
Arfan terus memikirkan Emily. Meski dia berusaha melangkah ke depan rasa bersalah tetap saja menghantuinya. Dia merasa ada yang mengganjal ketika harus meninggalkan Emily.
"Kenapa aku harus memikirkan Emily, dia hanya akan jadi anak bayi yang terus merepotkanku," ucap Arfan. Dia merasa Emily hanya akan merepotkannya terus jika dia tetap bersamanya.
"Pikirkan Annisa! dia wanita idamanku. Hidupku akan bahagia saat bersamanya," kata Arfan. Dia tidak boleh menengok ke belakang. Ada Annisa yang menunggunya.
Arfan melihat foto Annisa di wallpaper handphone miliknya. Foto semasa SMA. Saat Arfan mencuri-curi kesempatan memfoto Annisa.
"Gak sabar pengen ketemu Annisa. Sholeha, cantik, dan baik hati," batin Arfan. Namun tak sengaja Arfan melihat kedua anak muda di depannya. Mereka terlihat romantis. Padahal sang wanita sangat manja.
"Ah sayang tanganku pegel."
"Sini ku pijati sayang!"
"Jariku juga kesemutan sayang,"
"Biar ku tiup ya."
Melihat kedua anak muda itu bercengkrama dengan mesra Arfan jadi teringat Emily. Dia juga manja. Segala hal tidak bisa, selalu ingin dilayani dan disayangi.
"Emily," ucap Arfan. Entah kenapa Arfan jadi rindu. Jauh dilubuk hatinya Arfan tidak merasa keberatan dengan sikap manjanya.
Arfan merasa gelisah. Di pikirannya dipenuhi Emily. Semakin bus melaju semakin gelisah, ada sesuatu yang tertinggal.
"Emily."
Tiba-tiba Arfan memutuskan turun dari bus. Entah kenapa dia ingin sekali bertemu dengan Emily. Arfan berjalan di tepi jalan. Kebetulan baru jalan satu kilometer. Dia berjalan ke depan. Ingin kembali ke kontrokkan tempat Emily berada.
"Kenapa kakiku melangkah ke sini?" tanya Arfan bertanya pada dirinya sendiri. Entah kenapa dia melangkah maju untuk kembali.
Arfan terus berjalan hingga berhenti di tepi jalan besar. Dia melihat Emily di seberang jalan. Dia melambai ke arah Arfan.
"Arfan!" teriak Emily sambil tersenyum.
"Emily!" sahut Arfan. Dia tersenyum melihat wajah cantik itu terlihat di seberang jalan. Emily mengenakan rok pendek berwarna putih ungu dan kaos pendek berwarna putih.
"Arfan!" teriak Emily.
Arfan tersenyum. Orang yang ingin dia temui ternyata ada di depan mata.
"Arfan!" Emily terus memanggil nama Arfan. Dia mulai menyeberangi jalan sambil tersenyum ke arah Arfan. Sayangnya sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabrak Emily yang masih berada di tengah jalan.
Dug ....
"Emily!" teriak Arfan kencang. Dia terkejut melihat tubuh Emily ditabrak mobil itu hingga terpental.
Bruuug ...
Emily terjatuh ke bawah dengan posisi berbaring. Kepala dan wajahnya dipenuhi darah. Begitupun tangan dan kakinya. Tapi kepalanya menengok ke arah Arfan. Begitupun dengan tatapan matanya. Dia tersenyum melihat Arfan yang masih berdiri di seberang.
"Emily!" teriak Arfan. Dia berlari ke tempat Emily berada.
"Arfan," sahut Emily dengan suara pelan.
Arfan langsung mengangkat tubuh Emily di pangkuannya. Kepala Emily bersandar di siku tangan kiri Arfan.
"Emily," ucap Arfan. Matanya berkaca-kaca melihat Emily bersimpah darah. Wanita cantik dan seksi itu menatapnya dengan berurai air mata. Dia kesulitan untuk bicara.
"A-Ar-Fan," sahut Emily. Berusaha bicara dengan Arfan meski sulit.
"Emily, kau akan baik-baik saja, aku akan membawamu ke rumah sakit," ucap Arfan. Dia panik melihat keadaan Emily. Dia merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi pada Emily.
"Ar-Ar-fan, A-ku- ..." Emily berusaha mengungkapkan isi hatinya. Tangannya menyentuh pipi Arfan. Darah di tangan Emily mengenai pipi Arfan. Begitupun baju Arfan yang sudah berlumur darah terkena darah dari tubuh Emily.
"Tidak, kau tidak boleh mengatakan kata pisah. Kita akan bersama lagi, kau boleh merepotkanku seumur hidupmu," ujar Arfan. Dia mengelus wajah Emily yang penuh darah.
"A-ku ha-rus per-gi. Ber-baha-gia-lah bersa-ma An-nisa," ucap Emily terbata-bata. Dia kesulitan bicara. Namun senyuman dan air matanya tak bisa ditutupi.
"Jangan berkata seperti itu Emily! aku ingin bersamamu," kata Arfan. Dia sampai menangis tersedu-sedu melihat Emily. Arfan takut kehilangan istrinya.
"A-ku men-cin-taimu Ar-fan," ungkap Emily.
"Aku juga mencintaimu Emily, jangan tinggalkan aku," sahut Arfan. Dia memeluk Emily.
"Se-lamat ting-gal Ar-fan," ucap Emily. Tubuhnya lemas, berubah dingin. Dia sudah tidak bernafas lagi.
"Emily!" teriak Arfan memanggil Emily. Semuanya seakan menghilang. Gelap gulita, Emily tak ada lagi dipelukkannya.
"Mas! Mas! Mas bangun!" kenet bus membangunkan Arfan sambil menepuk lengannya.
Seketika Arfan terbangun. Menatap kenet bus yang melihat ke arahnya.
"Aku di mana?" tanya Arfan. Belum sepenuhnya sadar.
"Di bus Mas, sudah sampai tuh," jawab kenet bus.
"Di bus?" Arfan terperanjat mendengar jawaban kenet bus.
"Iya, Mas pasti mimpi buruk ya? Dari tadi teriak-teriak terus," jawab kenet bus. Dia menyaksikan sendiri Arfan berteriak dari tadi. Membuat beberapa penumpang keberisikkan.
Arfan menepuk pipinya. Mencubit tangannya. Dia memastikan apa yang tadi terjadi padanya itu mimpi.
"Ternyata hanya mimpi," ucap Arfan. Apa yang tadi terjadi padanya dan Emily itu hanya mimpi.
"Buruan turun Mas! Bus udah mau jalan," kata kenet bus. Menyuruh Arfan turun, bus harus segera pergi ke kota lainnya.
"Iya Bang," jawab Arfan. Dia bangun, berjalan di lorong bus lalu ke luar dari bus. Arfan berjalan di tepi jalan. Dia masih kepikiran mimpi buruk yang terjadi tadi.
"Untuk apa aku harus mikirin Emily? Sudah waktunya aku menyambut masa depanku. Annisa menunggu di rumah," ucap Arfan. Dia tidak ingin memikirkan Emily lebih baik memikirkan pertemuaannya dengan Annisa.
***
Sampai di rumah Keluarga Sebastian, Arfan masuk ke dalam rumah. Tak lupa mengucapkan salam. Terlihat Alex dan Sophia sudah menunggunya di ruang tamu. Arfan tersenyum melihat ayah dan ibunya.
"Pa, Ma," ucap Arfan. Dia mencium tangan ayah dan ibunya lalu duduk di sofa.
"Kenapa baru datang? Sudah jam berapa? Untung Annisa dan keluarganya belum datang," sahut Alex.
"Maaf Pa tadi kesiangan bangunnya," jawab Arfan. Padahal dia berusaha mencari cara meninggalkan Emily biar tidak mengikutinya.
"Tapi tidak lupa sholat subuhkan?" tanya Sophia. Dia selalu mengingatkan Arfan untuk sholat.
"Alhamdulillah tidak Ma," jawab Arfan. Dia tidak pernah lupa menjalankan sholat lima waktu. Berkat didikan Sophia, Arfan selalu ingat pesan dari ibunya.
"Alhamdulillah," sahut Sophia. Dia senang Arfan tidak meninggalkan sholat lima waktu.
"Assalamu'alaikum," ucap Annisa dan keluarganya yang baru datang.
"Wa'alaikumsallam," sahut Arfan, Alex dan Sophia. Mereka melihat ke arah Annisa dan keluarganya yang masuk ke dalam.
"An-Annisa!" Arfan terbelalak melihat Annisa. Dia tidak menyangka melihat Annisa yang sekarang.