikir kenapa ini terjadi. Padahal dia sudah sangat teliti dan selalu mengutamakan kualitas.


Sampai di rumah wajahnya lesu. Alex berjalan memasuki rumahnya. Bertemu Kakek David. Alex hanya mengucapkan salam tak berani bicara padanya. Alex merasa kakeknya sudah tahu berita itu. Dia berjalan melewati kakeknya. Naik tangga ke lantai atas. Di lantai dua, Alex bertemu Pak Ferdi. Dia terlihat tersenyum licik melihat Alex.


"Sepertinya perusahaan akan bangkrut," ucap Pak Ferdi.


"Apa maumu? Kau senang disaat aku susah?" tanya Alex.


"Aku tak punya waktu bicara denganmu," ujar Alex. Dia malas meladeni ayahnya kali ini. Di otaknya sudah dipenuhi masalah dan harus mencari jalan ke luarnya. Jadi bicara dengan ayahnya akan membuang waktu dan menguras energi.


"Seharusnya ayah tak mempercayakan perusahaannya padamu, jika besok saja gulung tikar, penanam saham akan mundur," sindir Pak Ferdi.


Langkah kaki Alex terhenti. Melihat ke samping.


"Lalu kau mau apa?" tanya Alex.


"Kasihan kau putus asa? Konsumen takkan percaya lagi dengan perusahaan kita yang selalu dianggap nomor satu," ucap Pak Ferdi.


"Aku akan segera menemukan apa penyebabnya, dan dalang dibalik sabotase ini, atau kau lah pelakunya?" ketus Alex.


"Alex? Kau!" Pak Ferdi marah. Dia tak terima disebut pelaku dalam sabotase yang terjadi tadi siang.


"Aku ingin bermesraan dengan istriku, jadi jangan membuat mood-ku hilang," ucap Alex. Kemudian berjalan menuju kamarnya. Dia masuk ke dalam. Sedangkan Pak Ferdi hanya tersenyum di luar.


Alex berjalan mencari Sophia. Dia tahu istrinya pasti sudah pulang. Alex mencari ke seluruh ruangan. Namun Sophia tidak ada di dalam.


"Di mana Sophia?" batin Alex. Matanya sudah menyapu seluruh ruangan hingga ke toilet tapi pemilik mata emerald itu tak terlihat batang hidungnya. Hanya saja suara lembut menyejukkan hati terdengar bernyanyi di balkon kamarnya. Alex baru mendengar Sophia bisa bernyanyi. Suaranya merdu, meskipun Alex pernah mendengar Sophia sholawatan. Tapi kali ini Sophia bernyanyi lagu cinta. Mungkin hatinya sedang berbunga-bunga karena cinta. Alex berjalan ke luar dari kamar menuju balkon. Dia melihat Sophia sedang menyiram tanaman di balkon kamar mereka. Rambut panjang terurai indah dan harum membangkitkan gairahnya. Alex langsung memeluk Sophia dari belakang.


"Astagfirullah." Sophia terkejut. Tiba-tiba seseorang memeluk tubuhnya.


"Assalamu'alaikum," sapa Alex. Dia memeluk Sophia erat. Merasakan kehangatan dan aroma tubuhnya yang membuat rasa lelah dan penatnya menghilang.


"Wa'alaikumsallam Mas," sahut Sophia. Suara lembut menyejukkan hati itu selalu membuat Alex ingin menempel terus padanya.


"Sayangku bikin kangen aja, harum lagi," ucap Alex. Aroma tubuh Sophia begitu harum. Sendari tadi Sophia mandi luluran dan mengenakan wewangian yang khusus diperuntukkan untuk suaminya. Dia tak pernah menggunakannya saat ke luar rumah. Yang penting rapi dan pantas itu saja yang digunakan saat ke luar rumah. Berbeda saat bersama suami. Sophia mencover seluruh tubuhnya agar Alex puas secara visual maupun keintiman.


Sophia berbalik, menatap Alex yang kini memeluk pinggang langsingnya. Sophia tampak cantik dengan lipstik pink yang memoles bibir merah delimanya.


"Mas sudah pulang?" tanya Sophia.


"Iya dong sayang, kalau kaya gini gimana gak rajin pulang," ucap Alex menggoda Sophia yang terlihat seksi mengenakan dress pendek, kulit putih bersihnya terekspose sempurna.


"Mas genit," ucap Sophia manja.


"Genitnya sama kamu doang, udah tobat," sahut Alex. Sang casanova sudah memiliki markas tetap takkan menginap apalagi jajan sana sini. Yang di depan mata tak hanya cantik tapi menyejukkan hatinya. Memuaskan syahwatnya sebagai lelaki.


Tangan Sophia dikalungkan di leher Alex. Tersenyum dan menggoda suaminya dengan lirikan manis yang dipancarkan matanya.


"Mas mau minum?" tanya Sophia.


"Maunya sama kamu sayang," jawab Alex.


Sophia tersenyum malu. Membuat Alex menikmati pipi kemerahan itu. Wajah cantik yang malu-malu tapi menggoda membuat Alex melupakan sejenak masalahnya di kantor.


"Absen dulu sayang, mau gak?" tanya Alex. Dia menginginkan sesuatu yang selalu membuatnya candu.


Sophia mengangguk. Dia tahu sebagai istri harus bisa menyenangkan hati dan kebutuhan batinnya. Tidak hanya sekedar pintar di kantor atau di depan umum. Di rumah apalagi di depan suami. Itu sebabnya Sophia selalu berdandan maksimal sebelum Alex pulang agar suaminya senang melihat dan memuaskan pandangannya.


Alex langsung membopong Sophia masuk ke dalam kamar. Biarlah masalah berjalan dulu. Alex memilih menikmati sejenak waktunya bersama istri tercinta. Mencharger kembali semangat yang sempat turun. Mungkin dengan begitu Alex punya kekuatan untuk menyelesaikan masalahnya kali ini.