Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Menikah



Baca bab sebelumnya baru nyambung ke bab ini


.


.


.


Alex, Sophia dan Kenan masuk kembali ke dalam rumah. Mereka duduk bersama di ruang tamu. Menatap wajah Frank yang begitu memprihatinkan. Wajah Kenan sudah bengkak sana sini dicium tawon. Begitupun penampilannya seperti orang yang baru terkena angin tornado. Kenan sampai melongo padahal satu ekor tawon masih ada di kepalanya berjalan ke mulutnya yang melongo melihat Frank.


"Kenan, kau mukbang tawon?" tanya Alex.


Kenan terkejut saat Alex mengajaknya bicara. Dia justru menutup mulutnya sedangkan tawon masih ada di dalam.


"Tetaplah begitu sampai pawang tawon datang! Lagi pula pendapatmu tak terlalu dibutuhkan," ujar Alex.


Kenan hanya menggeleng. Mau bicara tidak bisa tawon ada di dalam mulutnya.


Alex kembali fokus menatap Frank. Ini pertama kalinya melihat wajah Frank, selama ini hanya tahu desas-desus yang tidak jelas.


"Aku dan Aiko ingin menikah hari ini juga, ku harap Bos Alex mau menjadi saksi pernikahan kami," ujar Frank.


"Kalau Aiko sudah yakin, aku siap menjadi saksi," sahut Alex. Asalkan Aiko yakin tanpa paksaan ataupun tekanan, Alex akan menjadi saksi pernikahan mereka berdua.


"Bagaimana Aiko?" tanya Sophia menatap Aiko yang duduk di sampingnya. Dia ingin tahu apakah Aiko setuju menikah dengan Frank atau tidak.


"Aku siap menikah dengan Frank," jawab Aiko.


"Kau yakin? Frank tidak memaksa atau menekanmu?" tanya Alex. Dia harus memastikan keputusan Aiko berasal dari hatinya.


"Iya, aku yakin menikah dengan Frank," jawab Aiko. Dia sudah yakin menikah dengan Frank.


"Baiklah, aku dan Sophia akan menjadi saksi pernikahan kalian," sahut Alex.


Aiko dan Frank mengangguk. Mereka siap melangkah ke depan. Menjadi sepasang suami dan istri.


Masjid Al Malik pukul 2 siang


Setelah sholat dhuhur, Alex, Sophia dan Kenan duduk untuk menyaksikan pernikahan Aiko dan Frank. Tak hanya Alex, Sophia dan Kenan, tapi Tuan Matteo, Luki dan Gavin juga hadir sebagai saksi pernikahan itu. Tak ada satu pun tamu yang diundang karena pernikahan itu dadakan. Yang penting mereka bisa menikah secara agama dan hukum di hari itu.


"Sudah siap?" tanya penghulu.


"Insya Allah siap," jawab Frank.


"Baik kita mulai ijab qobulnya," kata penghulu.


Frank mengangguk. Penghulu bersiap jadi wali hakim untuk Aiko. Dia duduk di depan Frank.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau ananda Frank Howard bin Hendrik Howard dengan ananda Aiko binti Robert Christian dengan mas kawin cincin berlian seberat 10 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai," ujar penghulu sambil menyalami Frank.


"Saya terima nikah dan kawinnya Aiko binti Robert Christian dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," jawab Frank.


"Sah?"


"Sah."


"Alhamdulillah."


Rasa syukur dan tepuk tangan terdengar riuh sahut menyahut. Semua orang ikut bahagia di pernikahan itu.


Penghulu langsung membacakan doa untuk mempelai pengantin. Semua orang ikut mengaminkan setiap lantunan doa untuk mempelai pengantin itu.


Alex dan Sophia tersenyum melihat Aiko dan Frank sudah resmi jadi sepasang suami istri. Tugas mereka sudah selesai di hari itu. Aiko yang sendirian kini sudah memiliki tambatan hati dan teman yang akan menemani hidupnya.


Frank menghampiri Aiko. Duduk di depannya. Bergegas Aiko mencium tangan suaminya begitupun Frank mencium kening Aiko dan membacakan doa untuknya. Mereka saling menatap dan tersenyum. Hari ini sudah resmi menjadi suami istri.


Sementara itu Kenan kesakitan dengan bengkak di seluruh mukanya.


"Bukan, aku habis berkencan dengan tawon, tak ku sangka mereka sangat ganas dan agresif saat aku menciumnya," sahut Kenan.


"Itu namanya azab suami yang berselingkuh dengan tawon," kata Luki.


"Oh. Aku baru tahu kalau tawon bisa jadi pelakor, kalau begitu lebih baik aku setia, dari pada bentol semua," tambah Tuan Matteo.


Mereka bertiga tertawa bahagia di atas penderitaan Kenan yang bengkak karena ciuman ganas dan agresif dari tawon.


***


Aiko dan Frank duduk di atas ranjang. Mereka sama-sama terdiam. Hening. Tidak tahu harus bicara apa. Aiko yang belum pernah dekat dengan seorang laki-laki terlihat gugup. Apalagi satu kamar dengannya. Jantungnya berdebar tak karuan saat berdekatan dengan Frank.


"Sayang," ucap Frank.


"A-apa?" Aiko terkejut saat Frank memanggilnya sayang. Bulu kuduknya jadi berdiri semua. Padahal baru mendengar kata sayang.


"Kalau kau capek tidurlah duluan! Aku tidak pernah tidur di malam hari, biasanya aku mengerjakan pekerjaanku," kata Frank.


"O-oke." Aiko tadinya berharap Frank menginginkannya malam ini tapi justru menyuruhnya tidur.


Aiko pun berbaring. Dia membelakangi Frank. Menutup tubuhnya dengan selimut. Sedangkan Frank beranjak dari ranjang. Dia masuk ke ruangan kerjanya yang menyatu dengan kamarnya hanya dibatasi lemari buku. Frank duduk menatap layar laptop di depannya. Dia tidak pernah tidur di malam hari. Trauma yang dialaminya membuat Frank memiliki jam tidur yang berbeda dari orang lain. Ketika malam dia terjaga, barulah saat siang dia tertidur.


Di sisi lain Aiko tidak bisa tidur memikirkan Frank. Dia bingung harus berbuat apa supaya mereka tidak canggung dan seperti ini. Aiko pun beranjak dari ranjang. Dia melihat tumpukan kado dari Sophia dan yang lainnya di sudut ruangan.


"Lebih baik aku buka kado dari Sophia aja deh," ucap Aiko. Dia berjalan menghampiri kado-kado di sudut ruangan. Duduk lesehan di bawah lalu membuka kado dari Sophia.


"Ini ..." Aiko memegang dress seksi dan minim yang diberikan Sophia untuknya. Tak hanya itu beberapa make up dan parfum untuk bercinta ada di kotak kado itu.


"Apa maksud Sophia memberiku ini?" Aiko berpikir. Selama ini selalu tampil tomboy dan cenderung tertutup. Dia menatap ke bawah. Baju yang dikenakannya begitu kolot untuk pengantin baru. Hanya baju tidur kotak-kotak yang sudah biasa dikenakan sehari-hari.


"Apa aku harus mengenakan dress seksi ini? Mungkin Frank akan ...?" Aiko berpikir liar. Mungkin saja suaminya akan tergoda jika mengenakan dress seksi, berdandan dan mengenakan parfum pengikat itu.


"Tapi aku genit banget? Kaya cabe-cabean," batin Aiko.


"Tapi? Kalau penampilanku begini? Jangankan Frank, orang lain juga tak berselera," ucap Aiko.


Dari pada penasaran dan gabut. Akhirnya Aiko memberanikan diri mengenakan dress seksi dan minim itu, dia juga berdandan dengan make up yang diberikan Sophia, tak lupa menyemprotkan parfum pengikat. Aiko menatap dirinya yang ada di depan cermin.


"Seksi banget lebih mirip kupu-kupu malam," ucap Aiko. Dia risih dengan penampilannya. Ini pertama kalinya Aiko mengenakan dress seksi dan minim.


"Aku gak nyaman dan malu," keluh Aiko.


"Tapi lelaki suka wanita seperti ini, apalagi di depan suami," kata Aiko. Dia menarik nafas panjangnya. Menguatkan dirinya.


"Tidak, aku harus membuat suamiku klepek-klepek, harus dibiasain! pelakor sekarangkan nekad-nekad dan bergentayangan," ujar Aiko. Pelakor sekarang lebih gragas dari tikus dan lebih menakutkan dari setan. Tak lupa lebih panas dari kompor dan lebih tajam dari pisau. Memburu dan meramu para suami yang nganggur butuh tambahan semangat dan energi. Tak peduli di WC sekalipun, main sikat dan main embat. Istri sekarang harus siap siaga, kecolongan dikit suami melayang digondol pelakor jahanam.


Aiko berjalan menuju ruang kerja suaminya. Frank yang dingin menatap layar laptopnya terbelalak melihat Aiko.


"Sayang cus yuk!" ajak Aiko. Kegatelan minta digarukin. Sampai garuk-garuk punggung di depan lemari.


Frank melongo melihat Aiko sangat berbeda. Sudah seperti kupu-kupu malam yang siap diterkam pemburu yang lapar.


"Mau gak? Udah siap nih sayang." Aiko mengedipkan matanya dan menggoda Frank dengan berlenggak-lenggok bak model dadakan.


Frank berkali-kali menelan salivanya. Tak disangka Aiko berubah genit dan kegatelan.


"Sayang kau berani menggoda berarti harus tanggung akibatnya," ujar Frank.


"Kemarilah! Aku siap menanggung akibatnya," jawab Aiko dengan suara seksinya.


Frank tak ingin membuang-buang waktu. Pekerjaan bisa menanti besok. Tapi peperangan tidak bisa ditinggalkan. Dia langsung menghampiri Aiko. Menerkamnya di tempat. Tak peduli di mana. Yang penting langsung adu gulat. Mereka berdua pun mulai pertandingan adu jotos. Tarik menarik, dan terkam menerkam. Pukul memukul dan tendang menendang. Menikmati setiap gerakan. Hingga keringat bercucuran. Tak ada yang mau mengalah, sama-sama dominan. Bersiap jadi pemenang diakhir babak pertandingan. Suara-suara riuh memenuhi ruangan. Piala pun sudah siap dinaikkan, Frank menjadi juara atas pertandingan itu. Menunjukkan kelasnya dan mengalahkan sang betina yang sudah terkapar lemah tak berdaya.


"Terimakasih sayang," ucap Frank sambil membopong Aiko setelah menyeleaikan pertandingan. Dia membawa Aiko ke ranjang. Mereka beristirahat setelah pertandingan gulat yang melelahkan. Tersenyum bahagia sudah menjadi suami istri seutuhnya.