Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Ayahnya Alex dan Aku



"Tapi Alex Sebastiankan masih muda. Masa iya dia bokap Lo?" ujar Sari.


"Iya ya, Alex Sebastian hampir seumuran gue, masa bokap sama anak sama umurnya," sahut Erisa. Tidak mungkin Alex Sebastian ayah kandungnya. Umur mereka hampir sama.


"Memang wajah bokap Lo mirip Alex Sebastian?" tanya Sari.


"Mirip, mirip banget," jawab Erisa. Wajah ayahnya mirip dengan Alex. Itu sebabnya dia berpikir Alex ayahnya.


"Mungkin ayahnya Alex Sebastian yang bokap Lo? Biasanya wajah orangtua suka mirip ma wajah anaknya," ucap Sari.


"Eh, bener juga ya. Kaya wajah gue mirip sama wajah Nyokap gue, berarti bokap gue bisa jadi bokapnya Alex Sebastian, iyakan?" ujar Erisa. Dia berpikir mungkin ayahnya Alex adalah ayah kandungnya.


"Yups." Sari juga berpikir yang sama dengan Erisa.


"Kalau gitu gue cari siapa ayahnya Alex Sebastian," ujar Erisa.


"Gue bantu nyari, di medsos pasti ada. Merekakan orang tajir pasti ada pemberitaannya," sahut Sari. Alex Sebastian salah satu konglomerat Jakarta. Keluarganya salah satu keluarga terpandang. Pasti ada pemberitaan yang memberitakan mereka.


Erisa mengangguk.


Mereka berdua mulai mencari informasi di media sosial. Baik Erisa dan Sari sama-sama mencari seluk beluk silsilah keluarga Alex Sebastian.


"Erisa di sini disebutkan ayah Alex Sebastian itu Ferdi Sebastian dari Keluarga Sebastian," ujar Sari membaca sebuah artikel bisnis. Di dalamnya memuat biodata Alex Sebastian.


"Mana?" tanya Erisa. Dia mendekati Sari. Menatap layar handphone milik Sari yang masih menyala.


"Ferdi Sebastian, berarti itu nama bokap gue ya?" ujar Erisa. Melihat nama ayahnya Alex yang tercantum dibiodata yang ada di majalah bisnis.


"Kalau menurut biodata yang ada di sini sih menyebutkan begitu," sahut Sari.


"Kalau gitu sore ini gue harus menemui bokap gue," ujar Erisa. Lebih cepat lebih baik jika Erisa segera bertemu ayahnya.


"Mau gue temenin gak? Mana tahu Alex Sebastian masih punya saudara yang jomblo," sahut Sari. Dia berharap bertemu jodohnya. Mungkin adik, kakak, atau sepupu Alex Sebastian.


"Ada yang masih jomblo," ujar Erisa.


"Beneran? Siapanya Alex Sebastian?" tanya Sari antusias. Alex saja tampan paling tidak sepupu atau pamannya mungkin tampan.


"Sekuriti, tukang kebun, atau tukang pukul Alex Sebastian masih jomblo," jawab Erisa.


"Kirain beneran ada," sahut Sari. Cemberut dah berharap ada yang jomblo dari Keluarga Sebastian.


"Tenang kalau gak ada, Yudakan ada. Kalian cocok deh," ujar Erisa.


"Yuda gendut itu?" tanya Sari. Dia pernah bertemu Yuda di komunitas Sesama Gemuk Sejahtera.


"Iya, kalian cocok. Mana tahu bisa diet bersama, olahraga bersama dan naik gunung bersama," ujar Erisa. Dia membujuk Sari dari pada jomblo terus.


"Tar ku pikirkan. Kalau aku tak laku juga," sahut Sari.


Erisa hanya tersenyum mendengar ucapan Sari. Sahabatnya itu sudah lama menjomblo. Dia ingin menikah tapi calon suaminya kabur semua setiap mau ijab qobul.


***


Alex pulang ke rumah Keluarga Sebastian. Dia membawa banyak camilan yang dibelinya di jalan. Alex tahu Sophia sedang hamil, dia lagi suka ngemil. Sambil tersenyum-senyum masuk ke dalam rumah. Terlihat Arfan berlari ke arahnya.


"Papa!" panggil Arfan.


"Iya Arfan," jawab Alex.


Dengan cepat Arfan memeluk Alex yang merendahkan tubuhnya ke bawah. Kemudian naik ke gendongannya.


"Papa, Arfan bisa tulis," ucap Arfan.


"Oya, Arfan bisa nulis apa?" tanya Alex sambil menggendong Arfan.


"Tulis huruf sama angka Pa," jawab Arfan dengan gaya bicara yang masih belum jelas sepenuhnya.


"Pinter anak Papa udah bisa nulis huruf sama angka," puji Alex.


Arfan tersenyum riang dipuji Alex. Dia senang bisa bersama ayahnya.


"Mas sudah pulang?" Sophia masuk ruang tamu. Melihat Arfan digendongan suaminya.


"Iya sayang baru aja pulang," jawab Alex.


Bergegas Sophia mengambil bawaan Alex dan mencium tangannya. Alex pun mencium kening Sophia. Kemudian mereka masuk ke dalam ruang keluarga. Di sana seluruh anggota Keluarga Sebastian sedang ngumpul bersama.


"Assalamu'alaikum," sapa Alex.


"Wa'alaikumsallam," sahut semuanya.


Di ruang keluarga ada Claudya, Gavin, Tuan Matteo, Pak Ferdi, Ibu Claudya, Kakek David dan Nenek Carroline. Alex dan Sophia duduk lesehan bersama yang lainnya sedangkan Arfan main bersama Ezar.


"Pada nonton bola ya?" tanya Alex.


"Iya, mumpung pada ngumpul, sekalian taruhan ekstrim," sahut Gavin.


"Taruhan esktrim apaan?" tanya Alex sambil menurunkan Arfan dari gendongannya.


"Yang kalah siap makan cacing tanah idup-idup," ujar Gavin sambil menunjukkan toples berisi cacing tanah.


Alex menelan salivanya. Bulu kuduknya berdiri mendengar ucapan Gavin.


"Ikutan yuk Kak, biar hari ini Gavin yang kalah," ujar Claudya.


"Kalau dukung suka-suka dong," jawab Claudya.


"Udah-udah, biar Alex jadi penonton lagian kurang satu orang," kata Ibu Marisa.


Alex mengelus dada. Untung dia gak usah ikutan taruhan ekstrim itu.


"Assalamualaikum," sapa Pak Harry yang datang bersama Sora.


"Wa'alaikumsallam," sahut semuanya.


"Ayo sini duduk bareng!" ajak Ibu Marisa.


Pak Harry dan Sora mengangguk. Mereka ikut duduk lesehan bersama yang lainnya. Menyaksikan pertandingan bola sambil makan camilan yang dibawa Alex.


"Kak, ada Om Harry, berarti bisa ikut taruhan dong," ucap Gavin.


"Iya Kak, gak seru kalau Kak Gavin menang," ujar Claudya.


"Udah masuk tim Ayah aja, dijamin menang. Udah tanya sama Kenan sang pakar bola," ujar Pak Ferdi. Dia sempat menelpon Kenan untuk menanyakan prediksi pemenang pertandingan bola sore ini.


"Yaelah Pa, Kenan ngertinya bola basket, ditanya bola sepak pasti ngawur jawabannya," sahut Alex. Dia sudah pernah tanya Kenan, berujung kekalahan bersama Tuan Matteo


"Iya, kita pernah jadi korbannya Yah," sahut Tuan Matteo yang senasib dan sepenanggungan dengan Alex.


"Terus kau mau masuk tim siapa? Ayah dan Gavin, atau kakek dan Tuan Matteo?" tanya Pak Ferdi.


"Masuk tim kakek saja," jawab Alex.


"Berarti Harry masuk tim Ferdi," kata Kakek David.


"Emang taruhannya apa?" tanya Pak Harry. Dia belum tahu apa yang ditaruhkan.


"Nih Om, lezat fresh dari oven," ujar Gavin sambil menunjukkan cacing tanah pada Pak Harry.


"Lah itu aku doyan," sahut Pak Harry.


Semua orang terperanjat saat Pak Harry bilang doyan cacing tanah. Gavin langsung mendekat ke Pak Harry.


"Om ikut tim kita saja," ujar Gavin. Setidaknya ada Pak Harry yang akan memakan cacing tanahnya jika timnya kalah.


"Oke, asal pijetin ya," sahut Pak Harry.


Gavin mengangguk dan tersenyum. Niat untung ternyata sama aja.


"Syukurin, mijetin Om Harrykan jadinya," sindir Claudya pada Gavin.


"Untung ikut tim kakek, tangan gak usah pegel," kata Alex.


Semua orang tertawa. Mereka hanya mengisi kebersamaan. Taruhan hanya sekedar penambah ramai suasana rumah itu.


Sepanjang pertandingan Gavin memijat Om Harry. Mau tak mau dari pada makan cacing. Sedangkan yang lainnya asyik mengobrol dan makan camilan.


"Gol, kita menang kakak ipar," ucap Tuan Matteo kegirangan. Dia dan Alex sering kalah. Kali ini menang.


"Kakek sudah prediksi, pasti menang," sahut Kakek Davin.


"Cacing fresh dari oven Kak Gavin," ledek Claudya.


"Astaga tangan masih pegel masa iya makan cacing pula," keluh Gavin.


Semua orang tertawa riang. Akhirnya Pak Ferdi, Pak Harry dan Gavin siap memakan cacing yang sudah dibersihkan.


"Bersedia, siap mulai!" Alex memandu mereka semua makan cacing tanah.


Pak Harry dengan mudahnya menyantapnya dalam hitungan detik. Sedangkan Pak Ferdi masih bercakap-cakap dengan cacingnya.


"Cacing sebenarnya aku tak tega makan kau, aku ingin menguburkan kau dengan layak dan menjadikan kuburan kau dikenang sepanjang masa tapi ... bla ... bla ..."


"Ayah kelamaan, tinggal makan gak usah diceramahin," ujar Claudya.


"Sekolahin aja Yah sekalian sebelum mati!" titah Gavin.


"Iya, tunggu, ayah masih geli nih mau makannya," sahut Pak Ferdi yang masih belum siap memakan cacing tanahnya.


"Sini biar ku makan, enak dan seger kok," ujar Pak Harry.


"Pusing aku, sejak kapan cacing enak dan segar," kata Gavin.


"Udah Kak Gavin buruan sikat cacingmu," sahut Claudya sambil memvideokan Gavin yang akan makan cacing.


Karena Gavin dan Pak Ferdi sudah tepar sebelum makan cacingnya, akhirnya Pak Harry yang memakannya.


"Alhamdulillah," ucap Pak Harry.


"Hebat Pa," puji Alex. Dia jarang memuji Pak Harry, tapi kali ini memujinya.


Tak lama Bi Siti masuk ke ruang keluarga untuk memberi tahu kalau ada tamu di depan.


"Siapa Bi?" tanya Kakek David.


"Namanya Erisa Tuan," jawab Bi Siti.


"Erisa? Siapa?" Semua orang penasaran dengan tamu yang datang ke rumah Keluarga Sebastian.