Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Pergi Ke Hutan



Sekejab ingatan tadi pagi muncul dibenak Tuan Matteo.


"Iya Tuan, aku sedang memperhatikan dada Tuan bagus, aku suka," jawab Luki.


"Lebih baik kau menyukai dada wanita yang seksi dan empuk, dari pada dada lelaki yang rata," ujar Tuan Matteo. Dia belum menyadari Luki menyukainya.


"Tapi aku suka melihat dada Tuan," sahut Luki sambil melepas tangannya dari dada Tuan Matteo.


Ingatan itu seakan diputar ulang. Seperti nyata di depan matanya.


"Luki kau?" ucap Tuan Matteo. Dia membuang nafas gusarnya. Berusaha berpikir jernih meskipun pikirannya dipenuhi beban yang berat.


Tuan Matteo melihat ke seluruh ruangan. Matanya berhenti pada jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 12 siang. Dia teringat janjinya pada Claudya. Tuan Matteo mengambil handphone-nya di saku jasnya tapi tidak ada.


"Handphone-ku?" ujar Tuan Matteo.


"Apa mungkin tertinggal di kamar?" tambahnya.


Tuan Matteo langsung ke luar dari kamar Luki. Bergegas masuk ke kamarnya. Dia mencari di dekat tempatnya berdiri tadi. Dia melihat ke arah laci. Mencarinya di atas laci.


"Kenapa tak ada?" tanya Tuan Matteo.


"Luki, iya dia tadi di kamarku saat aku pergi," jawabnya sendiri.


"Jangan-jangan ...?" Tuan Matteo langsung berlari ke luar dari kamarnya. Dia memikirkan Claudya yang tadi akan janjian dengannya. Tuan Matteo sangat mengkhawatirkannya, kemarin Luki belum berhasil melukainya pasti saat ini dia akan kembali melukainya.


Tuan Matteo mencari Luki di sekitar rumah. Mungkin saja dia masih ada di dalam rumah, tapi tak terlihat batang hidungnya. Sampai Tuan Matteo bertanya pada pelayan yang ada di dalam rumah.


"Den Luki tadi ke luar rumah Tuan, sudah empat jam lalu."


"Empat jam lalu?" Tuan Matteo terkejut. Sudah lama sekali Luki ke luar dari rumah.


"Iya Tuan."


"Kau tau dia mau ke mana?" tanya Tuan Matteo.


"Tidak Tuan, Den Luki terlihat buru-buru masuk ke mobilnya."


"Oke, kau boleh kembali bekerja," ucap Tuan Matteo.


"Baik Tuan." Pelayan itu meninggalkan Tuan Matteo yang berdiri di ruang tamu.


"Aku harus telpon Claudya," ucap Tuan Matteo. Dia berjalan ke arah telpon rumahnya yang ada di sudut ruangan. Tuan Matteo memasukkan nomor telpon Claudya kemudian menelponnya.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi."


"Astaga nomor Claudya tidak aktif, apa Luki ..?" ujar Tuan Matteo.


Tak perlu berpikir panjang lagi, Tuan Matteo berjalan ke luar rumahnya. Dia naik mobil BMW berwarna hitam, meninggalkan rumah besarnya.


***


Claudya duduk di kursi belakang. Tangan dan kakinya diikat. Mulutnya diplaster. Sepanjang jalan Luki menyetir dan mengancam Claudya. Dia juga sudah mengambil handphone milik Claudya dan mematikan handphone-nya.


Mobil terus melaju ke luar kota. Enam jam sudah perjalanan tanpa arah dan tujuan. Luki terlihat dingin. Sedangkan Claudya terlihat ketakutan.


"Setelah hari ini kau tak akan takut lagi, aku akan mengantarmu ke suatu tempat yang indah," ujar Luki.


Claudya menggeleng. Dia ketakutan. Lelaki di sampingnya itu mungkin saja gila atau psikopat.


Dia tak bisa berteriak atau melarikan diri.


"Gimana ini Ya Allah? Aku tak menyangka Luki melakukan ini padaku," batin Claudya. Dia hanya bisa diam dan melihat ke arah jalan yang semakin jauh dan tak tahu ada di mana.


Sampai di sebuah hutan. Mobil berhenti di tepi jalan yang sangat sepi. Luki turun dari mobil. Berjalan menghampiri pintu belakang mobil. Membuka pintu itu, membuka ikatan di kaki dan plaster yang menutup mulut Claudya. Kemudian mengajaknya turun dari mobil. Masuk ke dalam hutan.


Luki terus menarik tangan Claudya sambil berjalan di dalam hutan.


"Luki kau mau mengajakku ke mana? Lepaskan aku!" pinta Claudya.


"Tidak akan, kau sudah merebut orang yang ku cintai," sahut Luki.


"Orang yang kau cintai? Siapa?" tanya Claudya.


Luki mengambil tangan Claudya, mencengkram nya dengan erat.


"Aw ...," keluh Claudya.


"Sakit? Seperti itu rasa sakitku saat kau mengambil Tuan Matteo dariku," ujar Luki.


"Tidak mungkin, kau menyimpang?" tanya Claudya.


Luki semakin mencengkram erat tangan Claudya.


"Aw ...," keluh Claudya.


"Memang kenapa kalau aku menyimpang? Aku hanya mencintai Tuan Matteo, tak ada yang boleh menikah dengannya," sahut Luki.


"Kau gila!" pekik Claudya.


Plaaak ...


Luki menampar Claudya dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya masih mencengkram tangan Claudya.


"Menangislah dan ketakutan, aku akan tertawa melihatnya," ucap Luki.


"Dasar banci!" celetuk Claudya.


Luki hendak menampar Claudya.


"Ayo tampar lagi! Kau hanya berani pada wanita, pengecut!" pekik Claudya.


Luki marah. Menarik tangan Claudya berjalan mengikutinya. Mereka berjalan di antara pohon-pohon tinggi dan semak-semak belukar. Semua jalan terlihat mirip. Salah langkah pasti tersesat.


"Lepaskan aku Luki! Aku akan memaafkan perbuatanmu ini," bujuk Claudya.


Luki berhenti. Menatap Claudya dengan mata yang tajam.


"Jika aku tidak bisa memiliki Tuan Matteo, kau juga tidak akan bisa memilikinya!" ancam Luki.


Claudya langsung terdiam saat ucapan Luki begitu menakutkan. Aura wajahnya begitu dingin. Seperti aura pembunuh. Dia melihat sosok Luki yang berbeda. Menakutkan dan misterius.


Mereka kembali berjalan. Sepanjang jalan Claudya memikirkan sesuatu untuk kabur. Jika terus berdebat tidak akan membuat Luki melepaskannya. Dia harus menggunakan cara lain.


"Luki aku ingin pipis, sudah tak tahan," keluh Claudya.


"Pipislah di celana!" pekik Luki sambil berjalan menarik Claudya.


"Masa aku pipis di celana, nanti bau pesing, kau tak papa?" tanya Claudya.


Luki terdiam. Menghentikan langkahnya. Dia menatap Claudya yang terlihat menggerakkan tubuhnya. Terlihat seperti orang yang menahan kencing.


"Awas saja kalau kau bohong!" ancam Luki.


Claudya mengangguk.


Luki membawa Claudya ke sebuah pohon besar.


"Pipislah di situ!" titah Luki.


"Gimana aku mau pipis, tanganku diikat," ujar Claudya menunjukkan tangannya yang diikat pada Luki.


"Sialan, kau ingin mengelabuhiku?" tanya Luki.


"Tidak, tapi gimana aku melepas celananya? Kau mau membantu melepasnya?" tanya Claudya.


Luki menatap tajam Claudya. Dia memperhatikan ekspresi gadis cantik di depannya. Bisa saja itu hanya akal bulusnya.


"Aduh aku sudah tak tahan," keluh Claudya sambil menggoyangkan tubuhnya.


Melihat itu Luki maju ke depan. Melepas ikatan yang ada di tangan Claudya.


"Cepat lakukan! Awas kalau kau kabur!" ancam Luki sambil menunjuk ke wajah Claudya.


"Iya, jangan mengintip," sahut Claudya.


"Siapa yang mau mengintip? aku gak doyan punyamu!" bentak Luki.


"Hih, dasar penyimpang," keluh Claudya sambil berjalan meninggalkan Luki, menuju ke belakang pohon besar itu. Dia terus diawasi Luki. Claudya pura-pura duduk.


"Aku harus kabur ke arah mana? Semuanya mirip, hanya pepohonan yang ada," batin Claudya. Dia harus memutuskan ke arah mana dia kabur. Takutnya justru akan tersesat di dalam hutan.


"Ke arah itu saja," batin Claudya. Dia berdiri. Berlari secepat mungkin ke arah barat. Melihat itu Luki langsung mengejarnya.


Claudya terus berlari sekuat tenaga. Nafasnya tersengal-sengal. Jantungnya berdebar kencang. Dia ketakutan. Tetap berlari dikejar Luki yang berlari di belakangnya.


"Kau mau ke mana? Kau akan akan mati!" teriak Luki.


Claudya tak menggubris ucapan Luki. Dia terus berlari sekuat tenaga. Semakin masuk ke dalam hutan. Cahaya matahari juga semakin sedikit yang masuk ke dalam hutan. Terlihat lebih gelap dari sebelumnya. Claudya tersandung akar pohon. Dia terjatuh di tanah.


Bruuug ...


"Aw ....," keluh Claudya memegang lulutnya yang lecet karena celana bahan yang dipakainya robek.


Lututnya berdarah. Claudya kesakitan.


"Aduh perih, sakit lagi," keluh Claudya.


Tiba-tiba muncul sekawanan serigala karena mencium darah di lutut Claudya.


"Astagfirullah, itu apa?" ujar Claudya melihat dua ekor serigala menatap ke arahnya.


"Tidak, hah ... hah ... hah ..., apa serigala itu akan menggigitku?" ucap Claudya.


Benar saja serigala itu berlari mendekati Claudya. Terlihat lapar. Claudya langsung berdiri. Berusaha berlari kembali. Dia dikejar kedua serigala itu. Claudya berlari terus ke arah depan, tak sempat berpikir. Serigala-serigala itu terlihat ganas membuatnya takut. Claudya berlari secepat yang dia bisa. Sampai terjatuh kembali.


Bluuug ...


Claudya terjatuh di tanah. Posisinya terduduk sambil memegang lututnya.


Kedua serigala itu lapar dia berjalan mendekat.


"Ternyata kau di sini," ucap Luki yang baru muncul tak jauh dari tempat Claudya terduduk di tanah. Dia melihat di depan Claudya ada dua ekor serigala.


"Luki," kata Claudya melihat ke arah Luki. Berharap Luki akan menolongnya.